Bulan Desember, bulan di mana seluruh organisasi di
sekolah ku melakukan kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan, atau biasa kami sebut
LDK. Perkenalkan, nama saya Putri Nindya Mahkota Tita, panggil saja aku Tita.
Seorang siswi pada tingkat 3 yang tengah melaksanakan salah satu program kerja
wajib tahunan di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Negeri terkemuka di Desa
Sukahati. Hari itu, hari kedua kami melaksanakan LDK. Saya memegang tanggung
jawab penuh terhadap segala kegiatan administrasi untuk kegiatan tersebut. Para
peserta LDK beserta beberapa para panitia tengah melaksanakan kegiatan baris
berbaris yang dipimpin langsung oleh Ekstrakulikuler Paskibra dan Pramuka. Saya
dengan beberapa panitia inti tengah berada di ruang isolasi, mendiskusikan
lebih terperinci kegiatan Bimbingan Mental yang akan dilakukan pada dini hari
malam nanti.
“Anggota rohis sudah kamu hubungi, Jer?” Tanyaku.
“Sudah, Ta. Nanti sore mereka akan tiba di sini.
Jumlah seluruh anggota rohis 10 siswa. Untuk biaya transportasi kita ganti jadi
biaya konsumsi sesuai rencana dan mereka tidak keberatan.”
“Konsumsinya pun berbeda dari anggota lainnya kok,
Ta. Mereka aku pesankan nasi kotak. Nasi kotaknya tidak mahal, aku memesannya
pada Pak Tono, penjaga kantin sekolah kita,” Timpal Tania.
“Berapa biaya anggaran konsumsi untuk mereka?” Tanya
Eko, Ketua Penyelenggara Kegiatan.
“Seratus ribu rupiah, Ko. Sesuai dengan dana tak
terduga yang sudah kita pinta. Saya memesan 20 dengan harga sepuluh ribu rupiah
beserta air mineralnya.”
“Kamu kenapa, Ta?” Bisik Karel, Bendahara pada
kegiatan LDK.
“Meskipun aku sudah tiga tahun melakukan kegiatan
ini, dari semasa aku menjadi junior. Tapi aku tetap was-was, Rel,” Balas Tita
dengan berbisik yang rupanya terdengar oleh Ario, panitia yang bertanggung
jawab pada seluruh keamanan pada kegiatan tersebut.
“Ta, panitia di bawah naungan gue itu banyak,
ganas-ganas lagi. Lo tenang aja masalah keamanan selama kegiatan bintal nanti
malam,” Potong Ario.
“Yo, kamu tuh bukan hanya menangani seorang makhluk
hidup, Yo.”
“Setidaknya anak buah gue ngga ada yang penakut. Dan
di setiap pos akan selalu disertai anggota rohis. Anggota rohis yang tidak
berada di pos pun akan ikut gue jalan-jalan di dalam area bintal nanti malam.
Gue udah jelasin sistem kerja seksi gue kan?”
“Ta, kamu cuma parno. Kamu masih dibayang-bayangin
kejadian tahun lalu karena kamu satu kelompok bersama Naomi. Untuk malam ini
pun kegiatan tidak dilaksanakan terlalu larut kan? Dimulai dari jam setengah 2
malam sesuai permintaan kamu, dan jam 4 malam harus sudah selesai untuk mereka
beristirahat sebentar menunggu adzan subuh,” Jelas Ari, panitia yang
bertanggung jawab akan segala rangkaian acara pada kegiatan hari itu.
“Oke. Jadi aku bacakan hasil kesimpulan pertemuan
singkat hari ini ya,” Ucap Tita yang dilanjutkan dengan anggukan kepala dari
panitia lainnya.
“Pos pertama sebagai pos terminal dijaga oleh Eko
bersama Ratna. Pos kedua sebagai pos bintal pertama dijaga oleh Tita dan Karel.
Pos ketiga sebagai bintal kedua dijaga oleh Jerry dan Rio. Pos ketiga dengan
materi pendidikan kewarganegaraan dijaga oleh Putri dan Oktav. Pos keempat
dijaga oleh Cinta dan Shella dengan materi lingkungan. Pos terakhir, yaitu
kelima dengan materi keterampilan akan dijaga Richard dan Kia. Ada pertanyaan?”
Jelas Tita.
Panitia lainnya hanya menggelengkan kepala tanda
mereka sudah paham dan tidak akan mengeluarkan pertanyaan. Melihat kondisi itu,
Tita segera bertanya. Sedaritadi pikirannya terus bertanya mengenai adanya pos
bintal sejumlah dua? Untuk apa? Ia sendiri pun sebenarnya bingung akan mengisi
pos bintal itu dengan apa.
“Pos bintal pertama itu akan ditempatkan di
belakang, di ruangan yang sedang dibangun. Kenapa terbagi menjadi dua, karena
kami mau dari organisasi MPK dan OSIS ada tahap bintal tersendiri dan kamu
bersama Karel kan petinggi MPK,” Jelas Eko.
“Tunggu, gedung MO? Gedung yang lagi dibangun untuk
ruang praktik jurusan Mesin Otomotif? Yang pintu tembusannya ke kantin belakang?”
Ucap Tita dengan panik.
Teringat di kepalanya cerita teman-temannya akan
daerah gedung belakang itu. Gedung praktik jurusan Permesinan dan Mesin
Otomotif yang bersebelahan dan terletak di belakang. Konon di dua gedung itu
terutama di Gedung Permesinan terdapat seorang gadis bernama Melati yang suka
melintas seenaknya saja di depan mata. Tak memandang siang ataupun malam.
“Kamu ngga usah takut, Ta. Pos kita berdampingan.
Aku kan di kantinnya. Tepat di tempat siluman setengah harimaunya,” Ucap Jerry
yang seakan-akan dapat membaca pikiran Tita.
Tita kembali teringat akan pos kantin itu, pos di
mana ia menjadi saski hidup akan awal mula kegilaan Naomi, teman satu tim-nya
dulu ketika menjadi junior, hingga meninggal beberapa bulan kemudian.
Setidaknya, Si Melati ini tidak pernah mengganggu. Hanya menampakkan diri saja.
Begitu pikirnya.
***
Malam pun tiba. Waktu sudah menunjukkan pukul.
22.00. Para peserta LDK telah diperintahkan untuk tidur 30 menit yang lalu.
Sebagian panitia yang terdiri dari perempuan memutuskan untuk tidur bergantian
hingga jam 1 malam. Dan para panitia lelaki memutuskan untuk berjaga dengan
bermain gitar di malam hari yang sunyi.
Tita mempersilahkan Karel untuk tidur terlebih
dahulu. Tita masih belum merasa aman. Bukan kali pertama ia melihat sekolahnya
gelap gulita seperti ini, namun perasaan was-was itu masih terus bercokol di
hatinya. Kenangan satu tahun silam tetap bergelayutan dalam benaknya. Selepas
menunaikan sholat Isya tadi, Tita terus memanjatkan doa permohonan perlindungan
akan kegiatannya dini hari nanti.
“Ta, pada tidur semua yang perempuan?” Tanya Jery
yang berhasil mengagetkan Tita dengan masuk ke dalam ruangan secara tiba-tiba.
“Eh, astagfirullohalazim, Jery! Ketok-ketok dulu
kenapa sih. Ini kan isinya perempuan semua, kalo ada yang ganti baju gimana?”
Celoteh Tita.
Jery mendekati Tita dan duduk di sebalahnya Tita,
“Yailah, Ta. Sebanyak itukah baju yang di bawa para perempuan di dalam
kegiataan kaya gini? Masih takut?”
“Tita tidur ya, Jer. Lumayan tidur 2-3 jam,” Jery
hanya mengangguk dan meninggalkan Tita. Tita berusaha terlelap. Meskipun dengan
usahanya yang keras untuk tertidur, ia pun berhasil tertidur entah pada jam ke
berapa.
Tak lama Tita merasakn tidur, ia dibangunkan oleh
Karel. Teman satu pos-nya itu.
“Ta, bangun, Ta. Kita ada rapat sebentar sebelum
kegiatan dimulai,” Panggil Karel yang sedang mengguncang tubuh mungil Tita.
Setengah sadar Tita terbangun dan segera menarik
selimutnya lebih dalam. Ketika Tita terduduk, ia terkejut. Seluruh
teman-temannya sudah duduk melingkar tak jauh darinya duduk. Tita pun mendekati
teman-temannya dan merapatkan mantelnya karena udara malam itu amat dingin.
Beberapa menit yang lalu turun hujan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 01.15. Sebagian
panitia bergegas menuju lapangan dan sebagiannya lagi membangunkan para peserta
LDK. Dalam waktu 10 menit mereka telah berbaris sesuai kelompok di lapangan dan
para penjaga pos serta panitia lainnya mulai berkeliaran hingga menyisakan Eko
dan Ratna sebagai penjaga pos satu.
Ketika rapat tadi, Eko memutuskan untuk memindahkan
pos ku sehingga berada di depan Gedung Permesinan. Bukan di belakang Gedung
Permesinan tempat gedung baru akan dibangun. Aku sangat bersyukur dan berterima
kasih. Lega. Itu yang aku rasakan. Aku pun sudah berada di pos baru ku. Aku
mencari tempat yang tidak mudah dicari namun dapat melihat sekitar. Aku
memutuskan untuk duduk di tangga membelakangi Gedung Permesinan dan berhadapan
langsung dengan pepohonan lebat yang tumbuh di sekitar area menuju parkiran.
“Ta, kenapa di sini sih kita?” Buka Karel yang
sedaritadi aku perhatikan hanya diam.
“Memangnya kenapa? Bagus dong di sini, daripada di
belakang coba. Jauh dari peradaban. Kalo ada apa-apa kita susah untuk lari ke
depan, Rel.”
“Justru di sini lo menantang maut. Pohon lebat itu.
Itu tempat Si Melati duduk. Di dahan paling tinggi kalau sepi dan dahan paling
rendah kalau ia tahu masih ada makhluk di sekitarnya,” Ucap Karel yang berhasil
membuat bulu kuduk ku berdiri.
Sepintas aku melihat pohon yang dimaksud Karel.
Kosong. Pada dahan terendah tak ada apapun. Mungkin sosok itu belum mengetahui.
Tetapi nanti? Setelah beberapa kelompok yang melewati pos ini? Bagaimana nasib
mereka berdua? Entahlah. Tita terus berusaha menenangkan Karel dengan terus
mengatakan ini tempat aman dan dekat dari manapun. Jadi tidak perlu merasa
khawatir berlebihan.
Aku terus berbincang dengan Karel mengisi kekosongan
waktu. Karena ketika kami diam, aku merasa banyak sekali bibir yang
membicarakan kami di sekitar kami. Dua kelompok sudah melewati pos kami dan
tidak menyadari adanya kami. Kami berhasil.
Aku merasa waktu berjalan begitu lama. Untuk pertama
kalinya selama aku mendiami tempat itu. Aku merasa sedang diperhatikan dari
arah atas dan sebelah kiri ku, tepat terdapat sebuah bangku kosong dengan
dipayungi pohon. Sekolah ku memang pernah memenangkan penghargan tentang
kebersihan dan lingkungan, jadi jangan heran melihat banyak sekali pepohonan.
Aku memberanikan diri sesekali melirik ke atas, ke
dahan pohon tertinggi itu. Namun tidak ada apa-apa. Sekali dua kali aku
melihatnya, aku tidak ingin melihat yang ketiga kalinya lagi. Takut-takut
sesosok itu akan muncul pada penglihatan ku yang ketiga.
Aku pun memberanikan diri melihat ke sebelah kiri
ku, tempat bangku kosong itu. Aku memang melihat bangku itu tidak kosong, namun
pikiran ku berkata itu hanya tumpukan tempat sampah yang biasa diletakkan
disitu oleh Pak Mono, penjaga sekolah ku. Aku tidak mengambil pusing. Tak lama
Jery datang menghampiri kami.
“Kalian di sini? Bukan di gedung baru? Pantas saja
aku ke sana kosong,” Ucap Jery yang langsung duduk di sebelah kiri ku. Mau
tidak mau aku menoleh kembali ke arah kiri, namun pandangan ku bergeser pada
bangku kosong itu. Aku merasa semakin berhasil melihat sesosok yang berada di
sana.
“Rel, kalian di sana aja jangan di sini. Justru
lebih bahaya di sini,” Ucap Jery yang tak di dengar oleh Tita karena tatapannya
melekat pada daerah bangku itu.
“Aku juga udah bilang gitu ke Tita Jer. Dia malah
bilang di sini lebih amat ketimbang di belakang. Dianya mau di sini, yaudah apa
boleh buat?”
Tak lama Ario, penanggung jawab keamanan pun
menghampiri mereka sejenak ketika sedang berjalan-jalan bersama salah satu
anggota rohis, Abidin. Ario berdiri di sebelah Karel dan Abidin berdiri di
depan Tita seraya memandang Tita penuh lekat. Ia tau apa yang sedang terjadi.
“Kenapa kalian di sini? Ini pos berapa? Bagaimana
dengan pos kalian?”
“Tau nih, Yo. Tadi gue ada di pos ketiga di kantin.
Terus si Fikih dateng dia katanya mau
jaga pos ketiga, yaudah gue mau ke pos kedua. Eh pas gue ke belakang ngga ada
Karel sama Tita,” Balas Jery.
“Gue udah bilang, Yo, ke Tita mending di gedung baru
dia ngga mau. Dia selalu bilang di sini aman, udah gue bujuk dianya ngga mau
terus. Alhamdulillah sih daritadi ngga ada kejadian aneh apapun,” Bela Karel.
“Tau darimana lu ngga ada kejadian aneh? Di posnya
Fikih, daritadi anak-anak pada bilang itu pos dua. Gue curiga. Gue cari Abidin.
Gue ajak cari kalian. Baru kami menemukan kalian. Ayo pindah ke gedung baru
lebih aman di sana. Di sini tempat kontak langsung dengan mereka yang ada di
sini.”
Jery dan Karel pun berdiri bersiap untuk beranjak
pergi. Namun rupanya sedaritadi Tita tetap memandang bangku kosong itu
lekat-lekat. Abidin pun menyentuh pundak Tita, lama, lalu memanggil namanya,
“Tita.”
Tak lama Tita menoleh dan terkejut mendapati Abidin
di depannya dan Karel yang sudah berada di bawah bersama Jery dan Ario, “Loh?
Sejak kapan kamu ada di sini, Din?”
“Hayo kita pindah,” Ajak Abidin yang mempersilahkan
Tita menuruni anak tangga terlebih dahulu. Semacam robot, Tita hanya mengangguk
dan mengikuti perintah Abidin untuk turun. Ketika Tita berada di anak tangga
terakhir, ia seperti mendengar seseorang berkata, “Hati-hati ya.”
Reflex Tita menoleh ke belakang dan mendapati Abidin
tersenyum, “Lanjutkan. Kamu akan aman.” Tita tertegun. Apa Abidin juga
mendengar apa yang ia dengar? Apa ia akan bertanya pada Abidin? Sepertinya
tidak akan.
Ketika melewati pohon lebat itu untuk mencapai
gedung baru pun Tita hanya terdiam. Ia masih terus memikirkan apa yang ia
dengar barusan. Dan seperti peluru, sebuah suara kembali ia dengar, “Ya ya
yaaaa,” begitu panjang hingga di telan hembusan angin.
Aku kembali terkejut. Namun memutuskan untuk diam
dan tidak terlihat panik. Setibanya kami di gedung baru. Aku sangat tidak
percaya. Terlihat terang dengan cahaya bulan. Berbeda sekali dengan tempat yang
tadi kami diami. Ario dan Abidin meninggalkan kami. Sebelum Abidin beranjak, ia
sempat bertanya padaku, “Suka kucing?” Aku mengangguk dengan senyum selebar
mungkin. Abidin hanya mengangguk dan meninggalkan kami, aku, Karel, dan Jery.
Tak lama terlihat rombongan kelompok yang entah
sudah kelompok ke berapa. Kelompok lainpun berdatangan silih berganti dan fokus
ku kini pada para peserta bukan lingkungan.
Ketika aku duduk, aku terkejut ada seekor kucing
mendekat dan menggeram di punggungku. Aku sempat melonjak, namun Jery tersenyum
dan berkata, “Kucing itu baik.”
Aku merasa aman dan aku membiarkan kucing itu
menggeram di balik punggung ku. Sesekali aku mengelus leher dan tubuhnya ketika
lenggang. Dan kucing itu akan beridiri di sebelah ku ketika para peserta sedang
berada di pos ku. Layaknya seorang penjaga. Mungkin aku menggambarkannya
seperti itu.
kelompok para peserta pun usai. Aku, Karel, dan Jery
bergegas meninggalkan tempat itu menuju lapangan utama yang berada jauh di
depan. Aku kembali melewati bangku kosong itu, namun anehnya aku seperti
melihat Abidin duduk di sana.
“Abidin? Jangan diganggu, itu tugas dia ketika acara
selesai. Nanti juga dia akan berkumpul bersama kita kalau tugasnya sudah selesai,”
Ucap Jery yang melihat arah pandangan ku. Aku hanya mengangguk.
Aku berjalan menuju lapangan utama sambil berpikir.
Seperti baru terdasar satu hal, tadi ia seperti melihat Abidin di bangku kosong
itu ketika berjaga pos. Ia terkejut ketika melihat Abidin di depannya dan
memanggil namanya. Mungkin itu hanya perasannya saja. Begitulah pikiran Tita.
Seusai kegiatan seluruh peserta dan panitia
dipersilahkan untuk beristirahat. Beberapa temannya ada yang menyambangi ruang
tidur juniornya ada pula yang memutuskan untuk beristirahat. Kebanyakan panitia
lelaki yang akhirnya memutuskan untuk beristirahat setelah melewati malam yang
panjang.
***
Keesokan harinya, Tita terbangun dan kembali
terkejut melihat dirinya sendiri yang masih berada di dalam ruangan. Ia melihat
jendela dan panas matahari seperti sudah di atas kepala. Jam berapa sekarang?
Begitu pikirnya. Ia melihat jam dan menunjukkan pukul 6.00. Tak lama Ario masuk
ke dalam ruangan untuk menyimpan jaketnya.
“Baru bangun, Ta? Kebo banget tidurnya,” Sapa Ario
yang sedang berdiri di sudut ruang.
“Enak aja, kalian tuh yang ngga bangunin Tita,”
Jawab Tita yang kembali merapatkan jaketnya. Aneh.
Ario menghampirinya. Duduk di sebelahnya dengan
tatapan menusuk.
“Apa?” Tanya Tita risih.
“Mau tahu sesuatu hal mengenai semalam?” Tanya Ario
sok misterius.
Lagi-lagi Tita kembali terkejut. Namun, kali ini
dengan pikiran buruk mengenai dirinya dan semalam. Memang tadi selepas kegiatan
hanya ia satu-satunya perempuan yang memutuskan untuk beristirahat. Namun,
setega itukah teman-temannya?
“Jangan jorok lu!” Ucap Ario, “Semalam pas bintal.
Gue kasih tau ya, lu tuh dijagain semalem.”
“Dijagain? Sama siapa? Jery?”
“Bukan. Jadi Abidin dateng sama Fikih ke pos-nya
Jery semalem dan minta Fikih menggantikan Jery. Lalu Jery disuruh jaga di pos
lu. Abidin minta Jery nyusul ke pos lu. Pas Jery di pos belakang, dia ketemu
gue yang kebetulan lagi jaga disitu. Gue kesel soalnya ngga liat lu sama Karel
di sana.”
Tita hanya mengangguk meminta lanjutan dari cerita
itu.
“Jery memutuskan nyari di tempat yang lu tempatin
kemarin. Gue bilang ke Jery di sana ngga ada siapa-siapa soalnya gue abis dari
sana dan nihil.”
“Hah? Ario ngga liat Tita sama Karel di sana?” Tanya
Tita terkejut.
“Iya, makanya gue bingung Jery bisa nemuin lo di
sana. Pas jery menuju tempat lo, gue ke pos tiga jemput Abidin. Terus lo ngga
engeh kan gue sama Abidin dateng? Itu karena lo lagi ditahan sama Si Melati.”
“Hah?”
“Iya lo kan mandang bangku kosong terus dan Abidin
mandang l uterus. Singkat cerita pas kita di gedung baru Abidin ngirim kucing
dia di sana deh buat jagain lu. Terus udahan cerita lu jadi lelah banget terus
tidur deh. Makanya daritadi kita ngga ada yang berani bangunin lu,” Tutur Ario.
“Kucing itu, pantes matanya kaya Tita kenal. Trus
pas liat ke bangku kosong itu, itu mirip banget Abidin. Ngga taunya.
Alhamdulillah Tita masih selamat.”
“Makanya banyak doa di lingkungan baru. Kurang doa
tuh.”
Tita hanya tersenyum dan ia tersadar akan lingkungan
baru. Semenjak itu. dimanapun ia menapaki kakinya. Ia selalu berdoa sebisanya.
Memohon perlindungan dan keselamatan kepada-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar