Sabtu, 12 September 2015

Terlindungi Di Sisi Kucing


Bulan Desember, bulan di mana seluruh organisasi di sekolah ku melakukan kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan, atau biasa kami sebut LDK. Perkenalkan, nama saya Putri Nindya Mahkota Tita, panggil saja aku Tita. Seorang siswi pada tingkat 3 yang tengah melaksanakan salah satu program kerja wajib tahunan di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Negeri terkemuka di Desa Sukahati. Hari itu, hari kedua kami melaksanakan LDK. Saya memegang tanggung jawab penuh terhadap segala kegiatan administrasi untuk kegiatan tersebut. Para peserta LDK beserta beberapa para panitia tengah melaksanakan kegiatan baris berbaris yang dipimpin langsung oleh Ekstrakulikuler Paskibra dan Pramuka. Saya dengan beberapa panitia inti tengah berada di ruang isolasi, mendiskusikan lebih terperinci kegiatan Bimbingan Mental yang akan dilakukan pada dini hari malam nanti.
“Anggota rohis sudah kamu hubungi, Jer?” Tanyaku.
“Sudah, Ta. Nanti sore mereka akan tiba di sini. Jumlah seluruh anggota rohis 10 siswa. Untuk biaya transportasi kita ganti jadi biaya konsumsi sesuai rencana dan mereka tidak keberatan.”
“Konsumsinya pun berbeda dari anggota lainnya kok, Ta. Mereka aku pesankan nasi kotak. Nasi kotaknya tidak mahal, aku memesannya pada Pak Tono, penjaga kantin sekolah kita,” Timpal Tania.
“Berapa biaya anggaran konsumsi untuk mereka?” Tanya Eko, Ketua Penyelenggara Kegiatan.
“Seratus ribu rupiah, Ko. Sesuai dengan dana tak terduga yang sudah kita pinta. Saya memesan 20 dengan harga sepuluh ribu rupiah beserta air mineralnya.”
“Kamu kenapa, Ta?” Bisik Karel, Bendahara pada kegiatan LDK.
“Meskipun aku sudah tiga tahun melakukan kegiatan ini, dari semasa aku menjadi junior. Tapi aku tetap was-was, Rel,” Balas Tita dengan berbisik yang rupanya terdengar oleh Ario, panitia yang bertanggung jawab pada seluruh keamanan pada kegiatan tersebut.
“Ta, panitia di bawah naungan gue itu banyak, ganas-ganas lagi. Lo tenang aja masalah keamanan selama kegiatan bintal nanti malam,” Potong Ario.
“Yo, kamu tuh bukan hanya menangani seorang makhluk hidup, Yo.”
“Setidaknya anak buah gue ngga ada yang penakut. Dan di setiap pos akan selalu disertai anggota rohis. Anggota rohis yang tidak berada di pos pun akan ikut gue jalan-jalan di dalam area bintal nanti malam. Gue udah jelasin sistem kerja seksi gue kan?”
“Ta, kamu cuma parno. Kamu masih dibayang-bayangin kejadian tahun lalu karena kamu satu kelompok bersama Naomi. Untuk malam ini pun kegiatan tidak dilaksanakan terlalu larut kan? Dimulai dari jam setengah 2 malam sesuai permintaan kamu, dan jam 4 malam harus sudah selesai untuk mereka beristirahat sebentar menunggu adzan subuh,” Jelas Ari, panitia yang bertanggung jawab akan segala rangkaian acara pada kegiatan hari itu.
“Oke. Jadi aku bacakan hasil kesimpulan pertemuan singkat hari ini ya,” Ucap Tita yang dilanjutkan dengan anggukan kepala dari panitia lainnya.
“Pos pertama sebagai pos terminal dijaga oleh Eko bersama Ratna. Pos kedua sebagai pos bintal pertama dijaga oleh Tita dan Karel. Pos ketiga sebagai bintal kedua dijaga oleh Jerry dan Rio. Pos ketiga dengan materi pendidikan kewarganegaraan dijaga oleh Putri dan Oktav. Pos keempat dijaga oleh Cinta dan Shella dengan materi lingkungan. Pos terakhir, yaitu kelima dengan materi keterampilan akan dijaga Richard dan Kia. Ada pertanyaan?” Jelas Tita.
Panitia lainnya hanya menggelengkan kepala tanda mereka sudah paham dan tidak akan mengeluarkan pertanyaan. Melihat kondisi itu, Tita segera bertanya. Sedaritadi pikirannya terus bertanya mengenai adanya pos bintal sejumlah dua? Untuk apa? Ia sendiri pun sebenarnya bingung akan mengisi pos bintal itu dengan apa.
“Pos bintal pertama itu akan ditempatkan di belakang, di ruangan yang sedang dibangun. Kenapa terbagi menjadi dua, karena kami mau dari organisasi MPK dan OSIS ada tahap bintal tersendiri dan kamu bersama Karel kan petinggi MPK,” Jelas Eko.
“Tunggu, gedung MO? Gedung yang lagi dibangun untuk ruang praktik jurusan Mesin Otomotif? Yang pintu tembusannya ke kantin belakang?” Ucap Tita dengan panik.
Teringat di kepalanya cerita teman-temannya akan daerah gedung belakang itu. Gedung praktik jurusan Permesinan dan Mesin Otomotif yang bersebelahan dan terletak di belakang. Konon di dua gedung itu terutama di Gedung Permesinan terdapat seorang gadis bernama Melati yang suka melintas seenaknya saja di depan mata. Tak memandang siang ataupun malam.
“Kamu ngga usah takut, Ta. Pos kita berdampingan. Aku kan di kantinnya. Tepat di tempat siluman setengah harimaunya,” Ucap Jerry yang seakan-akan dapat membaca pikiran Tita.
Tita kembali teringat akan pos kantin itu, pos di mana ia menjadi saski hidup akan awal mula kegilaan Naomi, teman satu tim-nya dulu ketika menjadi junior, hingga meninggal beberapa bulan kemudian. Setidaknya, Si Melati ini tidak pernah mengganggu. Hanya menampakkan diri saja. Begitu pikirnya.
***
Malam pun tiba. Waktu sudah menunjukkan pukul. 22.00. Para peserta LDK telah diperintahkan untuk tidur 30 menit yang lalu. Sebagian panitia yang terdiri dari perempuan memutuskan untuk tidur bergantian hingga jam 1 malam. Dan para panitia lelaki memutuskan untuk berjaga dengan bermain gitar di malam hari yang sunyi.
Tita mempersilahkan Karel untuk tidur terlebih dahulu. Tita masih belum merasa aman. Bukan kali pertama ia melihat sekolahnya gelap gulita seperti ini, namun perasaan was-was itu masih terus bercokol di hatinya. Kenangan satu tahun silam tetap bergelayutan dalam benaknya. Selepas menunaikan sholat Isya tadi, Tita terus memanjatkan doa permohonan perlindungan akan kegiatannya dini  hari nanti.
“Ta, pada tidur semua yang perempuan?” Tanya Jery yang berhasil mengagetkan Tita dengan masuk ke dalam ruangan secara tiba-tiba.
“Eh, astagfirullohalazim, Jery! Ketok-ketok dulu kenapa sih. Ini kan isinya perempuan semua, kalo ada yang ganti baju gimana?” Celoteh Tita.
Jery mendekati Tita dan duduk di sebalahnya Tita, “Yailah, Ta. Sebanyak itukah baju yang di bawa para perempuan di dalam kegiataan kaya gini? Masih takut?”
“Tita tidur ya, Jer. Lumayan tidur 2-3 jam,” Jery hanya mengangguk dan meninggalkan Tita. Tita berusaha terlelap. Meskipun dengan usahanya yang keras untuk tertidur, ia pun berhasil tertidur entah pada jam ke berapa.
Tak lama Tita merasakn tidur, ia dibangunkan oleh Karel. Teman satu pos-nya itu.
“Ta, bangun, Ta. Kita ada rapat sebentar sebelum kegiatan dimulai,” Panggil Karel yang sedang mengguncang tubuh mungil Tita.
Setengah sadar Tita terbangun dan segera menarik selimutnya lebih dalam. Ketika Tita terduduk, ia terkejut. Seluruh teman-temannya sudah duduk melingkar tak jauh darinya duduk. Tita pun mendekati teman-temannya dan merapatkan mantelnya karena udara malam itu amat dingin. Beberapa menit yang lalu turun hujan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 01.15. Sebagian panitia bergegas menuju lapangan dan sebagiannya lagi membangunkan para peserta LDK. Dalam waktu 10 menit mereka telah berbaris sesuai kelompok di lapangan dan para penjaga pos serta panitia lainnya mulai berkeliaran hingga menyisakan Eko dan Ratna sebagai penjaga pos satu.
Ketika rapat tadi, Eko memutuskan untuk memindahkan pos ku sehingga berada di depan Gedung Permesinan. Bukan di belakang Gedung Permesinan tempat gedung baru akan dibangun. Aku sangat bersyukur dan berterima kasih. Lega. Itu yang aku rasakan. Aku pun sudah berada di pos baru ku. Aku mencari tempat yang tidak mudah dicari namun dapat melihat sekitar. Aku memutuskan untuk duduk di tangga membelakangi Gedung Permesinan dan berhadapan langsung dengan pepohonan lebat yang tumbuh di sekitar area menuju parkiran.
“Ta, kenapa di sini sih kita?” Buka Karel yang sedaritadi aku perhatikan hanya diam.
“Memangnya kenapa? Bagus dong di sini, daripada di belakang coba. Jauh dari peradaban. Kalo ada apa-apa kita susah untuk lari ke depan, Rel.”
“Justru di sini lo menantang maut. Pohon lebat itu. Itu tempat Si Melati duduk. Di dahan paling tinggi kalau sepi dan dahan paling rendah kalau ia tahu masih ada makhluk di sekitarnya,” Ucap Karel yang berhasil membuat bulu kuduk ku berdiri.
Sepintas aku melihat pohon yang dimaksud Karel. Kosong. Pada dahan terendah tak ada apapun. Mungkin sosok itu belum mengetahui. Tetapi nanti? Setelah beberapa kelompok yang melewati pos ini? Bagaimana nasib mereka berdua? Entahlah. Tita terus berusaha menenangkan Karel dengan terus mengatakan ini tempat aman dan dekat dari manapun. Jadi tidak perlu merasa khawatir berlebihan.
Aku terus berbincang dengan Karel mengisi kekosongan waktu. Karena ketika kami diam, aku merasa banyak sekali bibir yang membicarakan kami di sekitar kami. Dua kelompok sudah melewati pos kami dan tidak menyadari adanya kami. Kami berhasil.
Aku merasa waktu berjalan begitu lama. Untuk pertama kalinya selama aku mendiami tempat itu. Aku merasa sedang diperhatikan dari arah atas dan sebelah kiri ku, tepat terdapat sebuah bangku kosong dengan dipayungi pohon. Sekolah ku memang pernah memenangkan penghargan tentang kebersihan dan lingkungan, jadi jangan heran melihat banyak sekali pepohonan.
Aku memberanikan diri sesekali melirik ke atas, ke dahan pohon tertinggi itu. Namun tidak ada apa-apa. Sekali dua kali aku melihatnya, aku tidak ingin melihat yang ketiga kalinya lagi. Takut-takut sesosok itu akan muncul pada penglihatan ku yang ketiga.
Aku pun memberanikan diri melihat ke sebelah kiri ku, tempat bangku kosong itu. Aku memang melihat bangku itu tidak kosong, namun pikiran ku berkata itu hanya tumpukan tempat sampah yang biasa diletakkan disitu oleh Pak Mono, penjaga sekolah ku. Aku tidak mengambil pusing. Tak lama Jery datang menghampiri kami.
“Kalian di sini? Bukan di gedung baru? Pantas saja aku ke sana kosong,” Ucap Jery yang langsung duduk di sebelah kiri ku. Mau tidak mau aku menoleh kembali ke arah kiri, namun pandangan ku bergeser pada bangku kosong itu. Aku merasa semakin berhasil melihat sesosok yang berada di sana.
“Rel, kalian di sana aja jangan di sini. Justru lebih bahaya di sini,” Ucap Jery yang tak di dengar oleh Tita karena tatapannya melekat pada daerah bangku itu.
“Aku juga udah bilang gitu ke Tita Jer. Dia malah bilang di sini lebih amat ketimbang di belakang. Dianya mau di sini, yaudah apa boleh buat?”
Tak lama Ario, penanggung jawab keamanan pun menghampiri mereka sejenak ketika sedang berjalan-jalan bersama salah satu anggota rohis, Abidin. Ario berdiri di sebelah Karel dan Abidin berdiri di depan Tita seraya memandang Tita penuh lekat. Ia tau apa yang sedang terjadi.
“Kenapa kalian di sini? Ini pos berapa? Bagaimana dengan pos kalian?”
“Tau nih, Yo. Tadi gue ada di pos ketiga di kantin. Terus si Fikih dateng dia katanya  mau jaga pos ketiga, yaudah gue mau ke pos kedua. Eh pas gue ke belakang ngga ada Karel sama Tita,” Balas Jery.
“Gue udah bilang, Yo, ke Tita mending di gedung baru dia ngga mau. Dia selalu bilang di sini aman, udah gue bujuk dianya ngga mau terus. Alhamdulillah sih daritadi ngga ada kejadian aneh apapun,” Bela Karel.
“Tau darimana lu ngga ada kejadian aneh? Di posnya Fikih, daritadi anak-anak pada bilang itu pos dua. Gue curiga. Gue cari Abidin. Gue ajak cari kalian. Baru kami menemukan kalian. Ayo pindah ke gedung baru lebih aman di sana. Di sini tempat kontak langsung dengan mereka yang ada di sini.”
Jery dan Karel pun berdiri bersiap untuk beranjak pergi. Namun rupanya sedaritadi Tita tetap memandang bangku kosong itu lekat-lekat. Abidin pun menyentuh pundak Tita, lama, lalu memanggil namanya, “Tita.”
Tak lama Tita menoleh dan terkejut mendapati Abidin di depannya dan Karel yang sudah berada di bawah bersama Jery dan Ario, “Loh? Sejak kapan kamu ada di sini, Din?”
“Hayo kita pindah,” Ajak Abidin yang mempersilahkan Tita menuruni anak tangga terlebih dahulu. Semacam robot, Tita hanya mengangguk dan mengikuti perintah Abidin untuk turun. Ketika Tita berada di anak tangga terakhir, ia seperti mendengar seseorang berkata, “Hati-hati ya.”
Reflex Tita menoleh ke belakang dan mendapati Abidin tersenyum, “Lanjutkan. Kamu akan aman.” Tita tertegun. Apa Abidin juga mendengar apa yang ia dengar? Apa ia akan bertanya pada Abidin? Sepertinya tidak akan.
Ketika melewati pohon lebat itu untuk mencapai gedung baru pun Tita hanya terdiam. Ia masih terus memikirkan apa yang ia dengar barusan. Dan seperti peluru, sebuah suara kembali ia dengar, “Ya ya yaaaa,” begitu panjang hingga di telan hembusan angin.
Aku kembali terkejut. Namun memutuskan untuk diam dan tidak terlihat panik. Setibanya kami di gedung baru. Aku sangat tidak percaya. Terlihat terang dengan cahaya bulan. Berbeda sekali dengan tempat yang tadi kami diami. Ario dan Abidin meninggalkan kami. Sebelum Abidin beranjak, ia sempat bertanya padaku, “Suka kucing?” Aku mengangguk dengan senyum selebar mungkin. Abidin hanya mengangguk dan meninggalkan kami, aku, Karel, dan Jery.
Tak lama terlihat rombongan kelompok yang entah sudah kelompok ke berapa. Kelompok lainpun berdatangan silih berganti dan fokus ku kini pada para peserta bukan lingkungan.
Ketika aku duduk, aku terkejut ada seekor kucing mendekat dan menggeram di punggungku. Aku sempat melonjak, namun Jery tersenyum dan berkata, “Kucing itu baik.”
Aku merasa aman dan aku membiarkan kucing itu menggeram di balik punggung ku. Sesekali aku mengelus leher dan tubuhnya ketika lenggang. Dan kucing itu akan beridiri di sebelah ku ketika para peserta sedang berada di pos ku. Layaknya seorang penjaga. Mungkin aku menggambarkannya seperti itu.
kelompok para peserta pun usai. Aku, Karel, dan Jery bergegas meninggalkan tempat itu menuju lapangan utama yang berada jauh di depan. Aku kembali melewati bangku kosong itu, namun anehnya aku seperti melihat Abidin duduk di sana.
“Abidin? Jangan diganggu, itu tugas dia ketika acara selesai. Nanti juga dia akan berkumpul bersama kita kalau tugasnya sudah selesai,” Ucap Jery yang melihat arah pandangan ku. Aku hanya mengangguk.
Aku berjalan menuju lapangan utama sambil berpikir. Seperti baru terdasar satu hal, tadi ia seperti melihat Abidin di bangku kosong itu ketika berjaga pos. Ia terkejut ketika melihat Abidin di depannya dan memanggil namanya. Mungkin itu hanya perasannya saja. Begitulah pikiran Tita.
Seusai kegiatan seluruh peserta dan panitia dipersilahkan untuk beristirahat. Beberapa temannya ada yang menyambangi ruang tidur juniornya ada pula yang memutuskan untuk beristirahat. Kebanyakan panitia lelaki yang akhirnya memutuskan untuk beristirahat setelah melewati malam yang panjang.
***
Keesokan harinya, Tita terbangun dan kembali terkejut melihat dirinya sendiri yang masih berada di dalam ruangan. Ia melihat jendela dan panas matahari seperti sudah di atas kepala. Jam berapa sekarang? Begitu pikirnya. Ia melihat jam dan menunjukkan pukul 6.00. Tak lama Ario masuk ke dalam ruangan untuk menyimpan jaketnya.
“Baru bangun, Ta? Kebo banget tidurnya,” Sapa Ario yang sedang berdiri di sudut ruang.
“Enak aja, kalian tuh yang ngga bangunin Tita,” Jawab Tita yang kembali merapatkan jaketnya. Aneh.
Ario menghampirinya. Duduk di sebelahnya dengan tatapan menusuk.
“Apa?” Tanya Tita risih.
“Mau tahu sesuatu hal mengenai semalam?” Tanya Ario sok misterius.
Lagi-lagi Tita kembali terkejut. Namun, kali ini dengan pikiran buruk mengenai dirinya dan semalam. Memang tadi selepas kegiatan hanya ia satu-satunya perempuan yang memutuskan untuk beristirahat. Namun, setega itukah teman-temannya?
“Jangan jorok lu!” Ucap Ario, “Semalam pas bintal. Gue kasih tau ya, lu tuh dijagain semalem.”
“Dijagain? Sama siapa? Jery?”
“Bukan. Jadi Abidin dateng sama Fikih ke pos-nya Jery semalem dan minta Fikih menggantikan Jery. Lalu Jery disuruh jaga di pos lu. Abidin minta Jery nyusul ke pos lu. Pas Jery di pos belakang, dia ketemu gue yang kebetulan lagi jaga disitu. Gue kesel soalnya ngga liat lu sama Karel di sana.”
Tita hanya mengangguk meminta lanjutan dari cerita itu.
“Jery memutuskan nyari di tempat yang lu tempatin kemarin. Gue bilang ke Jery di sana ngga ada siapa-siapa soalnya gue abis dari sana dan nihil.”
“Hah? Ario ngga liat Tita sama Karel di sana?” Tanya Tita terkejut.
“Iya, makanya gue bingung Jery bisa nemuin lo di sana. Pas jery menuju tempat lo, gue ke pos tiga jemput Abidin. Terus lo ngga engeh kan gue sama Abidin dateng? Itu karena lo lagi ditahan sama Si Melati.”
“Hah?”
“Iya lo kan mandang bangku kosong terus dan Abidin mandang l uterus. Singkat cerita pas kita di gedung baru Abidin ngirim kucing dia di sana deh buat jagain lu. Terus udahan cerita lu jadi lelah banget terus tidur deh. Makanya daritadi kita ngga ada yang berani bangunin lu,” Tutur Ario.
“Kucing itu, pantes matanya kaya Tita kenal. Trus pas liat ke bangku kosong itu, itu mirip banget Abidin. Ngga taunya. Alhamdulillah Tita masih selamat.”
“Makanya banyak doa di lingkungan baru. Kurang doa tuh.”
Tita hanya tersenyum dan ia tersadar akan lingkungan baru. Semenjak itu. dimanapun ia menapaki kakinya. Ia selalu berdoa sebisanya. Memohon perlindungan dan keselamatan kepada-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar