Sabtu, 12 September 2015

Filosofi Balon


Balon…
Beragam sekali makna yang terkandung di dalam benda ringan itu. Terkadang, kita tak pernah melihat senyum bocah kecil yang sumringah tetapi akan berbeda bila ia melihat sebuah balon. Dengan hanya melihat balon itu saja, bocah kecil akan sudah merasa senang, tak terbayangkan betapa bahagianya seorang bocah kecil apabila memiliki balon itu. Sejurus kemudian bocah kecil itu bimbang. Bagaimana cara merawat benda ringan itu agar tetap menjadi miliknya? Apabila ia pegang erat-erat, balon itu akan pecah akibat ulahnya. Tetapi, apabila ia tidak menggenggam balon itu dengan erat, tentu saja balon itu akan dengan mudah terbang tinggi diangkasa. Bocah kecil itu melamun di tepian sungai dengan terus memandang balon itu. “Apakah setega itu aku mendekapmu dan membiarkan kau pecah di dalam dekapanku? Tetapi, kau teramat lucu dan lugu untuk aku nikmati sendiri. Apakah aku harus berbagi? Tetapi, kepada siapa? Aku takut kau terluka,” Begitu kata bocah kecil itu.
Seakan angin menjadi perantara jawaban dari balon itu yang berhembus kencang secara tiba-tiba. “Kau benar! Aku memang amat lugu dan lucu. Banyak sekali bocah kecil seperti mu bahkan semua orang yang sangat senang memandang keluguanku. Untuk itulah aku ada. Untuk memberikan kebahagian dan kehangatan, serta untuk memberikan pelajaran kebersamaan. Maka dari itu, lepaskan lah aku. Biarkan aku terbang tinggi di atas awan dan semua orang akan memandangku,” Jawab balon itu.
“Tetapi, siapa yang akan melindungimu di atas sana? Bagaimana kalau ada tangan jahil yang ingin memecahkan mu dari bumi?” Tanya bocah kecil itu lagi. “Kau tak perlu khawatir. Biarkan aku terbang di atas awan yang tinggi. Apabila aku pecah di atas sana, setidaknya aku tidak pecah dengan sia-sia. Sebelum aku pecah, aku berhasil membuat banyak orang di bawah sana tersenyum. Dan kau, tentunya sangat berpengaruh akan hal itu. Kau akan menyadari betapa bahagianya berbagi, meskipun itu dengan artian kau akan melepaskan apa yang menjadi milikmu di awal. Tuhan akan senang dengan sikap mu, Sayang,” Jawab sekali lagi balon tersebut. Dan bocah kecil itu melepaskan balon yang ia miliki. Satu balon yang amat sangat ia jaga awalnya dan ia lepaskan akhirnya.
“Ibu lihat balon itu bagus sekali, berbentuk kepala miki mouse,” Ujar seorang anak kecil yang tak sengaja lewat bersama Ibunya. Sang Ibu hanya tersenyum melihat anak itu.
“Sayang, lihat itu balon miki mouse. Jarang banget balon berbentuk seperti itu. Kok ada ya yang mau melepaskan balon seunik itu,” Ucap seorang perempuan kepada kekasihnya.
Bocah kecil itu tertegun melihat sekitarnya yang terpana akan balon yang baru saja ia lepas. Tak menyangka sebuah balon kecil membuat kehangatan yang sangat besar di sekitarnya. “Benar katamu, Balon, mereka semua terkagum-kagum melihatmu di atas sana. Kau memang tampak menarik di atas sana. Dan ada perasaan bahagia terselip melihat mereka tersenyum karena kepunyaanku sendiri,” Tutup Bocah Kecil itu sebelum kembali ke rumah.
Itulah makna yang tersirat. Di dalam kehidupan ini, kita tetap harus saling berbagi dan memikirkan orang lain karena kita makhluk sosial. Saling berbagi, apapun, baik benda yang terlihat ataupun yang tidak terlihat seperti kepandaian dan kebahagian serta rasa kasih sayang.
Di dunia ini tidak ada yang abadi dan di sanalah kita seharunya belajar. Bahwa apapun yang kita punya bukanlah milik kita. Itu hanya titipan dari-Nya sebagai amanah untuk menjaganya dan menjadikan titipan itu berdampak positif untuk kita.
Dan tentunya untuk para remaja, seharusnya ini menjadi tamparan untuk kalian. Para remaja yang baru saja putus cinta, lepaskanlah. Sekeras apapun kau menjaga sebuah hubungan ataupun setinggi apapun kau menggapai, kau akan tetap kalah. Karena balon akan tetap terbang tinggi tak melihat seseorang yang terengah-engah mengejarnya di bumi. Ikhlas lah belajar melepaskan dengan lapang dada dan lihat dampak pada dirimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar