Minggu, 30 Desember 2012

sebait kalimat untuk mu ( ˘ ῳ ˘ ſƪ )

#part 3 Tuhan itu adil selalu memberikan sedih sesudah senang, dan memberikan senan sesudah sedih setidaknya aku pernah tertawa bersamanyasetidaknya aku pernah nangis karna dan bersamanya ☹ dan setidaknya pula dia pernah mendengar kalimat "gamau kak gamau pergi dan jangan pergi" yang tulus aku ucapkan saat itu

sebait kalimat untuk mu ( ˘ ῳ ˘ ſƪ )

#part 2 aku... aku di sini belajar bagaimana caranya menghargai orang di sekiitar aku dan kamu! kamu yang mengajariku bagaimana aku harus menghargai orang di sekitarku aku... aku di sini belajar bagaimana bersikap kepada orang lain dan kamu! lagi-lagi kamu yang mengajarkanku bagaimana harus menyikapi seseorang semua yang berlatar belakang menjadi suatu hubungan yang timbal balik di awali pagi dan di akhiri malam di awali musim hujan dan di akhiri musim kemarau di awali rintik air dan di akhiri pelangi tapi ada satu hal yg terjadi satu hal yg sinkron yg membuatku ikhlas menayadrinya yaitu di awali kamu dan di akhiri pula oleh kamu bukan oleh aku atau lainnya ☹

sebait kalimat untuk mu ( ˘ ῳ ˘ ſƪ )

#part 1 untuk kamu yang tahu bagaimana cara aku bahagia ☺ pasti kamu akan tahu cara membuat aku menangis ☹ untuk kamu yang tahu cara mengendalikan emosiku maka kamu akan tahu bagaimana cara aku menyikapi perasaanku untuk mu dan untuk kamu! sebuah balon memang akan terbang tinggi di atas tapi tentunya balon akan tahu kapan saatnya ia akan turun ♥ ( ˘ з˘ ) ♥

Minggu, 09 Desember 2012

HUJAN (づ。◕‿‿◕。)づ

HUJAN itu alami HUJAN itu indah ☺
HUJAN itu sejuk HUJAN itu air
HUJAN itu dingin HUJAN itu sakit ☹
Tapi aku suka HUJAN
Aku suka HUJAN yang jatuh di kepalaku
Aku suka HUJAN yang membasahi tubuhku di siang hari
Sama hal-nya dengan aku suka cara kamu hadir di setiap masalah ku
Main HUJAN --> sakit --> minum obat --> diberi nasihat mama --> sembuh
Sama saja dengan
Masalah --> sakit --> kamu menangkap ku --> diberi nasihat sama kamu --> dan BUSH ! kamu hilang menjadi kenangan
doaku di saat hujan hanya satu
"Tuhan aku senang mendapatkan HUJAN ini. Karna dgn hujan ini aku membayangkan dirinya
dan memohon dia kembali menangkap ku ☹"

Sabtu, 03 November 2012

Maudy Ayunda ~ Tahu Diri

Hay selamat bertemu lagi
Aku sudah lama menghindarimu
Sial pula kau ada disini

Sungguh tak mudah bagiku
Rasanya tak ingin bernafas lagi
Tegak berdiri di depan mu kini
Sakitnya menusuki jantung ini
Melawan cinta yg ada di hati

Dan upaya ku tahu diri
Tak selamanya berhasil apabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah menghilang sajalah lagi

Hay selamat berpisah lagi
Meski masih ingin memandangimu
Lebih baik kau tiada di sini
Sungguh tak mudah bagiku menghentikan segala khayalan gila
Jika kau ada dan ku cuma bisa meradang
Menjadi yg di sisimu membenci nasib ku yg tak berubah

Dan upaya ku tahu diri tak selamanya berhasil
Apabila kau muncul terus begini tanpa pernah bisa kita bersama
Pergilah menghilang sajalah lagi

Berkali-kali kau berkata
Kau cinta tapi tak bisa
Berkali-kali ku tlah berjanji
MENYERAH

Senin, 15 Oktober 2012

ᵔᴥᵔ kumpulan kata - kata ᵔᴥᵔ

Missing someone + No text from them + Seeing them tweet = Worst feeling ever

I still remember all the special, fun and crazy moments between us and I miss them.

When I don't text you, that means I'm waiting for you to miss me.

Dear Someone, You are perfect the way you are and I love you, please don't change.

Dear Someone, I'm so scared you'll forget about me, I'm so scared we just won't be the same again.

See this smile? It's fake. See that laugh? It's not real. See this person? I'm broken inside.

Seeing your smile is something I can never get enough, I always want to see it more, it makes me feel happy inside

Your happiness, your smile, your laugh, your sweetness = Made my day.

Dear Someone, You can replace and forget me but you can't replace the memories we've ever had.
I hate the feeling of missing you.

Dear Someone, when I'm with you, you make me the happiest person I can ever be.

Sabtu, 13 Oktober 2012

☹ Cakra Khan ~ Harus Terpisah ☹

Sendiri sendiri ku diam diam dan merenung
Merenungkan jalan yang kan membawaku pergi
Pergi tuk menjauh menjauh darimu
Darimu yang mulai berhenti berhenti menocba
Mencoba bertahan bertahan untuk terus bersamaku

Ku berari kau terdiam ku menangis kau tersenyum
Ku berduka kau bahagia ku pergi kau kembali
Ku coba meraih mimpi kau coba tuk hentikan mimpi
Meman kita tak kan menyatu

Bayangkan bayangkan ku hilang hilang tak kembali
Kembali untuk mempertanyakan arti cinta
Cinta mu yg mungkin mungkin tak berarti
Berarti untuk ku rindukan

Ku berari kau terdiam ku menangis kau tersenyum
Ku berduka kau bahagia ku pergi kau kembali
Ku coba meraih mimpi kau coba tuk hentikan mimpi
Memang kita tak kan menyatu

Ini harusnya kita coba saling melupakan kita pernah bersama ☹

㋡ Ipank ~ Ada Yang Hilang ㋡

Aku hanya bisa terdiam
Melihat kau pergi dari sisiku
Tinggal kan aku seakan semuanya yang pernah
Terjadi tak lagi kau rasa

Masih adakah tentang aku dihatimu
Yang kau rasakan coba kau rasakan
Mudahkah bagimu untuk hapuskan
Semua kenangan bersama dengan ku

Tak pernah sedikitpun aku bayangkan
Betapa hebatnya cinta yang kau tanam kan
Hingga waktu beranjak pergi
Kau mampu hancurkan hatiku

Ada yang hilang dari perasaan ku
Yang terlanjur sudah kuberikan padamu
Ternyata aku tak berarti tanpa mu
Berharap kau tetap di sini
Berharap dan berharap lagi

☺ Tak Pernah Padam ~ Sandi Sandoro ☻

Senyuman mu masih jelas terkenang
Hadir selalu seakan tak mau hulang dari ku
Tak kan mudah ku bisa melupakan segalanya
Yang telah terjadi diantara kau dan aku
diantara kita berdua

Kini tak ada kenangan kabar dari dirimu
Kini kau telah menghilang jauh dari diriku
Semua tinggal cerita antara kau dan aku
Namun satu yg perlu engkau tau
Api cinta ku pada mu tak pernah padam

Tak kan mudah ku bisa melupakan
segalanya yg telah terjai diantara kau dan aku
diantara kita berdua

Kini tak ada kenangan kabar dari dirimu
Kini kau telah menghilang jauh dari diriku
Semua tinggal cerita antara kau dan aku
Namun satu yg perlu engkau tau
Api cinta ku pada mu tak pernah padam

Sabtu, 15 September 2012

Aku atau Temanmu

Aku mulai tak suka
Ketika kau mulai acuhkan diriku
Apakah kau masih menganggap diriku
Sebagai kekasihmu

Seringkali kau lupakanku
Saat bersama teman-temanmu
Pilih aku atau teman-temanmu
Dan ku kan pergi tinggalkanmu

(sungguhku) sungguh aku tak suka
Bila kamu tak perhatian padaku
Apakah kau masih menganggap diriku
Sebagai kekasihmu (kekasihmu)

Seringkali (sering) kau lupakanku (lupakan)
Saat bersama teman-temanmu
Pilih aku atau teman-temanmu
Dan ku kan pergi tinggalkanmu
Dan ku kan pergi tinggalkanmu

Seringkali kau lupakanku
Saat bersama teman-temanmu
Pilih aku atau teman-temanmu
Dan ku kan pergi tinggalkanmu

(seringkali) seringkali (kau lupakanku) kau lupakanku
(saat bersama teman-temanmu)
Pilih aku atau teman-temanmu
Dan ku kan pergi tinggalkanmu
Dan ku kan pergi tinggalkan, tinggalkanmu

Minggu, 09 September 2012

Buat Mama

Entah mengapa gue tersadar akan satu hal.
Ternyata selama ini gue salah cara, kirain gue cara itu cara terjitu untuk membuktikan rasa sayang gue ke mama.
Dengan gue jarang rapat OSIS MPPK lagi.
Dengan gue mengurangi aktivitas gue di luar rumah dan lebih banyak waktu di rumah.
Dan gue salah, yg nyokap butuhin dari dulu itu gimana cara gue mengatur semuanya :)
Mengatur waktu main, belajar, pacaran, keluarga.
Mengatur Keuangan gue yg masih sangat susah gue atur.
Maaf banget buat mama karna gue masih belum bisa pada tahap itu.

Jumat, 07 September 2012

COBALAH MENGERTI

aku tak kan pernah berhenti
akan terus memahami masih terus berfikir
bila harus memaksa atau berdarah untuk mu
apapun itu yg ku rasa mencoba menerima ku

dan kamu hanya perlu terima dan tak harus memahami
dan tak harus berfikir hanya perlu mengerti
aku bernafas untuk mu jadi tetaplah di sini
dan mulai menerimaku

cobalah mengerti
semua ini mecari arti
selama nya tak kan berhenti
ingin kan rasakan rindu ini menjadi satu
biar waktu yg memisahkan

dan kamu hanya perlu terima
dan tak harus memahami
dan tak hars berfikir
hanya perlu mengerti aku bernafas untuk mu
jadi tetaplah di sini
dan mulai menerimaku

Rabu, 15 Agustus 2012

Tangga ~ Cinta Tak Mungkin Berhenti

Tak ada kisah tentang cinta
Yang bisa terhindar dari air mata
Namun ku coba menerima, hatiku membuka
Siap untuk terluka

Cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati
Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga hidupku pun berarti
Cinta tak mudah berganti, tak mudah berganti jadi benci
Walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati

Walau seharusnya bisa saja dulu aku menghindar
Dari pahitnya cinta
Namun ku pilih begini, biar ku terima
Sakit demi jalani cinta (cinta)

Cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati
Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga (sehingga) hidupku (hidupku) pun berarti
Cinta tak mudah berganti, tak mudah berganti jadi benci
Walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati

Hanya kamu yang bisa
Bisa membuatku rela (rela menjalani segalanya)
Rela menangis karenamu (ku rela ku rela …)

Cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati
Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga hidupku pun berarti
Cinta tak mudah berganti (cinta tak mungkin berhenti)
Tak mudah berganti jadi benci (tak mudah untuk berganti)
Walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati
Biar ku pergi sembuhkan hati

Kamis, 02 Agustus 2012

Agnes Monica ~ Rapuh

Belum sempat
ku membagi kebahagiaanku
Belum sempat
ku membuat dia tersenyum

Haruskah ku kehilangan
tuk kesekian kali
Tuhan kumohon jangan lakukan itu

Sebab ku sayang dia
Sebab ku kasihi dia
Sebab ku tak rela
Tak s’lalu bersama
Ku rapuh tanpa dia
Seperti kehilangan harap

Jikalau memang harus ku alami duka
Kuatkan hati ini menerimanya

Puing Kenangan ~ Ungu

Setelah ku gagal cinta
Ku terhanyut dalam sepi yang tiada berakhir
Sakitnya rasa hatiku ini
Menerima kenyataan pahit

Ingin ku kembali merajut cintaku
Namun ku takut dia tak mencintaiku lagi

Sakit karena cintamu
Engkau tak mengerti diriku
Haruskah ku balas semua ini
Agar ku puas memberi hasratku ini

Cukup kau hancurkan semua
Mimpi indah yang ku impikan
Selalu kau pergi dan tinggalkanku
Kini hanyalah puing kenangan dan kesedihan

Ingin ku kembali merajut cintaku
Namun ku takut dia tak mencintaiku lagi

Sakit karena cintamu
Engkau tak mengerti diriku
Haruskah ku balas semua ini
Agar ku puas memberi hasratku ini

Cukup kau hancurkan semua
Mimpi indah yang ku impikan
Selalu kau pergi dan tinggalkanku
Kini hanyalah puing kenangan dan kesedihan
Kini hanyalah puing kenangan dan kesedihan

Senin, 02 Juli 2012

Pergantian Tahun Pergantian Kisah

“Tik, Tika, Cantika bangun !!!”

Cantika terbangun dari tidurnya dan masih dengan mata kosong menatap jalan raya yang ada di depannya.

“Udah mau sampe hayo siap-siap”

“Hmmm.. ya mah”

“Vian, Dita turun yuk cepet”

Di belakang, Cantika pun masih diam duduk sebentar untuk menetralkan pandangan dan mengumpulkan segenap kekuatan untuk melanjutkan perjalanan. Satu menit.. Dua menit.. Hingga akhirnya Cantika merasa sudah cukup untuk bangkit dan pergi.

Bunda, Dita, dan Vian sudah turun terlebih dahulu lalu di susul Cantika.

“Haduh kita naik apa yaa? Kopaja aja yaaa”

“Yaudah terserah Bunda aja”

Entah mengapa dari turun bus tadi hingga berbincang sebentar kepada Bunda dan adik-adiknya Cantika merasa ada sesuatu yg kurang. Pikirannya terus bekerja hingga ia tersadar akan satu hal.

“Bun, hp aku mana?”

“Lah? Kan kamu pegang, Ka, mana tau Bunda hp kamu dimana?”

Mampus gue, pikir Cantika yang mulai panik.

“Jangan bilang ketinggalan,” selidik Bunda.

“Iya, Bun, tadi aku pegang sekarang udah ngga ada”

Jawab Cantika polos dan ringan.

“Ya ampun Cantika, kok bisa sih? Bus-nya udah jalan lagi, trus sekarang gimana?”

“Udah, Bun, ngga apa-apa. Kita harus segera sampai rumah eyang sekarang”

“Tapi hp kamu?”

“Tuh ada taksi, Bun,” ucap Cantika berusaha mengalihkan pembicaraan.

Mereka pun bergegas menaiki taksi tersebut dan melesat pergi.

***

Di dalam taksi Cantika hanya diam. Terdengar Bunda sedang mengadukan tentang hp-nya yang hilang tersebut kepada Ayah tetapi entah mengapa ia sangat marah mendengarnya.

Udah napa guenya juga udah ikhlas kehilangan hp kenapa jadi di perpanjang gini sih, dengusnya dalam hati.Cantika hanya melamun menghadap jendela. Cantika teringat akan sesuatu hal.

***

“Lo ngerti dong gue masih ada jam kuliah, gue belum libur ngga kaya elu, Ka ”
“Bukannya gitu kak, tapi biar jelas aja kapan mau ngajarinnya. Kasian temen gue”
“Lo atur aja deh capek tau ngga sih gue sama lo, manja banget sih”
“Ya”
Cantika menutup telponnya.

“Ngeselin banget sih kak Nico gitu doang juga. Lagian gue udah bilang gue tuh anaknya manja, kenapa dia masih mau ngeladenin gue? Kecuali kalo gue....”

Dengusan Cantika terhenti tat kala mendengar bunyi dering handphone-nya tanda bahwa ada sms masuk.

“Hmm Richard Muhammad Zainico, ngapain lagi sih lu kak”

Form. kak Richard Muhammad Zainico

Lo atur ajadeh kapan mau belajar bareng gue


“Masih minat gitu gue belajar bareng lo?”

Form. Bocah Kecil gue

Ya

***

“Haduh nih bocah ngambek sama gue ini mah namanya”

“Siapa, Co?”

“Hah? Ngga kok, Ta, bukan siapa-siapa”

“Kamu kan suka gitudeh kan akunya di sini”

“Maksud?”

“Tadi kata kamu bocah ngambek, lah kan kamu emang manggil aku bocah”

“Terus?”

Nico masih saja tidak mengerti maksud Clarinata teman satu kuliahnya yg ternyata merasa bahwa panggilan Bocah itu hanya di tujukan kepada dirinya. Padahal Nico memanggil semua perempuan yg ia kenal dengan sebutan bocah, kecuali dengan Cantika. Entah mengapa Nico ingin sekali meledeknya dengan sebutan Bocah Kecil.

“Ya aku kan lagi ngga ngambek sama kamu, ngapain kamu pake bilang ini bocah ngambek sama kamu?”

Oiya yaa mampus gue, batin Nico.

“Hah? Hmmm oiya yaa hehehe”

“Wooo kamu hahaha”

“Eh aku ke kamar mandi sebentar yaaa”

***

Di rumah saking Cantika sangat emosinya, ia memutuskan untuk tidur. Menurutnya cara paling efisien untuk menghilangkan pusing, galau, dan menahan emosinya selain makan ialah tidur. Tetapi baru saja ia akan memejamkan matanya tiba-tiba handphone-nya berbunyi.

“Hallo”

“Eh bocah”

Cantika pun terduduk mendengar panggilan itu. Sebentar Cantika melihat siapa cowok yang menelponnya itu.

“Hah? Kak Nico? Ngapain?”
“Hallo Bocah Kecil, eh lu gue lagi nelpon juga”
“Apaan sih? Rusuh bener ah”
“Yeehh.. masih mending gue masih mau nelpon lu ya”
“Ngga ada juga yg nyuruh lu nelpon gue”
“Eh gue nelpon lu demi kepentingan lu juga ya”
“Maksud?”
“Jadinya belajar dimana? Di rumah lu? Malam ngga apa-apa yaa”
“Ngga bisa ngga boleh sama Bunda”
“Trus? Gue pulang kuliah jam 8, Cah”
“Yaudah Minggu”
“Gue mau ke Puncak sama temen-temen gue”
“Hmm ya Puncak...”

Cantika terdiam sejenak dan berpikir, kenapa waktu itu gue nolak yaaa? Ahelah nyesel banget gue.

“Napa lu? Jadi nyesel? Mau ikut gue?”

“Hah? Ngga deh makasih”

“Halah dasar bocah belaga bohong sama gue. Pikiran kamu tuh transparan sayang hahahahaha”

“Apaan sih lu ah kak”

“Ejiejie pipinya udah merah gue panggil sayang secara langsung hahaha awas lu suka lagi sama gue”

“Ih tuh kan bahasnya kenapa jadi itu sih? Udah ah ganggu tidur siang gue aja”

“Tuh kan bocahnya keliatan banget, masih jaman tidur siang? Hahahha”

“Tawa lu ah bodo”

“Yaudah jadinya kapan?”

“Gue ngga bisa malam”

“Eh yang mau ngajarin elu kan gue. Tarolah gue jadi guru privat lo, jadi tergantung jadwal guru dong”

“Kok gitu?”

“Yaiyalah lu ngga bayar gue kecuali lo bayar gue baru gue ikutin kemauan lo”

“Yaudah ngga jadi gue biar minta tolong kak Ciko aja”

“Kok gitu?”

“Suka-suka gue lo-nya ngga mau ngikutin kemauan gue”

“Heh, lo tuh siapa? Gue harus ngikutin kemauan lo. Manja banget sih jadi cewek dasar Bocah Kecil”

“Heh anak pedalaman tinggal di daerah terpencil gue kira otak lo otak kota ngga taunya sama aja, otak pedalaman”

“Eh bocah kok lo nyolot sih?”

“Eh ngaca dong siapa duluan yang mulai?”

“Nyesel gue nelpon lo dasar Bocah Kecil!!”

“Dasar Anak Pedalaman !!”

***

“Semenjak itu gue sms lo nga pernah di bales. Mungkin seneng kali yaa lo udah ngga ada sms dari gue”

Ucap Cantika lirih dengan pandangan lurus menatap jalan raya di dalam taksi. Masih terdengar percakapan Bunda dengan ayahnya yang masih membahas hal yang sama, Handphone-nya yang hilang.

“Hmmm... semakin di omongin kaya gitu gue semakin galau kan ah. Tapi ngga, gue harus ikhlas. Handphone itu emang udah banyak banget kenangan indah gue sama kak Malik tapi gue harus ikhlas. Tapi mungkin gue emang ngga boleh komunikasi lagi sama kak Nico”

Diam.. Hening..

“Sms terakhir gue ke kak Nico tentang ‘Terima Kasih udah ngasih gue senyum di tahun 2011’ yaah secara tidak langsung itu salam perpisahan kali yaa. Gue sayang sama lo kak, sayang banget karna buat gue lo tuh kakak cowok gue. Ngga lebih, gue sayang sama lo”

***

Sesampainya di rumah eyang, Cantika hanya diam. Hanya senyum seadanya yang ia berikan kepada sepupunya. Cantika masih tidak merasakan aura keluarga di sana. Ia merasa asing setelah kejadian tersebut.

Dan entah mengapa di tengah-tengah hangatnya nuansa keluarga ia hanya diam duduk terlamun. Ia yakin ia sudah ikhlas melepas handphone itu, tapi kak Nico? Apa iya tahun baru nanti kak Nico akan menghubunnginya? Apa iya kak Nico akan menghubunginya untuk menanyakan rencana belajar bersamanya itu? Terlebih kabar tentang dirinya.

Kita baru 2 mingguan kenal dan gue rasa sesabar apapun lo buat lo emang gue belom penting, pikir Cantika.

Buat gue lo udah penting banget kak lo terhitung orang yang sabar ngadepin gue, pikir Cantika lagi.

Hari ini pun berakhir dengan amat sangat tragis buat Cantika.

***

Hari kedua di rumah eyang, Cantika masih belum menemukan sebagian dirinya. Cantika masih merasa fisiknya memang dia ada di rumah eyang. Tapi roh-nya tidak. Pagi itu Cantika memutuskan untuk ke rumah mbah kangkung, kakek dari ayahnya yang ternyata tidak jauh dari rumah eyangnya.

“Eh ada Mba Cantika, Dio salim sana sama Mba Cantika”
“Hai Dio”
Sapa Cantika dengan senyum yang menurutnya sangat menggantung.
“Mba Cantikanya lagi galau tuh liat mukanya di tekuk”
“Ah Om bisa aja hahaha ngga dong kan ke sini mau liburan”
“Hahaha aktingnya pinter banget kamu yaudah sana naik ke atas”
“Ngapain?”

“Om tau kebiasaan kamu, udah sana mumpung ayah kamu ngga ikut ke sini trus Bunda kamu di rumah eyang. Ngga ada yang tau kan kamu naik ke atas lagi”

“Hahaha sesat banget nih om hahaha”
“Om ngerti kali yaudah cepet sana tenang om yang nutupin hahaha”
“Sip Om, makasih yaaa. Dada Dioooo !!!!”

Cantika pun langsung melesat dengan cepat menuju atap rumah mbah-nya itu. Tempat Cantika merenung dan menangis.

***

Cantika telah sampai dengan selamat di atas atap rumah.

“Hmmm udah lama gue ngga ke sini. Makin tenang gue di sini”

Cantika jalan perlahan menuju bagian paling ujung rumah mbah-nya itu.

“Indah banget ya dunia ini, awannya biru banget. Udah lama gue ngga kaya gini”

Diam.... Cantika memutuskan untuk diam dan membiarkan dirinya terbawa suasana hangat alam bebas.

***

Sementara itu di kampus, terlihat Nico tengah membuka sms dari Cantika.

“Dasar bocah udah 2 hari kemarin sms dia ngga pernah gue bales hahahaha”
“Siapa, Co?”
“Hah? Ngga kok, Bro”

Nico segera memasukkan handphone-nya.

“Ejie Nico punya yang baru hahaha”
Ucap Sebastian, teman satu kampus Nico.

“Clarinata mau di kemanain, Co?”
Goda Vito, temannya yang lain.

“Heh gue kasih tau ya, gue sama Clarinata ngga pernah ada hubungan ya”
“Wah tega kali rupanya teman kita ini hahaha”
“Dia udah naro harapan besar sama lo, Co, di tahun baru nanti”
“Gue bilang gue nyusul ke Puncak-nya hari Minggu”
“Hahaha iyaa dia mau berduaan aja sama Clarinata ke Puncaknya hahaha”
“Apaan sih lu? Clarinata bareng lo semua gue doang yang hari Minggu”
“Lah? Dia cerita sama gue bareng elo katanya”
“Ngga lah, mau banget gitu gue bareng dia? hahaha”
“Trus lu sendirian? Lagian lu mau ngapain sih? Perasaan lu ngga punya acara lagi deh kecuali sama kita”
“Ada deh hahaha yang jelas gue ngga sendiri”
“Lu mau ngajak si Bocah Kecil lo itu?”
“Hahahah doain aja”
“Gokil lo, Co, sumpah. Dia masih di bawah umur gitu juga”
“Hahaha udahan ah gue cabut duluan ya, bye”

Nico pun melesat pergi menuju parkiran motor. Selama perjalan menuju parkiran Nico hanya bersiul-siul gembira dengan handphone bermain-man di atas tangannya. Nico terus menggoda teman kampusnya yang kebetulan bertemu dengannya dan tentu saja wanita.

“Et tunggu dulu”

Nico berhenti memasukan kunci motornya seketika

“Gue bales dulu deh sms dia, kasian hahahah”

Nico pun mulai mengetik sms yang serupa yang dikirim Cantika kepadanya.

“Yaak sedikit lagi kita cari nomernya Bocah Kecil. Nah ini dia dan send. Pasti sebentar lagi dia sms gue bilang makasih hahaha dasar bocah bocah”

Ucap Nico yang masih duduk di atas motornya. Ia terus menggoda teman satu kampusnya yang sedang mengambil kendaraannya, hal itu ia lakukan untuk menunggu balasan sms dari Cantika.

“Kok ngga getar ya hp gue? Masa dia ngga bales sms gue? Ngga mungkin banget, gue cek dulu bentar”

Nico mengeluarkan handphone-nya dari saku celananya.

“Hah? Pengiriman gagal? Cuma beda 5 jam doang ngga bisa sms dia?”

***

Sementara itu Cantika masih terdiam di atas atap rumah mbah-nya itu.

“Harusnya gue lebih bersyukur kehilangan handphone itu. Toh untungnya gue masih selamat sampai sini. Masih bisa ke tempat ini dan yg utama, masih bisa liat pemandangan dari sini”

Cantika sangat menikmati semilir angin yg sejuk. Embun-embun pun masih terasa auranya. Yaa, hari itu memang baru pukul 06.00

“Eh ada burung sepasang lagi”

Cantika menunggingkan senyum yg sangat lebar sampai suatu ketika ia teringat kembali akan kak Nico.

“Lo bakalan sms gue ngga yaa?”

Cantika diam sejenak dan telah mengetahui jawabannya.

“Ya ngga lah. Di antara lo sama gue kayanya emang gue doang yang anggep lo kakak cowok gue. Cuma gue yang sayang sama lo sebagai kakak cowok gue. Lo pasti ngga”

Hening....

“Bener kata Bunda cewek sama cowok kalo keliatan deket banget ngga mungkin kalo satu di antara mereka ngga punya perasaan lebih satu sama lain. Okey mungkin ceweknya tulus bersahabat sama si cowok, nah cowoknya?”

Cantika pun mulai bermain-main dengan bungan edelwis yg ada di perkarangan kecil atap rumah mbah.

“Lo bersikap kaya gini karna lo ngga punya perasaan apa-apa sama gue. Lo ngga suka sama gue dan ngga juga anggep gue adik lo. Okey kehidupan mahasiswa dan pelajar kayak gue itu beda. Dan memang ada batas di antara kita”

Sejenak Cantika menarik napas.

“Makasih kak tapi maaf gue harus ngejauh dari lo dengan semua kenyataan ini. Gue ngga bisa deket sama lo lagi karna gue masih anggep lo kakak cowok gue. Gue gini bukan karna lo tapi karna diri gue sendiri”

***

“Haduh ini bocah kemana sih, di sms ngga bisa, di telpon nomernya ngga aktif. Tumben banget. Malah dari jam 6 pagi tadi”

Nico terlihat gusar di dalam kamarnya. Nico telah mengenakan pakaian sebagus mungkin dan telah menyusun semua rencana ini matang-matang sampai akhirnya Cantika tidak bisa di hubunginya. Putus asa, ya putus asa yang di rasa Nico.

“Masa iya dia ngambek sama gue cuma gara-gara sms 2 hari ngga gue bales? Dia ngerti kan kalo gue lagi males smsan”

Nico melihat ke arah pintunya dan terlihat tulisan

Gue harus bisa bawa lo ke puncak

“Apa gue tetep nekat bakalan ke rumah lu yaa?”

Nico memandangi secarik kertas yg berisikan alamat rumah Cantika.

“Ada bokapnya lagi kalo nyokap doang sih mending”

Diam... Nico mencoba berfikir keras.

Tut.. Tut Tut
Nico segera mencari handphone-nya.

“Pasti itu sms dari dia hahaha udah gue tebak dia ngga bakalan bisa lama-lama ngga sms gue”

Nico sangat kecewa karna setelah di baca bukan lah dari Cantika melainkan Clarinata.

“Ah males banget ah”

Nico memutuskan untuk mematikan handphone-nya.

“Bodo ah gue harus ke rumah dia sekarang”

Nico pun sudah bulat dan mengambil kunci mobilnya. Nico ingin sekali mengajak Cantika ke puncak esok harinya ia juga ingin menghabiskan malam tahun baru ini berdua dengan Cantika.

***

Pukul 21.00

Cantika pun sudah stand by di atap rumah mbah-nya itu.

“Biasanya jam segini di sini udah rame sama Yogi, Vian, Riko, Dita, Indah, Virgo. Hmm sekarang cuma gue yg setia di sini. Ah stel lagu geisha ah takut gue sendirian”

Lagu geisha pun mengalun indah.

Terima kasih tuk luka yg kau beri
Ku tak percaya kamu tlah begini
Dulu kau menjadi malakat di hati
Sampai hati kau telah begini

“Gua yg salah kak udah berharap lo mau jadi kakak gue, gue yg salah”

Janji yang slalu ku ingat hingga mati
Kau setia hingga ku kembali
Berkali-kali kau katakan sendiri
Kini ku tlah benci cintaku tlah pergi

“Gue benci kenapa di saat gue harusnya marah sama lo tapi gue ngga bisa. Di saat gue harusnya ngejauh dari lo tapi gue ngga bisa. Gue benci kenapa lo harus sama kaya dia? Gue benci gue ngalamin hal yg serupa lagi dan lagi”

Pergi saja kau pergi tak usah kembali
Percuma saja kini hanya menunda perih
Buang saja kau buang cinta yang kemarin

“Gue yang harusnya nyadar kalo gue ngga bisa. Gue harus pergi atau tdak sama sekali?”

Perasaan tak mungkin percaya mu lagi
Cukup tau ku dirimu
Cukup sakit ku rasakan kini

“Yaa gue yang harusnya pergi. Gue sama lo itu beda”
“Ejiela ada yg lagi galau hahaha,” Ucap Om Nanto.
“Eh om hehe udah lama om?”
“Ya lumayan buat denger ocehan kamu itu hahaha kenapa sih neng?”
“Hah? Nggg ngga kok”
“Jangan bohong. Ngga mungkin kamu baik-baik aja tapi 2 hari ini kamu di sini. Apalagi malam ini, kamu kan takut kalau sendirian di tempat begini”
“Hahaha iya nih”
“Jadi?”

Cantika pun memuali ceritanya.

***

“Ah bete gue di fb ngga ngapa-ngapain main twitter lagi lola heello jarang ada yg on. Malah ngga ada yg sms gue lagi, sungguh sangat datar hidup gue, hhh”

Richard Muhammad Zainico
cek ilee, bocah OL... :p
ga mamingan cah? :D

Cantika Puspita Melansari
yeehhh hak gue dong hahaha
mamingan ama siapa lagi gue ckc

Richard Muhammad Zainico
hahahaa...
di omelin gua... :D
sama si bebebs lah... :D

Cantika Puspita Melansari
hahaha takut gitu gue? :D
haha punya gek kaga

Richard Muhammad Zainico
iya aja dah gua mah... :p
ga punya?
kasiaaan...

Cantika Puspita Melansari
hahahaha
iyaa gapunya
apa lu kasian kasian

Richard Muhammad Zainico
sinih dah jadi cewe gua aja, biar elu punya bebebs...

Cantika Puspita Melansari
emg lu punya apa kak?

Richard Muhammad Zainico
hahahaa... :D

Cantika Puspita Melansari
haha jadi junior aja tekanan batin *etetetete
hahaha
piss

Richard Muhammad Zainico
engga punya gua...
lagi ga pengen soalnya...
:D
gaya lu tekanan...
hahaha... :p
oia, nggetiknya pelan pelan kenapa...
gua OL di hape nih, jadi rada ribet ngetiknya...

Cantika Puspita Melansari
hahaha galaku lu ka? *etetete
amaza gapengen? hahaha
lah? gue yg ngerasain juga haha
nah gue dari lapop cacad bener ini malah

Richard Muhammad Zainico
wakakakak...
et, guua ganteng gini masa ga laku...:p
hahahaa...
yah, laptop bekas sih, jadinya cacad kan... :p

Cantika Puspita Melansari
(tidak terbaca)

Richard Muhammad Zainico
apaan tuh?
ga tau gua...
kan tadi gua bilang, gua OL di hape... :p

Cantika Puspita Melansari
ehh kak wall napa yaa
gue jelasin di wall aja yaa

Richard Muhammad Zainico
lewat sms aja dah, biar gampang... :D

Cantika Puspita Melansari
sip sip, nih yaa nomer gue
085756973687

Richard Muhammad Zainico
bentar ya gua catet dulu... :)

Cantika Puspita Melansari
apalin aja napa nomer cewe manis gitu
*etetetetet
haha

Richard Muhammad Zainico
wakakakak...
kepinginn banget emang?
bayar kalo mau gua apalin nomer elu...
hahahaa...:p

Cantika Puspita Melansari
pengen ngga yaaa?
pengen ngga pengen ngga
ya gimana yaaa??
*muka polos*
haha

Richard Muhammad Zainico
hahahaa...
dari tampangnya sih kepingginn...
#sok tau... -.-
yaudah, gua log out dulu ya...

Cantika Puspita Melansari
hahahaha
wooo
okeoke

***

“Nah dari situ om kita smsan pas malam minggu pula. Udah gitu dia tuh awalnya smsannya gitu ada kata sayangnya, cintanya, ada lambang kiss-nya juga”
“Waah pacaran yaa?”
“Ngga om yaelah baru pertama kali smsan gek”
“Terus terus?”
“Ya awalnya sih kita becanda pacar gitu”
“Maksudnya?”
“Ya dia bilang aku pacar dia, aku juga bilang dia pacar aku. Tapi malam itu tuh cuma becanda doang aku tahu. Sampe akhirnya hari selanjutnya dia sms aku pake sayang yaa gitu deh pokoknya. Hari kedua itu emang aku sempet naro rasa ke dia. Tapi cuma sehari doang kok soalnya aku sadar, dia anak kuliah dan aku pelajar. Tingkat gaul dia kaya gitu tuh buat becandaan anak mahasiswa doang. Aku ngerasa bodoh banget gitu kemaren-kemaren ngikutin permainan dia, hahahha”
“Ya kamu wajarlah kayak gitu. Namanya juga cewek, cewek kan selalu pake perasaan cuma kamu hebat kamu langsung sadar. Jadi begonya ngga lama-lama hahahaha”
“Ih Om Nanto mah”

Cantika pun memukuli tubuh Om-nya dengan lembut.

***

“Hah? Rumahnya gelap begini? Haduh kemana lagi nih bocah kecil katanya malem tahun baru ngga kemana-mana ini sepi begini. Ahelah ah”

Nico marah sendiri-sendiri hingga menendangi pagar rumah Cantika.

“Tapi bentar, bener ngga ya rumahnya yang ini? Atau guee....”
“Mas..”
“Astagfirulloh”
“Maaf mas maaf”
“Oh iya gapapa, Bu,” Ucap Nico dengan senyum seramah mungkin.
“Sedang apa yaa di sini?”
“Ohh ngga saya mau nanya, Bu, ini bener rumah AL blok 2?”
“Iya, Mas, nyari siapa yaa?”
“Saya mencari Cantika, Bu”
“Maaf bukannya lancang, mas ini siapanya Cantika?”
“Saya temannya, Bu”
“Oh keluarga Cantika dari kemarin pagi sudah ke jakarta tuh, Mas”
“Hah? Ke jakarta? Kemarin?”
“Iya, kenapa?”
“Kok ngga ngabarin saya yaa”
“Loh memangnya kenapa toh kalo tidak memberi mas kabar?”
“Oh ngga apa-apa kok, yaudah saya pamit dulu ya buu, permisi”

***

“Trus yang buat kamu nangis?”

“Kemarin kan temen aku nanyain gitu tentang php sementara aku belum belajar tentang itu. Nah aku sms dia tuh om, dia janji mau ngajarin aku”

“Hmmmm”

“Trus kemarin sempet berantem gitu, aku sms 2 hari ngga di bales”

“Berantem kenapa?”
“Ngga tau juga sih yaa meybe akunya yg salah. Aku ngga tau sikon dia yg lagi cape atau gimana pokoknya dia nelpon aku trus nanyain mau kapan belajar barengnya. Aku bilang terserah dia kan dia yg mau ngajarin tapi dia bisanya malam. Aku suruh hari minggu dianya ngga mau katanya mau ke puncak”

“Hmmm lanjut”

“Tapi kan sama Bunda ngga boleh Om malam-malam. Yaudah aku bilang aja aku minta di ajarin sama kak Ciko. Eh dianya nyolot gitu, sampe dia bilang aku bocah kecil pake emosi gitu yaudah aku juga bilang dia anak pedalaman pake emosi”

“Eh tunggu, parah banget kamu bilang dia anak pedalaman”

“Hahahaha ya atuh dia bilang aku bocah kecil yaudah gantian”

“Dasar yaa anak muda hahaha yaudah sabar aja mungkin dia emang lagi sibuk kali”

“Ya aku sih udah ngga apa-apa cuma kepikiran gitu ya dia bakal sms aku ngga ya?”

“Kamu cek lah hp kamu”

“Hp aku ilang Om kemarin di bus”

“Oiya hahaha Bunda udah crita sama Om barusan hahaha pantesan kamunya galau begitu hahahah”

“Om mah di ketawain sih, serius tau. Jadi nyesel kan akunya nolak dia ke puncak hahaha”

“Jangan ah kamu sama dia juga baru smsan masa udah mau ikut dia ke puncak. Ntar kamu di apa-apain loh hahaha”

“Hahahaha iya juga ya hahahha”

“Yaudah nih” Om nanto memberikan handphone-nya.

“Ngapain?”

“Kamu sms dia sana bilang hp kamu ilang”

“Hah?”

“Om yakin dia juga nyariin kamu”

“Apaan? Ogah ah sms aku aja yg 2 hari kemarin ngga di bales sama dia”

“Coba dulu ini atau ngga telpon aja gimana hayo”

“Om ih”

“Daripada Om aduin sama ayah mending kamu coba telpon dia nih. Eh tapi kamu hapal kan nomernya”

“Hapal kok hehehe”

***

Sepanjang malam itu Nico terus di dalam mobil yang masih terparkir di depan rumah Cantika. Nico enggan bergerak dari sana dan entah mengapa Nico yakin Cantika akan menghubunginya. Cantika akan keluar dari rumahnya dan menemuinya. Lalu mengajaknya masuk dan bertemu mamanya. Dan di saat moment yang pas Nico meminta izin kepada mamanya untuk membawa Cantika ke Puncak bersamanya besok.

“Ahh bego banget sih gue, udah tau rumahnya gelap gitu masa dia keluar rumah”

Tut.. Tut.. Tut..

“Apalagi nih pasti dari si Clarinata, ahh ganggu banget sih tuh cewek”

Nico mengambil handphone-nya dan aneh. Ada sms tetapi bukan dari Clarinata, melainkan dari nomer yang tidak ia kenali. Tetapi karena penasaran Nico tetap membuka pesan singkat tersebut.

From. 085697707947
Co?

“Siapa lagi? Ah palingan sih Clarinata sok-sokan pake nomer orang lain biar smsnya gue bales”

Tut.. Tut.. Tut..

Handphone Nico kembali bergetar dan yaa pesan singkat dari nomer yang sama.

From. 085697707947
Aku mau telpon kamu, angkat yaa

“Halah nekat banget sih nih cewek. Udah tahu ngga gue bales ngapain masih nekat telpon. Lo tuh ganggu, Ta, gue lagi berharap bocah kecil yang sms gue eh elo. Mending gue matiin ajadeh ini hp”

Nico mematikan handphone-nya dengan kasar dan mencopot baterai handphone-nya.

***

“Oke aku udah sms dia dua kali Om. Sekarang aku telpon dia yaa”

“Yap cepet yaaa bentar lagi malam pergantian tahun nanti dia keburu sibuk sama temen-temennya”

Cantika pun segera mengetik 12 digit angka dan menekan tombol berwarna merah untuk menghubungi Nico. Beberapa lama Cantika menunggu hingga terdengar suara operator di seberang sana.

“Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau di luar jangkauan. Harap hubungi kembali beberapa menit kemudia. Terima kasih”

“Hah? Ngga aktif?”

Cantika sangat tak percaya mendengar suara operator.

“Gimana?”
“Ngga aktif Om”
“Coba lagi”

Cantika hanya mengangguk dan mengikuti kemauan Om-nya. Toh tidak ada salahnya mencoba. Sabar ya sabar yang sekarang sedang dirasa Cantika menunggu telpon yang di angkat Nico. Dan terdengar suara operator yang sama seperti tadi. Cantika mengembalikan telponnya dengan lesu.

“Nihil ya, Ka?”

Cantika mengangguk lesu dengan muka yang pasrah.

***

Sudah 2 jam lamanya Nico berada di depan rumah Cantika. Akhirnya Nico sangatlah putus asa dan memutuskan untuk pergi ke Puncak sekarang juga. Nico mengambil handphone-nya dan baterai yang tadi terpisah dan di satukan kembali.

Tetapi bukan nomer Vito atau Sebastian yang ia cari melainkan nomer Cantika. Kembali ia menghubungi nomer Cantika tetapi tetap saja tidak aktif. Selang beberapa detik terlihat Nico sedang membaca beberapa sms yang tentu saja dari Cantika.

From. Bocah Kecil Gue
iya kak waktu itu gue sempet suka sama lu tapi cuma sehari kok gue langsung sadar dan anggep lo kaka gue

Nico tersenyum puas membaca sms itu.

From. Bocah Kecil Gue

ya atuh lu sih baru kenal gek smsannya udah sayang-sayangan udah kaya gitu kan guenya jadi gimana gitu hahahahaha :D

“Gue beneran sayang sama lu, Cah”

From. Bocah Kecil Gue

iya kaka kls pertama yg gue kenal tuh kak Malik. Dia sabar banget deh ngadepin gue, pertama kali kenal udah gue omel-omeliin masa hahaha. Trus udah gitu gue nanya-nanya tentang tugas gue, gue smsan sama dia, gue makan pas malem minggu sama dia, dia ngerjain tugas gue. Yaa pokoknya indah banget deh hahahahah :D

“Mungkin kalo gue masih di sekolah itu gue bakalan lebih dari Malik, Ka. Gue bisa ngapain aja buat lo tapi ya itu gue kuliah dan lo baru masuk sekolah di sana”

Nico terus membaca sms dari Cantika dan tidak menggubris getar sms dari operator yang berisikan bahwa nomer Om-nya Cantika tadi menghubunginya.

From. Bocah Kecil Gue
Hahahah makanya atuh sini jemput aku biar bisa main ke rumah kamu trus ketemu Bunda deh *etetetet hahahahahaha :D

“Pada saat itu gue mau banget jemput lo tapi gue lagi sama Clarinata”

“Yap teman megasuara 30 menit ke depan kita akan menyambut malam tahun baru yeyeyeyeye apanih keinginan di tahun yang akan kita songsong ini......”

Mendengar suara dari radio itu Nico tiba-tiba terpaku dan melihat jam di jam tangannya.

Pukul 23.30.

“Tiga puluh menit lagi, Ka. Tiga puluh menit yang akan jadi sia-sia. Maafin gue, Ka, kemarin gue ngga bales sms lo. Maafin gue, gue belaga ngga mau di ganggu sama lo dan kenyataannya sekarang lo ngga ganggu gue. Gue kangen, Ka”

Ucap Nico sambil mengeluarkan menu message dan kemali ke tampilan awal handphone-nya. Nico membuka pesan yang masuk dan membaca.

From. 08611

Nomer 085697707947 telah menghubungi anda sebanyak 2x terima kasih

“Nomer siapa sih nih?”

Lalu ada sms dari nomer tersebut.

From. 085697707947

kak lu beneran marah sama gue sampe nomer lu ngga aktif gitu, masa lu marah sampe hari ketiga gini sih kak. Maafin gue kak  gue cuma mau ngasih tau kalo hp gue kemarin siang ilang, emg gapent sih kabar yg gue kabarin tapi gue cuma mau elu tau itu hehehe. Happy new year kak. Yo`re my best brother :* -Cantika-

“Hah? Bocah Kecil? Haduh bego banget sih gue tadi pake matiin hp, bego banget sih ah nyangka itu Clarinata”

Ucap Nico dengan gusar dan segera kembali menghubungi nomer itu. Nyambung tapi ngga diangkat.

“Tika angkat dong ada yang mau gue omongin, Ka, angkat !!”

***

“Udah sillent aja hp-nya Om”
“Kenapa, Ka?”
“Takut ngarepin balesan dari dia hahaha”
“Dasar remaja haha yaudah Om silent”

Cantika memandangi langit biru yang entah kapan menjadi cerah. Cantika mulai merasakan deburan angin malam yang dingin dan langsung menusuk tulang rusuknya.

“Dingin, Ka?”
“Ngga kok Om nyelow aja sama Tika mah”
“Jujur apa yang kamu inginkan di tahun yang baru nanti”
“Itu pertanyaan yang pernah di tanyakan Virgo dulu dan aku, Yogi, Vian, Riko, Dita, sama Indah mulai merangkai kalimat. Tapi sekarang aku tetep menjawab pertanyaan itu tapi bukan dari Virgo melainkan dari Om dan hanya aku yg menjawab. Ngga ada jawaban lucu dari Yogi, Vian, Riko, Dita, sama Indah”

“Kamu ngerti kan semuanya sudah beranjak dewasa. Mereka semua punya acara masing-masing apalagi Jakarta, kayak kamu ngga tau remaja Jakarta aja”

Cantika hanya mengangguk.

“Lalu jawabannya?”

“Pengen bener-bener nutup kenangan pahit di tahun 2011. Jadi pribadi yang lebih baru, yg lebih dekat dengah ALLAH SWT, lebih nurut sama ayah, lebih sayang dan manja sama Bunda, lebih menghargai orang lain, lebih sabar dan ikhlas”

“Selain itu?”

“Maksud Om?”

“Kamu kan remaja masa kamu ngga punya pikrian mau pacaran atau target pacar kamu gitu?”

“Ya maulah Om. Cuma aku nyadar diri aja. Aku belom bisa ahli di bidang aku, maksudnya tuh jadi aku nonton Mario Teguh. Intinya tuh pokoknya kalo kita udah bisa merawat diri, udah mahir di bidang kita ALLAH pasti ngasih kesempatan untuk kita mencoba hal seperti itu. Tapi kemarin-kemarin aja aku belom bisa menguasai bidang perangkat lunak jadi percuma juga kan aku pasang target pacaran sama siapa dan kapannya. Mendingan aku benahin diri aku dulu pasi nanti dengan sendirinya pacar dateng hahahaha”

“Kalo sama si Nico?”

Cantika langsung terdiam. Bingung akan menjawab apakah ia benar-benar menginginkan Nico jadi pacarnya atau sekedar kakak yaa best brother yang selama ini ia sebut-sebut.

“Dengan keadaan yg kaya gini yang aku mau pertama dia tau kalau hp aku ilang dan ngga marah sama aku. Untuk ke depannya mungkin aku tetap anggep dia kakak cowok aku. Aku mau dia bisa mengayomi aku di dunia perangkat lunak ini aku mau dia bisa ngelindungin aku, aku mau dia bisa memperkenalkan sedikit pergaulan luar dia yg bukan negative yaa tentunya. Kaya yang kemarin dia ngajakain ke Puncak itu. Aku mau juga dia bisa berteman sama Bunda sama keluarga aku, jadi kalo misalnya mau main ke rumah ngga canggung lagi mau ngajak jalan ngga canggung lagi ketemu sama Bunda sama orang rumah”

“Tapi secara ngga langsung itu kayak orang pacaran loh”

“Ya kan baru kayak hahahaha”

“Tapi seakan-akan kalo yang Om tangkep kamu mengaharapkan dia yang jadi pacar kamu tapi karena kamu masih prinsip sama kata-kata Mario Teguh makanya kamu inginnya begitu, yakan?”

“Ngga sih woo hahaha”

“Jujur aja lagi sama Om”

“Ngga Om, Om kan tau aku anaknya manja aku anaknya mau nyoba sesuatu hal. Nah di jaman kaya gini aku takutnya aku masuk ke dunia ya yang Om taulah jaman sekarang. Yang ngga aku ngerti aku tahu itu negative aku tahu itu ngga boleh tapi karna mau nyoba-nyoba tadi dan aku juga ngga bisa terlalu keras sama diri aku sendiri makanya aku mau punya kakak cowok. Kakak yang ngayomin tadi. Tempat aku manja juga. Lagian yaa kalo aku pikir nanti aku punya pacar trus lagi berantem sama pacar aku, aku pengennya tuh lari ke kakak cowok aku, kalo misalnya cowok itu kurang ajar sama aku, aku maunya di lindungin sama kakak cowok aku”

“Hahahaha dan sayangnya kamu anak pertama yaa makanya begitu hahaha”

“Nah itu dia hahaha”

“Om yakin kalian akan kayak dulu, percaya sama Om”

“Makasih Om”

Cantika memandangi awan dan keramaian menjelang tahun baru itu. Sementara Om Nanto mengecek handphone-nya taku istrinya menelponnya.

“Ka, si Nico miscall sepuluh kali nih”

“Hah?”

Sontak Cantika ngga percaya. Nico? Sepeduli itukah dia sama gue?

“Oiya dia juga sms nih Om bacain yaaa”

Cantika hanya mengangguk dan mulai dengan harapan barunya.

“Ka maaf tadi telponnya gue matiin. Gue ngga tau kalo itu elo kirain gue temen gue yg lain. Ka angkat telpon gue dong ada yg mau gue omongin”

“Itu sms dari dia Om?”

“Iya eh tunggu ada satu lagi”

“Yaudah gue ngerti kok kalo emang lo marah sama gue. Yang gue harapin setelah lo baca sms ini lo mau gue hubungin ada yg pengen gue omongin tapi kalo misalnya emang lo ngga bisa yaa maaf yaa gue udah ngacangin lo dua hari kemarin. Maaf dan lo juga harus tau kalo daritadi siang gue bingung banget mau ngubungin lo kemana nomer lo ngga aktif eh ngga taunya hp lo ilang. Lo juga perlu tau sekarang gue ada di depan rumah lo eh elonya malah di Jakarta. Malang banget ya nasib gue hahaha tapi yaudah lah, happy new year. Jangan bosen jadi bocah kecil gue yaa”

Diam.. Hening..

Tetes demi tetes keluar dari mata Cantika. Ngga percaya dengan apa yang di bacakan oleh Om-nya terlebih kalimat terakhir.

Jangan bosen jadi bocah kecil gue yaaa...

“Nih kalo ngga percaya baca aja sendiri”

Om Nanto memberikan handphone-nya dan yaa Cantika melihat sms dari kak Nico, nomer kak Nico dan ketikan kak Nico.

Kenapa kak? Kenapa kemarin lo ngacangin gue? Batin Cantika.

Cantika mengembalikan handphone tersebut dan mulai tersadar telah banyak air mata yg berjatuhan.

“Kamu mau coba telpon dia lagi? Kayanya dia juga nugguin telpon dari kamu, mumpung belum pergantian tahun, Ka”

“Ngga deh Om, makasih”

Cantika mulai memandangi langit-langit malam hari dan kerumunan orang dari atas atap rumah mbah-nya. Tetapi tak di sangka-sangka Om Nanto mengirim pesan singkat kepada Nico yang berisikan bahwa Cantika sudah baca sms dari Nico dan Nico bisa nelpon Cantika sekarang.

“Ka ada telpon nih”

Cantika menoleh dengan bingung.

“Dari siapa Om? Ayah?”

“Udah angkat aja, ngga usah di baca dari siapanya”

Om Nanto langusng meletakkan handphone-nya di telinga Cantika.

“Eh Bocah Kecil”

Diam.. Merinding.. Entah apa yg akan ia jawab dari suara diseberang sana. Senang ya tentu saja senang mendengar suara dan panggilan itu, kangen, rindu.

“Cah? Bocah? Lu masih denger suara gue kan?”

Iya abang pedalaman gue denger kok gue denger, batin Cantika.

Cantika sesaat tidak bisa menggerakkan bibirnya terlebih mengeluarkan suara untuk meyakinkan Nico bahwa dirinya masih mendengar ocehannya.

“Yaah bocah masih ngambek sama gue masa. Sorry deh sorry kemarin gue ada tugas kuliah akhir tahun yg sangat ribet makanya gue ngga bales sms lu. Tadinya mau gue bales tapi daripada berantem kaya lu sama si Malik makanya ngga gue bales, sorry ya, Cah”

Hmm sorry juga gue udah sempet nethink sama lu kak. Gue masih belom dewasa dan ngertiin elu, batinnya sekali lagi.

“Cah? Bocah kecil? Eh tunggu pantesan ngga mau nyaut gue manggilnya bocah kecil hahahaha”

Ngga apa-apa kok kak gue suka lu manggil gue bocah kecil, batin Cantika.

“Cantika bales dong omongan gue. Gue kangen guyonan lo gue kangen teriakan lo gue kangen kata-kata ‘Abang Pedalaman’ lo itu makanya bales dong kata-kata gue masa gue trus yg ngomong”

Gue bingung harus jawab apa yg gue tau gue kangen sama suara lo itu, batinnya.

“Yaudah deh Bocah Kecil gue denger yaa kalo lu ngga ngomong gue juga ngga ngomong biarin deh pulsa gue abis sia-sia buat Bocah Kecil gue hahahhaha”

Gue harus jawab apa kak? Pikirnya.

Diam.. Diantara mereka tak bersuara sedikitpun. Nico pun memutuskan untuk diam dan fokus dengan suara di seberangnya yang mungkin tiba-tiba mengeluarkan suara.

***

Ka apa lo masih marah sama gue? Apa kesalahan gue fatal banget yaa kemarin sampe lo semarah ini sama gue? Terus gue harus gimana, Ka? Gue bingung harus gimana, batin Nico di atas mobilnya memandang langit-langit malam yg sejuk untuknya sekarang.

10 menit berlalu tapi Cantika enggan bicara pula. Nico mulai panik dan gusar.

Ka keluarin suara dikit aja, Ka, biar gue tau lo masih marah apa ngga sama gue, Ka. Pliss gue mohon, Ka, gue putus asa banget, Ka, batin Nico yang tak juga kunjung mendengar suara Cantika.

“Hallo, kak?”

Hah? Dia ngomong?

“Kak Nico masih di situ kan?”
“Iya Bocah gue masih di sini, ngapa?”
“Ngga apa-apa kok”
“Kok datar gitu jawabnya? Kayanya bener nih lo masih marah banget sama gue”
“Ngga kok, kak, gue ngga marah sama lo”
“Ya lo datar gini. Biasanya lo kan rame kok ini kalem?”
Diam.. Cantika memutuskan untuk tidak menjawab.

“Tuh kan sekarang diem lagi”
“Iya maaf, kak”
“Ngga lah gue yg minta maaf. Coba gue ngasih tau lo kemarin gue bener-bener sibuk mungkin lo juga ngga kayak gini”
“Hahaha lagian apa hak gue sih, kak, harus ngambek sama lo”

Akhirnya lo ketawa juga

“Nah gitu dong sayang hahahahah”
“Hahahaha iyadeh yang”
“Jadi hp lo ilang?”
“Iya kak”
“Kapan? Dimana? Kok bisa?”
“Wess nyelow kak nyelow hahaha tadi di bus”
“Mau kemana?”
“Mau ke Jakarta”
“Ngga naik kendaraan?”
“Ngga, soalnya ngga ada ayah”
“Kok bisa ilang gitu? Di copet?”
“Ngga hp-nya jatoh”
“Halah dasar bocah kan teledor banget sih naro hp. Makanya di taro di tas jangan smsan mulu”
“Ih? Kok tau? Hahaha”
“Gue gitu hahahaha otak kamu kan transparan sayang buat aku hahahaha”
“Kakak ih lagi serius”
“Iya deh maaf trus jatuh gimana?”

“Iya kan gue lagi smsan dan tumben banget tadi gue tuh mual banget. Biasanya ngga pernah mual gue, yaudah entah mengapa akhirnya gue tidur. Dan nyokap bangunin gue di saat jarak sudah tiga ratus meter mau turun. Yaudah buru-buru dong dan terjadilah”

“Hahahah dasar bocah kecil konyol banget sih jatohnya”
“Ya gimana yaaaa?”
“Hahaha trus hp baru dong ini sekarang?”
“Ngga ini handphonenya Om Nanto”
“Hah? Punya Om lo? Esetdah parah kali si bocah yaa ngerepotin orang hahahah ntar gue beliin BB yang baru dah hahahah”
“Halah tinggal di pedalaman aja sok-sokan beliin gue hp baru hahaha eh keceplosan”
“Hahaha elumah bukan keceplosan emang sengaja elu mah”
“Sengaja ngga yaaaa? Hahaha”
“Eh bocah kok ngga ngasih tahu gue lo jadi ke Jakarta?”
“Gimana mau ngasih tau elunya ngga bales sms gue”
“Hehehe gue udah di depan rumah elu nih, ah elu si yang”
“Lah? Mana gue tau elu mau ke rumah gue apa kaga, lagian ngapain lu ke rumah gue? Kurang kerjaan amat sih”
“Biarin lah buat pacar apa yang ngga sih hahahaha”
“Hahahaha maaf deh yang akunya ngga tau hahaha”
“Padahal gue mau ngajakin lu tahun baru bareng”
“Iya? Yaah nyesel banget dong gue sekarang hahahah”
“Lo di Jakarta dimananya sih?”
“Kenapa? Mau nyusul?”
“Hahahaha kamu tahu aja sayang hahaha”
“Iyaa dongs hahahaha”
“Tapi gue serius di depan rumah lu, gue serius mau ngajak lu tahun baru bareng dan gue serius mau ketemu nyokap lo izin ngajak lo ke puncak besok”
“Hah? Gue kan udah nolak”
“Namanya juga usaha bocah hahaha lagian gue tau elu ngga pernah begini kan makanya gue pengen ngajakin elu eh elunya di Jakarta”
“Hahaha makanya bales sms orang jangan sok-sokan ngacangin gue”
“Iyanih guenya jadi kesel banget yang”
“Ih elumah apaan sih pake sayang-sayangan”
Karna gue beneran sayang sama lo, jawab Nico dalam hati.

“Eh lima menit lagi udah tahun 2012 nih, Cah. Lu pengen apa dari gue?”
“Maksud?”
“Yaudah jawab aja lu pengen apa dari gue nanti di tahun 2012”
Apa gue harus jujur apa gimana? Gue bingung kak, batin Cantika bimbang.
“Cah? Lu masih idup kan?”
“Iyalah kak masih”
“Yaudah jawab atuh bocah kecil gue”
“Gue mau elu jadi abang pedalaman gue terus...”
“Jelek banget sih maunya”
“Yeeeh katanya apa aja”
“Nuansa lagi bagus begini juga elumah kan gitu”
“Kan gue belom selesai kakaaaak !!!!”
“Oiya ya hahaha terus?”

“Gue mau lo terus anggep gue bocah kecil lo itu meskipun gue ngga suka di panggil itu tapi karna panggilan itu gue bisa punya abang pedalaman. Gue juga mau elu terus tingkatin kesabaran lo ngadepin gue biar guenya makin sayang sama lo....”
“Ngga usah di minta juga gue bakalan sabar ngadepin lo karna gue pengen rasa sayang gue selamanya ke elo de”
“De?”
“Kenapa?”
“Ngga aneh aja biasanya akhirnya, Ka, atau ngga, Cah, atau ngga Bocah kecil. Ini de?”
“Udah jangan protes lanjutin”
“Hahaha atuh motong terus sih hahaha. Gue juga mau lu bener-bener jadi kakak gue, kakak cowok gue. Lo bisa ngayomin gue, ngelindungin gue, ngajarin gue banyak hal. Gue pengen punya kakak cowok”

Just brother? Lo yakin, Ka, sama omongan lo? Kalo gue minta lebh gimana? Batin Nico kecewa.

“Karna gue yakin rasa sayang gue antara ke pacar sama sahabat atau kakak cowok gue pasti lebih besar ke sahabat atau kakak cowok gue”

“Oh gitu”

“Kok singkat banget jawabannya?”

“Jujur gue kecewa banget sama lo, Ka”

“Kok gitu? Emang gue salah ngomong? Yaudah maaf maaf tapi itu yang gue pengen sekarang dari lo, kak”

“Tapi gue pengennya jadi pacar lo, Ka. Gue pengen selalu ada di sebelah lo gue pengen terus manggil lo sayang gue pengen lo jadi bocah kecil gue bukan bocah kecilnya si Cikolah Maliklah atau yang lain. Gue pengen bocah kecil cuma milik gue, Ka”

“Kak Nico...”

“Gue serius, Ka”
“Bukannya gue ngga percaya sama lo, kak. Tapi jujur gue takut. Lo itu mahasiswa sedangkan gue pelajar....”

“Ada bedanya gitu, Ka? Gue tetep sayang sama lo”

“Bentar napa gue belom selesai ngomong. Gue takut gue cuma dimainin apalagi gue ngga tau kehidupan anak kuliah. Okey emang lu sayang sama gue, gue pun sama. Tapi cewek-cewek kuliah kan modis-modis, kak, cantik lagi. Masa iya lo ngga naro hati sedikitpun sama mereka. Kenapa lo lebih milih sama gue daripada mereka yang jelas-jelas jauh banget”

“Nah itu dia. emang lo sama temen-temen cewek kampus gue jauh banget, Ka. Itu yang buat gue lebih tertarik dan sayang sama lo, Ka. Gue juga awalnya ngga punya rasa sayang sama lo. Tapi hari demi hari gue suka manggil lo bocah kecil, gue suka moment gue sama lo, gue pengen lama-lama sama lo, Ka. Karna elo ya elo bukan dia. Beda sama temen kampus gue, Ka. Lo apa adanya dan gue suka itu gue sayang. Di saat lo manja sama gue meskipun balesan gue gitu tapi gue tetep sayang sama lo. Gue suka lo ngambek sama gue meskipun gue deg-degan takut bakalan marah lama sama lo. Gue sayang sama lo, Ka”

“Gue takut ngecewain elo, kak”

“Yaudah sekarang keputusan ada di tangan kamu. Kalo kamu emang mau aku cuma jadi kakak kamu, yaudah aku akan coba”

“Kak tuh kan kakak mah gitu”

“Ngga apa-apa Cantika. Aku mencoba lebih ngertiin kamu. Mungkin emang kamu masih ngga percaya itu wajar toh ngga ada sebulan kita kenal tapi kok aku udah sayang sama kamu pasti kamu tanda tanya aku ngerti. Makanya sekarang kalo itu mau kamu aku akan coba ikutin. Ya itung-itung sekalian pedekate-lah hahahahah”

“Kak Nico ihhhh”

Ucap Cantika dengan nada manja. Tetapi dengan kata-kata Kak Nico seperti itu buat Cantika nyaman dengannya, bersamanya.

“Hahahaha iya bocah kecil gue”
“Janji yaa jadi abang pedalaman terus”
“Ih ngga mau ah. Hidup udah semakin canggih masa abang pedalaman. Abang kota aja”
“Ih tuh kan ngga niat jadi kakak aku, kalau jadi anak kota berarti kakak udah berubah”
“Iyadeh sayangku bocah kecil gue, gue bakalan jadi abang pedalaman terus buat lo”
“Makasih yaa kak”
“Iya de sama-sama”

Duaaaaar !!!!! Duuuaaaarrr !!!

Pretttt.... Prett....

“Udah tahun baru kak”

“Happy new year ya sayang. Awalin kisah kita sesuai keinginan kamu yaa”

“Iyaa kasoy happy new year juga. Aku bakalan lebih ngerti kakak. Dan sekali lagi makasih. Makasih buat malam ini, makasih buat janji kakak, makasih udah buat aku makin sayang makin nyaman sama kakak. Makasih abang pedalaman dan maaf tadi bocah kecil sempet buat abang pedalaman takut, gusar, dan jadi di depan rumah bocah kecil sendirian hahahaha”

“Ngomong apa sih lu hahaha”
“Kak Nico....”

“Iya-iya maaf. Aku juga makasih yaa sama kamu. Miss and love u my sista, bocah kecil gue. Cepet pulang yaaaaa”

“Iya my best brother”

“Udah ah ngga enak sama Om kamu”

“Hahahaha orangnya juga udah turun hahaha”

“Turun? Emang kamu lagi dimana?”

“Lagi di atap hehehe”

“Yeeeh dasar bocah yaaa lu emang bocah banget sih”

“Kan tadi lagi galau makanya ke sini hahhaha”

“Galauin abang pedalaman yaaa? Hahahha”

“Iya ajadeh guemah iya hahaha”

“Yaudah sana kamu turun udah malem nanti kedinginan loh ntar sakit lagi bocah kecil gue. Pokoknya aku ngga mau nanti sampe rumah bocah kecil gue sakit ngga mau liat bocah kecil gue muram karna sakit, oke sayang?”

“Iyaa cintaaa, anything for u hahahaha”

“Trus kalo aku mau sms kamu gimana?”

“Ntar deh gampang aku hapal nomer kamu ini. Sekarang mah lewat fb aja hehehe”

“Halah LDR emang makan biaya yaaa ehh hahaha”

“Apasih pacaran gek kaga kak hahahah lagian Jakarta doang deuh cuma bentar”

“Hahaha iya nanti kamu sms kakak aja yaaa. Good night my dear happy new year. Abang pedalaman sayang bocah kecil”

“Night too, kak. Sekali lagi makasih yaa dan bocah kecil juga sayang sama abang pedalaman”

Rabu, 27 Juni 2012

NO TITLE

“Awas itu ice creamnya, Nand”
Ucap Ferdi kepada Ferdinand. Terlihat empat sahabat itu tengah menghabiskan sisa langit sore yang indah di taman dengan ice cream.
“Ferdinand, ice cream gue.”
Pinta Sandra yang sudah lelah sedaritadi mengejar ice cream yang di bawa lar Ferdinand. Sandra dan Nina.
“Kasian lu, Fer. Mau ngulang masa lalu lagi?”
Ucap Nina yang sedang menikmati ice creamnya bersama Ferdi dan menyaksikan Ferdinand menjahili Sandra tanpa ampun.
“Biarin aja, ahahhaha.”
“FERDINAND !!! ngga lucu tahu, kita sama-sama udah SMA. Kenapa lo masih anggep gue kayak anak SMP?”
Mendengar itu, Ferdinand selangkah maju menghampiri Sandra. Sandra pun merasa risih dan mulai mundur langkah demi langkah.
“Fer, Fer, Fer. Ah ngga gini juga ah.”
“Jangan mundur kenapa, gue mau bisikin lo sesuatu”

Sandra hanya menurut perintah Ferdinand. Ia pun berhenti melangkah mundur. Dan Ferdinand pun berhenti melangkah maju. Tetapi sekarang, jarak antara Sandra dan Ferdinand terlihat semakin minim ditambah tubuh Ferdinand yang menjulang lebih tinggi dibanding Sandra terlihat mengurai senyum tanpa sepengetahuan Sandra yang menunduk. Ferdinand pun menunduk untuk membisikkan sesuatu hal kepada Sandra.

“Gue gini karena ini mau lo kan? Terus becanda sama gue.”
***

Di sebuah taman di daerah perumahan yang amat terkenal. Terlihat seorang perempuan lugu yang tengah menunggu seseorang. Satu menit, dua menit, hingga waktu tak mau ia hitung demi membunuh waktu.

“Mana sih, Nina. Katanya mau ketemuan, ngaretnya mulai deh.”

Tak lama kemudian terdengar ring tone handphone Sandra.

Tak mudah untuk kita hadapi perbedaan yang berarti Tak mudah untuk kita jalani rintangan silih berganti
“Loh? Ferdi? Ngapain?”
Sandra pun mengangkat handphone-nya.
“Haloo”
“San, lo masih di taman?”
“Hah? Iya, kok lo tau?”
“Okey, gue ke sana sekarang.”
“Hah? Maksud?”

Tut tut tut... telpon dimatikan.

“Haloo... ferdi.. ferdiii... ihhh dimatiin. Ada apasih?”

Sandra mencoba menghubungi Nina, tetapi nihil. Handphone-nya tidak diangkat. Telpon ke rumah, kata mba penjaga rumah Nina sudah keluar dari setengah jam yang lalu.

“Harusnya kan Nina udah nyampe. Tamannya kan deket banget sama rumah dia, sepuluh menit juga nyampe. Kok dia ngaretnya naujubilla. Malah tadi katanya udah pergi setengah jam yang lalu.”
Sungut Sandra. Sandra terus menghubungi Nina, tetapi hasilnya tetap sama. Hingga akhirnya Ferdi datang.
“Hay, San. Sorry lama.”
“Hah? Ngapain lo di sini?”
“Lo janjian sama Nina kan?”
“Iya sih, cuma gue janjiannya sama Nina bukan lo.”
“Nina ngga bilang?”
Sandra hanya menggeleng bingung.
“Yaudah tunggu bentar”
“Mau nunggu siapa?”

Ferdi tak menjawab, ia malah asik memainkan handphone-nya tanpa peduli kepada Sandra yang duduk bingung. Lama mereka terdiam hingga akhirnya terlihat dari kejauhan Nina. Sandra pun bangkit untuk menghampiri Sandra, tetapi tertahan ketika melihat Ferdinand bersamanya.

“Ngapain Nina sama Ferdinand?”

Ferdi tak menjawab dan memang tak diperlukan jawaban karna kata-kata itu berupa pernyataan bukan pertanyaan. Nina sudah berdiri antara Sandra dan Ferdinand. Sandra hanya menatap kepada Nina dengan tatapan pertanyaan dan menatap Ferdinand dengan dingin.

“Lo pasti bertanya-tanya.”
Sandra tak menjawab.
“Gue bawa Ferdinand ke sini tanpa sepengetahuan lo”
“Hah? Nina, katanya dia yang minta ketemuan sama gue”
Tanya Ferdinand yang sekarang ikutan bingung.
“Fer, sorry ya. Ini rencana gue sama Nina”
“Maksudnya apa?”

Tanya Sandra bersamaan dengan Ferdinand, kikuk yang mereka rasa sesaat hilang ketika Ferdi mengabil alih pembicaraan.

“Lo berdua udah baikan kan?”
“Ya, kenapa?”
“Kenapa lo berdua msih kayak musuh sih? Diem-dieman terus”
“Lo tanya Sandra dong”
“Hah? Gue?”
“Iya, lo yang salah kan?”

Mendengar itu, Sandra terpukul. Ya memang dirinya yang salah, memasuki kehidupan pribadinya Ferdinand, terlebih memberi masukan yang menurutnya tidak akan di ikuti Ferdinand.

“Sopan dong lo sama cewe”
Bela Nina yang kaishan melihat Sandra terdiam.
“Emang bener kan? Sandra yang salah? Masa gue?”
“Ya tapi setidaknya bahasa lo biasa kan bisa kali”
“Udah, Nin. Emang gue yang salah”
“Tuh kan, dia aja ngaku. Kenapa lo berdua yang ribet?”
“Ya tapi dia kan udah minta maaf, Fer. Lo jadi cowok gentle dong”

Bela Ferdi yang merasa tidak enak kepada Sandra.

“Dan gue juga udah maafin, apa yang ngga gentle coba?”
“Kenapa lo dingin sama dia?”
Ucap Nina dengan nada dramatisir.
“Gue dingin? Dingin gimana sih?”
“Lo ngga pernah ngomong sama dia. Tiap ketemu lo selalu jauhin dia”
“Lah? Emang apa yang mau di omongin?”
“Lo ya, Fer ngga peka banget”
“Lo tuh kenapa sih, Nin?”

Sandra memutuskan untuk angkat berbicara karena terlihat keadaan semakin runyam.

“Udah, Nin. Ini emang salah gue, gue ngga bisa negrtiin Ferdinand yang benar-benar cinta sama Kirana”
Mendengar itu, Nina cepat menatap ke arah Sandra dingin.
“Lo tuh apa-apaan sih? Gue sama Ferdi buat rencana ini kan juga buat lo, buat kebaikan lo, Ferdinand, dan hubungan persahaatn kita”
“Ya tapi jangan kayak gini. Emang ini salah gue”

Ferdinand memtuskan untuk mempercepat keadaan ini dengan menghampiri Sandra drai belakang. Membalikan tubuh Sandra hingga menghadap dirinya.

“Mau lo apa?”
“Ferdinand !”
“Diem, Nin”
“Sorry kalo emanng gue salah”

Sandra sedikit menundukkan kepala menahan malu dan juga air mata.
“Lo udah minta maaf sama gue dan lo tahu gue udah maafin”
Sandra tak menjawab kata-kata Ferdinand. Sandra bingung apa yang harus ia katakan kepada Ferdinand.

“Jawab, San”
“Apa yang musti gue jawab?”
“Lo mau apa dari gue? Gue udah capek”
“Ferdinand, bahasanya bisa di jaga kali”

Ucap Nina yang geregetan dengan sikap Ferdinand.

“Jadi? Mau lo?”
Sambung Ferdinand tanpa memerdulikan ucapan Nina.

“Gue Cuma mau kita kayak dulu. Becanda kaya dulu lagi, gue ngga suka lihat lo sama Vero ketawa bareng”
“Kenapa? Lo cemburu?”
“Ya, tapi gue cemburu bukan karena suka sama lo, melainkan karna gue....”

Sandra terdiam, sesaat.

“Karna?”
“Karna setiap gue lihat lo sama Vero, gue iri. Gue selalu kebayang waktu kita yang kayak gitu. Dua tahun bersama, tanpa sadar ada kenangan tersindiri sama lo. Gue Cuma mau kita kayak dulu. Enjoy jalanin hari, ngga ada kikuk kayak sekarang”
“Kenapa ngga lo coba?”
“Gue bingung harus mulai darimana, jujur gue ngga berani”
“Demi sahabat lo? Demi hubungan lo sama sahabat lo baik, lo ngga berani?”
“Lo terlalu dingin sama gue. Tatapan lo yang bikin gue ngga kuat”

Tanpa sandra Ferdinand memeluk hangat tubuh kecil Sandra.

“Gue juga ngga kuat, tiap lo cuma ngeliatin gue sama Vero. Gue pengan lo ikutan. Dan jujur gue capek”
“Kenapa?”
“Capek selalu caper sama lo dengan becanda sama Vero, tapi lonya ngga berubah, ngga mau mulai duluan”
“Gue cewek, gue ngga mau memulai”

Ferdinand melepaskan pelukannya kepada Sandra dan menatapnya lekat.

“Jadi lo ingin kita kayak dulu? Becanda kayak dulu?”
“Iya. Kalo ngga bisa juga ngga apa-apa. Gue ngerti”
“Ngga, gue juga mau kayak dulu”

Ferdi dan Nina saling tatap bahagia dan menghampiri Ferdinand dan Sandra.

“Jadi kita kayak dulu nih?”

Tanya Nina yang merangkul Sandra dan ferdi merangkul Ferdinand.

“Apasih lo, Nin.”

Ferdinand merangkul Sandra.

“Iya kita kayak dulu. Gue, Sandra, Nina, dan Ferdi”

***

“Lo inget kan?”
“Iya gue inget. Tapi ice cream gue meleleh noh.”

Ucap Sandra yang sedih melihat ice creamnya hanya tersisa batangnya.

“Hahahahahaha, sorry sorry.”

Ferdinand pun mengulangi merangkul Sandra dengan dekapan hangat.
"Semua itu ngga akan terulang"

Ferdi dan Nina pun datang untuk melengkapi suasana persahabatan yang hangat.
"Dan akan selalu bersama"

Ucap Nina yang langsung merangkul Sandra. Di sebelahnya, Ferdinand merangkul pinggang Sandra dan Ferdi merangkul Ferdinand di sisi kanan dan merangkul pinggang Nina di sisi kiri. Layaknya sahabat yang baru dipertemukan kembali

Keabadian

Kau bisikkan kata cinta kepadaku setiap waktu
Kau pasti takkan tinggalkanku selalu bersama

Mungkinkah kau mencintai diriku selama lamanya
Hingga maut memisahkan
Bukan hanya cinta yang sesaat terus menghilang
Bila hasrat telah usai

Bukan berarti aku tak percaya akan kesungguhanmu
Tapi perihku dimasa yang lalu belum juga hilang
Selalu membayangi

Mungkinkah kau mencintai diriku selama lamanya
Hingga maut memisahkan
Bukan hanya cinta yang sesaat terus menghilang
Bila hasrat telah usai

Mungkinkah terwujud keabadian
Uuh...bila hasrat t'lah usai

Senin, 11 Juni 2012

bocahnya lagi mencoba tersenyum ͡ ɛ ͡

Saranghamnida

Mengapa engkau tega mencuri hatiku
Tanpa seijin aku lebih dulu
Memaksaku membuatku lemah tak berdaya
Keu dael saranghamnida

Nappayo cham keu dae ran saram
Heo rak do opshi wae nae mam ga jyeo yo
Keu dae ttaemune nan him gyeob gye sal go man inneun de
Keu daen mo reu chanayo

Aku bahkan tak seindah
Ku tak seindah kedipan matamu
Tapi dapatkah kau berikan senyum untukku
Walau itu bukan cinta, tapi aku memohon

On jen gan han bon jeum eun to ra pwa ju gyet jyo
Oooh aku menunggumu sampai akhir
Oneul do cha ma mo tan ka seum sok han ma di
Hanya satu kata, keu dael sarang hamnida

Kemarin aku tertidur
Keu dael keu ri da cham deu ryot na pwa yo
Ketika aku terbangun air matapun jatuh
Shi rin keu dae irum gwa (lalu aku memohon
Hot win param pun in nak so man

On jen gan han bon jeum eun to ra pwa ju gyet jyo
Oooh aku menunggumu sampai akhir
Oneul do cha ma mo tan ka seum sok han ma di
Hanya satu kata, keu dael sarang hamnida

Kali aku melihatmu lagi
Keu dae twi mo suem eul pa ra po myeo
Heu reu neun nun mul chorom so ri om neun keu mal
(bagai air mata) keu dael sarang hamnida

Minggu, 10 Juni 2012

bocahnya lagi jalan - jalan biar lupa sama abangnya yg jahat ( ͡ ш ͡ )ſƪ ( ͡ ш ͡ )
ini teman teman bocah kecil ♥ ( ᵔ ш ᵔ )♥

Selasa, 29 Mei 2012

Mengenai Google +

Google+ atau Google Plus adalah jejaring sosial yang dioperasikan oleh Google Inc. Google+ diluncurkan pada 28 Juni 2011 dengan sistem undangan untuk diuji coba. Di hari tersebut, pengguna Google+ diijinkan untuk mengundang teman di atas 18 tahun, untuk membuat akun. Namun, ini segera dihentikan sehari kemudian setelah pembuatan akun semakin membeludak. Google+ mengintegrasikan layanan sosial seperti Google Profile dan Google Buzz, dan memperkenalkan layanan baru seperti Circles, Hangouts, Sparks, and Huddles. Google+ juga akan tersedia dengan berbagai aplikasi desktop dan aplikasi ponsel, tetapi hanya pada Android dan sistem operasi iOS. Media massa seperti The New York Times telah menyatakan bahwa Google+ adalah upaya terbesar Google untuk menyaingi jaringan sosial Facebook, yang telah mempunyai lebih dari 750 juta pengguna pada tahun 2011.

Fitur
Banyak fitur dari Google+ yang mirip dengan situs jejaring sosial seperti Facebook dan LinkedIn. Cara Google+ menampilkan pemberitahuan, pemberitahuan belum dibaca, dan link ke posting juga mirip dengan "Pemberitahuan" di Facebook.

1. "Circles" --> memungkinkan pengguna untuk mengatur kontak menjadi kelompok untuk berbagi, across various Google products and services. Meskipun pengguna lain dapat melihat daftar orang-orang dalam koleksi lingkaran pengguna, mereka tidak dapat melihat nama-nama lingkaran mereka. Pengaturan privasi juga memungkinkan pengguna untuk menyembunyikan pengguna di kalangan mereka serta yang telah mereka dalam lingkaran mereka. Organisasi dilakukan dengan menyeret antarmuka. Sistem ini menggantikan fungsi daftar teman biasa digunakan oleh situs-situs seperti Facebook.

2. "Messenger"(sebelumnya dikenal sebagai Huddle) --> fitur yang tersedia untuk Android, iPhone, dan perangkat SMS untuk berkomunikasi melalui pesan instan dalam Circles.

3. "Hangouts" --> tempat yang digunakan untuk memfasilitasi kelompok obrolan video (dengan maksimal 10 orang berpartisipasi dalam Hangout tunggal pada setiap titik waktu). Namun, siapa pun di web ini berkesempatan untuk bergabung dengan 'Hangout' jika mereka kebetulan memiliki URL yang unik dari Hangout tersebut.

4. "Instant Upload" --> khusus untuk ponsel Android untuk menyimpan foto atau video dalam album pribadi untuk berbagi nanti.

5. "Sparks" --> sebuah front-end untuk Google Search, memungkinkan pengguna untuk mengidentifikasi topik mereka mungkin akan tertarik dalam berbagi dengan orang lain; "menampilkan kepentingan" percikan juga tersedia, berdasarkan topik lain secara global menemukan sesuatu yang menarik.

6. "Streams" --> pengguna melihat perkembangan terbaru dari orang-orang di kalangan mereka, perkembangan terbaru mirip dengan news feed di Facebook. Kotak input memungkinkan pengguna untuk memasukkan status terbaru atau menggunakan ikon untuk mengunggah dan berbagi foto dan video.

7. "Games" --> 16 permainan telah dirilis pada bulan Agustus.

Senin, 28 Mei 2012

Tetang Kamu :* (˘̩̩̩⌣˘̩ƪ) ♥

Kenal dengan lo adalah salah satu anugrah yg gue dapetin
Duduk di samping lo adalah suasan yg udah lama gw nantiin dalem hidup gw
Ngobrol dg lo adalah cara gw ngebuat hati gw tenang
Gw cukup liat senyum lo dari tempat duduk gw yg sunyi ini
Seperti lo berbagi dg gw saat gw disamping lo
Seperti lo ngasih pundak lo ke gw
Tapi gw yakin tuhan punya jalan lain dihidup gw
--> my memories GIT :* (⌣́_⌣̀)

Jumat, 25 Mei 2012

NO TITLE (⌣́_⌣̀) (ʃ˘̩̩̩_˘̩̩̩ƪ)

Di petang yang indah
Terdapat Bocah Kecil duduk termenung
Sendiri di antara rerumputan
Yang asik bersenda gurau

Cekikan rerumputan itu sampai
Terdengar di telinga Bocah Kecil
Dan bocah itu pun mengatakan
"Sssstt diam ! jangan berisik
Aku tidak tenang mendengar kalian membicarakanku"

Dan rerumputan itu menjawab
"Maafkan kami, kami hanya bingung
Biasanya bocah seukuran mu tertawa
Riang bermain di atas kami
Tetapi mengapa engkau diam duduk termenung?"

Dan terpancaraura kesedihan dari
Raut wajah Bocah Kecil
"Aku baru kehilangan balon ku sebulan lalu
Dan sekarang punya aku satu - satunya pecah lagi
Aku gapunya balon lagi"

Rabu, 16 Mei 2012

abangnya lagi fudul - fudul bocah kecil. mungkin itu salah satu cara abang menjaga bocah kecil (˘̩̩̩⌣˘̩ƪ)

Minggu, 13 Mei 2012

bocah kecil mau foto abang buat kenang - kenangan bocah kecil :'(

Elmo Merah (˘̩̩̩⌣˘̩ƪ)

kalo saja boneka ini ada. aku akan beli dan aku kasih ke kamu.sebagai perwujudan perasaan aku yg benar - benar merindukan mu (⌣́_⌣̀)

Rabu, 09 Mei 2012

Balon ku ♡ (ɔ ˘⌣˘)♥(˘⌣˘ c) ♡

Bocah :punya balon. balonnya indah banget.tapi aku bingung gimana cara memegangnya. kalau aku pegang erat nanti pecah :( kalo ngga di pegang erat ntar terbang tinggi di bawa angin. tapi aku tahu semua orang harus menikmati indahnya balon ku. jadi aku ikhlas balonnya terbang tinggi di langit luas sana. angin sampai kan kepada Tuhan yah "aku sayang balon aku, jangan sampe balon aku pecah di langit luas sana. karna ini balon aku :)" Abang :tentang balon itu. lu harus cari balon baru, lu harus beli balon baru. karena balon itu akan terbang tinggi dan ga akan kembali lagi di muka bumi. dia akan terus tinggi dan pecah di langit yg luas Bocah :tapi anak kecil susah melepaskan barang favoritenya. lu tau itu kan? kalo pun di paksa dia akan merengek sejadi - jadinya Abang :(hening)

Sabtu, 05 Mei 2012

Minggu, 29 April 2012

MY BEST FRIENDS FOREVER :* :D

Sahabat ialah awan. Entah awan biru, putih atau pun hitam. Awan biru yg selalu menemani canda tawa kita. Awan putih yg selalu menutupi kesalahan kita. Dan awan hitam yg selalu tegas di saat kita terjatuh

Minggu, 11 Maret 2012

Cinta Saat Ujian 2

“Duuhh bunda gimana sih, aku telat kan,” omel Cinta kepada sang Bunda yang ternyata telat membangunkannya di hari pertama ujian nasional yang akan dilewati Cinta.
Putri Cinta Kirana, itulah nama panjang Cinta. Siswi yang sudah duduk dibangku kelas 9 SMP ini memang tengah menghadapi ujian nasional yang akan di laksanakan selama 4 hari yang dimulai dari senin, 25 april 2011 hingga kamis, 28 april 2011.
“Kok nyalahin bunda? Daritadi bunda udah ketok-ketok pintu kamar kamu, kamunya aja yang ngga denger. Udah nih makan dulu,” jawab bunda yang sedang menyiapkan roti selai untuk anak bungsunya itu.
“Makanya buka dong pintu kamar aku. Aku sarapan di sekolah aja, Bun,” kata Cinta yang sedang meminum susu coklat kesukaannya.
“Kan kamar kamu kunci, gimana sih?” balas Bunda dan dibalas senyum lebar oleh Cinta lalu ia meminum susu kembali.
“Tau nih,” sambung Ciko dengan mengacak rambut Cinta, kakak Cinta yang baru saja bergabung di atas meja makan.
Ciko adalah siswa kelas 11 di salah satu sekolah menengah atas negeri terkemuka di Jakarta. Kakak yang paling dekat dengan Cinta dan menjadi teman curahan hati Cinta.
“Ih, apa sih lu ah,” balas Cinta yang sedang merapikan rambutnya, “Rambut gue berantakan kan,” protes Cinta dengan kesal.
“Udah abisin dulu susunya nanti telat lagi, biar nanti kakak yang nganterin,” kata Nico lembut.
“Udah abis, nih. Harusnya kakak yang cepetan abisin rotinya, masih banyak gitu,” balas Cinta yang masih sibuk dengan rambutnya.
“Ini mah mau gue bawa ke kampus. Udah yuk jalan,” ajak Nico.
Cinta pun ikut saja ditarik Nico, “Eh tunggu, pamit dulu dong sama Bunda,” kata Cinta yang langsung pamit kepada Bunda, “Cinta berangkat dulu ya, Bun.”
“Iya, nih bawa rotinya,” jawab Bunda yang memberi kotak bekal Cinta.
“Kayak anak kecil banget sih,” kata Cinta yang akhirnya menerima kotak bekal itu.
“Nanti taruh aja di mobil gue kalo udah abis, biar ngga malu-maluin lo,” usul Nico setelah berpamit kepada Bunda.
“Gue ikut mobil lo dong, Nic,” pinta Ciko yang ikutan pamit kepada Bunda.
“Hah?” tanya Cinta kaget.
“Tenang aja, Nico nganterin lo duluan kok,” kata Ciko yang lagi-lagi mengacak rambut Cinta.
“Bisa ngga sih ngga usah resek,” protes Cinta yang jalan duluan menuju halaman depan.
Ciko yang tidak tahan marahan terlalu lama sama Cinta, akhirnya menyusul Cinta dan meminta maaf, “Iya deh iya maafin gue napa, Ta.”
“Iya-iya,” balas Cinta tidak menoleh ke Ciko.
“Yah ngga ikhlas ya maafinnya?” tanya Ciko yang sekarang sudah berada di depan Cinta yang mau membuka pintu mobil.
“Iya-iya udah ah misi gue mau masuk,” jawab Cinta yang menyingkirkan Ciko.
“Tapi maafin ya,” tahan Ciko dengan memegang erat tangan Cinta.
“Iya kakak ku yang ganteng dan baik hati,” balas Cinta yang langsung masuk ke dalam mobil.
“Yah,” jawab Ciko ketika pintu mobilnya langsung ditutup oleh Cinta.
“Udah sana ah, kamu ini Ciko,” kata Bunda mengelus rambut Ciko.
“Hehehehehe,” nyengir Ciko.
“Udah cepet masuk daripada nyonya ngamuk lagi,” kata Nico yang baru ingin memasuki mobilnya dan berbarengan dengan terbukanya kaca mobil tempat Cinta duduk.
“Iya deh iya, peace peace,” balas Ciko yang langsung masuk ke bagian belakang mobil Nico.
Deru mobil pun terdengar.
“Bun, Cinta berangkat dulu ya,” pamit Cinta dalam mobil yang diikuti oleh Nico dan Ciko.
“Nico juga, Bun.”
“Ciko juga, nanti Ciko pulang telat mau rapat OSIS.”
“Terus gue pulang bareng siapa?” tanya Cinta bingung.
“Ya sendiri dong, Nak,” jawab Bunda.
“Hehehehe iya, Bun,” kata Cinta malu.
“Tau nih, manja banget,” sambung Ciko.
“Udah sana jalan, nanti telat loh. Hari pertama ujian kan,” usul Bunda.
“Iya, Bun. Assalamu`alaikum,” pamit Cinta, Ciko, dan Nico berbarengan.
Mobil pun melaju dengan kencang. Nico yang sudah terbiasa membawa mobil dengan kecepatan di atas 80 km/jam pun dengan tenang mengemudi, walaupun terdengar percekcokan antara Cinta dan Ciko.

***

“Udah sampe nih.”
“Udah sana turun, nanti keburu masuk loh,” sambung Ciko mengelus rambut Cinta.
“Iya-iya, pengen banget sih lu gue turun,” kata Cinta yang langsung turun dari mobilnya dan berjalan.
“Eh, tunggu tunggu,” tahan Ciko.
“Apalagi? Katanya suruh turun?”
“Nih bawa kotak bekel lo,” Ciko langsung menyodorkan kotak makan Cinta.
“Ih, apa-apaan sih lo? Malu-maluin gue aja.” Cinta langsung was-was melihat sekeliling.
“Kenapa sih cantik? Takut diliat Coki?” goda Ciko.
“Ih, kak Ciko. Ini wilayah sekolah tau. Jangan buat aku malu.”
Dari dalam mobil Nico hanya bisa tertawa, “Yaudah lah, Cik. Kasian tau di godain mulu. Mending lu masuk deh bawa kotak bekelnya.”
“Tapi kan ini kotak bekel dia.”
“Gue panggilin clara lu,” pancing Cinta.
“Iya deh iya, bye adik ku tersayang,” putus Ciko yang langsung memasuki mobil.
“Bye Cinta, jangan gunain contekan ya,” pesan Nico dari dalam mobil.
“Sip kak Nico.”
Nico dan Ciko pun pergi meninggalkan Cinta yang masih takut kalau-kalau ada yang melihat tingkah Ciko tadi.

***

Perlahan-lahan Cinta berjalan menuju kelasnya.
“Duh, tadi genk-nya Mutiara ngeliat gue ngga ya?”
“Ngeliat apa?” tanya Ikhsan dan Clara yang berhasill membuat Cinta kaget setengah mati.
“Astagfirullah, lo berdua ya,” bentak Cinta.
“Kenapa sih, Cin? Ngomel-ngomel mulu,” tanya Clara.
“Ngga, gue lagi sebel aja sama kak Ciko,” jawab Cinta.
“Kenapa lagi sih kakak lo?” tanya Ikhsan.
“Jadi tuh,” kata-kata Cinta terpotong ketika Coki, Doni, dan Awan datang menghampiri mereka.
“Kelasnya dimana, Cin?” tanya Doni.
Cinta tak langsung menjawab pertanyaan Doni karena kaget melihat kehadiran Coki dan Awan berbarengan.
“Cinta?” panggil Coki dengan senyum.
“Hah? Apa?” tanya Cinta salah tingkah.
“Tadi Doni nanya kelas kamu dimana?” ulang Coki.
Mendengar Coki memanggilnya dengan sebutan kamu, Cinta merasa dirinya tidak terkendali.
“Emm, ngga tau deh. Aku baru datang,” jawab Cinta dengan gugup.
“Yaudah cari bareng yuk,” ajak Coki.
“Hah? Bareng?” tanya Cinta yang melirik ke arah Ikhsan dan Clara yang berada di sebelahnya.
Ikhsan dan Clara yang mengetahui keadaannya hanya bisa tersenyum melihat tingkah Cinta.
“Yaudah ngga apa-apa kok, Cin. Lagian gue sama Ikhsan ada perlu sama Bu Sartini, ya kan?” tanya Clara kepada Ikhsan yang ternyata sedang melihat Awan yang tidak jauh berada bersamanya.
“Hah? Iya bener iya.”
“Yaudah, kita duluan ya. Bye,” akhir Clara yang langsung pergi bersama Ikhsan.
“Yaudah yuk, nanti telat,” ajak Coki.
“Iya,” jawab Cinta yang mengikuti Coki berjalan di sebelahnya,

***

“Eh, San. Tadi lo ngapain liat-liatan sama Awan?” tanya Clara di tengah perjalan menuju kelasnya.
“Kasian tau, Awan. Mukanya ditekuk banget,” jawab Ikhsan.
“Lagian kenapa mereka bisa putus sih? Ngga enak banget.”
“Tau tuh, malah si Awan milih cewek kaya Bunga.”
“Emang cewek kaya Bunga gimana maksudnya?” tanya Clara bingung.
“Ya gitu, uda ah kenapa jadi ngegosip gini?” jawab Ikhsan yang langsung memasuki kelasnya.
“Tapi kan Awan sama Cinta satu kelas lagi ya, kasian banget,” sambung Clara.

***

“Kayaknya ini deh kelasnya,” kata Doni melihat ruangan bernomor 28.
“Emang kita ruang 28?” tanya Cinta bingung.
“Eh, Coki,” sapa Mutiara yang langsung menggandeng Coki.
“Apa-apaan sih, Mutiara,” kata Cinta sendiri dengan suara pelan supaya tidak terdengar.
Coki merasa risih dengan cara Mutiara menggandengnya, “Eh, Mutiara.”
“Kelas kamu dimana?” tanya Mutiara tanpa malu.
“Ngga tau deh,” jawab Coki singkat dan berusaha melepaskan pegangan Mutiara.
“Iya ini kelas kita,” kata Doni kepada Awan, Cinta, dan Coki.
“Oh, ini kelas kamu. Aku di sebelah kamu dong. Wah kelas kita dekat ya,” kata Mutiara yang tidak melepaskan pegangannya.
“Iya, udah ya lepas,” pinta Coki dengan halus.
“Yaudah ya, gue masuk duluan,” kata Cinta dengan lemah dan berjalan masuk.
“Gue sama Doni juga deh,” kata Awan mengikuti Cinta bersama Doni.
“Udah ya gue masuk duluan,” kata Coki yang akhirnya berhasil lepas dari Mutiara.

***

Setelah menaruh tas, Cinta langsung membuka handphone BB-nya dan membuka twitter untuk meng-update perkembanga hatinya.
Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“Hay,” sapa Coki yang berada di sebelahnya.
Spontan handphone Cinta jatuh, “Yah handphone gue.”
“Aku ambilin ya,” kata Coki yang langsung menunduk ke kolong meja untuk mengambilkan handphone Cinta, “Wah lagi ol twitter,” bisik Coki.
“Mana handphone-nya?” tanya Cinta dari atas meja.
“Oiya, nih handphone kamu,” kata Coki yang langsung mengembalikan handphone Cinta, “Aku balik ke tempat aku dulu ya,” kata Coki yang langsung duduk di bangku yang berada di sebelah Cinta.
“Duh, tweet gue dibaca ngga ya sama Coki?” tanya Cinta sendiri dengan was-was dan langsung melihat hamdphone-nya kembali.
CikoSikirana Siapa tuh Coki RT@cintakirana Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“Ih, kak Ciko ngapain sih komment ngga jelas,” protes Cinta.
Apa sih kak Ciko RT@CikoSikirana Siapa tuh Coki RT@cintakirana Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“Cinta, udah ada pengawas,”panggil Coki yang melihat Cinta masih memegang handphone-nya.
“Oh, iya makasiih ya,” balas Cinta yang langsung menaruh handphone-nya.

***

Ujian hari itu pun selesai. Cinta yang tidak langsung bergegas pulang menemukan selembar kunci di kolong meja Awan, “Awan make kunci?”
“Cinta,” panggil Claudy dari luar, teman satu kelas Cinta.
“Oh, iya,” balas Cinta yang langsung memasuki kunci yang ia lihat ke dalam tasnya.
“Ngapain lo tadi di meja Awan?” tanya Cindy.
“Oh, ngga kok. Ngga ngapa-ngapain,” jawab Cinta berusaha menutupi.
“Cinta duluan ya,” pamit Coki begitu melewati Cinta bersama Awan.
“Oh iya,” jawab Cinta gugup ketika melihat Awan. Cinta masih tidak percaya apa Awan benar-benar menggunakan kunci jawaban tersebut.
“Eh Cinta gimana tadi menurut lo soal bahasa Indonesia?” tanya Claudy yang berhasil memecah lamunan Cinta.
“Hah? Oh bahasa tadi, biasa aja ah,” jawab Cinta.
“Iya deh yang pinter beda, hahahahaha,” sindir Cindy.
“Ih, apaan sih. Udah ah gue pulanga duluan ya,” pamit Cinta.
“Nanti les kan?” tanya Claudy.
“Iya.”

***

“Duh kak Ciko lama aja nih,” protes Cinta yang sudah tidak sabar, “Yaudah gue buka twitter aja deh.”
CokiLaksana Kok ada nama gue? RT@putricinta Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“Wah gawat, Coki baca lagi, gue harus balas apa nih?”
Memangnya kenapa? RT@CokiLaksana Kok ada nama gue? RT@putricinta Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“Hay, ninggalin kita lu,” sapa Clara yang mengagetkan Cinta.
“Ih, Clara,” omel Cinta dengan jengkel.
“Cie yang tadi seneng diajak ke kelas bareng Coki, ciecie,” goda Clara dengan senyum centilnya.
“Ih apaan sih,” elak Cinta dengan pipi mulai memerah.
“Ciecie pipinya merah,” goda Clara lagi.
“Oiya tumben lu sendiri, Ikhsan mana?” tanya Cinta heran melihat Clara sendiri.
“Cie ganti topik.”
“Ih, bukannya gitu. Katanya Ikhsan mau ketemu kak Ciko.”
“Oh yang lagu itu ya?”
“Iya, mana sih Ikhsan?”
“Dia tadi diajak ngobrol gitu sama Awan. Kayaknya sih curhat,” jawab Clara.
“Tau dari mana lo curhat?” tanya Cinta yang sedang melihat balasan mention Coki.
“Tadi si Awan suruh gue pergi gitu. Katanya privacy gitu,” jawab Clara yang aneh melihat Cinta senyum-senyum sendiri, “Cin?”
“Oh iya,” jawab Cinta yang sama sekali tidak memalingkan wajanhya dari handphone-nya.
“Lu lagi ngaain sih? Gue cerita dicuekin. Liat apasih?” tanya Clara penasaran yang akhirnya merebut handphone Cinta dan melihat apa yang sedang dilakukan Cinta.
“Ih, Clara ngga sopan banget sih.”
“Lo yang ngga sopan gue lagi curhat malah buka twitter,” jawab Clara yang kaget melihat mention antara Cinta dan Coki.
Ya ngga apa-apa sih Cuma mau tau aja RT@putricinta Memangnya kenapa? RT@CokiLaksana Kok ada nama gue? RT@putricinta
“Lo dari tadi mention-mentionan sama Coki?” tanya Clara yang ikutan tidak memalingkan wajahnya darihandphone Cinta.
Yaudah kalo gue ngga jawab ngga apa-apa dong RT@CokiLaksana Ya ngga apa-apa sih Cuma mau tau aja RT@putricinta Memangnya kenapa? RT@Cokilaksana
“Iya, dia mention duluan tweet gue,” jawab Cinta dengan malu.
Selesai UN, mau ngga nonton berang gue? RT@putricinta Yaudah kalo gue ngga jawab ngga apa-apa dong RT@CokiLaksana Ya ngga apa-apa sih Cuma mau tau aja
“Lo diajak nonton sama Coki?” tanya Clara dengan antusias.
“Iya,” jawab Cinta lemas.
“Lo terima ngga?” tanya Clara yang mengembalikan handphone Cinta.
“Ngga tau deh belum gue jawab, menurut lo gimana?” Cinta yang terlihat bimbang malah balik bertanya.
“Yaudah terima aja, ini kesempatan emas loh buat lo. Berarti dia udah mulai mau pedekate sama lo.”
“Tapi abis UN gue juga ada janji.”
“Sama siapa?” tanya Clara yang berbarengan dengan kedatangan Awan dan Ikhsan yang menghampiri mereka berdua.
“Cin, nanti jadikan main band?” tanya Ikhsan.
“Hah?” Cinta kaget melihat kehadiran Ikhsan bersama Awan.
“Janji lo sama mereka?” tanya Clara yang melirik ke arah Awan dan Ikhsan dan diikuti anggukan Cinta.
“Cinta ngga bisa main band dulu,” jawab Clara.
“Ikhsan kan nanya ke Cinta, bukan lu, Ra,” balas Awan.
“Ya tapi emang nyatanya Cinta ngga bisa.”
“Tapi kata kak Nico sama kak Ciko bisa kok,” sambung Ikhsan berusaha memastikan.
“Hay, Cinta,” sapa Coki tiba-tiba dengan memegang pundak Cinta yang membuat Cinta salah tingkah.
“Hay,” jawab Cinta seadanya.
“Nanti setelah UN jadikan?” tanya Coki memastikan.
“Mau kemana lu, Cok?” tanya Awan dengan heran.
“Abis UN gue sama Cinta mau nonton,” jawab Coki dengan santai.
Cinta hanya bisa tertunduk karena sudah pasti Ikhsan dan Awan sedang memerhatikan Cinta.
“Berdua aja?” tanya Awan memastikan.
“Iya, kenapa?”
“Gue ikut ya?” pinta Awan.
“Hah?” Cinta dan Clara sangat kaget atas ucapan Awan yang sangat di luar kendali mereka.
“Emm, terserah Cinta. Gue duluan ya,” akhir Coki yang langsung pergi meninggalkan Cinta, Awan, Clara, dan Ikhsan dengan penuh tanya.
“Gimana jadinya, Cin?” tanya Ikhsan memastikan.
“Bentar ya, handphone gue bunyi,” kata Cinta yang langsung mengambil handphone-nya dan pergi menjauh dari mereka, “Hallo, kak, jadi jemput ngga?”
“Ih, gimana sih lu, kan motor gue lagi di bengkel gara-gara balapan kemarin. Lo lupa?” jawab Ciko.
“Oiya, duh.”
“Lagian kan tadi gue berangkat bareng lo sama Nico. Kan tadi pagi kita berantem, gimana sih ih,” sambung Ciko lagi.
“Ya Allah, kak,” balas Cinta dengan lemas.
“Oiya, tadi lo mention-mentionan ya sama Coki? Sodara kembar gue,” pancing Ciko.
“Ih, berkali-kali gue bilang. Lo sama Coki beda jauh,” balas Cinta dengan emosi.
“Yaudah jangan marah, tapi sih sebenernya gue lagi ada di rumah Dicky. Lo mau sekalian gue jemput?” tawar Ciko.
“Tapi kan kakak ngga bawa motor?”
“Ye maksud gue pulang bareng tuh naik angkot cantik.”
“Oh, yaudah cepet ya, sekarang jalan.”
“Ih ngga bisa motornya Dicky lagi di pake sama adiknya.”
“Lah? Katanya naik angkot?”
“Maksud gue dari rumah Dicky sampai sekolah lu, sayangku. Geregetan gue sama lu.”
“Oh, sory-sorry kak. Lagi bingung banget gue.”
“Kenapa?”
“Coki ngajakin gue nonton,” jawab Cinta dengan was-was.
“Bagus dong, lu terima?”
“Belum gue terima tapi Coki udah pede banget mau jalan sama gue.”
“Yaudah lo terima apa salahnya?”
“Tapi dia ngajakinnya sesudah UN.”
“Lah? Kita kan mau nge-band?”
“Makanya gue bingung, malah Awan minta ikut.”
“Awan? Awan teman lo dari kelas 7? Mantan lo itu?”
“Iya, Kak. Gimana dong? Malah kata Coki terserah gue boleh ngajak Awan apa ngga.”
“Yaudah nanti lagi ya lu ceritanya. Gue baru mau jalan ke sekolah lu nih.”
“Iya, cepet ya.”

***

Selama Cinta menelefon kakanya, Awan ternyata menggunakan kesempatan itu untuk bertanya-tanya kepada Clara.
“Ra, Cinta beneran suka sama Coki?” tanya Awan dengan penasaran.
“Iya, bukannya lu udah tau?”
“Iya gue udah tau tapi kirain gue itu bohongan. Kan Cinta waktu itu masih ngejar-ngejar gue,” jawab Awan dengan pede.
“Bukan ngejar-ngear kali. Lebih tepatnya menyatukan kita berempat lagi dengan kesalahan lo yang terlalu childish,” sambung Clara.
“Tau lo, Wan. Putus dari Cinta malah milih orang kayak Bunga,” tambah Ikhsan.
“Emang kenapa sih sama Bunga? Kok kayaknya lo berdua ngga suka banget sama Bunga.”
“Bingung gue jelasinnya, ini masalahnya aib orang coy,” jawab Ikhsan dengan gaya sok asik.
“Kira-kira kalo gue nembak Cinta lagi di terima ngga ya?” tanya Awan kepada Clara dan Ikhsan yang sangat kaget, “Hah?”
“Lo mau nembak Cinta?” tanya Ikhsan dan langsung saling pandang kepada Clara dan berucap bersama-sama, “LAGI!!!”
“Iya, emang kenapa sih? Dosa banget apa gue?”
“Ya bukannya gitu, dia udah kesel banget tau sama lo,” jawab Ikhsan.
“Tau, Cinta sama Bunga jauh beda sayang. Apalagi sekarang Coki menunjukkan sikap-sikap open heart sama Cinta, wah siap kalah deh,” sambung Clara.
“Tenang aja kali gue ngga mau kalah sebelum bertanding,” jawab Awan dengan yakin.
“Ini nih kelebihan lu yang bikin gue suka sama lo dulu. Terlalu pede dengan apapun,” kata Clara.
Cinta pun datang dengan hati yang was-was karena takut kalau Awan menagih jawabannya.
“Telefon dari siapa?” tanya Awan.
“Hah? Dari kak Coki,” jawab Cinta dengan gugup.
“Jadi nanti lo jalan apa nge-band nih?” tanya Ikhsan dengan penuh kepastian.
“Gue juga belum tau, San,” jawab Cinta seadanya.
“Kalo lo jalan, gue boleh ikut ngga?” tanya Awan.
Akhirnya dia nanya apa yang gue hindarin, batin Cinta.
“Emm, gue ngga tau deh,” jawab Cinta dengan senyum, “Eh kakak gue udah datang, duluan ya,” pamit Cinta yang melihat Ciko dari kejauhan.
“Hey, Bro,” sapa Ciko kepada Awan, Clara, dan Ikhsan dengan berjabat tangan.
Claranya hanya membalas dengan senyum menawan yang berhasil membuat Ciko berdegup kencang.
“Kak Ciko, jangan mupeng ya,” sindir Ikhsan.
“Hahahahahha, sial lo,” balas Ciko.
“Yaudah yuk pulang, udah siang nih. Gue mau belajar buat besok,” sambung Cinta.
“Yaudah ya, besok lagi ya kita ketemu, bye,” pamit Ciko.
“Bye semua,” pamit Cinta.
“Yaudah yuk pulang,” ajak Clara.
“Yuk,” kata Ikhsan yang berjalan bersama Clara.
“Eh, nanti dulu,” sambung Awan.
“Kenapa?” tanya Ikhsan bingung.
“Gue mau ke sanggar dulu ya, ada perlu.”
“Loh? Gue ngga dikasih tau suruh ngumpul,” sambung Clara bingung.
“Eh, gue ada urusan sama Nino kok,” kata Awan bohong.
“Oh yaudah, duluan ya,” pamit Clara.
“Gue juga ya,” pamit Ikhsan.

***

Di taman, Awan melihat Coki dan Floren tengah berbincang serius dengan sesekali diselingi nada tinggi dari keduanya.
“Jadi lo setuju kan sama ide gue tadi siang. Tenang aja kok, kalau lo ikutin gue, gue akan ikutin lo,” tawar Floren dengan senyum sinis.
“Gue ngga bisa,” jawab Coki dengan seadanya.
“Tapi jujur kan lo ngga suka sama Cinta?”
Hah? Coki?, batin Awan.
“Tapi gue belakangan ini juga udah mulai suka sama Cinta.”
“Halah, Mutiara kan yang benar-benar lo cintai?”
“Ya tapi,” Coki bingung harus melanjutkan kalimatnya seperti apalagi. Dia merasa Floren sedang mempermainkan dirinya tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Oke, kita balik ke rencana awal. Gimana?” kata Floren yang masih berusaha untuk menawar.
“Ngga jahat apa?” tanya Coki dengan bingung.
“Tenang aja, nanti lo kasih minuman yang udah gue siapin di parkiran sebelum lo berdua nonton,” kata Floren.
“Minuman itu isinya apa dulu?” tanya Coki dengan nada tinggi.
“Nyantai dong, Bro. Minuman itu isinya Cuma obat tidur doang kok, reaksinya cuma 12 jam setelah Cinta meminumnya,” jelas Floren.
“Kenapa sih lo minta gue lakuin ini? Kenapa ngga orang lain?” tanya Coki dengan gemas.
“Ya karena dia sukanya sama lo, dan gue pengen lo jadian sama Mutiara di depan Cinta,” jawab Floren dengan mantap.
“Gue yakin selain itu ada yang lain,” pancing Coki.
“Iya, gue pengen nama baik mantan ketua OSIS, mantan ketua PMR, dan Cinta sendiri sebagai mantan wakil ketua Paskibra hancur di akhir mereka bersekolah di sini.”
“Ya tapi kenapa, Flo? Kenapa? Lo kan pernah dekat sama mereka?”
“Ya memang gue pernah dekat sama mereka, dan gue ngga terima mereka dekat sama Ikhsan.”
“Ikhsan? Lo suka sama dia?”
“Ya dulu, tapi sekarang gue udah muak sama Ikhsan. Enak banget dia nyampakin gue.”
“Dan lo balas dendam lewat gue?”
“Iya, gue akan bilang ke bokap gue untuk melunasi hutang bokap lo. Gimana? Saling menguntungkan kan?”
“Terserah lo, gue udah gerah,” jawab Coki yang langsung pergi meninggalkan Floren.
“Inget lo, Cok. Keluarga lo ada di tangan gue,” kata Floren dengan nada tinggi.

***

“Hah? Coki? Ya ampun dugaan gue bener. Gue harus bilang ke Cinta,” kata Awan yang langsung berjalan tetapi terhenti oleh Coki yang ada di depannya kini, “Dan gue harap lo ada di saat Cinta nonton bareng gue karena gue ngga bisa ngelindungi dia, ada Floren di sana.”
“BIADAB LO, COK!!!!” bentak Awan yang langsung menghajar Coki dengan segenap emosi.
Awan terus-menerus menghajar Coki meski Coki sudah merintih, “Lo mau nyampakin Cinta gitu aja? Ngga akan tinggal diam gue.”
Akhirnya dengan sisa tenaganya Coki menahan Awan, “Oke gue terima ini, tapi please!! Ini masih rahasia, gue ngga akan berlaku terlalu jauh sama Cinta kalo lo mau datang dengan diam-diam pada malam nanti.”
Awan pun berhenti memukuli Coki dan berdiri membantu di depan Coki yang sudah berdiri. Tetapi Coki malah menyerang Awan dengan pukulan yang tak henti. Awan hanya bisa diam, di pikirannya kini bagaimana ia memberitahu Cinta tenteng ide gila Floren bersama Coki.
“Cukup gue nonjokin lo,” kata Coki yang akhirnya pergi meninggalkan Awan, “Dan satu lagi, jangan harap Cinta bisa tersenyum besok dan lo bisa menghalangi gue.”
“ORANG KAYAK LO BIADAB, COK!!!” teriak Awan.
“Ya memang, daripada lo. Membohongi perasaan lo demi cewek yang sama sekali ngga lo cinta,” akhir Coki yang langsung pergi.
“Gue harus sms Clara sama Ikhsan. Atau kayaknnya lebih baik Ikhsan aja,” kata Awan yang langsung mengirim pesan singkat kepada Ikhsan.
To: Ikhsan
Gue tunggu lo di rumah gue jam 3, ada hal yang harus gue omongin sama lo
Awan pun langsung bergegas pulang sebelum ada guru atau penjaga sekolah yang melihatnya babak belur.

***

Tok tok tok!!!
“Cinta,” panggil Clara dari luar rumah Cinta, “Assalamu`alaikum, Cinta.”
“Iya tunggu sebentar,” teriak Cinta yang sedang bermain dengan laptopnya.
“CINTA!!! ASSALAMU`ALAIKUM CINTA!!” teriak Clara dari luar rumah.
Cinta langsung membukakan pintu dan dengan menutup telinganya, “Duh, bisa ngga sih ngga usah teriak? Budeg nih gue.”
“Iya deh iya sorry, atuh tiba-tiba lo nyuruh gue ke rumah lo. Gue kan lagi belajar buat matematika besok.”
“Ya kan sekarang udah sore kali.”
“Apanya yang sore? Masih jam setengah tiga begini. Kenapa ngga jam 4 aja sih gue ke rumah lo.”
“Ya jam 4 gue mau tidur rencananya.”
“Ya ampun, Cinta. Sore-sore begitu lo tidur?” tanya Clara heran melihat tingkah Cinta yang masih kekanak-kanakan.
“Duh bawel deh, masuk deh kalau gitu. Ngga enak diliat tetangga gue,” ajak Cinta yang berjalan duluan menuju ruang tamu.
“Ada apa sih lo nyuruh gue ke sini?” tanya Clara yang duduk di depan laptop Cinta, “Lo main laptop? Bukannya belajar lu?”
“Ya kan Cuma bentar. Ini juga gue baru buka.”
“Tapi kan ini UN Cinta.”
“Yaudah ah, kayak nyokap gue aja deh lo.”
“Iya deh iya, gue ngapain nih ke rumah lo?”
“Nih liat kelakuan sahabat lo itu,” kata Cinta yang langsung menunjukkan laptopnya.
Clara membaca beberapa mention antara Cinta dan Coki.
“Hah?” Clara sangat kaget dengan apa yang dibacanya.
“Tolong deh lo bilangin sama sahabat lo itu, kenapa sih dia? Enak banget mukulin Coki, apa salah Coki?”
“Ya mana gue tau? Lagian lo tau darimana kalo Coki ngga bohong sama lo?”
“Tadi dia ke rumah gue sebentar buat ngasih buku gue yang ketinggalan di perpus.”
“Terus ngapain lo mention-mentionan?”
“Tadi dia duluan yang mention gue yaudah gue bales.”
“Oh gitu,” kata Clara yang langsung mengambil handphone-nya karena berbunyi.
“Eh, tadi lo kan pulang bareng Awan?”
“Ya terus? Lo mau nyalahin gue juga gitu?”
“Ya ngga gitu juga, Ra. Cuma kan aneh aja, benar lo ngga liat Awan sama Coki?”
“Ngga, tadi emang mau pulang bareng tapi dia ada janji sama Nino katanya.”
“Atau jangan-jangan dia sama Nino kali? Wah Nino awas aja, gue samperin ke rumahnya,” kata Cinta emosi dan langsung berlari menuju kamarnya.
“Ye si Cinta,” kata Clara yang memainkan laptop Cinta di ruang tamu.

***

Tok tok tok!!
“Wan, ada Ikhsan noh di luar,” panggil Citra.
“Iya, kak, suruh tunggu sebentar,” jawab Awan.
“Kasian itu si Ikhsan udah daritadi,” teriak Citra lagi dan bersamaan dengan dibukanya pintu kamar Awan, “Ah, bawel banget sih lu.”
“Muka lu kenapa?” tanya Citra yang langsung memegang wajah Awan.
“Aw!!” teriak Awan yang langsung menyingkirkan tangan Citra dari wajahnya.
“Sorry sorry, tumben lo berantem,” sambung Citra.
“Yailah gue kan cowo.”
“Pasti gara-gara cewek, hahahahaha,” kata Citra yang langsung pergi menuju kamarnya.
“Tau aja itu bocah,” kata Awan yang langsung pergi menuju ruang tamu.

***

Di rumah Cinta, ternyata Cinta juga tengah bersiap untuk pergi menuju rumah Nino yang tak jauh dari rumahnya.
“Yuk, Ra, pergi sebelum kakak gue bangun,” ajak Cinta yang sudah rapih dengn T-shirt yang ditutupi jaket dan celana pendeknya.
“Emang kenapa kalo ada kakak lo?” tanya Clara bingung.
“Resek dia mah,” kata Cinta yang menarik Clara untuk berdiri.
“Eh, ada Clara,” sapa Ciko dari arah kamarnya yang tida jauh dari ruang tamu.
“Heh, ada si resek deh,” kata Cinta lemas.
“Mau pergi kemana?”
“Ke rumah Nino, kak,” jawab Clara dengan sopan.
“Loh? Mau ngapain? Bukannya besok masih ujian ya? Kok udah main aja?”
“Ada hal penting yang mau gue tanyain ke Nino,” jawab Cinta.
“Oh, yaudah aku anterin ya,” tawar Ciko kepada Clara, “Emm gimana ya, kak?”
“udah ngga usah, biar naik motor gue aja,” jawab Cinta yang langsung membawa Clara pergi.
“Yaudah hati-hati ya,” teriak Ciko.

***

Awan telah duduk lemah di sebelah Ikhsan yang sedaritadi menunggunya di ruang tamu.
“Ngapa muka lu?” tanya Ikhsan bingung, “Perasaan tadi pas gue sama Clara ninggalin lo, ngga kayak gini deh muka lo. Ribut sama anak mana? Kenapa ngga bilang? Kan lo punya pasukan?”
“Ah bawel lo kayak cewek,” kata Awan gerah dengan kata-kata Ikhsan yang tiada hentinya.
“Jadi lo manggil gue karna lo mau nyiapin pasukan untuk membalas ini? Katanya selama ujian ngga mau tempur dulu?”
“Emang ngga, ini bukan karena tawuran tau,” jawab Awan.
“Terus?” tanya Ikhsan penuh harap.
“Gue berantem sama Coki tadi di taman sebelum pulang sekolah,” jawab Awan dengan nada lurus.
“Hah? Berantem? Serius lo? Bukannya tadi lo mau ke Nino?”
“Ngga kok, itu alasan gue aja. Coki ngga seindah yg dibayangkan Cinta.”
“Maksudnya? Ini bukan karena lo mau nembak dia kan?”
“Ngga kok, tadi gue denger pembicaraan dia sama Floren,” jawab Awan singkat.
“Floren? Teman kita waktu kelas 8?”
“Iya, dia naksir berat sama lo.”
“Hah? Yang benar?”
“Iya, dan karena dulu lo deket banget sama Cinta dan nyia-nyiain cintanya Floren, jadi sekarang dia balas dendam ke Cinta.”
“Lah, kok?” tanya Ikhsan yang masih heran dengan cerita Awan yang berbelit, “Yang jelas ngapa kalo cerita.”
“Oke, jadi tadi gue liat Coki sama Floren ngobrol berdua di taman. Mereka mempunyai rencana buat jahatin Cinta.”
“Karena apa mereka berbuat kayak gitu?” tanya Ikhsan.
“Pertama Floren pengen jatuhin nama baik lo, Clara, dan tentunya Cinta sendiri. Dua dia balas dendam karena dulu lo nyia-nyiain cintanya Floren dan dia iri melihat kedekatan lo sama Cinta.”
“Oh, aneh. Lanjut,” pinta Ikhsan yang masih mencoba mengerti arah pembicaraan mereka.
“Cara mereka jahatin Cinta lewat Coki.”
“Hah? Jadi selama ini Coki itu?”
“Ya, Coki hanya memancing Cinta untuk mengharap lebih ke Coki. Puncaknya nanti setelah ujian, Coki ngajak Cinta nonton untuk dipermalukan.”
“Dipermalukan gimana?”
“Sebelum mereka nonton, Coki akan memberikan minuman di parkiran.”
“Minuman apa?”
“Gue juga ngga tau apa, yang jelas minuman itu udah bercampur dengan obat tidur. Dan pikiran jelek gue, Coki mau memerkosa Cinta,” kata Awan dengan nada masih datar.
“Hah? Ngga bisa di diemin aja kalo udah gini.”
“Ya terus gue harus gimana?”
“Ya lo ikut mereka nonton.”
“Pasti Cinta ngga mau kalo gue ikut.”
“Percaya sama gue pasti Cinta mau ngajak lo.”

***

Sementara di rumah Nino, Cinta terlihat menahan emosinya untuk mendapatkan jawaban pasti.
“No, jujur, No. Lo tadi sama Awan ngapain pulang sekolah?” tanya Cinta dengan sabar.
“Sumpah, Ta. Gue tadi ngga ketemu sama Awan,” jawab Nino.
“Tapi tadi kata Awan dia ada urusan sama lo pulang sekolah,” sambung Clara.
“Tapi tadi gue langsung pulang, Ra,” jawab Nino lagi.
“No, Awan udah nyakitin Coki. Lo masih ngga mau kasih tau gue juga? Apasih yang lo sama Awan mau? Hah?” bentak Cinta
“Tapi sumpah, Ta. Gue ngga tau. Kalo gue tau gue juga udah kashi tau lo, Ta. Toh gue kan ngga pernah bohong sama lo,” kata Nino berusaha meyakinkan dan menatap Cinta dengan dalam.
Cinta hanya terduduk di bangkunya, diam, pandangan lurus, entah apa yang harus ia lakukan lagi. Cinta percaya sama Nino yang ngga pernah bohong kepadanya.
“Kalo lo ngga keberatan gue mau bantuin lo buat nanya ke Awan,” kata Nino di sebelah Cinta.
Cinta pun tersenyum lemas, “Ngga, ngga usah. Sorry ya udah maksa dan ganggu lo. Gue pamit ya.”
Clara hanya mengikuti Cinta yang sudah di ambang pintu terlebih dulu.
“Ta, ngga mau gue bantu?” tawar Nino sekali lagi.
“Iya, ngga usah makasih, gue bisa kok sendiri,” tolak Cinta dengan halus dan berlalu di balik pintu.
“Ta, kita mau kemana lagi?” tanya Clara sebelum akhirnya naik ke atas motor.
“Udah naik aja dulu,” jawab Cinta tanpa menoleh.
Clara hanya menurutinya dan naik ke atas motor Cinta.

***

Beep beep beep
Terdengar bunyi handphone Awan.
To: Awan
From: Nino
Tadi Cinta ke rumah gue, kayaknya dia mau ke rumah lo deh. Tadi sih di rumah gue nanyain tentang Coki gitu
“Hah?” teriak Awan dengan kaget.
“Kenapa?” tanya Ikhsan bingung.
“Nino sms gue katanya Cinta tadi abis dari rumah Nino dan katanya Cinta bakalan ke sini,” jawab Awan dengan panik.
“Ngapain dia ke rumah Nino?”
“Katanya Nino nanyain tentang Coki, dia tau darimana?” tanya Awan bingung.
“Yah siapa lagi kalo bukan si pengganggu,” jawab Ikhsan dengan ketus.
“Tapi gue mohon sama lo, jangan ngomong apa-apa dulu tentang rencana jahat Floren sama Coki,” pinta Awan.
“Kenapa?”
“Please! Gue mohon, biar gue yang tau gimana caranya Cinta selamat tanpa tau semua ini.”
“Yaudahlah, up to you.”

***

Tak lama kemudian, Cinta dan Clara telah sampai di depan rumah Awan.
“Ta, ngapain kita ke rumah Awan? Lo ngga mau nyari ribut kan?” tanya Clara was-was.
“Gue ngga akan pake emosi kok,” jawab Cinta yang langsung pergi memasuki rumah Awan.
Belum sempat Cinta mengetuk pintu rumah Awan, lagi-lagi Clara menghadangnya,
“Ta, jangan pake emosi loh.”
“Iya, cantik,” jawab Cinta yang langsung mengetuk pintu rumah Awan.
Tok tok tok
“Assalamu`alaikum,” kata Cinta.
“Wa`alikumsallam,” jawab Ikhsan yang langsung membukakan pintu.
“Loh? Ikhsan?” kata Cinta dan Clara hampir berbarengan, “Ngapain lo di sini?”
“Gue lagi main aja,” jawab Ikhsan dengan gugup.
“Main? Bohong banget lu, lagi ujian gini mana mau lu main?” tanya Cinta penuh selidik.
“Tau, hari biasa aja jarang banget lu mau ikut main,” sambung Clara.
“Ya sekalian belajar,” elak Ikhsan.
“Belajar apa curhat?” tanya Cinta meyakinkan.
“Ah elu, Cin, banyak nanya banget. Ngapain lo berdua ke sini?”
“Awannya mana?” tanya Cinta jutek.
“Lagi di kamarnya,” jawab Ikhsan.
“Ngga mau nyuruh kita masuk nih?” tanya Clara.
“Yaudah, suruh aja mereka masuk, San,” kata Awan dari dalam rumah.
Mendengar suara Awan, tanpa basa-basi Cinta langsung masuk ke dalam rumah Awan dan melontarkan semua isi hatinya.
“Lo ngapain sih,” belum selesai Cinta menyelesaikan kata-katanya, Cinta sangat terhentak melihat muka Awan yang memar, “Muka lu kenapa?”
“Biasalah cowok, ngapain lu ke rumah gue?” jawab Awan dingin.
Duh gue ngga tega marahin dia, tapi Coki, batin Cinta.
“Ta, lo jadi?” bisik Clara.
“Ngga tau,” balas Cinta.
“Ada apa lo ke sini?” tanya Awan lagi yang kali ini berdiri di depan Cinta.
“Emm, muka lo berantem sama siapa?” tanya Cinta dengan lembut.
“Sama Coki,” jawab Awan dengan tegas, “Dan pastinya Coki udah cerita banyak ya sama lo. Mau marahin gue? Silahkan.”
Duh, nih cowok bikin gue mati kutu, batin Cinta lagi.
“Ya ngga gitu juga, Wan. Ya kenapa sih lu beranem sama Coki? Apa salah Coki?” tanya Cinta yang sudah tidak bisa menahan nada tingginya.
“Salahnya dia deketin lo,” jawab Awan cepat tanpa menatap Cinta.
“Hah?” teriak Cinta, Ikhsan, dan Clara bersamaan.
“Frontal banget,” ceplos Clara dengan tatapan masih tidak percaya yang ditujukan kepada Awan.
“Gue suka cara lo,” sambung Ikhsan.
Cinta hanya bisa berdiri kaku mendengar itu semua.
“Gue ngga mau lo sama Coki,” kata Awan lagi yang akhirnya menatap Cinta tajam.
“Kenapa?” tanya Cinta. Sudah terasa air di bagian pelupuk mata Cinta.
“Coki itu busuk, Ta, busuk.”
“Tapi waktu lo sama Bunga, apa iya gue kayak gini? Gue ngga ngekang lo kan? Kita masih bersahabat kan? Tapi kenapa lo kayak gini sama gue? Hah? Kenapa?”
“Gue sayang sama lo dan gue pengen kita balik,” kata Awan penuh keyakinan.
“Tapi gue ngga, udah cukup yang kemarin. Itu udah cukup buat gue,” balas Cinta yang kali ini sudah meneteskan titik demi titik air matanya.
Selangkah Awan maju dan menghapus air mata Cinta, “Udah, Wan. Kita ngga bisa lagi.”
“Tapi gue yakin lo masih sayang sama gue, ya kan, Ta?” tanya Awan.
“Ngga, gue ngga pernah sayang sama lo, gue ngga pernah cinta sama lo,” jawab Cinta dengan segenap emosinya.
“Gue ngga percaya sama kata-kata lo yang itu.”
“Terserah deh apa kata lu,” sambung Cinta yang hanya bisa menunduk.
Gue ngga boleh nangis, batin Cinta.
Clara pun mendekatinya dan memberikan tisu kepada Cinta. Cinta yang menerima tanpa menoleh sedikit pun.
“Ta, kalo lo ngga kuat kita pulang yuk,” ajak Clara.
“Ngga, Cinta ngga boleh pulang dulu,” tahan Awan.
Apalgi sih, Wan, batin Cinta.
“Awan, cukup,” bentak Clara.
“Nanti dulu, Ra. Lo ngga ngerti,” jawab Awan dengan nada tinggi.
Ikhsan pun menahan Clara dan membawanya terpisah dari Cinta.
“Ta, liat gue,” pinta Awan.
Cinta masih diam terpaku.
“Ta,” panggil Awan sekali lagi.
Dan Cinta masih tidak memberikan respon apapun. Awan memutuskan untuk mengangkat wajah Cinta dengan lembut, “Gue ngga pernah niat buat nyakitin lo. Tapi please! Jangan Coki cowok itu, jangan.”
Dengan kasar Cinta melepaskan tangan Awan dari mukanya, “Mau lo tuh apasih? Gue capek ya, inget, Wan, inget. Lo sama gue udah putus, udah ngga ada lagi hak lo buat ngekang gue. Gue capek.”
Rasa sakit di hati Awan mendengar kata-kata Cinta, iya gue udah bukan siapa-siapa lo.
“Kalo lo bisa pacaran sama Bunga, kenapa gue ngga sama Coki?” sambung Cinta.
“Tapi Coki itu,” Awan berusaha menjelaskan tetapi Cinta memotongnya dengan kata-kata yang menusuk, “UDAH!! CUKUP, GUE NGGA MAU DENGER LAGI APAPUN TENTANG COKI DARI LO!! MUNA LO JADI COWOK”
Cinta pun bergegas pergi dari rumah Awan dengan air mata berderas kencang, kenapa, Wan, kenapa kayak gini?

***

Selasa, 26 April 2011
Hari kedua ujian nasional yang dilewati Cinta dan Awan dengan panas. Awan yang duduk di depan Cinta hanya bisa diam tidak berbuat apa-apa melihat Coki yang sedaritadi bersama Cinta.
“Cin, jadi maksud kamu soal ini make rumus deret aritmatika?”
“Iya,” jawab Cinta singkat dengan nada lurus.
“Oh, trus kalo nomer selanjutnya?” tanya Coki lagi.
“Oh, yang ini?” tanya Cinta memastikan.
“Iya, pake rumus apa?” tanya Coki dengan lembut.
“Ini rumus deret geometri,” jawab Cinta dengan senyum seadanya.
“Oke, makasih ya,” sambung Coki dengan senyum manisnya.
“Ya, sama-sama,” jawab Cinta yang kembali melamun.
“Kamu kenapa sih? Kok daritadi singkat banget jawab pertanyaan aku, kamu marah ya sama aku,” tanya Coki.
“Ngga kok,” jawab Cinta singkat.
“Kamu sakit?
“Ngga.”
Tak lama kemudian, datang dua orang pengawas. Seorang wanita dan seorang lagi pria. Pengawas pun menyuruh seluruh siswa untuk menaruh tasnya di depan kelas. Cinta mengikutinya dengan tidak penuh antusias. Dan sempat sekilas Awan menatapnya. Lama dan sangat dalam.

***

Rabu, 27 April 2011
Hari ketiga ujian nasional diselenggarakan. Dan lagi-lagi Cinta tidak antusias dalam melaksanakan. Selain karena hari itu pelajaran bahasa Inggris, karena Awan ingin bertemunya seusai ujian nasional dan tak dapat dibantahnya lagi. Ujian pun telah usai di hari itu, dan terlihat Awan menunggu Cinta di taman sekolah.
Apa dia ngga datang ya? Tanya Awan dalam hati.
Tak lama kemudian, datang lah Cinta dengan muka kusutnya. Cinta yang sudah berdiri di depan Awan hanya bisa diam, begitu pula sebaliknya Awan. Awan tak tahu harus memuali darimana semua ini. Yang ia mau, ia harus ikut saat Cinta dan Coki menonton esok hari.
“Ta,” buka Awan dengan gugup.
“Ya,” jawab Cinta singkat tanpa menoleh ke arah Awan.
“Lo masih marah sama gue?”
“Ya,” jawab Cinta dengan tenang.
“Gue minta maaf ya,” pinta Awan dengan tulus.
“Ya.”
“Bisa ngga, selain kata ya yang keluar dari mulut lo.”
“Ngga.”
“Oke aku maklumi,” sambung Awan yang berhasil mengangkat kepala Cinta hingga menatapnya, “Aku cuma mau ikut kamu nonton sama Coki, aku janji aku ngga akan buat apa-apa.”
“Awan, aku udah bilang berkali-kali. Kita udah selesai. Kamu ngerti ngga sih,” balas Cinta dengan emosi kembali membara.
“Oke, tapi kali ini aja,” pinta Awan tak menyerah, “Aku cuma ngga mau kamu menyesal,” sambung Awan dengan lembut yang berhasil membuat Cinta susah menolaknya.
“Awan, kamu mau kan kita masih terus bersahabat? Kamu mau aku musuhin?”
“Tapi please, sekali aja,” pinta Awan pantang menyerah.
“Ada apa nih?” tanya Coki yang tiba-tiba datang tanpa diduga.
“Eh, kamu,” kata Cinta kaget.
“Ngapain lo di sini” tanya Awan dengan sinis.
“Tenang dong, Bro. Gue kan cuma nanya, ada apa nih?”
“Lo tuh ya, ngga jera sama pukulan gue kemarin?” tanya Awan yang kali ini sudah menarik kerah baju Coki.
“Awan, udah. Ngga lagi,” pinta Cinta yang memegang tangan Awan, “ Please, aku mohon.”
Coki langsung menarik Cinta ke dalam dekapannya, “Kita jadi nonton kan?”
“Iya,” jawab Cinta yang merasa risih dengan perlakuan Coki.
Awan yang sudah bisa membaca raut muka Cinta langsung meminta kepada Coki dengan kasar, “Bisa ngga lo lepasin dia sekarang atau lo mau,” belum selesai Awan berbicara Ikhsan dan Clara tiba-tiba datang.
“Wan, lo ngga mau kan nyesel lagi,” ucap Ikhsan.
“Yaudah yuk Cinta kita pergi,” ajak Coki yang menggandeng Cinta
“Ta,” panggil Clara.
Cinta hanya bisa memberikan tatapan lurus kepada Ikhsan dan Clara karena Cinta tahu, ia sudah tidak pantas menatap Awan. Coki pun membawa Cinta pergi

***

Di parkiran sekolah, Cinta langsung mengeluarkan semua benci hatinya.
“Lo ngapain sih, Cok,” bentak Cinta.
“Lo lupa perjanjian kita?” tanya Coki.
“Tapi ngga kayak gini caranya,” balas Cinta.
“Lo ikutin kata-kata gue dan gue akan buat lo semua selamat dari Floren,” bentak Coki memegang tangan Cinta dengan kasar.
“Iya-iya, awas ya lo sampai sahabat-sahabat gue terutama Awan yang jadi tumbalnya, ngga akan gue maafin lo.”
Coki pun menarik Cinta untuk pulang bersamanya.

***

Kamis, 28 April 2011
Hari terakhir ujian nasional pun tiba. Saat terakhir mereka mengikuti ujian nasional dilalui anak-anak kebanyakan dengan sangat antusias. Banyak terdengar rencana-rencana mereka sesudah pulang dari sekolah. Ada sebagian dari mereka yang jalan, makan, main ke rumah teman, dan ada yang hanya di rumah menghabiskannya dengan tidur sepanjang masa. Tetapi tidak untuk Cinta, sepulang sekolah nanti ia harus menjawab pertanyaan Awan apakah Awan boleh ikut nonton. Coki, Cinta, dan Awan janjian untuk bertemu di taman seusai ujian nasional.
Terlihat Cinta sudah selesai mengerjakan ujian terakhrir dan duduk termenung di depan kelas.
“kamu kenapa?” tanya Coki yang setengah duduk di depan Cinta.
“Jangan sok baik deh. Nyesel gue pernah kenal sama lo,” jawab Cinta dengan kasar.
“Kamu lupa sama janji kamu? Perlu aku ingetin?” tanya Coki yang mengeluarkan handphone-nya dan menyetel suatu rekaman percakapan antara Cinta dan Coki.
Coki: ya, memang saya yang menghajar Awan dan Awan hanya membalas seperlunya.
Cinta: kenapa, Cok? Kenapa kamu lakuin itu?
Coki: simple aja, aku mau lindungi kamu dari Floren. Dia mau nyelakakan kamu di saat kita nonton nanti.
Cinta: Floren? Ngga mungkin, kebohongan apa lagi yang udah kamu buat.
Coki: aku ngga bisa kasih tahu kamu kenapa Floen bisa kayak gini, yang harus kamu tahu aku akan melindungi kamu dan kamu harus balas budi sama aku.
Cinta: jangan harap aku mau balas budi sama kamu MANUSIA LICIK!!
Coki: (menarik tangan Cinta dengan paksa) kamu mau Clara, Ikhsan terutama Awan jadi tumbalnya Floren? Kamu mau mereka semua malu karena perbuatan kamu?
Cinta: maksud kamu?
Coki: percaya sama aku atau kegadisan kamu hilang.
Cinta: COKI!!!!!
Coki pun mematikan rekaman tersebut, “Jadi gimana, sayang?”
Cinta menatap Coki penuh kebencian, “Lihat aja, Cok. Gue akan balas semua perbuatan lo.”
“Yaudah yuk, Cinta, kita ke taman. Ngga mau kan bikin pangeran kamu menunggu,” ajak Coki dengan paksa menarik tangan Cinta.
Tak jauh dari sana ternyata Ikhsan telah memerhatikan mereka dengan seksama.
Gila ya itu bocah, udah ngancurin dua sahabat gue, batin Ikhsan.

***

Di taman, terlihat Awan menunggu kehadiran Cinta dan Coki dengan was-was. Cinta yang sudah datang bersama Coki sempat menatap Awan dengan penuh harap.
Gue mohon lo ngerti, batin Cinta.
Gue mohon gue bisa ikut lo, batin Awan.
“Nah Cinta, jadi apa kamu mau ajak Awan?” tanya Coki yang masih merangkul Cinta dengan kasar.
Cinta hanya menatap Awan.
“Ta?” panggil Awan penuh harap.
“Maaf,” jawab Cinta singkat.
“Hahaha, dia itu udah jadian sama gue,” sambung Coki lagi yang membuat Cinta bingung.
“Hah? Ta? Gue yakin itu ngga bener?” tanya Awan.
Gue harus jawab apa?, batin Cinta.
“Ta, jawab,” pinta Awan dengan halus.
“Ya,” jawab Cinta tanpa menoleh ke arah Awan.
“Ya, itu semua ngga benar kan, Ta? Kamu ngga jadian kan sama dia?” Awan masih terus memaksa Cinta untuk jujur.
Bisa ngga kamu ngga usah tekan aku, batin Cinta.
Untuk kesekian detik air mata Cinta kembali jatuh.
“Cinta sayang, jawab dong pertanyaan mantan kamu,” kata Coki menggoda.
“DIAM LO!!” teriak Awan yang mendorong Coki hingga terjatuh, “Apa yang udah lo lakuin sama dia? Hah?”
“Hey, sabar dong. Ngga usah pake emosi gitu kali,” pancing Coki yang sudah tegap berdiri di depan Awan.
Dengan cepat, Awan menghajar Coki.
“AWAN!!” teriak Cinta.
Awan dan Coki segera menoleh ke arah Cinta yang sedang menangis. Awan menghampiri Cinta dan memeluknya dengan hangat. Melihat itu, Coki menarik Awan dan mendorongnya lalu memukulnya dengan pukulan kasar.
“Coki,” panggil Cinta dengan lembut.
Coki pun menghampiri Cinta, “Ada apa sayang.”
“JANGAN SENTUH DIA!” teriak Awan yang langsung menghajar Coki tiada henti.
“Awan cukup,” pinta Cinta yang memeluk Awan dari belakang, “Cukup aku mohon.”
Awan hanya bisa terdiam.
Sengatan yang kamu beri begitu dalam, batin Awan.
Coki langsung menarik Cinta pergi dan berkata, “Kita harus pergi nonton.”
Gawat, batin Awan.
“Ta,” panggil Awan yang langsung di tahan oleh Ikhsan, “Biarin aja mereka pergi, kalo Cinta sayang sama lo pasti dia minta lo ikut.”
Atau ngga pasti dia natap lo sebelum pergi, batin Ikhsan.
Cinta mendengar itu langsung menoleh ke belakang tak mengerti kata-kata Ikhsan.
Apa maksud kamu, San, batin Cinta.
Melihat Coki dan Cinta sudah tak tampak, Awan langsung menonjok Ikhsan, “Apa maksud lo?”
“Tenang, boy. Cinta hanya sayang sama lo,” jawab Ikhsan dengan tenang.
“Tau darimana lo?” tanya Awan yang masih menghajar Ikhsan.
“Udah diem aja, sekarang ikut gue ke parkiran. Clara bawa mobil dan kita ikuti mereka,” ajak Ikhsan.

***

Ikhsan, Clara, dan Awan telah sampai terlebih dahulu sebelum Cinta dan Coki di parkiran bioskop.
“Jelasin ke gue dulu deh, ngga ngerti gue,” pinta Awan di dalam mobil.
“Apa yang lo bilang benar. Floren sama Coki kerja sama,” jawab Ikhsan.
“Terus?”
“Dan tadi Ikhsan ngikutin Coki sebelum dia nemuin lo sama Cinta,” sambung Clara.
“Hasilnya?”
“Jadi Coki kayak gitu supaya hutang bokapnya lunas. Demi keluarganya, sebenarnya Coki juga sayang sama Cinta sama halnya kayak lo,” jelas Ikhsan, “Dan tadi gue sempet denger cara mereka nyakitin Cinta.”
“Gimana? Biar gue tau harus berbuat apa,” pinta Awan.
“Jadi, lo liat ngga cowok yang di sana?” tanya Ikhsan menunjuk ke arah beberapa cowok.
“Mereka yang akan memperkosa Cinta sesuai denga apa yang lo duga.”
“Terus gue harus gimana?” tanya Awan bingung.
“Gue juga ngga tau, bingung,” jawab Ikhsan polos.
“Yah lu mah ah,” kata Awan putus asa, “Malah orangnya gede-gede lagi.”
“Kalo kata gue ikuti kata hati lo,” sambung Clara dengan lembut, “Cewek biasanya selalu iktutin kata hatinya dan berhasil, apa salahnya lo ikutin kata hati?”
“Gue coba,” jawab Awan yakin.
“Itu mereka,” kata Ikhsan.
“Oke gue keluar ya,” kata Awan.
“Lo harus ngumpet,” usul Clara.
“Sip.”
“Jangan sampe ketawan,” kata Clara khawatir.
“Kita harus hubungi polisi, kasian Awan kalo sendirian. Lo juga ngga bisa apa-apa.”
“Iya deh iya,” jawab Ikhsan polos.

***

Mobil Coki pun berhenti.
“Kok kita di sini? Ngga di sana aja?” tanya Cinta yang menunjuk ke arah Timur mereka.
“Aku maunya di tempat yang sepi,” pancing Coki.
“Jangan kurang ngajar lo. Gue bisa teriak,” kata Cinta dengan marah dan berusaha membuka mobil secara diam-diam.
“Tenang aja lah Cinta, nih minum dulu,” kata Coki mendorong segelas jus di depan muka Cinta.
Yeah udah kebuka, batin Cinta.
“Ngga, ngga usah makasih,” kata Cinta yang langsung pergi setelah pintu sudah terbuka.
“Cinta mau kemana? Shiittt!!! Dia kabur,” kata Coki.
Gue harus kemana?, batin Cinta dalam bingung.
Tiba-tiba tubuh Cinta tertarik oleh seseorang, “Shuutt, diam.”
“Awan?” panggil Cinta kaget tapi setengah bahagia.
“Kamu ngga apa-apa?” tanya Awan penuh lembut.
“Kamu?” Cinta tak bisa meneruskan kata-katanya.
“Ya, aku bilang aku sayang. Ini yang akan aku lakuin,” kata Awan menatap Cinta tajam.
“Maaf,” ucap Cinta lirih.
“Sekarang kamu keluar ya,” pinta Awan lembut.
“Tapi.”
“Shhutt!!! Aku ada di sini, kamu percaya kan?”
Cinta pun mengangguk dan keluar dari tempat persembunyiannya.
“Cinta sayang, dimana kamu?” panggil Coki.
“Aku di sini,” jawab Cinta dengan lemas.
“Kamu ngga bisa kemana-mana. Liat orang di sana,” sambung Coki yang menarik Cinta dengan kasar hingga dalam dekapannya.
“Mereka?”
“Ya, mereka teman-teman aku, jadi kalo kamu macam-macam, kamu tahu kan akibatnya?”
Awan pulang sekarang, batin Cinta.
“Kamu bilang mau lindungi aku,” pinta Cinta.
“Hahahahaha, percaya sama aku ngga ada gunanya. Sekarang minum,” paksa Coki.
“NGGA!!!”
“MINUM!!!”
Plok plok plok!!!
Awan langsung menghajar Coki dan membawa Cinta pergi.
“Awan kamu pulang sekarang,” pinta Cinta dengan takut.
“Kenapa?” tanya Awan bingung.
“Please, aku mohon. Sebelum semuanya.”
“Terlambat,” sambung Coki dengan beberapa temannya, “Yah TERLAMBAT!!!”
Cinta hanya menangis dalam dekapan Awan.
“Gue ngga pernah takut sama lo!!” bentak Awan.
“Oke, tapi sama teman-teman gue?” pancing.
“Awan pulang,” rengek Cinta dalam tangis.
“Aku ngga akan pulang,” jawab Awan dengan yakin.
“Biarin aja Cinta, dia belum rasain rumah sakit.”
“Oke kalo itu mau lo.”
“Lo lawan teman gue,” tawar Coki.
“Oke,” jawab Awan yang melepas rangkulannya terhadap Cinta.
“Awan, jangan,” cegah Cinta.
“Kamu tenang aja, aku ngga apa-apa kok,” kata Awan meyakinkan dan mengecup lembut kening Cinta.
“Jangan buat aku takut!!”
“Cepet lama banget deh,” pancing Coki.
“Oke gue terima,” kata Awan yang menghampiri Coki dan teman-temannya.
Kata hati, Wan kata hati, batin Awan.
Clara dan Ikhsah menghampiri Cinta yang duduk menangis.
“Ta,” panggil Clara yang langsung memeluk Cinta.
“Lo ngga apa-apa?” tanya Ikhsan.
“AWAN BODOH!!!” teriak Cinta.
Sekilas Awan menoleh ke arah Cinta. Kamu yang udah nguatin aku, batin Awan.
Prok prok prok
Terdengar pukulan keras dan terlihat Awan jatuh tersungkur.
“AWAN!!!” teriak Cinta.
Berkali-kali Coki dan teman-temannnya memukuli Awan yang tidak membalas.
“Kenapa?” tanya Cinta.
Ini demi lo, jawab Awan dalam hati.
“Kenapa gue ngga bisa benci sama lo?” teriak Cinta.
Cinta sekilas melihat salah satu teman Coki yang mengeluarkan pisau.
Hah? Ngga mungkin. Gue harus gimana?, batin Cinta.
“Bos, uda siap nih,” kata salah satu teman Coki.
“Oke, laksanakan,” perintah Coki.
Gue ngga bisa diem aja, batin Cinta yang lari mengejar Awan.
“TA, TA, CINTA!!” panggil Clara dan Ikhsan.
“Lo akan mati dan menutupi semuanya,” teriak Coki yang langsung menyodorkan pisau ke arah Awan.
“AWAN!!!!!” teriak Cinta dan langsung memeluk Awan kuat.
“CINTA!!!!” teriak Clara dan Ikhsan.
Diam sesaat, hening yang dirasa.
“Kamu? Kamu masih hidup?” tanya Awan bingung melihat Cinta yang masih sehat dalam dekapannya.
“Aku? Aku ngga tahu,” jawab Cinta takut.
“Ta, Coki,” teriak Clara.
Cinta langsung menoleh ke arah Coki yang terbaring kaku dengan pisau di atas badannya.
“COKI!!” teriak Cinta yang langsung menghampir Coki dan tibalah polisi yang menangkap beberapa preman.
“Coki,” panggil Cinta.
Sesaat Coki tersadar, “Gue lakuin apa yang gue bilang kan? Gue ngelindungi lo, sahabat lo, dan juga Awan.”
“Kenapa harus kayak gini?”
“Haha, emang harus kayak gini. Biar Floren bahagia,” jawab Coki dengan terbata-terbata.
“Gue sayang sama lo,” kata Cinta yang sudah dirangkul lemas oleh Awan.
“Gue juga sayang sama lo, tapi Awan,” kata Coki yang mengambil tangan Awan dan tangan Cinta untuk dipersatukan.
Cinta dan Awan hanya bisa diam dan saling pandang.
“Gue emang sayang sama lo, tapi ada Awan yang melebihi rasa sayang gue bahkan cinta gue,” kata Coki dengan terbata-bata, “Ohok ohok.”
“Kamu kenapa?” tanya Cinta panik.
“Ngga kenapa-kenapa kok, cuma batuk,” jawab Coki dengan senyum.
“Mba, maaf temannya harus di bawa ke rumah sakit sekarang karena sudah terlalu banyak mengeluarkan darah,” kata bapak dari kepolisian.
Cinta hanya bisa menyingkir dalam dekapan Awan.
“Nanti dulu, pak,” pinta Coki, “Wan, janji ya jagain Cinta.”
“Coki,” panggil Cinta.
“Tanpa lo suruh, akan gue lakuin itu,” jawab Awan yakin.
“Ta, Awan tulus sama lo. Lo harus selalu sama Awan,” pinta Coki.
“Cok,” panggil Cinta lirih.
“Pak, bisa bawa saya sekarang,” pinta Coki dan pihak kepolisian mulai membawa Coki.
Cinta, Awan, Clara, dan Ikhsan hanya bisa diam terpaku melihat kepergian Coki.
“Tenang aja, kamu masih ada aku kok. Aku ngga mau ngelepasin kamu lagi,” kata Awan yang langsung memeluk Cinta.

***

Keesokan harinya, hari dimana Coki akan di kebumikan. Terlihat banyak teman Coki yang hadir dalam pemakaman tersebut. Dan pemakaman Coki berlangsung dengan menyedihkan dan tiba-tiba.
Cinta, Awan, Clara, dan Ikhsan tampak pada barisan pertama dalam pemakaman.
“Yang sabar ya, Ta,” kata Clara berusaha menenagkan Cinta.
“Ra, biar gue aja,” pinta Awan.
“Ya,” jawab Clara yang langsung pergi menuju Ikhsan.
“Ta,” panggil Awan.
“Kenapa, Wan? Kenapa?” tanya Cinta.
“Iya aku ngerti, yang sabar ya. Aku akan terus di sampin kamu menggantikan Coki,” kata Coki yang langsung memeluk Cinta dengan erat.