Jumat, 16 Maret 2012
Minggu, 11 Maret 2012
Cinta Saat Ujian 2
“Duuhh bunda gimana sih, aku telat kan,” omel Cinta kepada sang Bunda yang ternyata telat membangunkannya di hari pertama ujian nasional yang akan dilewati Cinta.
Putri Cinta Kirana, itulah nama panjang Cinta. Siswi yang sudah duduk dibangku kelas 9 SMP ini memang tengah menghadapi ujian nasional yang akan di laksanakan selama 4 hari yang dimulai dari senin, 25 april 2011 hingga kamis, 28 april 2011.
“Kok nyalahin bunda? Daritadi bunda udah ketok-ketok pintu kamar kamu, kamunya aja yang ngga denger. Udah nih makan dulu,” jawab bunda yang sedang menyiapkan roti selai untuk anak bungsunya itu.
“Makanya buka dong pintu kamar aku. Aku sarapan di sekolah aja, Bun,” kata Cinta yang sedang meminum susu coklat kesukaannya.
“Kan kamar kamu kunci, gimana sih?” balas Bunda dan dibalas senyum lebar oleh Cinta lalu ia meminum susu kembali.
“Tau nih,” sambung Ciko dengan mengacak rambut Cinta, kakak Cinta yang baru saja bergabung di atas meja makan.
Ciko adalah siswa kelas 11 di salah satu sekolah menengah atas negeri terkemuka di Jakarta. Kakak yang paling dekat dengan Cinta dan menjadi teman curahan hati Cinta.
“Ih, apa sih lu ah,” balas Cinta yang sedang merapikan rambutnya, “Rambut gue berantakan kan,” protes Cinta dengan kesal.
“Udah abisin dulu susunya nanti telat lagi, biar nanti kakak yang nganterin,” kata Nico lembut.
“Udah abis, nih. Harusnya kakak yang cepetan abisin rotinya, masih banyak gitu,” balas Cinta yang masih sibuk dengan rambutnya.
“Ini mah mau gue bawa ke kampus. Udah yuk jalan,” ajak Nico.
Cinta pun ikut saja ditarik Nico, “Eh tunggu, pamit dulu dong sama Bunda,” kata Cinta yang langsung pamit kepada Bunda, “Cinta berangkat dulu ya, Bun.”
“Iya, nih bawa rotinya,” jawab Bunda yang memberi kotak bekal Cinta.
“Kayak anak kecil banget sih,” kata Cinta yang akhirnya menerima kotak bekal itu.
“Nanti taruh aja di mobil gue kalo udah abis, biar ngga malu-maluin lo,” usul Nico setelah berpamit kepada Bunda.
“Gue ikut mobil lo dong, Nic,” pinta Ciko yang ikutan pamit kepada Bunda.
“Hah?” tanya Cinta kaget.
“Tenang aja, Nico nganterin lo duluan kok,” kata Ciko yang lagi-lagi mengacak rambut Cinta.
“Bisa ngga sih ngga usah resek,” protes Cinta yang jalan duluan menuju halaman depan.
Ciko yang tidak tahan marahan terlalu lama sama Cinta, akhirnya menyusul Cinta dan meminta maaf, “Iya deh iya maafin gue napa, Ta.”
“Iya-iya,” balas Cinta tidak menoleh ke Ciko.
“Yah ngga ikhlas ya maafinnya?” tanya Ciko yang sekarang sudah berada di depan Cinta yang mau membuka pintu mobil.
“Iya-iya udah ah misi gue mau masuk,” jawab Cinta yang menyingkirkan Ciko.
“Tapi maafin ya,” tahan Ciko dengan memegang erat tangan Cinta.
“Iya kakak ku yang ganteng dan baik hati,” balas Cinta yang langsung masuk ke dalam mobil.
“Yah,” jawab Ciko ketika pintu mobilnya langsung ditutup oleh Cinta.
“Udah sana ah, kamu ini Ciko,” kata Bunda mengelus rambut Ciko.
“Hehehehehe,” nyengir Ciko.
“Udah cepet masuk daripada nyonya ngamuk lagi,” kata Nico yang baru ingin memasuki mobilnya dan berbarengan dengan terbukanya kaca mobil tempat Cinta duduk.
“Iya deh iya, peace peace,” balas Ciko yang langsung masuk ke bagian belakang mobil Nico.
Deru mobil pun terdengar.
“Bun, Cinta berangkat dulu ya,” pamit Cinta dalam mobil yang diikuti oleh Nico dan Ciko.
“Nico juga, Bun.”
“Ciko juga, nanti Ciko pulang telat mau rapat OSIS.”
“Terus gue pulang bareng siapa?” tanya Cinta bingung.
“Ya sendiri dong, Nak,” jawab Bunda.
“Hehehehe iya, Bun,” kata Cinta malu.
“Tau nih, manja banget,” sambung Ciko.
“Udah sana jalan, nanti telat loh. Hari pertama ujian kan,” usul Bunda.
“Iya, Bun. Assalamu`alaikum,” pamit Cinta, Ciko, dan Nico berbarengan.
Mobil pun melaju dengan kencang. Nico yang sudah terbiasa membawa mobil dengan kecepatan di atas 80 km/jam pun dengan tenang mengemudi, walaupun terdengar percekcokan antara Cinta dan Ciko.
***
“Udah sampe nih.”
“Udah sana turun, nanti keburu masuk loh,” sambung Ciko mengelus rambut Cinta.
“Iya-iya, pengen banget sih lu gue turun,” kata Cinta yang langsung turun dari mobilnya dan berjalan.
“Eh, tunggu tunggu,” tahan Ciko.
“Apalagi? Katanya suruh turun?”
“Nih bawa kotak bekel lo,” Ciko langsung menyodorkan kotak makan Cinta.
“Ih, apa-apaan sih lo? Malu-maluin gue aja.” Cinta langsung was-was melihat sekeliling.
“Kenapa sih cantik? Takut diliat Coki?” goda Ciko.
“Ih, kak Ciko. Ini wilayah sekolah tau. Jangan buat aku malu.”
Dari dalam mobil Nico hanya bisa tertawa, “Yaudah lah, Cik. Kasian tau di godain mulu. Mending lu masuk deh bawa kotak bekelnya.”
“Tapi kan ini kotak bekel dia.”
“Gue panggilin clara lu,” pancing Cinta.
“Iya deh iya, bye adik ku tersayang,” putus Ciko yang langsung memasuki mobil.
“Bye Cinta, jangan gunain contekan ya,” pesan Nico dari dalam mobil.
“Sip kak Nico.”
Nico dan Ciko pun pergi meninggalkan Cinta yang masih takut kalau-kalau ada yang melihat tingkah Ciko tadi.
***
Perlahan-lahan Cinta berjalan menuju kelasnya.
“Duh, tadi genk-nya Mutiara ngeliat gue ngga ya?”
“Ngeliat apa?” tanya Ikhsan dan Clara yang berhasill membuat Cinta kaget setengah mati.
“Astagfirullah, lo berdua ya,” bentak Cinta.
“Kenapa sih, Cin? Ngomel-ngomel mulu,” tanya Clara.
“Ngga, gue lagi sebel aja sama kak Ciko,” jawab Cinta.
“Kenapa lagi sih kakak lo?” tanya Ikhsan.
“Jadi tuh,” kata-kata Cinta terpotong ketika Coki, Doni, dan Awan datang menghampiri mereka.
“Kelasnya dimana, Cin?” tanya Doni.
Cinta tak langsung menjawab pertanyaan Doni karena kaget melihat kehadiran Coki dan Awan berbarengan.
“Cinta?” panggil Coki dengan senyum.
“Hah? Apa?” tanya Cinta salah tingkah.
“Tadi Doni nanya kelas kamu dimana?” ulang Coki.
Mendengar Coki memanggilnya dengan sebutan kamu, Cinta merasa dirinya tidak terkendali.
“Emm, ngga tau deh. Aku baru datang,” jawab Cinta dengan gugup.
“Yaudah cari bareng yuk,” ajak Coki.
“Hah? Bareng?” tanya Cinta yang melirik ke arah Ikhsan dan Clara yang berada di sebelahnya.
Ikhsan dan Clara yang mengetahui keadaannya hanya bisa tersenyum melihat tingkah Cinta.
“Yaudah ngga apa-apa kok, Cin. Lagian gue sama Ikhsan ada perlu sama Bu Sartini, ya kan?” tanya Clara kepada Ikhsan yang ternyata sedang melihat Awan yang tidak jauh berada bersamanya.
“Hah? Iya bener iya.”
“Yaudah, kita duluan ya. Bye,” akhir Clara yang langsung pergi bersama Ikhsan.
“Yaudah yuk, nanti telat,” ajak Coki.
“Iya,” jawab Cinta yang mengikuti Coki berjalan di sebelahnya,
***
“Eh, San. Tadi lo ngapain liat-liatan sama Awan?” tanya Clara di tengah perjalan menuju kelasnya.
“Kasian tau, Awan. Mukanya ditekuk banget,” jawab Ikhsan.
“Lagian kenapa mereka bisa putus sih? Ngga enak banget.”
“Tau tuh, malah si Awan milih cewek kaya Bunga.”
“Emang cewek kaya Bunga gimana maksudnya?” tanya Clara bingung.
“Ya gitu, uda ah kenapa jadi ngegosip gini?” jawab Ikhsan yang langsung memasuki kelasnya.
“Tapi kan Awan sama Cinta satu kelas lagi ya, kasian banget,” sambung Clara.
***
“Kayaknya ini deh kelasnya,” kata Doni melihat ruangan bernomor 28.
“Emang kita ruang 28?” tanya Cinta bingung.
“Eh, Coki,” sapa Mutiara yang langsung menggandeng Coki.
“Apa-apaan sih, Mutiara,” kata Cinta sendiri dengan suara pelan supaya tidak terdengar.
Coki merasa risih dengan cara Mutiara menggandengnya, “Eh, Mutiara.”
“Kelas kamu dimana?” tanya Mutiara tanpa malu.
“Ngga tau deh,” jawab Coki singkat dan berusaha melepaskan pegangan Mutiara.
“Iya ini kelas kita,” kata Doni kepada Awan, Cinta, dan Coki.
“Oh, ini kelas kamu. Aku di sebelah kamu dong. Wah kelas kita dekat ya,” kata Mutiara yang tidak melepaskan pegangannya.
“Iya, udah ya lepas,” pinta Coki dengan halus.
“Yaudah ya, gue masuk duluan,” kata Cinta dengan lemah dan berjalan masuk.
“Gue sama Doni juga deh,” kata Awan mengikuti Cinta bersama Doni.
“Udah ya gue masuk duluan,” kata Coki yang akhirnya berhasil lepas dari Mutiara.
***
Setelah menaruh tas, Cinta langsung membuka handphone BB-nya dan membuka twitter untuk meng-update perkembanga hatinya.
Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“Hay,” sapa Coki yang berada di sebelahnya.
Spontan handphone Cinta jatuh, “Yah handphone gue.”
“Aku ambilin ya,” kata Coki yang langsung menunduk ke kolong meja untuk mengambilkan handphone Cinta, “Wah lagi ol twitter,” bisik Coki.
“Mana handphone-nya?” tanya Cinta dari atas meja.
“Oiya, nih handphone kamu,” kata Coki yang langsung mengembalikan handphone Cinta, “Aku balik ke tempat aku dulu ya,” kata Coki yang langsung duduk di bangku yang berada di sebelah Cinta.
“Duh, tweet gue dibaca ngga ya sama Coki?” tanya Cinta sendiri dengan was-was dan langsung melihat hamdphone-nya kembali.
CikoSikirana Siapa tuh Coki RT@cintakirana Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“Ih, kak Ciko ngapain sih komment ngga jelas,” protes Cinta.
Apa sih kak Ciko RT@CikoSikirana Siapa tuh Coki RT@cintakirana Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“Cinta, udah ada pengawas,”panggil Coki yang melihat Cinta masih memegang handphone-nya.
“Oh, iya makasiih ya,” balas Cinta yang langsung menaruh handphone-nya.
***
Ujian hari itu pun selesai. Cinta yang tidak langsung bergegas pulang menemukan selembar kunci di kolong meja Awan, “Awan make kunci?”
“Cinta,” panggil Claudy dari luar, teman satu kelas Cinta.
“Oh, iya,” balas Cinta yang langsung memasuki kunci yang ia lihat ke dalam tasnya.
“Ngapain lo tadi di meja Awan?” tanya Cindy.
“Oh, ngga kok. Ngga ngapa-ngapain,” jawab Cinta berusaha menutupi.
“Cinta duluan ya,” pamit Coki begitu melewati Cinta bersama Awan.
“Oh iya,” jawab Cinta gugup ketika melihat Awan. Cinta masih tidak percaya apa Awan benar-benar menggunakan kunci jawaban tersebut.
“Eh Cinta gimana tadi menurut lo soal bahasa Indonesia?” tanya Claudy yang berhasil memecah lamunan Cinta.
“Hah? Oh bahasa tadi, biasa aja ah,” jawab Cinta.
“Iya deh yang pinter beda, hahahahaha,” sindir Cindy.
“Ih, apaan sih. Udah ah gue pulanga duluan ya,” pamit Cinta.
“Nanti les kan?” tanya Claudy.
“Iya.”
***
“Duh kak Ciko lama aja nih,” protes Cinta yang sudah tidak sabar, “Yaudah gue buka twitter aja deh.”
CokiLaksana Kok ada nama gue? RT@putricinta Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“Wah gawat, Coki baca lagi, gue harus balas apa nih?”
Memangnya kenapa? RT@CokiLaksana Kok ada nama gue? RT@putricinta Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“Hay, ninggalin kita lu,” sapa Clara yang mengagetkan Cinta.
“Ih, Clara,” omel Cinta dengan jengkel.
“Cie yang tadi seneng diajak ke kelas bareng Coki, ciecie,” goda Clara dengan senyum centilnya.
“Ih apaan sih,” elak Cinta dengan pipi mulai memerah.
“Ciecie pipinya merah,” goda Clara lagi.
“Oiya tumben lu sendiri, Ikhsan mana?” tanya Cinta heran melihat Clara sendiri.
“Cie ganti topik.”
“Ih, bukannya gitu. Katanya Ikhsan mau ketemu kak Ciko.”
“Oh yang lagu itu ya?”
“Iya, mana sih Ikhsan?”
“Dia tadi diajak ngobrol gitu sama Awan. Kayaknya sih curhat,” jawab Clara.
“Tau dari mana lo curhat?” tanya Cinta yang sedang melihat balasan mention Coki.
“Tadi si Awan suruh gue pergi gitu. Katanya privacy gitu,” jawab Clara yang aneh melihat Cinta senyum-senyum sendiri, “Cin?”
“Oh iya,” jawab Cinta yang sama sekali tidak memalingkan wajanhya dari handphone-nya.
“Lu lagi ngaain sih? Gue cerita dicuekin. Liat apasih?” tanya Clara penasaran yang akhirnya merebut handphone Cinta dan melihat apa yang sedang dilakukan Cinta.
“Ih, Clara ngga sopan banget sih.”
“Lo yang ngga sopan gue lagi curhat malah buka twitter,” jawab Clara yang kaget melihat mention antara Cinta dan Coki.
Ya ngga apa-apa sih Cuma mau tau aja RT@putricinta Memangnya kenapa? RT@CokiLaksana Kok ada nama gue? RT@putricinta
“Lo dari tadi mention-mentionan sama Coki?” tanya Clara yang ikutan tidak memalingkan wajahnya darihandphone Cinta.
Yaudah kalo gue ngga jawab ngga apa-apa dong RT@CokiLaksana Ya ngga apa-apa sih Cuma mau tau aja RT@putricinta Memangnya kenapa? RT@Cokilaksana
“Iya, dia mention duluan tweet gue,” jawab Cinta dengan malu.
Selesai UN, mau ngga nonton berang gue? RT@putricinta Yaudah kalo gue ngga jawab ngga apa-apa dong RT@CokiLaksana Ya ngga apa-apa sih Cuma mau tau aja
“Lo diajak nonton sama Coki?” tanya Clara dengan antusias.
“Iya,” jawab Cinta lemas.
“Lo terima ngga?” tanya Clara yang mengembalikan handphone Cinta.
“Ngga tau deh belum gue jawab, menurut lo gimana?” Cinta yang terlihat bimbang malah balik bertanya.
“Yaudah terima aja, ini kesempatan emas loh buat lo. Berarti dia udah mulai mau pedekate sama lo.”
“Tapi abis UN gue juga ada janji.”
“Sama siapa?” tanya Clara yang berbarengan dengan kedatangan Awan dan Ikhsan yang menghampiri mereka berdua.
“Cin, nanti jadikan main band?” tanya Ikhsan.
“Hah?” Cinta kaget melihat kehadiran Ikhsan bersama Awan.
“Janji lo sama mereka?” tanya Clara yang melirik ke arah Awan dan Ikhsan dan diikuti anggukan Cinta.
“Cinta ngga bisa main band dulu,” jawab Clara.
“Ikhsan kan nanya ke Cinta, bukan lu, Ra,” balas Awan.
“Ya tapi emang nyatanya Cinta ngga bisa.”
“Tapi kata kak Nico sama kak Ciko bisa kok,” sambung Ikhsan berusaha memastikan.
“Hay, Cinta,” sapa Coki tiba-tiba dengan memegang pundak Cinta yang membuat Cinta salah tingkah.
“Hay,” jawab Cinta seadanya.
“Nanti setelah UN jadikan?” tanya Coki memastikan.
“Mau kemana lu, Cok?” tanya Awan dengan heran.
“Abis UN gue sama Cinta mau nonton,” jawab Coki dengan santai.
Cinta hanya bisa tertunduk karena sudah pasti Ikhsan dan Awan sedang memerhatikan Cinta.
“Berdua aja?” tanya Awan memastikan.
“Iya, kenapa?”
“Gue ikut ya?” pinta Awan.
“Hah?” Cinta dan Clara sangat kaget atas ucapan Awan yang sangat di luar kendali mereka.
“Emm, terserah Cinta. Gue duluan ya,” akhir Coki yang langsung pergi meninggalkan Cinta, Awan, Clara, dan Ikhsan dengan penuh tanya.
“Gimana jadinya, Cin?” tanya Ikhsan memastikan.
“Bentar ya, handphone gue bunyi,” kata Cinta yang langsung mengambil handphone-nya dan pergi menjauh dari mereka, “Hallo, kak, jadi jemput ngga?”
“Ih, gimana sih lu, kan motor gue lagi di bengkel gara-gara balapan kemarin. Lo lupa?” jawab Ciko.
“Oiya, duh.”
“Lagian kan tadi gue berangkat bareng lo sama Nico. Kan tadi pagi kita berantem, gimana sih ih,” sambung Ciko lagi.
“Ya Allah, kak,” balas Cinta dengan lemas.
“Oiya, tadi lo mention-mentionan ya sama Coki? Sodara kembar gue,” pancing Ciko.
“Ih, berkali-kali gue bilang. Lo sama Coki beda jauh,” balas Cinta dengan emosi.
“Yaudah jangan marah, tapi sih sebenernya gue lagi ada di rumah Dicky. Lo mau sekalian gue jemput?” tawar Ciko.
“Tapi kan kakak ngga bawa motor?”
“Ye maksud gue pulang bareng tuh naik angkot cantik.”
“Oh, yaudah cepet ya, sekarang jalan.”
“Ih ngga bisa motornya Dicky lagi di pake sama adiknya.”
“Lah? Katanya naik angkot?”
“Maksud gue dari rumah Dicky sampai sekolah lu, sayangku. Geregetan gue sama lu.”
“Oh, sory-sorry kak. Lagi bingung banget gue.”
“Kenapa?”
“Coki ngajakin gue nonton,” jawab Cinta dengan was-was.
“Bagus dong, lu terima?”
“Belum gue terima tapi Coki udah pede banget mau jalan sama gue.”
“Yaudah lo terima apa salahnya?”
“Tapi dia ngajakinnya sesudah UN.”
“Lah? Kita kan mau nge-band?”
“Makanya gue bingung, malah Awan minta ikut.”
“Awan? Awan teman lo dari kelas 7? Mantan lo itu?”
“Iya, Kak. Gimana dong? Malah kata Coki terserah gue boleh ngajak Awan apa ngga.”
“Yaudah nanti lagi ya lu ceritanya. Gue baru mau jalan ke sekolah lu nih.”
“Iya, cepet ya.”
***
Selama Cinta menelefon kakanya, Awan ternyata menggunakan kesempatan itu untuk bertanya-tanya kepada Clara.
“Ra, Cinta beneran suka sama Coki?” tanya Awan dengan penasaran.
“Iya, bukannya lu udah tau?”
“Iya gue udah tau tapi kirain gue itu bohongan. Kan Cinta waktu itu masih ngejar-ngejar gue,” jawab Awan dengan pede.
“Bukan ngejar-ngear kali. Lebih tepatnya menyatukan kita berempat lagi dengan kesalahan lo yang terlalu childish,” sambung Clara.
“Tau lo, Wan. Putus dari Cinta malah milih orang kayak Bunga,” tambah Ikhsan.
“Emang kenapa sih sama Bunga? Kok kayaknya lo berdua ngga suka banget sama Bunga.”
“Bingung gue jelasinnya, ini masalahnya aib orang coy,” jawab Ikhsan dengan gaya sok asik.
“Kira-kira kalo gue nembak Cinta lagi di terima ngga ya?” tanya Awan kepada Clara dan Ikhsan yang sangat kaget, “Hah?”
“Lo mau nembak Cinta?” tanya Ikhsan dan langsung saling pandang kepada Clara dan berucap bersama-sama, “LAGI!!!”
“Iya, emang kenapa sih? Dosa banget apa gue?”
“Ya bukannya gitu, dia udah kesel banget tau sama lo,” jawab Ikhsan.
“Tau, Cinta sama Bunga jauh beda sayang. Apalagi sekarang Coki menunjukkan sikap-sikap open heart sama Cinta, wah siap kalah deh,” sambung Clara.
“Tenang aja kali gue ngga mau kalah sebelum bertanding,” jawab Awan dengan yakin.
“Ini nih kelebihan lu yang bikin gue suka sama lo dulu. Terlalu pede dengan apapun,” kata Clara.
Cinta pun datang dengan hati yang was-was karena takut kalau Awan menagih jawabannya.
“Telefon dari siapa?” tanya Awan.
“Hah? Dari kak Coki,” jawab Cinta dengan gugup.
“Jadi nanti lo jalan apa nge-band nih?” tanya Ikhsan dengan penuh kepastian.
“Gue juga belum tau, San,” jawab Cinta seadanya.
“Kalo lo jalan, gue boleh ikut ngga?” tanya Awan.
Akhirnya dia nanya apa yang gue hindarin, batin Cinta.
“Emm, gue ngga tau deh,” jawab Cinta dengan senyum, “Eh kakak gue udah datang, duluan ya,” pamit Cinta yang melihat Ciko dari kejauhan.
“Hey, Bro,” sapa Ciko kepada Awan, Clara, dan Ikhsan dengan berjabat tangan.
Claranya hanya membalas dengan senyum menawan yang berhasil membuat Ciko berdegup kencang.
“Kak Ciko, jangan mupeng ya,” sindir Ikhsan.
“Hahahahahha, sial lo,” balas Ciko.
“Yaudah yuk pulang, udah siang nih. Gue mau belajar buat besok,” sambung Cinta.
“Yaudah ya, besok lagi ya kita ketemu, bye,” pamit Ciko.
“Bye semua,” pamit Cinta.
“Yaudah yuk pulang,” ajak Clara.
“Yuk,” kata Ikhsan yang berjalan bersama Clara.
“Eh, nanti dulu,” sambung Awan.
“Kenapa?” tanya Ikhsan bingung.
“Gue mau ke sanggar dulu ya, ada perlu.”
“Loh? Gue ngga dikasih tau suruh ngumpul,” sambung Clara bingung.
“Eh, gue ada urusan sama Nino kok,” kata Awan bohong.
“Oh yaudah, duluan ya,” pamit Clara.
“Gue juga ya,” pamit Ikhsan.
***
Di taman, Awan melihat Coki dan Floren tengah berbincang serius dengan sesekali diselingi nada tinggi dari keduanya.
“Jadi lo setuju kan sama ide gue tadi siang. Tenang aja kok, kalau lo ikutin gue, gue akan ikutin lo,” tawar Floren dengan senyum sinis.
“Gue ngga bisa,” jawab Coki dengan seadanya.
“Tapi jujur kan lo ngga suka sama Cinta?”
Hah? Coki?, batin Awan.
“Tapi gue belakangan ini juga udah mulai suka sama Cinta.”
“Halah, Mutiara kan yang benar-benar lo cintai?”
“Ya tapi,” Coki bingung harus melanjutkan kalimatnya seperti apalagi. Dia merasa Floren sedang mempermainkan dirinya tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Oke, kita balik ke rencana awal. Gimana?” kata Floren yang masih berusaha untuk menawar.
“Ngga jahat apa?” tanya Coki dengan bingung.
“Tenang aja, nanti lo kasih minuman yang udah gue siapin di parkiran sebelum lo berdua nonton,” kata Floren.
“Minuman itu isinya apa dulu?” tanya Coki dengan nada tinggi.
“Nyantai dong, Bro. Minuman itu isinya Cuma obat tidur doang kok, reaksinya cuma 12 jam setelah Cinta meminumnya,” jelas Floren.
“Kenapa sih lo minta gue lakuin ini? Kenapa ngga orang lain?” tanya Coki dengan gemas.
“Ya karena dia sukanya sama lo, dan gue pengen lo jadian sama Mutiara di depan Cinta,” jawab Floren dengan mantap.
“Gue yakin selain itu ada yang lain,” pancing Coki.
“Iya, gue pengen nama baik mantan ketua OSIS, mantan ketua PMR, dan Cinta sendiri sebagai mantan wakil ketua Paskibra hancur di akhir mereka bersekolah di sini.”
“Ya tapi kenapa, Flo? Kenapa? Lo kan pernah dekat sama mereka?”
“Ya memang gue pernah dekat sama mereka, dan gue ngga terima mereka dekat sama Ikhsan.”
“Ikhsan? Lo suka sama dia?”
“Ya dulu, tapi sekarang gue udah muak sama Ikhsan. Enak banget dia nyampakin gue.”
“Dan lo balas dendam lewat gue?”
“Iya, gue akan bilang ke bokap gue untuk melunasi hutang bokap lo. Gimana? Saling menguntungkan kan?”
“Terserah lo, gue udah gerah,” jawab Coki yang langsung pergi meninggalkan Floren.
“Inget lo, Cok. Keluarga lo ada di tangan gue,” kata Floren dengan nada tinggi.
***
“Hah? Coki? Ya ampun dugaan gue bener. Gue harus bilang ke Cinta,” kata Awan yang langsung berjalan tetapi terhenti oleh Coki yang ada di depannya kini, “Dan gue harap lo ada di saat Cinta nonton bareng gue karena gue ngga bisa ngelindungi dia, ada Floren di sana.”
“BIADAB LO, COK!!!!” bentak Awan yang langsung menghajar Coki dengan segenap emosi.
Awan terus-menerus menghajar Coki meski Coki sudah merintih, “Lo mau nyampakin Cinta gitu aja? Ngga akan tinggal diam gue.”
Akhirnya dengan sisa tenaganya Coki menahan Awan, “Oke gue terima ini, tapi please!! Ini masih rahasia, gue ngga akan berlaku terlalu jauh sama Cinta kalo lo mau datang dengan diam-diam pada malam nanti.”
Awan pun berhenti memukuli Coki dan berdiri membantu di depan Coki yang sudah berdiri. Tetapi Coki malah menyerang Awan dengan pukulan yang tak henti. Awan hanya bisa diam, di pikirannya kini bagaimana ia memberitahu Cinta tenteng ide gila Floren bersama Coki.
“Cukup gue nonjokin lo,” kata Coki yang akhirnya pergi meninggalkan Awan, “Dan satu lagi, jangan harap Cinta bisa tersenyum besok dan lo bisa menghalangi gue.”
“ORANG KAYAK LO BIADAB, COK!!!” teriak Awan.
“Ya memang, daripada lo. Membohongi perasaan lo demi cewek yang sama sekali ngga lo cinta,” akhir Coki yang langsung pergi.
“Gue harus sms Clara sama Ikhsan. Atau kayaknnya lebih baik Ikhsan aja,” kata Awan yang langsung mengirim pesan singkat kepada Ikhsan.
To: Ikhsan
Gue tunggu lo di rumah gue jam 3, ada hal yang harus gue omongin sama lo
Awan pun langsung bergegas pulang sebelum ada guru atau penjaga sekolah yang melihatnya babak belur.
***
Tok tok tok!!!
“Cinta,” panggil Clara dari luar rumah Cinta, “Assalamu`alaikum, Cinta.”
“Iya tunggu sebentar,” teriak Cinta yang sedang bermain dengan laptopnya.
“CINTA!!! ASSALAMU`ALAIKUM CINTA!!” teriak Clara dari luar rumah.
Cinta langsung membukakan pintu dan dengan menutup telinganya, “Duh, bisa ngga sih ngga usah teriak? Budeg nih gue.”
“Iya deh iya sorry, atuh tiba-tiba lo nyuruh gue ke rumah lo. Gue kan lagi belajar buat matematika besok.”
“Ya kan sekarang udah sore kali.”
“Apanya yang sore? Masih jam setengah tiga begini. Kenapa ngga jam 4 aja sih gue ke rumah lo.”
“Ya jam 4 gue mau tidur rencananya.”
“Ya ampun, Cinta. Sore-sore begitu lo tidur?” tanya Clara heran melihat tingkah Cinta yang masih kekanak-kanakan.
“Duh bawel deh, masuk deh kalau gitu. Ngga enak diliat tetangga gue,” ajak Cinta yang berjalan duluan menuju ruang tamu.
“Ada apa sih lo nyuruh gue ke sini?” tanya Clara yang duduk di depan laptop Cinta, “Lo main laptop? Bukannya belajar lu?”
“Ya kan Cuma bentar. Ini juga gue baru buka.”
“Tapi kan ini UN Cinta.”
“Yaudah ah, kayak nyokap gue aja deh lo.”
“Iya deh iya, gue ngapain nih ke rumah lo?”
“Nih liat kelakuan sahabat lo itu,” kata Cinta yang langsung menunjukkan laptopnya.
Clara membaca beberapa mention antara Cinta dan Coki.
“Hah?” Clara sangat kaget dengan apa yang dibacanya.
“Tolong deh lo bilangin sama sahabat lo itu, kenapa sih dia? Enak banget mukulin Coki, apa salah Coki?”
“Ya mana gue tau? Lagian lo tau darimana kalo Coki ngga bohong sama lo?”
“Tadi dia ke rumah gue sebentar buat ngasih buku gue yang ketinggalan di perpus.”
“Terus ngapain lo mention-mentionan?”
“Tadi dia duluan yang mention gue yaudah gue bales.”
“Oh gitu,” kata Clara yang langsung mengambil handphone-nya karena berbunyi.
“Eh, tadi lo kan pulang bareng Awan?”
“Ya terus? Lo mau nyalahin gue juga gitu?”
“Ya ngga gitu juga, Ra. Cuma kan aneh aja, benar lo ngga liat Awan sama Coki?”
“Ngga, tadi emang mau pulang bareng tapi dia ada janji sama Nino katanya.”
“Atau jangan-jangan dia sama Nino kali? Wah Nino awas aja, gue samperin ke rumahnya,” kata Cinta emosi dan langsung berlari menuju kamarnya.
“Ye si Cinta,” kata Clara yang memainkan laptop Cinta di ruang tamu.
***
Tok tok tok!!
“Wan, ada Ikhsan noh di luar,” panggil Citra.
“Iya, kak, suruh tunggu sebentar,” jawab Awan.
“Kasian itu si Ikhsan udah daritadi,” teriak Citra lagi dan bersamaan dengan dibukanya pintu kamar Awan, “Ah, bawel banget sih lu.”
“Muka lu kenapa?” tanya Citra yang langsung memegang wajah Awan.
“Aw!!” teriak Awan yang langsung menyingkirkan tangan Citra dari wajahnya.
“Sorry sorry, tumben lo berantem,” sambung Citra.
“Yailah gue kan cowo.”
“Pasti gara-gara cewek, hahahahaha,” kata Citra yang langsung pergi menuju kamarnya.
“Tau aja itu bocah,” kata Awan yang langsung pergi menuju ruang tamu.
***
Di rumah Cinta, ternyata Cinta juga tengah bersiap untuk pergi menuju rumah Nino yang tak jauh dari rumahnya.
“Yuk, Ra, pergi sebelum kakak gue bangun,” ajak Cinta yang sudah rapih dengn T-shirt yang ditutupi jaket dan celana pendeknya.
“Emang kenapa kalo ada kakak lo?” tanya Clara bingung.
“Resek dia mah,” kata Cinta yang menarik Clara untuk berdiri.
“Eh, ada Clara,” sapa Ciko dari arah kamarnya yang tida jauh dari ruang tamu.
“Heh, ada si resek deh,” kata Cinta lemas.
“Mau pergi kemana?”
“Ke rumah Nino, kak,” jawab Clara dengan sopan.
“Loh? Mau ngapain? Bukannya besok masih ujian ya? Kok udah main aja?”
“Ada hal penting yang mau gue tanyain ke Nino,” jawab Cinta.
“Oh, yaudah aku anterin ya,” tawar Ciko kepada Clara, “Emm gimana ya, kak?”
“udah ngga usah, biar naik motor gue aja,” jawab Cinta yang langsung membawa Clara pergi.
“Yaudah hati-hati ya,” teriak Ciko.
***
Awan telah duduk lemah di sebelah Ikhsan yang sedaritadi menunggunya di ruang tamu.
“Ngapa muka lu?” tanya Ikhsan bingung, “Perasaan tadi pas gue sama Clara ninggalin lo, ngga kayak gini deh muka lo. Ribut sama anak mana? Kenapa ngga bilang? Kan lo punya pasukan?”
“Ah bawel lo kayak cewek,” kata Awan gerah dengan kata-kata Ikhsan yang tiada hentinya.
“Jadi lo manggil gue karna lo mau nyiapin pasukan untuk membalas ini? Katanya selama ujian ngga mau tempur dulu?”
“Emang ngga, ini bukan karena tawuran tau,” jawab Awan.
“Terus?” tanya Ikhsan penuh harap.
“Gue berantem sama Coki tadi di taman sebelum pulang sekolah,” jawab Awan dengan nada lurus.
“Hah? Berantem? Serius lo? Bukannya tadi lo mau ke Nino?”
“Ngga kok, itu alasan gue aja. Coki ngga seindah yg dibayangkan Cinta.”
“Maksudnya? Ini bukan karena lo mau nembak dia kan?”
“Ngga kok, tadi gue denger pembicaraan dia sama Floren,” jawab Awan singkat.
“Floren? Teman kita waktu kelas 8?”
“Iya, dia naksir berat sama lo.”
“Hah? Yang benar?”
“Iya, dan karena dulu lo deket banget sama Cinta dan nyia-nyiain cintanya Floren, jadi sekarang dia balas dendam ke Cinta.”
“Lah, kok?” tanya Ikhsan yang masih heran dengan cerita Awan yang berbelit, “Yang jelas ngapa kalo cerita.”
“Oke, jadi tadi gue liat Coki sama Floren ngobrol berdua di taman. Mereka mempunyai rencana buat jahatin Cinta.”
“Karena apa mereka berbuat kayak gitu?” tanya Ikhsan.
“Pertama Floren pengen jatuhin nama baik lo, Clara, dan tentunya Cinta sendiri. Dua dia balas dendam karena dulu lo nyia-nyiain cintanya Floren dan dia iri melihat kedekatan lo sama Cinta.”
“Oh, aneh. Lanjut,” pinta Ikhsan yang masih mencoba mengerti arah pembicaraan mereka.
“Cara mereka jahatin Cinta lewat Coki.”
“Hah? Jadi selama ini Coki itu?”
“Ya, Coki hanya memancing Cinta untuk mengharap lebih ke Coki. Puncaknya nanti setelah ujian, Coki ngajak Cinta nonton untuk dipermalukan.”
“Dipermalukan gimana?”
“Sebelum mereka nonton, Coki akan memberikan minuman di parkiran.”
“Minuman apa?”
“Gue juga ngga tau apa, yang jelas minuman itu udah bercampur dengan obat tidur. Dan pikiran jelek gue, Coki mau memerkosa Cinta,” kata Awan dengan nada masih datar.
“Hah? Ngga bisa di diemin aja kalo udah gini.”
“Ya terus gue harus gimana?”
“Ya lo ikut mereka nonton.”
“Pasti Cinta ngga mau kalo gue ikut.”
“Percaya sama gue pasti Cinta mau ngajak lo.”
***
Sementara di rumah Nino, Cinta terlihat menahan emosinya untuk mendapatkan jawaban pasti.
“No, jujur, No. Lo tadi sama Awan ngapain pulang sekolah?” tanya Cinta dengan sabar.
“Sumpah, Ta. Gue tadi ngga ketemu sama Awan,” jawab Nino.
“Tapi tadi kata Awan dia ada urusan sama lo pulang sekolah,” sambung Clara.
“Tapi tadi gue langsung pulang, Ra,” jawab Nino lagi.
“No, Awan udah nyakitin Coki. Lo masih ngga mau kasih tau gue juga? Apasih yang lo sama Awan mau? Hah?” bentak Cinta
“Tapi sumpah, Ta. Gue ngga tau. Kalo gue tau gue juga udah kashi tau lo, Ta. Toh gue kan ngga pernah bohong sama lo,” kata Nino berusaha meyakinkan dan menatap Cinta dengan dalam.
Cinta hanya terduduk di bangkunya, diam, pandangan lurus, entah apa yang harus ia lakukan lagi. Cinta percaya sama Nino yang ngga pernah bohong kepadanya.
“Kalo lo ngga keberatan gue mau bantuin lo buat nanya ke Awan,” kata Nino di sebelah Cinta.
Cinta pun tersenyum lemas, “Ngga, ngga usah. Sorry ya udah maksa dan ganggu lo. Gue pamit ya.”
Clara hanya mengikuti Cinta yang sudah di ambang pintu terlebih dulu.
“Ta, ngga mau gue bantu?” tawar Nino sekali lagi.
“Iya, ngga usah makasih, gue bisa kok sendiri,” tolak Cinta dengan halus dan berlalu di balik pintu.
“Ta, kita mau kemana lagi?” tanya Clara sebelum akhirnya naik ke atas motor.
“Udah naik aja dulu,” jawab Cinta tanpa menoleh.
Clara hanya menurutinya dan naik ke atas motor Cinta.
***
Beep beep beep
Terdengar bunyi handphone Awan.
To: Awan
From: Nino
Tadi Cinta ke rumah gue, kayaknya dia mau ke rumah lo deh. Tadi sih di rumah gue nanyain tentang Coki gitu
“Hah?” teriak Awan dengan kaget.
“Kenapa?” tanya Ikhsan bingung.
“Nino sms gue katanya Cinta tadi abis dari rumah Nino dan katanya Cinta bakalan ke sini,” jawab Awan dengan panik.
“Ngapain dia ke rumah Nino?”
“Katanya Nino nanyain tentang Coki, dia tau darimana?” tanya Awan bingung.
“Yah siapa lagi kalo bukan si pengganggu,” jawab Ikhsan dengan ketus.
“Tapi gue mohon sama lo, jangan ngomong apa-apa dulu tentang rencana jahat Floren sama Coki,” pinta Awan.
“Kenapa?”
“Please! Gue mohon, biar gue yang tau gimana caranya Cinta selamat tanpa tau semua ini.”
“Yaudahlah, up to you.”
***
Tak lama kemudian, Cinta dan Clara telah sampai di depan rumah Awan.
“Ta, ngapain kita ke rumah Awan? Lo ngga mau nyari ribut kan?” tanya Clara was-was.
“Gue ngga akan pake emosi kok,” jawab Cinta yang langsung pergi memasuki rumah Awan.
Belum sempat Cinta mengetuk pintu rumah Awan, lagi-lagi Clara menghadangnya,
“Ta, jangan pake emosi loh.”
“Iya, cantik,” jawab Cinta yang langsung mengetuk pintu rumah Awan.
Tok tok tok
“Assalamu`alaikum,” kata Cinta.
“Wa`alikumsallam,” jawab Ikhsan yang langsung membukakan pintu.
“Loh? Ikhsan?” kata Cinta dan Clara hampir berbarengan, “Ngapain lo di sini?”
“Gue lagi main aja,” jawab Ikhsan dengan gugup.
“Main? Bohong banget lu, lagi ujian gini mana mau lu main?” tanya Cinta penuh selidik.
“Tau, hari biasa aja jarang banget lu mau ikut main,” sambung Clara.
“Ya sekalian belajar,” elak Ikhsan.
“Belajar apa curhat?” tanya Cinta meyakinkan.
“Ah elu, Cin, banyak nanya banget. Ngapain lo berdua ke sini?”
“Awannya mana?” tanya Cinta jutek.
“Lagi di kamarnya,” jawab Ikhsan.
“Ngga mau nyuruh kita masuk nih?” tanya Clara.
“Yaudah, suruh aja mereka masuk, San,” kata Awan dari dalam rumah.
Mendengar suara Awan, tanpa basa-basi Cinta langsung masuk ke dalam rumah Awan dan melontarkan semua isi hatinya.
“Lo ngapain sih,” belum selesai Cinta menyelesaikan kata-katanya, Cinta sangat terhentak melihat muka Awan yang memar, “Muka lu kenapa?”
“Biasalah cowok, ngapain lu ke rumah gue?” jawab Awan dingin.
Duh gue ngga tega marahin dia, tapi Coki, batin Cinta.
“Ta, lo jadi?” bisik Clara.
“Ngga tau,” balas Cinta.
“Ada apa lo ke sini?” tanya Awan lagi yang kali ini berdiri di depan Cinta.
“Emm, muka lo berantem sama siapa?” tanya Cinta dengan lembut.
“Sama Coki,” jawab Awan dengan tegas, “Dan pastinya Coki udah cerita banyak ya sama lo. Mau marahin gue? Silahkan.”
Duh, nih cowok bikin gue mati kutu, batin Cinta lagi.
“Ya ngga gitu juga, Wan. Ya kenapa sih lu beranem sama Coki? Apa salah Coki?” tanya Cinta yang sudah tidak bisa menahan nada tingginya.
“Salahnya dia deketin lo,” jawab Awan cepat tanpa menatap Cinta.
“Hah?” teriak Cinta, Ikhsan, dan Clara bersamaan.
“Frontal banget,” ceplos Clara dengan tatapan masih tidak percaya yang ditujukan kepada Awan.
“Gue suka cara lo,” sambung Ikhsan.
Cinta hanya bisa berdiri kaku mendengar itu semua.
“Gue ngga mau lo sama Coki,” kata Awan lagi yang akhirnya menatap Cinta tajam.
“Kenapa?” tanya Cinta. Sudah terasa air di bagian pelupuk mata Cinta.
“Coki itu busuk, Ta, busuk.”
“Tapi waktu lo sama Bunga, apa iya gue kayak gini? Gue ngga ngekang lo kan? Kita masih bersahabat kan? Tapi kenapa lo kayak gini sama gue? Hah? Kenapa?”
“Gue sayang sama lo dan gue pengen kita balik,” kata Awan penuh keyakinan.
“Tapi gue ngga, udah cukup yang kemarin. Itu udah cukup buat gue,” balas Cinta yang kali ini sudah meneteskan titik demi titik air matanya.
Selangkah Awan maju dan menghapus air mata Cinta, “Udah, Wan. Kita ngga bisa lagi.”
“Tapi gue yakin lo masih sayang sama gue, ya kan, Ta?” tanya Awan.
“Ngga, gue ngga pernah sayang sama lo, gue ngga pernah cinta sama lo,” jawab Cinta dengan segenap emosinya.
“Gue ngga percaya sama kata-kata lo yang itu.”
“Terserah deh apa kata lu,” sambung Cinta yang hanya bisa menunduk.
Gue ngga boleh nangis, batin Cinta.
Clara pun mendekatinya dan memberikan tisu kepada Cinta. Cinta yang menerima tanpa menoleh sedikit pun.
“Ta, kalo lo ngga kuat kita pulang yuk,” ajak Clara.
“Ngga, Cinta ngga boleh pulang dulu,” tahan Awan.
Apalgi sih, Wan, batin Cinta.
“Awan, cukup,” bentak Clara.
“Nanti dulu, Ra. Lo ngga ngerti,” jawab Awan dengan nada tinggi.
Ikhsan pun menahan Clara dan membawanya terpisah dari Cinta.
“Ta, liat gue,” pinta Awan.
Cinta masih diam terpaku.
“Ta,” panggil Awan sekali lagi.
Dan Cinta masih tidak memberikan respon apapun. Awan memutuskan untuk mengangkat wajah Cinta dengan lembut, “Gue ngga pernah niat buat nyakitin lo. Tapi please! Jangan Coki cowok itu, jangan.”
Dengan kasar Cinta melepaskan tangan Awan dari mukanya, “Mau lo tuh apasih? Gue capek ya, inget, Wan, inget. Lo sama gue udah putus, udah ngga ada lagi hak lo buat ngekang gue. Gue capek.”
Rasa sakit di hati Awan mendengar kata-kata Cinta, iya gue udah bukan siapa-siapa lo.
“Kalo lo bisa pacaran sama Bunga, kenapa gue ngga sama Coki?” sambung Cinta.
“Tapi Coki itu,” Awan berusaha menjelaskan tetapi Cinta memotongnya dengan kata-kata yang menusuk, “UDAH!! CUKUP, GUE NGGA MAU DENGER LAGI APAPUN TENTANG COKI DARI LO!! MUNA LO JADI COWOK”
Cinta pun bergegas pergi dari rumah Awan dengan air mata berderas kencang, kenapa, Wan, kenapa kayak gini?
***
Selasa, 26 April 2011
Hari kedua ujian nasional yang dilewati Cinta dan Awan dengan panas. Awan yang duduk di depan Cinta hanya bisa diam tidak berbuat apa-apa melihat Coki yang sedaritadi bersama Cinta.
“Cin, jadi maksud kamu soal ini make rumus deret aritmatika?”
“Iya,” jawab Cinta singkat dengan nada lurus.
“Oh, trus kalo nomer selanjutnya?” tanya Coki lagi.
“Oh, yang ini?” tanya Cinta memastikan.
“Iya, pake rumus apa?” tanya Coki dengan lembut.
“Ini rumus deret geometri,” jawab Cinta dengan senyum seadanya.
“Oke, makasih ya,” sambung Coki dengan senyum manisnya.
“Ya, sama-sama,” jawab Cinta yang kembali melamun.
“Kamu kenapa sih? Kok daritadi singkat banget jawab pertanyaan aku, kamu marah ya sama aku,” tanya Coki.
“Ngga kok,” jawab Cinta singkat.
“Kamu sakit?
“Ngga.”
Tak lama kemudian, datang dua orang pengawas. Seorang wanita dan seorang lagi pria. Pengawas pun menyuruh seluruh siswa untuk menaruh tasnya di depan kelas. Cinta mengikutinya dengan tidak penuh antusias. Dan sempat sekilas Awan menatapnya. Lama dan sangat dalam.
***
Rabu, 27 April 2011
Hari ketiga ujian nasional diselenggarakan. Dan lagi-lagi Cinta tidak antusias dalam melaksanakan. Selain karena hari itu pelajaran bahasa Inggris, karena Awan ingin bertemunya seusai ujian nasional dan tak dapat dibantahnya lagi. Ujian pun telah usai di hari itu, dan terlihat Awan menunggu Cinta di taman sekolah.
Apa dia ngga datang ya? Tanya Awan dalam hati.
Tak lama kemudian, datang lah Cinta dengan muka kusutnya. Cinta yang sudah berdiri di depan Awan hanya bisa diam, begitu pula sebaliknya Awan. Awan tak tahu harus memuali darimana semua ini. Yang ia mau, ia harus ikut saat Cinta dan Coki menonton esok hari.
“Ta,” buka Awan dengan gugup.
“Ya,” jawab Cinta singkat tanpa menoleh ke arah Awan.
“Lo masih marah sama gue?”
“Ya,” jawab Cinta dengan tenang.
“Gue minta maaf ya,” pinta Awan dengan tulus.
“Ya.”
“Bisa ngga, selain kata ya yang keluar dari mulut lo.”
“Ngga.”
“Oke aku maklumi,” sambung Awan yang berhasil mengangkat kepala Cinta hingga menatapnya, “Aku cuma mau ikut kamu nonton sama Coki, aku janji aku ngga akan buat apa-apa.”
“Awan, aku udah bilang berkali-kali. Kita udah selesai. Kamu ngerti ngga sih,” balas Cinta dengan emosi kembali membara.
“Oke, tapi kali ini aja,” pinta Awan tak menyerah, “Aku cuma ngga mau kamu menyesal,” sambung Awan dengan lembut yang berhasil membuat Cinta susah menolaknya.
“Awan, kamu mau kan kita masih terus bersahabat? Kamu mau aku musuhin?”
“Tapi please, sekali aja,” pinta Awan pantang menyerah.
“Ada apa nih?” tanya Coki yang tiba-tiba datang tanpa diduga.
“Eh, kamu,” kata Cinta kaget.
“Ngapain lo di sini” tanya Awan dengan sinis.
“Tenang dong, Bro. Gue kan cuma nanya, ada apa nih?”
“Lo tuh ya, ngga jera sama pukulan gue kemarin?” tanya Awan yang kali ini sudah menarik kerah baju Coki.
“Awan, udah. Ngga lagi,” pinta Cinta yang memegang tangan Awan, “ Please, aku mohon.”
Coki langsung menarik Cinta ke dalam dekapannya, “Kita jadi nonton kan?”
“Iya,” jawab Cinta yang merasa risih dengan perlakuan Coki.
Awan yang sudah bisa membaca raut muka Cinta langsung meminta kepada Coki dengan kasar, “Bisa ngga lo lepasin dia sekarang atau lo mau,” belum selesai Awan berbicara Ikhsan dan Clara tiba-tiba datang.
“Wan, lo ngga mau kan nyesel lagi,” ucap Ikhsan.
“Yaudah yuk Cinta kita pergi,” ajak Coki yang menggandeng Cinta
“Ta,” panggil Clara.
Cinta hanya bisa memberikan tatapan lurus kepada Ikhsan dan Clara karena Cinta tahu, ia sudah tidak pantas menatap Awan. Coki pun membawa Cinta pergi
***
Di parkiran sekolah, Cinta langsung mengeluarkan semua benci hatinya.
“Lo ngapain sih, Cok,” bentak Cinta.
“Lo lupa perjanjian kita?” tanya Coki.
“Tapi ngga kayak gini caranya,” balas Cinta.
“Lo ikutin kata-kata gue dan gue akan buat lo semua selamat dari Floren,” bentak Coki memegang tangan Cinta dengan kasar.
“Iya-iya, awas ya lo sampai sahabat-sahabat gue terutama Awan yang jadi tumbalnya, ngga akan gue maafin lo.”
Coki pun menarik Cinta untuk pulang bersamanya.
***
Kamis, 28 April 2011
Hari terakhir ujian nasional pun tiba. Saat terakhir mereka mengikuti ujian nasional dilalui anak-anak kebanyakan dengan sangat antusias. Banyak terdengar rencana-rencana mereka sesudah pulang dari sekolah. Ada sebagian dari mereka yang jalan, makan, main ke rumah teman, dan ada yang hanya di rumah menghabiskannya dengan tidur sepanjang masa. Tetapi tidak untuk Cinta, sepulang sekolah nanti ia harus menjawab pertanyaan Awan apakah Awan boleh ikut nonton. Coki, Cinta, dan Awan janjian untuk bertemu di taman seusai ujian nasional.
Terlihat Cinta sudah selesai mengerjakan ujian terakhrir dan duduk termenung di depan kelas.
“kamu kenapa?” tanya Coki yang setengah duduk di depan Cinta.
“Jangan sok baik deh. Nyesel gue pernah kenal sama lo,” jawab Cinta dengan kasar.
“Kamu lupa sama janji kamu? Perlu aku ingetin?” tanya Coki yang mengeluarkan handphone-nya dan menyetel suatu rekaman percakapan antara Cinta dan Coki.
Coki: ya, memang saya yang menghajar Awan dan Awan hanya membalas seperlunya.
Cinta: kenapa, Cok? Kenapa kamu lakuin itu?
Coki: simple aja, aku mau lindungi kamu dari Floren. Dia mau nyelakakan kamu di saat kita nonton nanti.
Cinta: Floren? Ngga mungkin, kebohongan apa lagi yang udah kamu buat.
Coki: aku ngga bisa kasih tahu kamu kenapa Floen bisa kayak gini, yang harus kamu tahu aku akan melindungi kamu dan kamu harus balas budi sama aku.
Cinta: jangan harap aku mau balas budi sama kamu MANUSIA LICIK!!
Coki: (menarik tangan Cinta dengan paksa) kamu mau Clara, Ikhsan terutama Awan jadi tumbalnya Floren? Kamu mau mereka semua malu karena perbuatan kamu?
Cinta: maksud kamu?
Coki: percaya sama aku atau kegadisan kamu hilang.
Cinta: COKI!!!!!
Coki pun mematikan rekaman tersebut, “Jadi gimana, sayang?”
Cinta menatap Coki penuh kebencian, “Lihat aja, Cok. Gue akan balas semua perbuatan lo.”
“Yaudah yuk, Cinta, kita ke taman. Ngga mau kan bikin pangeran kamu menunggu,” ajak Coki dengan paksa menarik tangan Cinta.
Tak jauh dari sana ternyata Ikhsan telah memerhatikan mereka dengan seksama.
Gila ya itu bocah, udah ngancurin dua sahabat gue, batin Ikhsan.
***
Di taman, terlihat Awan menunggu kehadiran Cinta dan Coki dengan was-was. Cinta yang sudah datang bersama Coki sempat menatap Awan dengan penuh harap.
Gue mohon lo ngerti, batin Cinta.
Gue mohon gue bisa ikut lo, batin Awan.
“Nah Cinta, jadi apa kamu mau ajak Awan?” tanya Coki yang masih merangkul Cinta dengan kasar.
Cinta hanya menatap Awan.
“Ta?” panggil Awan penuh harap.
“Maaf,” jawab Cinta singkat.
“Hahaha, dia itu udah jadian sama gue,” sambung Coki lagi yang membuat Cinta bingung.
“Hah? Ta? Gue yakin itu ngga bener?” tanya Awan.
Gue harus jawab apa?, batin Cinta.
“Ta, jawab,” pinta Awan dengan halus.
“Ya,” jawab Cinta tanpa menoleh ke arah Awan.
“Ya, itu semua ngga benar kan, Ta? Kamu ngga jadian kan sama dia?” Awan masih terus memaksa Cinta untuk jujur.
Bisa ngga kamu ngga usah tekan aku, batin Cinta.
Untuk kesekian detik air mata Cinta kembali jatuh.
“Cinta sayang, jawab dong pertanyaan mantan kamu,” kata Coki menggoda.
“DIAM LO!!” teriak Awan yang mendorong Coki hingga terjatuh, “Apa yang udah lo lakuin sama dia? Hah?”
“Hey, sabar dong. Ngga usah pake emosi gitu kali,” pancing Coki yang sudah tegap berdiri di depan Awan.
Dengan cepat, Awan menghajar Coki.
“AWAN!!” teriak Cinta.
Awan dan Coki segera menoleh ke arah Cinta yang sedang menangis. Awan menghampiri Cinta dan memeluknya dengan hangat. Melihat itu, Coki menarik Awan dan mendorongnya lalu memukulnya dengan pukulan kasar.
“Coki,” panggil Cinta dengan lembut.
Coki pun menghampiri Cinta, “Ada apa sayang.”
“JANGAN SENTUH DIA!” teriak Awan yang langsung menghajar Coki tiada henti.
“Awan cukup,” pinta Cinta yang memeluk Awan dari belakang, “Cukup aku mohon.”
Awan hanya bisa terdiam.
Sengatan yang kamu beri begitu dalam, batin Awan.
Coki langsung menarik Cinta pergi dan berkata, “Kita harus pergi nonton.”
Gawat, batin Awan.
“Ta,” panggil Awan yang langsung di tahan oleh Ikhsan, “Biarin aja mereka pergi, kalo Cinta sayang sama lo pasti dia minta lo ikut.”
Atau ngga pasti dia natap lo sebelum pergi, batin Ikhsan.
Cinta mendengar itu langsung menoleh ke belakang tak mengerti kata-kata Ikhsan.
Apa maksud kamu, San, batin Cinta.
Melihat Coki dan Cinta sudah tak tampak, Awan langsung menonjok Ikhsan, “Apa maksud lo?”
“Tenang, boy. Cinta hanya sayang sama lo,” jawab Ikhsan dengan tenang.
“Tau darimana lo?” tanya Awan yang masih menghajar Ikhsan.
“Udah diem aja, sekarang ikut gue ke parkiran. Clara bawa mobil dan kita ikuti mereka,” ajak Ikhsan.
***
Ikhsan, Clara, dan Awan telah sampai terlebih dahulu sebelum Cinta dan Coki di parkiran bioskop.
“Jelasin ke gue dulu deh, ngga ngerti gue,” pinta Awan di dalam mobil.
“Apa yang lo bilang benar. Floren sama Coki kerja sama,” jawab Ikhsan.
“Terus?”
“Dan tadi Ikhsan ngikutin Coki sebelum dia nemuin lo sama Cinta,” sambung Clara.
“Hasilnya?”
“Jadi Coki kayak gitu supaya hutang bokapnya lunas. Demi keluarganya, sebenarnya Coki juga sayang sama Cinta sama halnya kayak lo,” jelas Ikhsan, “Dan tadi gue sempet denger cara mereka nyakitin Cinta.”
“Gimana? Biar gue tau harus berbuat apa,” pinta Awan.
“Jadi, lo liat ngga cowok yang di sana?” tanya Ikhsan menunjuk ke arah beberapa cowok.
“Mereka yang akan memperkosa Cinta sesuai denga apa yang lo duga.”
“Terus gue harus gimana?” tanya Awan bingung.
“Gue juga ngga tau, bingung,” jawab Ikhsan polos.
“Yah lu mah ah,” kata Awan putus asa, “Malah orangnya gede-gede lagi.”
“Kalo kata gue ikuti kata hati lo,” sambung Clara dengan lembut, “Cewek biasanya selalu iktutin kata hatinya dan berhasil, apa salahnya lo ikutin kata hati?”
“Gue coba,” jawab Awan yakin.
“Itu mereka,” kata Ikhsan.
“Oke gue keluar ya,” kata Awan.
“Lo harus ngumpet,” usul Clara.
“Sip.”
“Jangan sampe ketawan,” kata Clara khawatir.
“Kita harus hubungi polisi, kasian Awan kalo sendirian. Lo juga ngga bisa apa-apa.”
“Iya deh iya,” jawab Ikhsan polos.
***
Mobil Coki pun berhenti.
“Kok kita di sini? Ngga di sana aja?” tanya Cinta yang menunjuk ke arah Timur mereka.
“Aku maunya di tempat yang sepi,” pancing Coki.
“Jangan kurang ngajar lo. Gue bisa teriak,” kata Cinta dengan marah dan berusaha membuka mobil secara diam-diam.
“Tenang aja lah Cinta, nih minum dulu,” kata Coki mendorong segelas jus di depan muka Cinta.
Yeah udah kebuka, batin Cinta.
“Ngga, ngga usah makasih,” kata Cinta yang langsung pergi setelah pintu sudah terbuka.
“Cinta mau kemana? Shiittt!!! Dia kabur,” kata Coki.
Gue harus kemana?, batin Cinta dalam bingung.
Tiba-tiba tubuh Cinta tertarik oleh seseorang, “Shuutt, diam.”
“Awan?” panggil Cinta kaget tapi setengah bahagia.
“Kamu ngga apa-apa?” tanya Awan penuh lembut.
“Kamu?” Cinta tak bisa meneruskan kata-katanya.
“Ya, aku bilang aku sayang. Ini yang akan aku lakuin,” kata Awan menatap Cinta tajam.
“Maaf,” ucap Cinta lirih.
“Sekarang kamu keluar ya,” pinta Awan lembut.
“Tapi.”
“Shhutt!!! Aku ada di sini, kamu percaya kan?”
Cinta pun mengangguk dan keluar dari tempat persembunyiannya.
“Cinta sayang, dimana kamu?” panggil Coki.
“Aku di sini,” jawab Cinta dengan lemas.
“Kamu ngga bisa kemana-mana. Liat orang di sana,” sambung Coki yang menarik Cinta dengan kasar hingga dalam dekapannya.
“Mereka?”
“Ya, mereka teman-teman aku, jadi kalo kamu macam-macam, kamu tahu kan akibatnya?”
Awan pulang sekarang, batin Cinta.
“Kamu bilang mau lindungi aku,” pinta Cinta.
“Hahahahaha, percaya sama aku ngga ada gunanya. Sekarang minum,” paksa Coki.
“NGGA!!!”
“MINUM!!!”
Plok plok plok!!!
Awan langsung menghajar Coki dan membawa Cinta pergi.
“Awan kamu pulang sekarang,” pinta Cinta dengan takut.
“Kenapa?” tanya Awan bingung.
“Please, aku mohon. Sebelum semuanya.”
“Terlambat,” sambung Coki dengan beberapa temannya, “Yah TERLAMBAT!!!”
Cinta hanya menangis dalam dekapan Awan.
“Gue ngga pernah takut sama lo!!” bentak Awan.
“Oke, tapi sama teman-teman gue?” pancing.
“Awan pulang,” rengek Cinta dalam tangis.
“Aku ngga akan pulang,” jawab Awan dengan yakin.
“Biarin aja Cinta, dia belum rasain rumah sakit.”
“Oke kalo itu mau lo.”
“Lo lawan teman gue,” tawar Coki.
“Oke,” jawab Awan yang melepas rangkulannya terhadap Cinta.
“Awan, jangan,” cegah Cinta.
“Kamu tenang aja, aku ngga apa-apa kok,” kata Awan meyakinkan dan mengecup lembut kening Cinta.
“Jangan buat aku takut!!”
“Cepet lama banget deh,” pancing Coki.
“Oke gue terima,” kata Awan yang menghampiri Coki dan teman-temannya.
Kata hati, Wan kata hati, batin Awan.
Clara dan Ikhsah menghampiri Cinta yang duduk menangis.
“Ta,” panggil Clara yang langsung memeluk Cinta.
“Lo ngga apa-apa?” tanya Ikhsan.
“AWAN BODOH!!!” teriak Cinta.
Sekilas Awan menoleh ke arah Cinta. Kamu yang udah nguatin aku, batin Awan.
Prok prok prok
Terdengar pukulan keras dan terlihat Awan jatuh tersungkur.
“AWAN!!!” teriak Cinta.
Berkali-kali Coki dan teman-temannnya memukuli Awan yang tidak membalas.
“Kenapa?” tanya Cinta.
Ini demi lo, jawab Awan dalam hati.
“Kenapa gue ngga bisa benci sama lo?” teriak Cinta.
Cinta sekilas melihat salah satu teman Coki yang mengeluarkan pisau.
Hah? Ngga mungkin. Gue harus gimana?, batin Cinta.
“Bos, uda siap nih,” kata salah satu teman Coki.
“Oke, laksanakan,” perintah Coki.
Gue ngga bisa diem aja, batin Cinta yang lari mengejar Awan.
“TA, TA, CINTA!!” panggil Clara dan Ikhsan.
“Lo akan mati dan menutupi semuanya,” teriak Coki yang langsung menyodorkan pisau ke arah Awan.
“AWAN!!!!!” teriak Cinta dan langsung memeluk Awan kuat.
“CINTA!!!!” teriak Clara dan Ikhsan.
Diam sesaat, hening yang dirasa.
“Kamu? Kamu masih hidup?” tanya Awan bingung melihat Cinta yang masih sehat dalam dekapannya.
“Aku? Aku ngga tahu,” jawab Cinta takut.
“Ta, Coki,” teriak Clara.
Cinta langsung menoleh ke arah Coki yang terbaring kaku dengan pisau di atas badannya.
“COKI!!” teriak Cinta yang langsung menghampir Coki dan tibalah polisi yang menangkap beberapa preman.
“Coki,” panggil Cinta.
Sesaat Coki tersadar, “Gue lakuin apa yang gue bilang kan? Gue ngelindungi lo, sahabat lo, dan juga Awan.”
“Kenapa harus kayak gini?”
“Haha, emang harus kayak gini. Biar Floren bahagia,” jawab Coki dengan terbata-terbata.
“Gue sayang sama lo,” kata Cinta yang sudah dirangkul lemas oleh Awan.
“Gue juga sayang sama lo, tapi Awan,” kata Coki yang mengambil tangan Awan dan tangan Cinta untuk dipersatukan.
Cinta dan Awan hanya bisa diam dan saling pandang.
“Gue emang sayang sama lo, tapi ada Awan yang melebihi rasa sayang gue bahkan cinta gue,” kata Coki dengan terbata-bata, “Ohok ohok.”
“Kamu kenapa?” tanya Cinta panik.
“Ngga kenapa-kenapa kok, cuma batuk,” jawab Coki dengan senyum.
“Mba, maaf temannya harus di bawa ke rumah sakit sekarang karena sudah terlalu banyak mengeluarkan darah,” kata bapak dari kepolisian.
Cinta hanya bisa menyingkir dalam dekapan Awan.
“Nanti dulu, pak,” pinta Coki, “Wan, janji ya jagain Cinta.”
“Coki,” panggil Cinta.
“Tanpa lo suruh, akan gue lakuin itu,” jawab Awan yakin.
“Ta, Awan tulus sama lo. Lo harus selalu sama Awan,” pinta Coki.
“Cok,” panggil Cinta lirih.
“Pak, bisa bawa saya sekarang,” pinta Coki dan pihak kepolisian mulai membawa Coki.
Cinta, Awan, Clara, dan Ikhsan hanya bisa diam terpaku melihat kepergian Coki.
“Tenang aja, kamu masih ada aku kok. Aku ngga mau ngelepasin kamu lagi,” kata Awan yang langsung memeluk Cinta.
***
Keesokan harinya, hari dimana Coki akan di kebumikan. Terlihat banyak teman Coki yang hadir dalam pemakaman tersebut. Dan pemakaman Coki berlangsung dengan menyedihkan dan tiba-tiba.
Cinta, Awan, Clara, dan Ikhsan tampak pada barisan pertama dalam pemakaman.
“Yang sabar ya, Ta,” kata Clara berusaha menenagkan Cinta.
“Ra, biar gue aja,” pinta Awan.
“Ya,” jawab Clara yang langsung pergi menuju Ikhsan.
“Ta,” panggil Awan.
“Kenapa, Wan? Kenapa?” tanya Cinta.
“Iya aku ngerti, yang sabar ya. Aku akan terus di sampin kamu menggantikan Coki,” kata Coki yang langsung memeluk Cinta dengan erat.
Putri Cinta Kirana, itulah nama panjang Cinta. Siswi yang sudah duduk dibangku kelas 9 SMP ini memang tengah menghadapi ujian nasional yang akan di laksanakan selama 4 hari yang dimulai dari senin, 25 april 2011 hingga kamis, 28 april 2011.
“Kok nyalahin bunda? Daritadi bunda udah ketok-ketok pintu kamar kamu, kamunya aja yang ngga denger. Udah nih makan dulu,” jawab bunda yang sedang menyiapkan roti selai untuk anak bungsunya itu.
“Makanya buka dong pintu kamar aku. Aku sarapan di sekolah aja, Bun,” kata Cinta yang sedang meminum susu coklat kesukaannya.
“Kan kamar kamu kunci, gimana sih?” balas Bunda dan dibalas senyum lebar oleh Cinta lalu ia meminum susu kembali.
“Tau nih,” sambung Ciko dengan mengacak rambut Cinta, kakak Cinta yang baru saja bergabung di atas meja makan.
Ciko adalah siswa kelas 11 di salah satu sekolah menengah atas negeri terkemuka di Jakarta. Kakak yang paling dekat dengan Cinta dan menjadi teman curahan hati Cinta.
“Ih, apa sih lu ah,” balas Cinta yang sedang merapikan rambutnya, “Rambut gue berantakan kan,” protes Cinta dengan kesal.
“Udah abisin dulu susunya nanti telat lagi, biar nanti kakak yang nganterin,” kata Nico lembut.
“Udah abis, nih. Harusnya kakak yang cepetan abisin rotinya, masih banyak gitu,” balas Cinta yang masih sibuk dengan rambutnya.
“Ini mah mau gue bawa ke kampus. Udah yuk jalan,” ajak Nico.
Cinta pun ikut saja ditarik Nico, “Eh tunggu, pamit dulu dong sama Bunda,” kata Cinta yang langsung pamit kepada Bunda, “Cinta berangkat dulu ya, Bun.”
“Iya, nih bawa rotinya,” jawab Bunda yang memberi kotak bekal Cinta.
“Kayak anak kecil banget sih,” kata Cinta yang akhirnya menerima kotak bekal itu.
“Nanti taruh aja di mobil gue kalo udah abis, biar ngga malu-maluin lo,” usul Nico setelah berpamit kepada Bunda.
“Gue ikut mobil lo dong, Nic,” pinta Ciko yang ikutan pamit kepada Bunda.
“Hah?” tanya Cinta kaget.
“Tenang aja, Nico nganterin lo duluan kok,” kata Ciko yang lagi-lagi mengacak rambut Cinta.
“Bisa ngga sih ngga usah resek,” protes Cinta yang jalan duluan menuju halaman depan.
Ciko yang tidak tahan marahan terlalu lama sama Cinta, akhirnya menyusul Cinta dan meminta maaf, “Iya deh iya maafin gue napa, Ta.”
“Iya-iya,” balas Cinta tidak menoleh ke Ciko.
“Yah ngga ikhlas ya maafinnya?” tanya Ciko yang sekarang sudah berada di depan Cinta yang mau membuka pintu mobil.
“Iya-iya udah ah misi gue mau masuk,” jawab Cinta yang menyingkirkan Ciko.
“Tapi maafin ya,” tahan Ciko dengan memegang erat tangan Cinta.
“Iya kakak ku yang ganteng dan baik hati,” balas Cinta yang langsung masuk ke dalam mobil.
“Yah,” jawab Ciko ketika pintu mobilnya langsung ditutup oleh Cinta.
“Udah sana ah, kamu ini Ciko,” kata Bunda mengelus rambut Ciko.
“Hehehehehe,” nyengir Ciko.
“Udah cepet masuk daripada nyonya ngamuk lagi,” kata Nico yang baru ingin memasuki mobilnya dan berbarengan dengan terbukanya kaca mobil tempat Cinta duduk.
“Iya deh iya, peace peace,” balas Ciko yang langsung masuk ke bagian belakang mobil Nico.
Deru mobil pun terdengar.
“Bun, Cinta berangkat dulu ya,” pamit Cinta dalam mobil yang diikuti oleh Nico dan Ciko.
“Nico juga, Bun.”
“Ciko juga, nanti Ciko pulang telat mau rapat OSIS.”
“Terus gue pulang bareng siapa?” tanya Cinta bingung.
“Ya sendiri dong, Nak,” jawab Bunda.
“Hehehehe iya, Bun,” kata Cinta malu.
“Tau nih, manja banget,” sambung Ciko.
“Udah sana jalan, nanti telat loh. Hari pertama ujian kan,” usul Bunda.
“Iya, Bun. Assalamu`alaikum,” pamit Cinta, Ciko, dan Nico berbarengan.
Mobil pun melaju dengan kencang. Nico yang sudah terbiasa membawa mobil dengan kecepatan di atas 80 km/jam pun dengan tenang mengemudi, walaupun terdengar percekcokan antara Cinta dan Ciko.
***
“Udah sampe nih.”
“Udah sana turun, nanti keburu masuk loh,” sambung Ciko mengelus rambut Cinta.
“Iya-iya, pengen banget sih lu gue turun,” kata Cinta yang langsung turun dari mobilnya dan berjalan.
“Eh, tunggu tunggu,” tahan Ciko.
“Apalagi? Katanya suruh turun?”
“Nih bawa kotak bekel lo,” Ciko langsung menyodorkan kotak makan Cinta.
“Ih, apa-apaan sih lo? Malu-maluin gue aja.” Cinta langsung was-was melihat sekeliling.
“Kenapa sih cantik? Takut diliat Coki?” goda Ciko.
“Ih, kak Ciko. Ini wilayah sekolah tau. Jangan buat aku malu.”
Dari dalam mobil Nico hanya bisa tertawa, “Yaudah lah, Cik. Kasian tau di godain mulu. Mending lu masuk deh bawa kotak bekelnya.”
“Tapi kan ini kotak bekel dia.”
“Gue panggilin clara lu,” pancing Cinta.
“Iya deh iya, bye adik ku tersayang,” putus Ciko yang langsung memasuki mobil.
“Bye Cinta, jangan gunain contekan ya,” pesan Nico dari dalam mobil.
“Sip kak Nico.”
Nico dan Ciko pun pergi meninggalkan Cinta yang masih takut kalau-kalau ada yang melihat tingkah Ciko tadi.
***
Perlahan-lahan Cinta berjalan menuju kelasnya.
“Duh, tadi genk-nya Mutiara ngeliat gue ngga ya?”
“Ngeliat apa?” tanya Ikhsan dan Clara yang berhasill membuat Cinta kaget setengah mati.
“Astagfirullah, lo berdua ya,” bentak Cinta.
“Kenapa sih, Cin? Ngomel-ngomel mulu,” tanya Clara.
“Ngga, gue lagi sebel aja sama kak Ciko,” jawab Cinta.
“Kenapa lagi sih kakak lo?” tanya Ikhsan.
“Jadi tuh,” kata-kata Cinta terpotong ketika Coki, Doni, dan Awan datang menghampiri mereka.
“Kelasnya dimana, Cin?” tanya Doni.
Cinta tak langsung menjawab pertanyaan Doni karena kaget melihat kehadiran Coki dan Awan berbarengan.
“Cinta?” panggil Coki dengan senyum.
“Hah? Apa?” tanya Cinta salah tingkah.
“Tadi Doni nanya kelas kamu dimana?” ulang Coki.
Mendengar Coki memanggilnya dengan sebutan kamu, Cinta merasa dirinya tidak terkendali.
“Emm, ngga tau deh. Aku baru datang,” jawab Cinta dengan gugup.
“Yaudah cari bareng yuk,” ajak Coki.
“Hah? Bareng?” tanya Cinta yang melirik ke arah Ikhsan dan Clara yang berada di sebelahnya.
Ikhsan dan Clara yang mengetahui keadaannya hanya bisa tersenyum melihat tingkah Cinta.
“Yaudah ngga apa-apa kok, Cin. Lagian gue sama Ikhsan ada perlu sama Bu Sartini, ya kan?” tanya Clara kepada Ikhsan yang ternyata sedang melihat Awan yang tidak jauh berada bersamanya.
“Hah? Iya bener iya.”
“Yaudah, kita duluan ya. Bye,” akhir Clara yang langsung pergi bersama Ikhsan.
“Yaudah yuk, nanti telat,” ajak Coki.
“Iya,” jawab Cinta yang mengikuti Coki berjalan di sebelahnya,
***
“Eh, San. Tadi lo ngapain liat-liatan sama Awan?” tanya Clara di tengah perjalan menuju kelasnya.
“Kasian tau, Awan. Mukanya ditekuk banget,” jawab Ikhsan.
“Lagian kenapa mereka bisa putus sih? Ngga enak banget.”
“Tau tuh, malah si Awan milih cewek kaya Bunga.”
“Emang cewek kaya Bunga gimana maksudnya?” tanya Clara bingung.
“Ya gitu, uda ah kenapa jadi ngegosip gini?” jawab Ikhsan yang langsung memasuki kelasnya.
“Tapi kan Awan sama Cinta satu kelas lagi ya, kasian banget,” sambung Clara.
***
“Kayaknya ini deh kelasnya,” kata Doni melihat ruangan bernomor 28.
“Emang kita ruang 28?” tanya Cinta bingung.
“Eh, Coki,” sapa Mutiara yang langsung menggandeng Coki.
“Apa-apaan sih, Mutiara,” kata Cinta sendiri dengan suara pelan supaya tidak terdengar.
Coki merasa risih dengan cara Mutiara menggandengnya, “Eh, Mutiara.”
“Kelas kamu dimana?” tanya Mutiara tanpa malu.
“Ngga tau deh,” jawab Coki singkat dan berusaha melepaskan pegangan Mutiara.
“Iya ini kelas kita,” kata Doni kepada Awan, Cinta, dan Coki.
“Oh, ini kelas kamu. Aku di sebelah kamu dong. Wah kelas kita dekat ya,” kata Mutiara yang tidak melepaskan pegangannya.
“Iya, udah ya lepas,” pinta Coki dengan halus.
“Yaudah ya, gue masuk duluan,” kata Cinta dengan lemah dan berjalan masuk.
“Gue sama Doni juga deh,” kata Awan mengikuti Cinta bersama Doni.
“Udah ya gue masuk duluan,” kata Coki yang akhirnya berhasil lepas dari Mutiara.
***
Setelah menaruh tas, Cinta langsung membuka handphone BB-nya dan membuka twitter untuk meng-update perkembanga hatinya.
Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“Hay,” sapa Coki yang berada di sebelahnya.
Spontan handphone Cinta jatuh, “Yah handphone gue.”
“Aku ambilin ya,” kata Coki yang langsung menunduk ke kolong meja untuk mengambilkan handphone Cinta, “Wah lagi ol twitter,” bisik Coki.
“Mana handphone-nya?” tanya Cinta dari atas meja.
“Oiya, nih handphone kamu,” kata Coki yang langsung mengembalikan handphone Cinta, “Aku balik ke tempat aku dulu ya,” kata Coki yang langsung duduk di bangku yang berada di sebelah Cinta.
“Duh, tweet gue dibaca ngga ya sama Coki?” tanya Cinta sendiri dengan was-was dan langsung melihat hamdphone-nya kembali.
CikoSikirana Siapa tuh Coki RT@cintakirana Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“Ih, kak Ciko ngapain sih komment ngga jelas,” protes Cinta.
Apa sih kak Ciko RT@CikoSikirana Siapa tuh Coki RT@cintakirana Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“Cinta, udah ada pengawas,”panggil Coki yang melihat Cinta masih memegang handphone-nya.
“Oh, iya makasiih ya,” balas Cinta yang langsung menaruh handphone-nya.
***
Ujian hari itu pun selesai. Cinta yang tidak langsung bergegas pulang menemukan selembar kunci di kolong meja Awan, “Awan make kunci?”
“Cinta,” panggil Claudy dari luar, teman satu kelas Cinta.
“Oh, iya,” balas Cinta yang langsung memasuki kunci yang ia lihat ke dalam tasnya.
“Ngapain lo tadi di meja Awan?” tanya Cindy.
“Oh, ngga kok. Ngga ngapa-ngapain,” jawab Cinta berusaha menutupi.
“Cinta duluan ya,” pamit Coki begitu melewati Cinta bersama Awan.
“Oh iya,” jawab Cinta gugup ketika melihat Awan. Cinta masih tidak percaya apa Awan benar-benar menggunakan kunci jawaban tersebut.
“Eh Cinta gimana tadi menurut lo soal bahasa Indonesia?” tanya Claudy yang berhasil memecah lamunan Cinta.
“Hah? Oh bahasa tadi, biasa aja ah,” jawab Cinta.
“Iya deh yang pinter beda, hahahahaha,” sindir Cindy.
“Ih, apaan sih. Udah ah gue pulanga duluan ya,” pamit Cinta.
“Nanti les kan?” tanya Claudy.
“Iya.”
***
“Duh kak Ciko lama aja nih,” protes Cinta yang sudah tidak sabar, “Yaudah gue buka twitter aja deh.”
CokiLaksana Kok ada nama gue? RT@putricinta Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“Wah gawat, Coki baca lagi, gue harus balas apa nih?”
Memangnya kenapa? RT@CokiLaksana Kok ada nama gue? RT@putricinta Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“Hay, ninggalin kita lu,” sapa Clara yang mengagetkan Cinta.
“Ih, Clara,” omel Cinta dengan jengkel.
“Cie yang tadi seneng diajak ke kelas bareng Coki, ciecie,” goda Clara dengan senyum centilnya.
“Ih apaan sih,” elak Cinta dengan pipi mulai memerah.
“Ciecie pipinya merah,” goda Clara lagi.
“Oiya tumben lu sendiri, Ikhsan mana?” tanya Cinta heran melihat Clara sendiri.
“Cie ganti topik.”
“Ih, bukannya gitu. Katanya Ikhsan mau ketemu kak Ciko.”
“Oh yang lagu itu ya?”
“Iya, mana sih Ikhsan?”
“Dia tadi diajak ngobrol gitu sama Awan. Kayaknya sih curhat,” jawab Clara.
“Tau dari mana lo curhat?” tanya Cinta yang sedang melihat balasan mention Coki.
“Tadi si Awan suruh gue pergi gitu. Katanya privacy gitu,” jawab Clara yang aneh melihat Cinta senyum-senyum sendiri, “Cin?”
“Oh iya,” jawab Cinta yang sama sekali tidak memalingkan wajanhya dari handphone-nya.
“Lu lagi ngaain sih? Gue cerita dicuekin. Liat apasih?” tanya Clara penasaran yang akhirnya merebut handphone Cinta dan melihat apa yang sedang dilakukan Cinta.
“Ih, Clara ngga sopan banget sih.”
“Lo yang ngga sopan gue lagi curhat malah buka twitter,” jawab Clara yang kaget melihat mention antara Cinta dan Coki.
Ya ngga apa-apa sih Cuma mau tau aja RT@putricinta Memangnya kenapa? RT@CokiLaksana Kok ada nama gue? RT@putricinta
“Lo dari tadi mention-mentionan sama Coki?” tanya Clara yang ikutan tidak memalingkan wajahnya darihandphone Cinta.
Yaudah kalo gue ngga jawab ngga apa-apa dong RT@CokiLaksana Ya ngga apa-apa sih Cuma mau tau aja RT@putricinta Memangnya kenapa? RT@Cokilaksana
“Iya, dia mention duluan tweet gue,” jawab Cinta dengan malu.
Selesai UN, mau ngga nonton berang gue? RT@putricinta Yaudah kalo gue ngga jawab ngga apa-apa dong RT@CokiLaksana Ya ngga apa-apa sih Cuma mau tau aja
“Lo diajak nonton sama Coki?” tanya Clara dengan antusias.
“Iya,” jawab Cinta lemas.
“Lo terima ngga?” tanya Clara yang mengembalikan handphone Cinta.
“Ngga tau deh belum gue jawab, menurut lo gimana?” Cinta yang terlihat bimbang malah balik bertanya.
“Yaudah terima aja, ini kesempatan emas loh buat lo. Berarti dia udah mulai mau pedekate sama lo.”
“Tapi abis UN gue juga ada janji.”
“Sama siapa?” tanya Clara yang berbarengan dengan kedatangan Awan dan Ikhsan yang menghampiri mereka berdua.
“Cin, nanti jadikan main band?” tanya Ikhsan.
“Hah?” Cinta kaget melihat kehadiran Ikhsan bersama Awan.
“Janji lo sama mereka?” tanya Clara yang melirik ke arah Awan dan Ikhsan dan diikuti anggukan Cinta.
“Cinta ngga bisa main band dulu,” jawab Clara.
“Ikhsan kan nanya ke Cinta, bukan lu, Ra,” balas Awan.
“Ya tapi emang nyatanya Cinta ngga bisa.”
“Tapi kata kak Nico sama kak Ciko bisa kok,” sambung Ikhsan berusaha memastikan.
“Hay, Cinta,” sapa Coki tiba-tiba dengan memegang pundak Cinta yang membuat Cinta salah tingkah.
“Hay,” jawab Cinta seadanya.
“Nanti setelah UN jadikan?” tanya Coki memastikan.
“Mau kemana lu, Cok?” tanya Awan dengan heran.
“Abis UN gue sama Cinta mau nonton,” jawab Coki dengan santai.
Cinta hanya bisa tertunduk karena sudah pasti Ikhsan dan Awan sedang memerhatikan Cinta.
“Berdua aja?” tanya Awan memastikan.
“Iya, kenapa?”
“Gue ikut ya?” pinta Awan.
“Hah?” Cinta dan Clara sangat kaget atas ucapan Awan yang sangat di luar kendali mereka.
“Emm, terserah Cinta. Gue duluan ya,” akhir Coki yang langsung pergi meninggalkan Cinta, Awan, Clara, dan Ikhsan dengan penuh tanya.
“Gimana jadinya, Cin?” tanya Ikhsan memastikan.
“Bentar ya, handphone gue bunyi,” kata Cinta yang langsung mengambil handphone-nya dan pergi menjauh dari mereka, “Hallo, kak, jadi jemput ngga?”
“Ih, gimana sih lu, kan motor gue lagi di bengkel gara-gara balapan kemarin. Lo lupa?” jawab Ciko.
“Oiya, duh.”
“Lagian kan tadi gue berangkat bareng lo sama Nico. Kan tadi pagi kita berantem, gimana sih ih,” sambung Ciko lagi.
“Ya Allah, kak,” balas Cinta dengan lemas.
“Oiya, tadi lo mention-mentionan ya sama Coki? Sodara kembar gue,” pancing Ciko.
“Ih, berkali-kali gue bilang. Lo sama Coki beda jauh,” balas Cinta dengan emosi.
“Yaudah jangan marah, tapi sih sebenernya gue lagi ada di rumah Dicky. Lo mau sekalian gue jemput?” tawar Ciko.
“Tapi kan kakak ngga bawa motor?”
“Ye maksud gue pulang bareng tuh naik angkot cantik.”
“Oh, yaudah cepet ya, sekarang jalan.”
“Ih ngga bisa motornya Dicky lagi di pake sama adiknya.”
“Lah? Katanya naik angkot?”
“Maksud gue dari rumah Dicky sampai sekolah lu, sayangku. Geregetan gue sama lu.”
“Oh, sory-sorry kak. Lagi bingung banget gue.”
“Kenapa?”
“Coki ngajakin gue nonton,” jawab Cinta dengan was-was.
“Bagus dong, lu terima?”
“Belum gue terima tapi Coki udah pede banget mau jalan sama gue.”
“Yaudah lo terima apa salahnya?”
“Tapi dia ngajakinnya sesudah UN.”
“Lah? Kita kan mau nge-band?”
“Makanya gue bingung, malah Awan minta ikut.”
“Awan? Awan teman lo dari kelas 7? Mantan lo itu?”
“Iya, Kak. Gimana dong? Malah kata Coki terserah gue boleh ngajak Awan apa ngga.”
“Yaudah nanti lagi ya lu ceritanya. Gue baru mau jalan ke sekolah lu nih.”
“Iya, cepet ya.”
***
Selama Cinta menelefon kakanya, Awan ternyata menggunakan kesempatan itu untuk bertanya-tanya kepada Clara.
“Ra, Cinta beneran suka sama Coki?” tanya Awan dengan penasaran.
“Iya, bukannya lu udah tau?”
“Iya gue udah tau tapi kirain gue itu bohongan. Kan Cinta waktu itu masih ngejar-ngejar gue,” jawab Awan dengan pede.
“Bukan ngejar-ngear kali. Lebih tepatnya menyatukan kita berempat lagi dengan kesalahan lo yang terlalu childish,” sambung Clara.
“Tau lo, Wan. Putus dari Cinta malah milih orang kayak Bunga,” tambah Ikhsan.
“Emang kenapa sih sama Bunga? Kok kayaknya lo berdua ngga suka banget sama Bunga.”
“Bingung gue jelasinnya, ini masalahnya aib orang coy,” jawab Ikhsan dengan gaya sok asik.
“Kira-kira kalo gue nembak Cinta lagi di terima ngga ya?” tanya Awan kepada Clara dan Ikhsan yang sangat kaget, “Hah?”
“Lo mau nembak Cinta?” tanya Ikhsan dan langsung saling pandang kepada Clara dan berucap bersama-sama, “LAGI!!!”
“Iya, emang kenapa sih? Dosa banget apa gue?”
“Ya bukannya gitu, dia udah kesel banget tau sama lo,” jawab Ikhsan.
“Tau, Cinta sama Bunga jauh beda sayang. Apalagi sekarang Coki menunjukkan sikap-sikap open heart sama Cinta, wah siap kalah deh,” sambung Clara.
“Tenang aja kali gue ngga mau kalah sebelum bertanding,” jawab Awan dengan yakin.
“Ini nih kelebihan lu yang bikin gue suka sama lo dulu. Terlalu pede dengan apapun,” kata Clara.
Cinta pun datang dengan hati yang was-was karena takut kalau Awan menagih jawabannya.
“Telefon dari siapa?” tanya Awan.
“Hah? Dari kak Coki,” jawab Cinta dengan gugup.
“Jadi nanti lo jalan apa nge-band nih?” tanya Ikhsan dengan penuh kepastian.
“Gue juga belum tau, San,” jawab Cinta seadanya.
“Kalo lo jalan, gue boleh ikut ngga?” tanya Awan.
Akhirnya dia nanya apa yang gue hindarin, batin Cinta.
“Emm, gue ngga tau deh,” jawab Cinta dengan senyum, “Eh kakak gue udah datang, duluan ya,” pamit Cinta yang melihat Ciko dari kejauhan.
“Hey, Bro,” sapa Ciko kepada Awan, Clara, dan Ikhsan dengan berjabat tangan.
Claranya hanya membalas dengan senyum menawan yang berhasil membuat Ciko berdegup kencang.
“Kak Ciko, jangan mupeng ya,” sindir Ikhsan.
“Hahahahahha, sial lo,” balas Ciko.
“Yaudah yuk pulang, udah siang nih. Gue mau belajar buat besok,” sambung Cinta.
“Yaudah ya, besok lagi ya kita ketemu, bye,” pamit Ciko.
“Bye semua,” pamit Cinta.
“Yaudah yuk pulang,” ajak Clara.
“Yuk,” kata Ikhsan yang berjalan bersama Clara.
“Eh, nanti dulu,” sambung Awan.
“Kenapa?” tanya Ikhsan bingung.
“Gue mau ke sanggar dulu ya, ada perlu.”
“Loh? Gue ngga dikasih tau suruh ngumpul,” sambung Clara bingung.
“Eh, gue ada urusan sama Nino kok,” kata Awan bohong.
“Oh yaudah, duluan ya,” pamit Clara.
“Gue juga ya,” pamit Ikhsan.
***
Di taman, Awan melihat Coki dan Floren tengah berbincang serius dengan sesekali diselingi nada tinggi dari keduanya.
“Jadi lo setuju kan sama ide gue tadi siang. Tenang aja kok, kalau lo ikutin gue, gue akan ikutin lo,” tawar Floren dengan senyum sinis.
“Gue ngga bisa,” jawab Coki dengan seadanya.
“Tapi jujur kan lo ngga suka sama Cinta?”
Hah? Coki?, batin Awan.
“Tapi gue belakangan ini juga udah mulai suka sama Cinta.”
“Halah, Mutiara kan yang benar-benar lo cintai?”
“Ya tapi,” Coki bingung harus melanjutkan kalimatnya seperti apalagi. Dia merasa Floren sedang mempermainkan dirinya tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Oke, kita balik ke rencana awal. Gimana?” kata Floren yang masih berusaha untuk menawar.
“Ngga jahat apa?” tanya Coki dengan bingung.
“Tenang aja, nanti lo kasih minuman yang udah gue siapin di parkiran sebelum lo berdua nonton,” kata Floren.
“Minuman itu isinya apa dulu?” tanya Coki dengan nada tinggi.
“Nyantai dong, Bro. Minuman itu isinya Cuma obat tidur doang kok, reaksinya cuma 12 jam setelah Cinta meminumnya,” jelas Floren.
“Kenapa sih lo minta gue lakuin ini? Kenapa ngga orang lain?” tanya Coki dengan gemas.
“Ya karena dia sukanya sama lo, dan gue pengen lo jadian sama Mutiara di depan Cinta,” jawab Floren dengan mantap.
“Gue yakin selain itu ada yang lain,” pancing Coki.
“Iya, gue pengen nama baik mantan ketua OSIS, mantan ketua PMR, dan Cinta sendiri sebagai mantan wakil ketua Paskibra hancur di akhir mereka bersekolah di sini.”
“Ya tapi kenapa, Flo? Kenapa? Lo kan pernah dekat sama mereka?”
“Ya memang gue pernah dekat sama mereka, dan gue ngga terima mereka dekat sama Ikhsan.”
“Ikhsan? Lo suka sama dia?”
“Ya dulu, tapi sekarang gue udah muak sama Ikhsan. Enak banget dia nyampakin gue.”
“Dan lo balas dendam lewat gue?”
“Iya, gue akan bilang ke bokap gue untuk melunasi hutang bokap lo. Gimana? Saling menguntungkan kan?”
“Terserah lo, gue udah gerah,” jawab Coki yang langsung pergi meninggalkan Floren.
“Inget lo, Cok. Keluarga lo ada di tangan gue,” kata Floren dengan nada tinggi.
***
“Hah? Coki? Ya ampun dugaan gue bener. Gue harus bilang ke Cinta,” kata Awan yang langsung berjalan tetapi terhenti oleh Coki yang ada di depannya kini, “Dan gue harap lo ada di saat Cinta nonton bareng gue karena gue ngga bisa ngelindungi dia, ada Floren di sana.”
“BIADAB LO, COK!!!!” bentak Awan yang langsung menghajar Coki dengan segenap emosi.
Awan terus-menerus menghajar Coki meski Coki sudah merintih, “Lo mau nyampakin Cinta gitu aja? Ngga akan tinggal diam gue.”
Akhirnya dengan sisa tenaganya Coki menahan Awan, “Oke gue terima ini, tapi please!! Ini masih rahasia, gue ngga akan berlaku terlalu jauh sama Cinta kalo lo mau datang dengan diam-diam pada malam nanti.”
Awan pun berhenti memukuli Coki dan berdiri membantu di depan Coki yang sudah berdiri. Tetapi Coki malah menyerang Awan dengan pukulan yang tak henti. Awan hanya bisa diam, di pikirannya kini bagaimana ia memberitahu Cinta tenteng ide gila Floren bersama Coki.
“Cukup gue nonjokin lo,” kata Coki yang akhirnya pergi meninggalkan Awan, “Dan satu lagi, jangan harap Cinta bisa tersenyum besok dan lo bisa menghalangi gue.”
“ORANG KAYAK LO BIADAB, COK!!!” teriak Awan.
“Ya memang, daripada lo. Membohongi perasaan lo demi cewek yang sama sekali ngga lo cinta,” akhir Coki yang langsung pergi.
“Gue harus sms Clara sama Ikhsan. Atau kayaknnya lebih baik Ikhsan aja,” kata Awan yang langsung mengirim pesan singkat kepada Ikhsan.
To: Ikhsan
Gue tunggu lo di rumah gue jam 3, ada hal yang harus gue omongin sama lo
Awan pun langsung bergegas pulang sebelum ada guru atau penjaga sekolah yang melihatnya babak belur.
***
Tok tok tok!!!
“Cinta,” panggil Clara dari luar rumah Cinta, “Assalamu`alaikum, Cinta.”
“Iya tunggu sebentar,” teriak Cinta yang sedang bermain dengan laptopnya.
“CINTA!!! ASSALAMU`ALAIKUM CINTA!!” teriak Clara dari luar rumah.
Cinta langsung membukakan pintu dan dengan menutup telinganya, “Duh, bisa ngga sih ngga usah teriak? Budeg nih gue.”
“Iya deh iya sorry, atuh tiba-tiba lo nyuruh gue ke rumah lo. Gue kan lagi belajar buat matematika besok.”
“Ya kan sekarang udah sore kali.”
“Apanya yang sore? Masih jam setengah tiga begini. Kenapa ngga jam 4 aja sih gue ke rumah lo.”
“Ya jam 4 gue mau tidur rencananya.”
“Ya ampun, Cinta. Sore-sore begitu lo tidur?” tanya Clara heran melihat tingkah Cinta yang masih kekanak-kanakan.
“Duh bawel deh, masuk deh kalau gitu. Ngga enak diliat tetangga gue,” ajak Cinta yang berjalan duluan menuju ruang tamu.
“Ada apa sih lo nyuruh gue ke sini?” tanya Clara yang duduk di depan laptop Cinta, “Lo main laptop? Bukannya belajar lu?”
“Ya kan Cuma bentar. Ini juga gue baru buka.”
“Tapi kan ini UN Cinta.”
“Yaudah ah, kayak nyokap gue aja deh lo.”
“Iya deh iya, gue ngapain nih ke rumah lo?”
“Nih liat kelakuan sahabat lo itu,” kata Cinta yang langsung menunjukkan laptopnya.
Clara membaca beberapa mention antara Cinta dan Coki.
“Hah?” Clara sangat kaget dengan apa yang dibacanya.
“Tolong deh lo bilangin sama sahabat lo itu, kenapa sih dia? Enak banget mukulin Coki, apa salah Coki?”
“Ya mana gue tau? Lagian lo tau darimana kalo Coki ngga bohong sama lo?”
“Tadi dia ke rumah gue sebentar buat ngasih buku gue yang ketinggalan di perpus.”
“Terus ngapain lo mention-mentionan?”
“Tadi dia duluan yang mention gue yaudah gue bales.”
“Oh gitu,” kata Clara yang langsung mengambil handphone-nya karena berbunyi.
“Eh, tadi lo kan pulang bareng Awan?”
“Ya terus? Lo mau nyalahin gue juga gitu?”
“Ya ngga gitu juga, Ra. Cuma kan aneh aja, benar lo ngga liat Awan sama Coki?”
“Ngga, tadi emang mau pulang bareng tapi dia ada janji sama Nino katanya.”
“Atau jangan-jangan dia sama Nino kali? Wah Nino awas aja, gue samperin ke rumahnya,” kata Cinta emosi dan langsung berlari menuju kamarnya.
“Ye si Cinta,” kata Clara yang memainkan laptop Cinta di ruang tamu.
***
Tok tok tok!!
“Wan, ada Ikhsan noh di luar,” panggil Citra.
“Iya, kak, suruh tunggu sebentar,” jawab Awan.
“Kasian itu si Ikhsan udah daritadi,” teriak Citra lagi dan bersamaan dengan dibukanya pintu kamar Awan, “Ah, bawel banget sih lu.”
“Muka lu kenapa?” tanya Citra yang langsung memegang wajah Awan.
“Aw!!” teriak Awan yang langsung menyingkirkan tangan Citra dari wajahnya.
“Sorry sorry, tumben lo berantem,” sambung Citra.
“Yailah gue kan cowo.”
“Pasti gara-gara cewek, hahahahaha,” kata Citra yang langsung pergi menuju kamarnya.
“Tau aja itu bocah,” kata Awan yang langsung pergi menuju ruang tamu.
***
Di rumah Cinta, ternyata Cinta juga tengah bersiap untuk pergi menuju rumah Nino yang tak jauh dari rumahnya.
“Yuk, Ra, pergi sebelum kakak gue bangun,” ajak Cinta yang sudah rapih dengn T-shirt yang ditutupi jaket dan celana pendeknya.
“Emang kenapa kalo ada kakak lo?” tanya Clara bingung.
“Resek dia mah,” kata Cinta yang menarik Clara untuk berdiri.
“Eh, ada Clara,” sapa Ciko dari arah kamarnya yang tida jauh dari ruang tamu.
“Heh, ada si resek deh,” kata Cinta lemas.
“Mau pergi kemana?”
“Ke rumah Nino, kak,” jawab Clara dengan sopan.
“Loh? Mau ngapain? Bukannya besok masih ujian ya? Kok udah main aja?”
“Ada hal penting yang mau gue tanyain ke Nino,” jawab Cinta.
“Oh, yaudah aku anterin ya,” tawar Ciko kepada Clara, “Emm gimana ya, kak?”
“udah ngga usah, biar naik motor gue aja,” jawab Cinta yang langsung membawa Clara pergi.
“Yaudah hati-hati ya,” teriak Ciko.
***
Awan telah duduk lemah di sebelah Ikhsan yang sedaritadi menunggunya di ruang tamu.
“Ngapa muka lu?” tanya Ikhsan bingung, “Perasaan tadi pas gue sama Clara ninggalin lo, ngga kayak gini deh muka lo. Ribut sama anak mana? Kenapa ngga bilang? Kan lo punya pasukan?”
“Ah bawel lo kayak cewek,” kata Awan gerah dengan kata-kata Ikhsan yang tiada hentinya.
“Jadi lo manggil gue karna lo mau nyiapin pasukan untuk membalas ini? Katanya selama ujian ngga mau tempur dulu?”
“Emang ngga, ini bukan karena tawuran tau,” jawab Awan.
“Terus?” tanya Ikhsan penuh harap.
“Gue berantem sama Coki tadi di taman sebelum pulang sekolah,” jawab Awan dengan nada lurus.
“Hah? Berantem? Serius lo? Bukannya tadi lo mau ke Nino?”
“Ngga kok, itu alasan gue aja. Coki ngga seindah yg dibayangkan Cinta.”
“Maksudnya? Ini bukan karena lo mau nembak dia kan?”
“Ngga kok, tadi gue denger pembicaraan dia sama Floren,” jawab Awan singkat.
“Floren? Teman kita waktu kelas 8?”
“Iya, dia naksir berat sama lo.”
“Hah? Yang benar?”
“Iya, dan karena dulu lo deket banget sama Cinta dan nyia-nyiain cintanya Floren, jadi sekarang dia balas dendam ke Cinta.”
“Lah, kok?” tanya Ikhsan yang masih heran dengan cerita Awan yang berbelit, “Yang jelas ngapa kalo cerita.”
“Oke, jadi tadi gue liat Coki sama Floren ngobrol berdua di taman. Mereka mempunyai rencana buat jahatin Cinta.”
“Karena apa mereka berbuat kayak gitu?” tanya Ikhsan.
“Pertama Floren pengen jatuhin nama baik lo, Clara, dan tentunya Cinta sendiri. Dua dia balas dendam karena dulu lo nyia-nyiain cintanya Floren dan dia iri melihat kedekatan lo sama Cinta.”
“Oh, aneh. Lanjut,” pinta Ikhsan yang masih mencoba mengerti arah pembicaraan mereka.
“Cara mereka jahatin Cinta lewat Coki.”
“Hah? Jadi selama ini Coki itu?”
“Ya, Coki hanya memancing Cinta untuk mengharap lebih ke Coki. Puncaknya nanti setelah ujian, Coki ngajak Cinta nonton untuk dipermalukan.”
“Dipermalukan gimana?”
“Sebelum mereka nonton, Coki akan memberikan minuman di parkiran.”
“Minuman apa?”
“Gue juga ngga tau apa, yang jelas minuman itu udah bercampur dengan obat tidur. Dan pikiran jelek gue, Coki mau memerkosa Cinta,” kata Awan dengan nada masih datar.
“Hah? Ngga bisa di diemin aja kalo udah gini.”
“Ya terus gue harus gimana?”
“Ya lo ikut mereka nonton.”
“Pasti Cinta ngga mau kalo gue ikut.”
“Percaya sama gue pasti Cinta mau ngajak lo.”
***
Sementara di rumah Nino, Cinta terlihat menahan emosinya untuk mendapatkan jawaban pasti.
“No, jujur, No. Lo tadi sama Awan ngapain pulang sekolah?” tanya Cinta dengan sabar.
“Sumpah, Ta. Gue tadi ngga ketemu sama Awan,” jawab Nino.
“Tapi tadi kata Awan dia ada urusan sama lo pulang sekolah,” sambung Clara.
“Tapi tadi gue langsung pulang, Ra,” jawab Nino lagi.
“No, Awan udah nyakitin Coki. Lo masih ngga mau kasih tau gue juga? Apasih yang lo sama Awan mau? Hah?” bentak Cinta
“Tapi sumpah, Ta. Gue ngga tau. Kalo gue tau gue juga udah kashi tau lo, Ta. Toh gue kan ngga pernah bohong sama lo,” kata Nino berusaha meyakinkan dan menatap Cinta dengan dalam.
Cinta hanya terduduk di bangkunya, diam, pandangan lurus, entah apa yang harus ia lakukan lagi. Cinta percaya sama Nino yang ngga pernah bohong kepadanya.
“Kalo lo ngga keberatan gue mau bantuin lo buat nanya ke Awan,” kata Nino di sebelah Cinta.
Cinta pun tersenyum lemas, “Ngga, ngga usah. Sorry ya udah maksa dan ganggu lo. Gue pamit ya.”
Clara hanya mengikuti Cinta yang sudah di ambang pintu terlebih dulu.
“Ta, ngga mau gue bantu?” tawar Nino sekali lagi.
“Iya, ngga usah makasih, gue bisa kok sendiri,” tolak Cinta dengan halus dan berlalu di balik pintu.
“Ta, kita mau kemana lagi?” tanya Clara sebelum akhirnya naik ke atas motor.
“Udah naik aja dulu,” jawab Cinta tanpa menoleh.
Clara hanya menurutinya dan naik ke atas motor Cinta.
***
Beep beep beep
Terdengar bunyi handphone Awan.
To: Awan
From: Nino
Tadi Cinta ke rumah gue, kayaknya dia mau ke rumah lo deh. Tadi sih di rumah gue nanyain tentang Coki gitu
“Hah?” teriak Awan dengan kaget.
“Kenapa?” tanya Ikhsan bingung.
“Nino sms gue katanya Cinta tadi abis dari rumah Nino dan katanya Cinta bakalan ke sini,” jawab Awan dengan panik.
“Ngapain dia ke rumah Nino?”
“Katanya Nino nanyain tentang Coki, dia tau darimana?” tanya Awan bingung.
“Yah siapa lagi kalo bukan si pengganggu,” jawab Ikhsan dengan ketus.
“Tapi gue mohon sama lo, jangan ngomong apa-apa dulu tentang rencana jahat Floren sama Coki,” pinta Awan.
“Kenapa?”
“Please! Gue mohon, biar gue yang tau gimana caranya Cinta selamat tanpa tau semua ini.”
“Yaudahlah, up to you.”
***
Tak lama kemudian, Cinta dan Clara telah sampai di depan rumah Awan.
“Ta, ngapain kita ke rumah Awan? Lo ngga mau nyari ribut kan?” tanya Clara was-was.
“Gue ngga akan pake emosi kok,” jawab Cinta yang langsung pergi memasuki rumah Awan.
Belum sempat Cinta mengetuk pintu rumah Awan, lagi-lagi Clara menghadangnya,
“Ta, jangan pake emosi loh.”
“Iya, cantik,” jawab Cinta yang langsung mengetuk pintu rumah Awan.
Tok tok tok
“Assalamu`alaikum,” kata Cinta.
“Wa`alikumsallam,” jawab Ikhsan yang langsung membukakan pintu.
“Loh? Ikhsan?” kata Cinta dan Clara hampir berbarengan, “Ngapain lo di sini?”
“Gue lagi main aja,” jawab Ikhsan dengan gugup.
“Main? Bohong banget lu, lagi ujian gini mana mau lu main?” tanya Cinta penuh selidik.
“Tau, hari biasa aja jarang banget lu mau ikut main,” sambung Clara.
“Ya sekalian belajar,” elak Ikhsan.
“Belajar apa curhat?” tanya Cinta meyakinkan.
“Ah elu, Cin, banyak nanya banget. Ngapain lo berdua ke sini?”
“Awannya mana?” tanya Cinta jutek.
“Lagi di kamarnya,” jawab Ikhsan.
“Ngga mau nyuruh kita masuk nih?” tanya Clara.
“Yaudah, suruh aja mereka masuk, San,” kata Awan dari dalam rumah.
Mendengar suara Awan, tanpa basa-basi Cinta langsung masuk ke dalam rumah Awan dan melontarkan semua isi hatinya.
“Lo ngapain sih,” belum selesai Cinta menyelesaikan kata-katanya, Cinta sangat terhentak melihat muka Awan yang memar, “Muka lu kenapa?”
“Biasalah cowok, ngapain lu ke rumah gue?” jawab Awan dingin.
Duh gue ngga tega marahin dia, tapi Coki, batin Cinta.
“Ta, lo jadi?” bisik Clara.
“Ngga tau,” balas Cinta.
“Ada apa lo ke sini?” tanya Awan lagi yang kali ini berdiri di depan Cinta.
“Emm, muka lo berantem sama siapa?” tanya Cinta dengan lembut.
“Sama Coki,” jawab Awan dengan tegas, “Dan pastinya Coki udah cerita banyak ya sama lo. Mau marahin gue? Silahkan.”
Duh, nih cowok bikin gue mati kutu, batin Cinta lagi.
“Ya ngga gitu juga, Wan. Ya kenapa sih lu beranem sama Coki? Apa salah Coki?” tanya Cinta yang sudah tidak bisa menahan nada tingginya.
“Salahnya dia deketin lo,” jawab Awan cepat tanpa menatap Cinta.
“Hah?” teriak Cinta, Ikhsan, dan Clara bersamaan.
“Frontal banget,” ceplos Clara dengan tatapan masih tidak percaya yang ditujukan kepada Awan.
“Gue suka cara lo,” sambung Ikhsan.
Cinta hanya bisa berdiri kaku mendengar itu semua.
“Gue ngga mau lo sama Coki,” kata Awan lagi yang akhirnya menatap Cinta tajam.
“Kenapa?” tanya Cinta. Sudah terasa air di bagian pelupuk mata Cinta.
“Coki itu busuk, Ta, busuk.”
“Tapi waktu lo sama Bunga, apa iya gue kayak gini? Gue ngga ngekang lo kan? Kita masih bersahabat kan? Tapi kenapa lo kayak gini sama gue? Hah? Kenapa?”
“Gue sayang sama lo dan gue pengen kita balik,” kata Awan penuh keyakinan.
“Tapi gue ngga, udah cukup yang kemarin. Itu udah cukup buat gue,” balas Cinta yang kali ini sudah meneteskan titik demi titik air matanya.
Selangkah Awan maju dan menghapus air mata Cinta, “Udah, Wan. Kita ngga bisa lagi.”
“Tapi gue yakin lo masih sayang sama gue, ya kan, Ta?” tanya Awan.
“Ngga, gue ngga pernah sayang sama lo, gue ngga pernah cinta sama lo,” jawab Cinta dengan segenap emosinya.
“Gue ngga percaya sama kata-kata lo yang itu.”
“Terserah deh apa kata lu,” sambung Cinta yang hanya bisa menunduk.
Gue ngga boleh nangis, batin Cinta.
Clara pun mendekatinya dan memberikan tisu kepada Cinta. Cinta yang menerima tanpa menoleh sedikit pun.
“Ta, kalo lo ngga kuat kita pulang yuk,” ajak Clara.
“Ngga, Cinta ngga boleh pulang dulu,” tahan Awan.
Apalgi sih, Wan, batin Cinta.
“Awan, cukup,” bentak Clara.
“Nanti dulu, Ra. Lo ngga ngerti,” jawab Awan dengan nada tinggi.
Ikhsan pun menahan Clara dan membawanya terpisah dari Cinta.
“Ta, liat gue,” pinta Awan.
Cinta masih diam terpaku.
“Ta,” panggil Awan sekali lagi.
Dan Cinta masih tidak memberikan respon apapun. Awan memutuskan untuk mengangkat wajah Cinta dengan lembut, “Gue ngga pernah niat buat nyakitin lo. Tapi please! Jangan Coki cowok itu, jangan.”
Dengan kasar Cinta melepaskan tangan Awan dari mukanya, “Mau lo tuh apasih? Gue capek ya, inget, Wan, inget. Lo sama gue udah putus, udah ngga ada lagi hak lo buat ngekang gue. Gue capek.”
Rasa sakit di hati Awan mendengar kata-kata Cinta, iya gue udah bukan siapa-siapa lo.
“Kalo lo bisa pacaran sama Bunga, kenapa gue ngga sama Coki?” sambung Cinta.
“Tapi Coki itu,” Awan berusaha menjelaskan tetapi Cinta memotongnya dengan kata-kata yang menusuk, “UDAH!! CUKUP, GUE NGGA MAU DENGER LAGI APAPUN TENTANG COKI DARI LO!! MUNA LO JADI COWOK”
Cinta pun bergegas pergi dari rumah Awan dengan air mata berderas kencang, kenapa, Wan, kenapa kayak gini?
***
Selasa, 26 April 2011
Hari kedua ujian nasional yang dilewati Cinta dan Awan dengan panas. Awan yang duduk di depan Cinta hanya bisa diam tidak berbuat apa-apa melihat Coki yang sedaritadi bersama Cinta.
“Cin, jadi maksud kamu soal ini make rumus deret aritmatika?”
“Iya,” jawab Cinta singkat dengan nada lurus.
“Oh, trus kalo nomer selanjutnya?” tanya Coki lagi.
“Oh, yang ini?” tanya Cinta memastikan.
“Iya, pake rumus apa?” tanya Coki dengan lembut.
“Ini rumus deret geometri,” jawab Cinta dengan senyum seadanya.
“Oke, makasih ya,” sambung Coki dengan senyum manisnya.
“Ya, sama-sama,” jawab Cinta yang kembali melamun.
“Kamu kenapa sih? Kok daritadi singkat banget jawab pertanyaan aku, kamu marah ya sama aku,” tanya Coki.
“Ngga kok,” jawab Cinta singkat.
“Kamu sakit?
“Ngga.”
Tak lama kemudian, datang dua orang pengawas. Seorang wanita dan seorang lagi pria. Pengawas pun menyuruh seluruh siswa untuk menaruh tasnya di depan kelas. Cinta mengikutinya dengan tidak penuh antusias. Dan sempat sekilas Awan menatapnya. Lama dan sangat dalam.
***
Rabu, 27 April 2011
Hari ketiga ujian nasional diselenggarakan. Dan lagi-lagi Cinta tidak antusias dalam melaksanakan. Selain karena hari itu pelajaran bahasa Inggris, karena Awan ingin bertemunya seusai ujian nasional dan tak dapat dibantahnya lagi. Ujian pun telah usai di hari itu, dan terlihat Awan menunggu Cinta di taman sekolah.
Apa dia ngga datang ya? Tanya Awan dalam hati.
Tak lama kemudian, datang lah Cinta dengan muka kusutnya. Cinta yang sudah berdiri di depan Awan hanya bisa diam, begitu pula sebaliknya Awan. Awan tak tahu harus memuali darimana semua ini. Yang ia mau, ia harus ikut saat Cinta dan Coki menonton esok hari.
“Ta,” buka Awan dengan gugup.
“Ya,” jawab Cinta singkat tanpa menoleh ke arah Awan.
“Lo masih marah sama gue?”
“Ya,” jawab Cinta dengan tenang.
“Gue minta maaf ya,” pinta Awan dengan tulus.
“Ya.”
“Bisa ngga, selain kata ya yang keluar dari mulut lo.”
“Ngga.”
“Oke aku maklumi,” sambung Awan yang berhasil mengangkat kepala Cinta hingga menatapnya, “Aku cuma mau ikut kamu nonton sama Coki, aku janji aku ngga akan buat apa-apa.”
“Awan, aku udah bilang berkali-kali. Kita udah selesai. Kamu ngerti ngga sih,” balas Cinta dengan emosi kembali membara.
“Oke, tapi kali ini aja,” pinta Awan tak menyerah, “Aku cuma ngga mau kamu menyesal,” sambung Awan dengan lembut yang berhasil membuat Cinta susah menolaknya.
“Awan, kamu mau kan kita masih terus bersahabat? Kamu mau aku musuhin?”
“Tapi please, sekali aja,” pinta Awan pantang menyerah.
“Ada apa nih?” tanya Coki yang tiba-tiba datang tanpa diduga.
“Eh, kamu,” kata Cinta kaget.
“Ngapain lo di sini” tanya Awan dengan sinis.
“Tenang dong, Bro. Gue kan cuma nanya, ada apa nih?”
“Lo tuh ya, ngga jera sama pukulan gue kemarin?” tanya Awan yang kali ini sudah menarik kerah baju Coki.
“Awan, udah. Ngga lagi,” pinta Cinta yang memegang tangan Awan, “ Please, aku mohon.”
Coki langsung menarik Cinta ke dalam dekapannya, “Kita jadi nonton kan?”
“Iya,” jawab Cinta yang merasa risih dengan perlakuan Coki.
Awan yang sudah bisa membaca raut muka Cinta langsung meminta kepada Coki dengan kasar, “Bisa ngga lo lepasin dia sekarang atau lo mau,” belum selesai Awan berbicara Ikhsan dan Clara tiba-tiba datang.
“Wan, lo ngga mau kan nyesel lagi,” ucap Ikhsan.
“Yaudah yuk Cinta kita pergi,” ajak Coki yang menggandeng Cinta
“Ta,” panggil Clara.
Cinta hanya bisa memberikan tatapan lurus kepada Ikhsan dan Clara karena Cinta tahu, ia sudah tidak pantas menatap Awan. Coki pun membawa Cinta pergi
***
Di parkiran sekolah, Cinta langsung mengeluarkan semua benci hatinya.
“Lo ngapain sih, Cok,” bentak Cinta.
“Lo lupa perjanjian kita?” tanya Coki.
“Tapi ngga kayak gini caranya,” balas Cinta.
“Lo ikutin kata-kata gue dan gue akan buat lo semua selamat dari Floren,” bentak Coki memegang tangan Cinta dengan kasar.
“Iya-iya, awas ya lo sampai sahabat-sahabat gue terutama Awan yang jadi tumbalnya, ngga akan gue maafin lo.”
Coki pun menarik Cinta untuk pulang bersamanya.
***
Kamis, 28 April 2011
Hari terakhir ujian nasional pun tiba. Saat terakhir mereka mengikuti ujian nasional dilalui anak-anak kebanyakan dengan sangat antusias. Banyak terdengar rencana-rencana mereka sesudah pulang dari sekolah. Ada sebagian dari mereka yang jalan, makan, main ke rumah teman, dan ada yang hanya di rumah menghabiskannya dengan tidur sepanjang masa. Tetapi tidak untuk Cinta, sepulang sekolah nanti ia harus menjawab pertanyaan Awan apakah Awan boleh ikut nonton. Coki, Cinta, dan Awan janjian untuk bertemu di taman seusai ujian nasional.
Terlihat Cinta sudah selesai mengerjakan ujian terakhrir dan duduk termenung di depan kelas.
“kamu kenapa?” tanya Coki yang setengah duduk di depan Cinta.
“Jangan sok baik deh. Nyesel gue pernah kenal sama lo,” jawab Cinta dengan kasar.
“Kamu lupa sama janji kamu? Perlu aku ingetin?” tanya Coki yang mengeluarkan handphone-nya dan menyetel suatu rekaman percakapan antara Cinta dan Coki.
Coki: ya, memang saya yang menghajar Awan dan Awan hanya membalas seperlunya.
Cinta: kenapa, Cok? Kenapa kamu lakuin itu?
Coki: simple aja, aku mau lindungi kamu dari Floren. Dia mau nyelakakan kamu di saat kita nonton nanti.
Cinta: Floren? Ngga mungkin, kebohongan apa lagi yang udah kamu buat.
Coki: aku ngga bisa kasih tahu kamu kenapa Floen bisa kayak gini, yang harus kamu tahu aku akan melindungi kamu dan kamu harus balas budi sama aku.
Cinta: jangan harap aku mau balas budi sama kamu MANUSIA LICIK!!
Coki: (menarik tangan Cinta dengan paksa) kamu mau Clara, Ikhsan terutama Awan jadi tumbalnya Floren? Kamu mau mereka semua malu karena perbuatan kamu?
Cinta: maksud kamu?
Coki: percaya sama aku atau kegadisan kamu hilang.
Cinta: COKI!!!!!
Coki pun mematikan rekaman tersebut, “Jadi gimana, sayang?”
Cinta menatap Coki penuh kebencian, “Lihat aja, Cok. Gue akan balas semua perbuatan lo.”
“Yaudah yuk, Cinta, kita ke taman. Ngga mau kan bikin pangeran kamu menunggu,” ajak Coki dengan paksa menarik tangan Cinta.
Tak jauh dari sana ternyata Ikhsan telah memerhatikan mereka dengan seksama.
Gila ya itu bocah, udah ngancurin dua sahabat gue, batin Ikhsan.
***
Di taman, terlihat Awan menunggu kehadiran Cinta dan Coki dengan was-was. Cinta yang sudah datang bersama Coki sempat menatap Awan dengan penuh harap.
Gue mohon lo ngerti, batin Cinta.
Gue mohon gue bisa ikut lo, batin Awan.
“Nah Cinta, jadi apa kamu mau ajak Awan?” tanya Coki yang masih merangkul Cinta dengan kasar.
Cinta hanya menatap Awan.
“Ta?” panggil Awan penuh harap.
“Maaf,” jawab Cinta singkat.
“Hahaha, dia itu udah jadian sama gue,” sambung Coki lagi yang membuat Cinta bingung.
“Hah? Ta? Gue yakin itu ngga bener?” tanya Awan.
Gue harus jawab apa?, batin Cinta.
“Ta, jawab,” pinta Awan dengan halus.
“Ya,” jawab Cinta tanpa menoleh ke arah Awan.
“Ya, itu semua ngga benar kan, Ta? Kamu ngga jadian kan sama dia?” Awan masih terus memaksa Cinta untuk jujur.
Bisa ngga kamu ngga usah tekan aku, batin Cinta.
Untuk kesekian detik air mata Cinta kembali jatuh.
“Cinta sayang, jawab dong pertanyaan mantan kamu,” kata Coki menggoda.
“DIAM LO!!” teriak Awan yang mendorong Coki hingga terjatuh, “Apa yang udah lo lakuin sama dia? Hah?”
“Hey, sabar dong. Ngga usah pake emosi gitu kali,” pancing Coki yang sudah tegap berdiri di depan Awan.
Dengan cepat, Awan menghajar Coki.
“AWAN!!” teriak Cinta.
Awan dan Coki segera menoleh ke arah Cinta yang sedang menangis. Awan menghampiri Cinta dan memeluknya dengan hangat. Melihat itu, Coki menarik Awan dan mendorongnya lalu memukulnya dengan pukulan kasar.
“Coki,” panggil Cinta dengan lembut.
Coki pun menghampiri Cinta, “Ada apa sayang.”
“JANGAN SENTUH DIA!” teriak Awan yang langsung menghajar Coki tiada henti.
“Awan cukup,” pinta Cinta yang memeluk Awan dari belakang, “Cukup aku mohon.”
Awan hanya bisa terdiam.
Sengatan yang kamu beri begitu dalam, batin Awan.
Coki langsung menarik Cinta pergi dan berkata, “Kita harus pergi nonton.”
Gawat, batin Awan.
“Ta,” panggil Awan yang langsung di tahan oleh Ikhsan, “Biarin aja mereka pergi, kalo Cinta sayang sama lo pasti dia minta lo ikut.”
Atau ngga pasti dia natap lo sebelum pergi, batin Ikhsan.
Cinta mendengar itu langsung menoleh ke belakang tak mengerti kata-kata Ikhsan.
Apa maksud kamu, San, batin Cinta.
Melihat Coki dan Cinta sudah tak tampak, Awan langsung menonjok Ikhsan, “Apa maksud lo?”
“Tenang, boy. Cinta hanya sayang sama lo,” jawab Ikhsan dengan tenang.
“Tau darimana lo?” tanya Awan yang masih menghajar Ikhsan.
“Udah diem aja, sekarang ikut gue ke parkiran. Clara bawa mobil dan kita ikuti mereka,” ajak Ikhsan.
***
Ikhsan, Clara, dan Awan telah sampai terlebih dahulu sebelum Cinta dan Coki di parkiran bioskop.
“Jelasin ke gue dulu deh, ngga ngerti gue,” pinta Awan di dalam mobil.
“Apa yang lo bilang benar. Floren sama Coki kerja sama,” jawab Ikhsan.
“Terus?”
“Dan tadi Ikhsan ngikutin Coki sebelum dia nemuin lo sama Cinta,” sambung Clara.
“Hasilnya?”
“Jadi Coki kayak gitu supaya hutang bokapnya lunas. Demi keluarganya, sebenarnya Coki juga sayang sama Cinta sama halnya kayak lo,” jelas Ikhsan, “Dan tadi gue sempet denger cara mereka nyakitin Cinta.”
“Gimana? Biar gue tau harus berbuat apa,” pinta Awan.
“Jadi, lo liat ngga cowok yang di sana?” tanya Ikhsan menunjuk ke arah beberapa cowok.
“Mereka yang akan memperkosa Cinta sesuai denga apa yang lo duga.”
“Terus gue harus gimana?” tanya Awan bingung.
“Gue juga ngga tau, bingung,” jawab Ikhsan polos.
“Yah lu mah ah,” kata Awan putus asa, “Malah orangnya gede-gede lagi.”
“Kalo kata gue ikuti kata hati lo,” sambung Clara dengan lembut, “Cewek biasanya selalu iktutin kata hatinya dan berhasil, apa salahnya lo ikutin kata hati?”
“Gue coba,” jawab Awan yakin.
“Itu mereka,” kata Ikhsan.
“Oke gue keluar ya,” kata Awan.
“Lo harus ngumpet,” usul Clara.
“Sip.”
“Jangan sampe ketawan,” kata Clara khawatir.
“Kita harus hubungi polisi, kasian Awan kalo sendirian. Lo juga ngga bisa apa-apa.”
“Iya deh iya,” jawab Ikhsan polos.
***
Mobil Coki pun berhenti.
“Kok kita di sini? Ngga di sana aja?” tanya Cinta yang menunjuk ke arah Timur mereka.
“Aku maunya di tempat yang sepi,” pancing Coki.
“Jangan kurang ngajar lo. Gue bisa teriak,” kata Cinta dengan marah dan berusaha membuka mobil secara diam-diam.
“Tenang aja lah Cinta, nih minum dulu,” kata Coki mendorong segelas jus di depan muka Cinta.
Yeah udah kebuka, batin Cinta.
“Ngga, ngga usah makasih,” kata Cinta yang langsung pergi setelah pintu sudah terbuka.
“Cinta mau kemana? Shiittt!!! Dia kabur,” kata Coki.
Gue harus kemana?, batin Cinta dalam bingung.
Tiba-tiba tubuh Cinta tertarik oleh seseorang, “Shuutt, diam.”
“Awan?” panggil Cinta kaget tapi setengah bahagia.
“Kamu ngga apa-apa?” tanya Awan penuh lembut.
“Kamu?” Cinta tak bisa meneruskan kata-katanya.
“Ya, aku bilang aku sayang. Ini yang akan aku lakuin,” kata Awan menatap Cinta tajam.
“Maaf,” ucap Cinta lirih.
“Sekarang kamu keluar ya,” pinta Awan lembut.
“Tapi.”
“Shhutt!!! Aku ada di sini, kamu percaya kan?”
Cinta pun mengangguk dan keluar dari tempat persembunyiannya.
“Cinta sayang, dimana kamu?” panggil Coki.
“Aku di sini,” jawab Cinta dengan lemas.
“Kamu ngga bisa kemana-mana. Liat orang di sana,” sambung Coki yang menarik Cinta dengan kasar hingga dalam dekapannya.
“Mereka?”
“Ya, mereka teman-teman aku, jadi kalo kamu macam-macam, kamu tahu kan akibatnya?”
Awan pulang sekarang, batin Cinta.
“Kamu bilang mau lindungi aku,” pinta Cinta.
“Hahahahaha, percaya sama aku ngga ada gunanya. Sekarang minum,” paksa Coki.
“NGGA!!!”
“MINUM!!!”
Plok plok plok!!!
Awan langsung menghajar Coki dan membawa Cinta pergi.
“Awan kamu pulang sekarang,” pinta Cinta dengan takut.
“Kenapa?” tanya Awan bingung.
“Please, aku mohon. Sebelum semuanya.”
“Terlambat,” sambung Coki dengan beberapa temannya, “Yah TERLAMBAT!!!”
Cinta hanya menangis dalam dekapan Awan.
“Gue ngga pernah takut sama lo!!” bentak Awan.
“Oke, tapi sama teman-teman gue?” pancing.
“Awan pulang,” rengek Cinta dalam tangis.
“Aku ngga akan pulang,” jawab Awan dengan yakin.
“Biarin aja Cinta, dia belum rasain rumah sakit.”
“Oke kalo itu mau lo.”
“Lo lawan teman gue,” tawar Coki.
“Oke,” jawab Awan yang melepas rangkulannya terhadap Cinta.
“Awan, jangan,” cegah Cinta.
“Kamu tenang aja, aku ngga apa-apa kok,” kata Awan meyakinkan dan mengecup lembut kening Cinta.
“Jangan buat aku takut!!”
“Cepet lama banget deh,” pancing Coki.
“Oke gue terima,” kata Awan yang menghampiri Coki dan teman-temannya.
Kata hati, Wan kata hati, batin Awan.
Clara dan Ikhsah menghampiri Cinta yang duduk menangis.
“Ta,” panggil Clara yang langsung memeluk Cinta.
“Lo ngga apa-apa?” tanya Ikhsan.
“AWAN BODOH!!!” teriak Cinta.
Sekilas Awan menoleh ke arah Cinta. Kamu yang udah nguatin aku, batin Awan.
Prok prok prok
Terdengar pukulan keras dan terlihat Awan jatuh tersungkur.
“AWAN!!!” teriak Cinta.
Berkali-kali Coki dan teman-temannnya memukuli Awan yang tidak membalas.
“Kenapa?” tanya Cinta.
Ini demi lo, jawab Awan dalam hati.
“Kenapa gue ngga bisa benci sama lo?” teriak Cinta.
Cinta sekilas melihat salah satu teman Coki yang mengeluarkan pisau.
Hah? Ngga mungkin. Gue harus gimana?, batin Cinta.
“Bos, uda siap nih,” kata salah satu teman Coki.
“Oke, laksanakan,” perintah Coki.
Gue ngga bisa diem aja, batin Cinta yang lari mengejar Awan.
“TA, TA, CINTA!!” panggil Clara dan Ikhsan.
“Lo akan mati dan menutupi semuanya,” teriak Coki yang langsung menyodorkan pisau ke arah Awan.
“AWAN!!!!!” teriak Cinta dan langsung memeluk Awan kuat.
“CINTA!!!!” teriak Clara dan Ikhsan.
Diam sesaat, hening yang dirasa.
“Kamu? Kamu masih hidup?” tanya Awan bingung melihat Cinta yang masih sehat dalam dekapannya.
“Aku? Aku ngga tahu,” jawab Cinta takut.
“Ta, Coki,” teriak Clara.
Cinta langsung menoleh ke arah Coki yang terbaring kaku dengan pisau di atas badannya.
“COKI!!” teriak Cinta yang langsung menghampir Coki dan tibalah polisi yang menangkap beberapa preman.
“Coki,” panggil Cinta.
Sesaat Coki tersadar, “Gue lakuin apa yang gue bilang kan? Gue ngelindungi lo, sahabat lo, dan juga Awan.”
“Kenapa harus kayak gini?”
“Haha, emang harus kayak gini. Biar Floren bahagia,” jawab Coki dengan terbata-terbata.
“Gue sayang sama lo,” kata Cinta yang sudah dirangkul lemas oleh Awan.
“Gue juga sayang sama lo, tapi Awan,” kata Coki yang mengambil tangan Awan dan tangan Cinta untuk dipersatukan.
Cinta dan Awan hanya bisa diam dan saling pandang.
“Gue emang sayang sama lo, tapi ada Awan yang melebihi rasa sayang gue bahkan cinta gue,” kata Coki dengan terbata-bata, “Ohok ohok.”
“Kamu kenapa?” tanya Cinta panik.
“Ngga kenapa-kenapa kok, cuma batuk,” jawab Coki dengan senyum.
“Mba, maaf temannya harus di bawa ke rumah sakit sekarang karena sudah terlalu banyak mengeluarkan darah,” kata bapak dari kepolisian.
Cinta hanya bisa menyingkir dalam dekapan Awan.
“Nanti dulu, pak,” pinta Coki, “Wan, janji ya jagain Cinta.”
“Coki,” panggil Cinta.
“Tanpa lo suruh, akan gue lakuin itu,” jawab Awan yakin.
“Ta, Awan tulus sama lo. Lo harus selalu sama Awan,” pinta Coki.
“Cok,” panggil Cinta lirih.
“Pak, bisa bawa saya sekarang,” pinta Coki dan pihak kepolisian mulai membawa Coki.
Cinta, Awan, Clara, dan Ikhsan hanya bisa diam terpaku melihat kepergian Coki.
“Tenang aja, kamu masih ada aku kok. Aku ngga mau ngelepasin kamu lagi,” kata Awan yang langsung memeluk Cinta.
***
Keesokan harinya, hari dimana Coki akan di kebumikan. Terlihat banyak teman Coki yang hadir dalam pemakaman tersebut. Dan pemakaman Coki berlangsung dengan menyedihkan dan tiba-tiba.
Cinta, Awan, Clara, dan Ikhsan tampak pada barisan pertama dalam pemakaman.
“Yang sabar ya, Ta,” kata Clara berusaha menenagkan Cinta.
“Ra, biar gue aja,” pinta Awan.
“Ya,” jawab Clara yang langsung pergi menuju Ikhsan.
“Ta,” panggil Awan.
“Kenapa, Wan? Kenapa?” tanya Cinta.
“Iya aku ngerti, yang sabar ya. Aku akan terus di sampin kamu menggantikan Coki,” kata Coki yang langsung memeluk Cinta dengan erat.
No Tittle
“Malem-malem pulang sendiri, malah kebetulan lagi ngga bawa motor. Tau ajanih ya tuh senior di saat gue males bawa motor, dia nyuruh rapat ngga penting kaya tadi,” gerutu Nola-siswi SMA Purna Bakhti Sosial-ketika ia hendak pulang seusai rapat dadakan osis.
Tikungan perumahan Nola sudah tampak terlihat dari dalam Bus umum, dengan sigap Nola bangkit dari kursi dan bergegas untuk turun. Dan tampa sengaja Nola menyenggol Lala-yg ternyata siswi SMA Purna Bakhti Sosial-di depan pintu hingga Lala terjatuh keluar.
“Astagfirullah,” Nola langsung membantu Lala untuk bangkit.
“Maaf ya maaf.”
“Lala, kamu ngga apa-apa?” tanya seseorang yang langsung berdiri tepat di sebelah Lala dengan masih menggunakan helm-nya.
“Mampus gue, cowonya dateng lagi,” pikir Nola ketika melihat kedatangan pria itu dengan tiba-tiba.
“Iya aku ngga apa-apa kok,” jawab Lala dengan senyum sangat lebar.
“Makanya kamu tuh bandel sih, aku suruh tunggu aku selesai tanding ngga mau. Jadi harus pulang sendiri kan.”
“Ya ampun kak, itu namanya nyusahin. Udah aku ngga apa-apa.”
Kak? Berarti cowo ini senior dia dong? Jadi inget kak Jemy, pikir Nola di dalam hati.
Ini cowo baik banget sih. Padahal cewenya nolak terus tapi ini cowo malah maksa makein jaket, dulu waktu gue sama kak Jemy. Ahhh udah, gue udah move on juga, pikir Nola sekali lagi dalam hatinya.
“Oh iya, maaf ya tadi saya yang....,” Astagfirulloh kak Jemy , pikir Nola yang belum sempat melanjutkan ucapannya..
Tatapan mata mereka bertemu seketika, ada sesuatu hal ganjil yang di rasa Nola. Mengapa di saat dirinya mengingat orang itu, orang itu hadir-dengan wanita lain -.
“Iya ngga apa-apa kok, anak Purna juga ya?”
“Hah? Nggg Iya”
“Kelas berapa?”
“Kelas 10, kamu?”
“Dia kelas 10 juga,” kali ini yang menjawab Jemy.
“Oh, sekali lagi maaf ya. Tadi tuh bener-bener lagi buru-buru jadi...”
“Ya tapi meskipun buru-buru bisa lihat sekeliling kali. Lo tuh bisa membahayakan nyawa dia,” potong Jemy.
“Kak, udah lah emang kayanya dia juga buru-buru. Dia ngga salah kok.”
“Ya tapi kan....”
Nola tidak mendengar lagi apa yang di bicarakan Lala dengan Jemy. Tiba-tiba saja terbesit kenangan masa lalu.
***
“Nol, tunggu, Nol!!!”
Seuntas tangan berhasil menahan Nola.
“Nol, gue anter pulang yaaa.”
“Apaan sih lu kak?”
“Nol, dengerin gue dulu.”
“Lo yang minta gue ngelupain lo, yaudah akan gue lakuin sekarang.”
“Gue ngga mau nantinya kita kayak musuh.”
“Lo tau kak, ngga mungkin gue ngelupain lo tanpa ada rasa benci.”
“Ya tapi gue ngga mau.”
“Ya udahlah kak, jalanin masing-masing aja dulu. Lo minta gue lupain lo, FINE !!!!”
Dengan kasar Nola melepaskan tanggannya dari Jemy.
***
“Heyy??” panggil Lala.
“Eh iyaa,” Nola tersadar dari lamunannya.
“Kamu kenapa?”
“Ngga apa-apa, duluan yaaa.”
Tanpa pikir panjang Nola segera mengambil langkah seribu.
***
“Udah yuk kita pulang, udah malem,” ajak Jemy.
“Kok kayak pernah lihat cewe itu ya di rumah kamu?”
“Hah? Rumah aku? Becanda kamu, de”
“Serius, kak. Tapi bukan adik kaka kan?”
Jemy diam sesaat, bingung apa yang akan ia jawab.
“Kak?”
“Bukan siapa-siapa kok, udah nih pake helm-nya. Udah malem.”
Maaf harus bohongin kamu, La, batin Jemy.
***
“Shitt!!! Damn!!! Kenapa harus ketemu coba? Cowok ngga pengertian, cuma bisa bikin janji manis, cowo centil, emang lo tuh playboy, kak. Sama gue aja ngga pernah ngomong aku-kamu, borolah lu aja keseringan ngga peduli sama gue. Emang dasar lu, KACUNG!!”
Nola masih terus berkumandang tidak jelas dalam heningnya malam sampai ia kembali ke rumah. Nola baru saja akan tidur sampai akhirnya ia mendengar handphone-nya berbunyi, pertanda sms masuk.
From: 085697707947
Meskipun aku bukan siapa-siapa, bukan yang sempurna. Namun percayalah hati ku untuk mu. Meski sering ku mengecewakan mu maafkan lah aku janji ku kan setia padamu, hanyalah dirimu
“Hah? Siapa nih? Malem-malem gini? Kurang kerjaan amat, bodo ah gue tinggal tidur.”
***
Di sisi lain, terhat Jemy tengah duduk bersandar di lantai dan memainkan gitarnya. Satu petik, dua petik, terdengar tidak nyaman di dengar. Satu petik, dua petik selanjutnya Jemy gelisah dan sesekali melihat handphone-nya.
“Apa udah tidur kali yaa? Ngga deh, baru jam 9, dia biasa tidur jam 12 ke atas. Gue tunggu deh.”
Satu menit, lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit tidak tampak balasan.
“Ngga mungkin besok gue ajak ketemuan di sekolah. Apa gue telpon aja deh”
***
But hold you breath because to night
Will be the night they are will fall for u
Over again don`t make me change may mine
I wont live to see another than i swear its true
Because a girl like yo`re imposibble to fine
Yo`re imposibble to fine
Handphone Nola berbunyi di tengah malam yang sangat melelahkan baik secara fisik maupun batin buat Nola. Dengan malas Nola bangkit menuju meja belajarnya dan mengambil handphone berwarna ungu, warna kesukaan Nola.
“Haduh siapa sih? Ngga punya otak banget nelpon jam segini. Ngga tau apa besok gue mau ada ujian sama presentasi, cot banget nih ah”
Nola duduk di atas kursi uniknya yg berbentuk bola yang tentu saja berwarna ungu. Ya tentu saja mencari kursi tersebut amatlah susah dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tetapi buat mamanya, Nola itu kepentingan utama di bandingkan kakak laki-laki Nola yang lainnya.
“Hallo”
Hening.. Diam..
Tak ada jawaban dari siapa pun di ujung sana. Nola pun mengulang perkataannya.
“Hallo?”
Tetapi nihil. Tetap saja tak ada jawaban dari ujung sana. Nola menghadap jam dindingnya yang bergambar band ungu dan berwarna putih dengan corak khas anak band itu sangat kaget mengetahui jam berapa.
“What? Jam 3?”
“Iya”
Heh? Suara cowok? Nelpon gue?
Nola melihat sebentar nomer yang menelponnya dan ternyata nomer tidak dikenali.
“Maaf ini siapa yaa?”
“Senior kamu”
“Hah? Senior? Siapa? Ada perlu apa, kak? Emang harus malem-malem kayak gini ya?”
“Besok sepulang sekolah temui saya di depan lab.ips”
“Hah? Tapi ini sia....”
Tut.. tut..
“Hanjrit telponnya dimatiin. Siapa sih? Besok? Depan lab.ips? berarti dia anak ips dong? Bentar anak ips yang gue kenal cuma kak Richard. Atau jangan-jangan...”
Nola ingat kalau Richard meminta izin kepada Nola untuk memberitahu nomernya kepada temannya tetapi ditolak oleh Nola. Nola tidak mau ada yang tahu nomer Nola. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui nomernya. Ya orang terpilih.
Nola segera mencari nomer Richard dan segera menelponnya. Nola tidak percaya kalau Richard bisa selancang itu
“Halll..”
“Heh kak, ngapa sih lu ingkarin janji kita. Udah gue bilang jangan kasih tau nomer gue ke teman-teman lo, ngapa masih ngeyel sih”
“Hah? Apasih? Ini siapa? Tiba-tiba ngomel ke gue, lancang banget lo ganggu tidur gue. Jam berapa nih? Punya otak kaga lo? Cewek lagi ngga tau sopan santun”
“Heh ih kak Richard ini Nola”
“Oh elu de, ngapa sih nelpon langsung nyerocos ngga jelas. Udah malem nih bisa besok kan? Ngga tau waktu banget sih lu gangguin guenya”
“Ih gue juga ke ganggu sama temen lo yang super gajelas itu”
“Hah? Temen gue? Siapa dah? Ngapain bocah?”
“Ngga tau siapa, ngapain sih lu ngasih nomer gue ke dia. Hah? Udah gue bilang ngga usah ngasih nomer gue ke siapa-siapa, paham ngga sih?”
“Bentar. Temen gue? Ngasih nomer lo? Gue ngga pernah nyebarin nomer lo lagi de, kan lo ngga ngizinin gue kalau pun di izinin juga gue ngga akan nyebar nomer lo, gue udah pernah bilang dan pernah janji bukan?”
“Ya tapi ini buktinya? Muna banget sih jadi cowok”
“Ih lu jelasin yang bener napa, sumpah gue bingung banget de”
“Jadi barusan jam 3 ada cowok yang nelpon gue. Nomer tak dikenal oleh handphone gue dan besok ngajakin ketemuan di lab.ips dan senior yang gue kenal anak ips cuma elo kak. Bisa kan jagain nomer gue baik-baik? Ngga usah muna deh gue tuh udah percaya banget sama lo”
“Heh gue ngga suka yaa lo fitnah kayak gini, tengah malem nih nyari irbut banget deh ah. Lo tuh kenal gue berapa lama? Lo yakin gue bakal ngingkarin janji gue ke elo? Selama ini kan yang ingkar janji lo bukan gue dan gue selalu sabar. Apa iya gue pernah ngejerumusin elo? Gue pernah nyakitin lo? Gue pernah bohong ke elo? Hah?”
Nola diam sejenak-berfikir- selama ini memang Richard yang selalu melindunginya dari apapun. Richard tidak pernah membohonginya mengenai apapun, entah hal negative maupun positive, tapi siapa lagi anak ips yang ia kenal?
“Hallo? De? Nola? Lu teh ngapa jadi diem sih? Gue matiin nih gue ngatuk tau besok ada ujian matematika, lu ngga tau seberapa besar susahnya materi itu”
“Hmmm trus ini siapa kak? Besok ngajakin gue ketemuan, anak ips berarti anak Purna juga dan dia bilang senior gue. Gue selalu jaga nomer gue baik-baik lo pun tau”
“Anak ips? Yang tau nomer lo kan ada gue, Kak Mirna, Kak Sebastian, Kak Michael, Kak Fatur”
“Tapi mereka semua anak OSIS ya pantes lah mereka tau nomer gue kak”
“Sama Jemy, lo lupa hubungan lo sama Jemy?”
“Hah? Jemy? Dia kan minta gue lupain dia dan hapus nomer dia dari handphone gue, dan dia pun melakukan hal yang sama. Lagian nomer gue ganti kak”
“Bodo lah besok gue jemput lu dah udah malem gue ngantuk adeku capek banget gue abis tanding”
“Ih trus besok gue nemuin ini orang ngga?”
“Gue bilang kita bahas ini besok, besok gue jemput lo di rumah seperti biasa”
“Yaudah deh”
“Jangan nangis gitu napa, ngga tega guenya jadi nyudahin telponnya”
“Ngga apa-apa kok kak. Yaudah sorry ya ganggu lu dan sorry udah nyangka lu yang ngga-ngga”
“Iya ngga apa-apa selow ama guemah. Inget kata-kata gue, kita harus saling terbuka. Gue mau punya ade cewek dan gue harapin banget dari lo itu, gue sayang sama ade cewek gue”
“Iya kak gue ngerti. Gue juga ngga mau ada kebohongan dalam suatu hubungan. Maaf ganggu malem-malem, good night kak”
“Night too ade gue yang paling bawel hahaha”
***
“Dimana sih kak? Lama amat deh ah tau gini gue naik angkot aja”
Omel Nola pada Ricahrd karna sudah jam 7 kurang 15 Richard belum juga sampai rumahnya.
“Maaf maaf gue bangun kesiangan gara-gara lu telpon gue semalem lagian sih lu nelpon gue”
“Yaudah gue tinggal aja yaa”
“Ih jangan udah jam berapa nih? Angkot lama de, lu mau telat sampe sekolah?”
“Ya lu sampe rumah gue jam berapa? Sama sama telat kan kalo nungguin lu juga”
“Ini gue abis tambel ban di depan perumahan lu. Bareng guemah bakalan lolos selow aja napa”
“Hah? Depan perumahan? Kenapa ngga lu suruh aja gue ke depan perumah biar cepet ih tablo banget. Yaudah gue ke sana”
“Ngga usah ngga sopan ama nyokap lu. Udah ya gue tutup telponnya gue otw ke rumah lu nih”
“Tapi kak....”
Telpon pun langsung diputua oleh Richard.
“Ih ngeselin amat sih”
“Kamu belum jalan juga? Jam berapa nih, No?”
Tanya bunda yang masih melihat Nola duduk d sofa ruang tamu.
“Ini nungguin Kak Richard, Bun”
“Daritadi nungguin Richard terus. Emangnya dia beneran mau jemput kamu apa? Jangan-jangan ngga jadi terus sampe sekolah duluan loh, udah bawa motor sana”
“Ngga kok, Bun, tadi katanya udah di depan perumahan lagi mau ke sini”
“Lah? Ngapain di depan perumah lapor sama kamu?”
“Tadi bannya bocor harus ditambal”
Dan tak lama kemudian terdengar deru suara motor Richard di depan rumah Nola.
“Tuh, Bun, anaknya baru sampe”
“Assalamu`alaikum”
“Wa`alaikumsallam”
“Eh, Bunda, hehe maaf ya, Bun, baru sampe hehe tadi ada trouble”
“Kamu ini yaudah sana berangkat sudah jam berapa ini?”
“Selow aja, Bun, sama Richard mah ngga bakalan bisa telat”
“Yaiyalah lu bawanya kayak orang kesetanan hahahaha”
Sela kak Tomy-kakak kedua Nola yang masih duduk dibangku kuliah- yang tiba-tiba saja datang dan menyela pembicaraan mereka.
“Wes masbroh tau aja hahahaha”
“Etdah yaak dua orang ini. Udah yuk kak berangkat jam berapa nih”
“Sip, Bun, Richard berangkat dulu yaa. Assalamu`alaikum”
“Nola juga, Bun. Assalamu`alaikum”
“Wa`alaikumsallam”
“Chard, hati-hati itu ade gue loh”
“Siap, Bang, selow sama gue”
***
Selama dalam perjalanan, Nola hanya memegang tas Rchard erat-erat sambil menaruh kepalanya di atas pundak Richard karna takut dengan kelakuan Richard di atas motor yang sangat bebas tersebut.
“Tenang, Nol. Kayak baru sekali di boncengin gue aja. Lagian ini juga kecepatan 80 km/jam kok ngga kayak biasanya kan bawa elu guenya jadi bawanya harus pelan ngga boleh ngebut”
Hah? Pelan? Ngga boleh ngebut? Apaan? Gue aja bawa normal Cuma 40 km/jam kalo lagi kepepet aja 60 km/jam, dumel Nola dalam hati.
“Anteng banget sih lu di pundak gue, tidur lu yaa? Nol? Nol? Nolaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!”
“Apasih ribut amat”
“Lagian elu diem mulu gue ajak ngobrol”
“Udah lu fokus aja ngapa ama motor lu ini. 80 km/jam nih ngga usah sok jagoan jalanan kalo sama gue”
“Hahahahaha kebanyakan protes deh ade kecil ini....”
Richard pun mengacak-acak rambut Nola yang memang sudah berantakan karna angin yang sangat kencang.
“Etdah pake megang-megang rambut lagi. Udah napa cepet sampe sekolah napa”
“Hahaha tuh depan udah sekolah”
Nola menangangkat kepalanya dan menoleh ke arah kiri yang ternyata benar sekolahnya.
***
“Gue ngga usah ikut lu ke parkiran, kak”
“Loh? Ngapa?”
“Udah telat nih jam berapa”
“Heh lu OSIS mending ikut sama gue”
“Maksud?”
“Udah ikut aja”
Richard pun segera membawa motornya kencang hingga Nola tidak berani nekat untuk turun dari motor tersebut. Rasa kesal di hati Nola karena terkadang Richard selalu seenaknya saja bersikap seperti ini kepadanya.
***
Nola pun bergegas turun dari motor Richard dan hendak pergi ketika tangannya di tahan oleh Richard.
“Bentar napa, de. Buru-buru amat”
“Ih jam berapa ih? 2 menit lagi guru gue masuk”
“Yang penting ngga telat kan? Lagian lu kan mau cerita sama gue tentang yang semalem”
“Gue mau masuk kelas”
“Tapi mereka ngga masuk kelas tuh”
Tunjuk Richard kepada beberapa anak OSIS yang sedang berkumpul di DPR sekolah. Nola berfikir sesaat apa benar mereka anak OSIS atau mereka sekumpulan siswa yang memang sengaja tidak mau masuk kelas alias cabut dan apabila ketawan mereka mengatas namakan OSIS?
“Hey, Nola. Lama sekali sih kamu datangnya daritadi sudah ditunggu Sebastian tuh”
Sapa Kak Mirna yang ternyata baru saja dari kelas Nola.
“Hah? Itu OSIS? Maksud saya OSIS beneran kak? Ngapain ngumpul? Tumben banget ngga ada berita ngumpul semalem. Ngumpul ngapain lagi?”
“Loh? Kamu gimana sih. Kan kemarin di rapat sudah diberitahu hari ini kita mau ke sponsor tapi kita ngumpul dulu di DPR dan sudah pasti kita dispen. Ngapain lagi pake sms malemnya”
“Hah? Hmmm..... oiya hehehe”
Nola sedikit lupa mengenai kejadian rapat sore itu karena ia baru saja mengalami hal diluar kemauan dia.
“Mir, gue ikut dispen juga yaa hehe guekan nemenin Nola. Gue kan security nya Nola lagian gue juga OSIS”
“Elumah OSIS cabul. Kalo mood doang dateng rapat kalo ngga kabur”
“Yang penting pernah kerja daripada ngga kerja sama sekali hahaha”
Selama perbincangan Mirna dan Richard, tak sedikit pun Nola mendengarkannya. Ia masih terus mengingat mengenai rapat kemarin tetapi terhambat ketika melihat Lala dan Jemy yang juga baru saja datang.
Apa iya yang nelpon gue semalem lo? Tau nomer gue darimana? Lagia lo udah sama Lala ngapain peduli sama gue? Mau ngapain lagi ketemu sama gue?
“Nol? Nola?”
“Eh iya kak ada apa?”
“Ngapain bengong, cepet sana kamu ke DPR udah ditunggu kak Sebastian datanya kan di flashdisk kamu”
“Hehehe siap kak”
***
“Assalamu`alaikum”
Sapa Richard dan Nola berbarengan dan duduk di sebelah Kaka Sebastian dan Kak Fathur.
“Wa`alaikumsallam”
“Kemana aja neng? Tumben telat”
“Nih nih tukang ojek kesiangan. Jadi gini deh”
“Etdah yang penting gue jemput lu kan? Sampe dengan selamat kan?”
“Ya tapi telat”
“Kaga, blm bel”
“lima, empat, tiga, dua satu”
Teeeet....... teeeeeeeeet........
Bertepatan hitungan Nola selesai bertepatan pula dengan bunyi bel. Nola segera memelototi Richard dengan gaya khas-nya.
“Tapi kan lu dateng sebelum bel”
Richard tetap ngga mau kalah dalam argument tersebut.
“Ya tapi biasanya gue.....”
“Stoooop !!!! berisik tau, udah telat pake berisik lagi lu berdua”
“Nih flahsdisknya. Jadi sekarang jadwal kegiatannya gimana? Maksud saya pembagian tugas ke sponsornya gimana? Ngga mungkin kan kita datengin rame-rame dengan segini banyaknya anggota.
“Jadi gini. Kita harus ke 5 sponsor dulu. Dan disetiap sponsor kebagian 2 orang”
“Gue sama Nola kan?”
Nola segera mencubit Richard, memelototinya dan menyuruhnya diam dengan bahasa isyarat. Tetapi Richard ya tetap saja Richard, ia malah makin menjadi.
“Apasih, Nol? Gue kan security lo, harus jagain lo. Jadi gimana, yan? Gue sama Nola?”
“Iya. Lo sama Nola ke perusahaannya kak Tomy nyerahin draft acara sama proposal mohon bantuan dana”
“Hah? Kak Tomy? Ih itukan harusnya tugas ketua OSIS atau ketua panitia. Kok jadi gue sama kak Richard sih? Ih malah sama kak Richard? Yakin dia bisa ngadepin atasannya kak Tomy?”
“Heh, selow napa sama gue mah. Masalah ngeloby gue jagonya. Tinggal atur aja jam pertemuan sama kak Tomy sama atasannya”
“Tenang aja. Kak Tomy yang minta lo berdua yang ke perusahaannya. Masalah jadwal jam pertemuan dengan kak Tomy dan atasannya udah di atur sedemikian rupa. Kak Tomy menunggu kalian jam 10 di loby perusahaan. Kalian akan berbincang sebentar dengan kak Tomy dan bertemu atasannya pada saat jam isitirahat makan siang”
Jelas kak Sebastian. Tak lama kemudian datang kak Fauziah-mantan ketua OSIS yang sekarang duduk di bangku kelas 3- dan membawa beberapa daftar serta lembar kertas yang entah isinya apa.
“Maaf mengganggu. Ini amanah dari Pak Karim. Kalian diberi tambahan 5 sponsor untuk diselesaikan hari ini”
“HAH???”
Teriak semua anggota kepanitian yang bukan hanya dari OSIS saja.
“Maksud kakak apa? Sponsor untuk acara ulang tahun sekolah kita memang di targetkan cuma 5, kak. Dan kata beliau pun jangan ditambah lagi kalau bsa dikurangi malah”
“Ini sponsor untuk pensi di bulan yang akan datang. Untuk pensi nanti Pak Karim, saya, dan anggota kelas 3 yang lainnya kemarin mengadakan rapat dadakan yang bersifat non-formal. Kita memutuskan untuk pensi nanti mengajukan lebih dari 10 proposal”
“Banyak banget kak? Keperluan kita memangnya banyak?”
“Normalnya dari tahun ke tahun memang Cuma 7 tetapi kita pengajuan ke redaksi kompas dan radar bogor untuk meliput acara kita, proposal ke radar bogor untuk memantau sekaligus mendukung pembuatan majalah mengenai acara pensi kita, dan pengamanan dari pihak kepolisian”
“10 sponsor? Tapi kita cuma 10 orang kak. Masa 1 sponsor 1 orang?”
“Tenang aja ini ada beberapa daftar nama yang sudah saya atur izin dispen untuk hari ini selain kalian. Jadi kalian tetap mengantar proposal yang ada di tangan kalian kecuali beberapa nama yang akan saya sebutkan ini. Bisa saja 1 group mengantar 2 proposal bahkan lebih tetapi anggotanya akan saya tambahkan menjadi 4 orang”
“Siap, kak. Mempercepat waktu”
Sebelum kak Fauziah membacakan pembagian tugas tersebut. Tanpa Nola duga ternyata beberapa orang datang menghampiri mereka, 4 orang yang akan membantu tugas mereka. Dan diantaranya terdapat Lala dan Jemy. Melihat keduanya sontak Nola kaget bukan main dan harapan Nola Cuma 1, semoga gue sama kak Richard ngga diganti dan ngga bersama Jemy.
“Jadi yang dipecah itu Sisi dengan Silla dan Richard dengan Nola”
“WHATSSS?”
Nola dan Richard teriak bersamaan dan hampir tidak menyangka mereka akan terpisahkan.
“Ngga dong ngga bisa gitu. Gue tetep sama Nola gimana pun caranya”
“Okey saya lanjutkan...”
“Tapi...”
Nola menggenggam tangan Richard dan berbisik ke padanya.
“Udah lah kak terima aja”
“Tetep aja ngga bisa, Nol. Gue security lo kalo di OSIS. Lagian kalo lo kedapetan sama mereka gimana?”
“Ya udah doain aja semoga gue ngga dapet sama mereka. Beres kan?”
“Richard, Sebastian, Herlin, Berlian”
“Tuh gue sama si Herlin lagi, njirr ngga mau gue. Lo tau kan itu cewek ngejar gue kayak gimana. Hih dan gue harus ngebonceng dia pula”
“selanjutnya yang terakhir Jery, Lala, Jemy, Nola”
“Hah?”
Spontan mata Nola pun membulat lebar tidak percaya, barusan gue bilang semoga gue ngga dipecah sama kak Richard tapi dipecah juga dan doa gue semoga ngga satu group sama Kak Jemy tapi sekarang satu gropu????
“Ngga gue ngga terima, bodo amat gue akan tetep sama Nola dan akan tetep ke perusahaannya kak Tomy. Ngga mau tau. Mana, yan, proposal ke kantor Kak Tomy, mana?”
Richard mencoba merebut proposal yang ada di tangan Sebastian tapi terhalang oleh Rio.
“Minggir lu, yo. Jangan pernah ngalangin gue”
Nola yang berada di sebelah Richard membisikan sebaris kalimat yang membuat Richard tersadar.
“Dewasa, kak, dewasa. Gue baik-baik aja kok sama dia, lu tenang aja. Lu percaya ada perubahan sekecil apapun gue pasti komunikasi sama lo, lo percaya kan?”
Richard pun terdiam mematung. Semuanya hening seketika. Sedetik kemudian Richard menoleh ke arah Jemy dan menatapnya lirih. Lama mereka bertatap hingga akhirnya Richard pun berkata dengan nada tinggi dalam keheningan.
“Kita berangkat sekarang Sebastian, Herlin, Berlian”
Tetapi anehnya Richard malah menarik Nola dalam dekapannya dan membawa Nola menjauh dari kumpulan anak OSIS. Sebelum akhirnya mereka berdua, Richard sengaja berdiri lama diseblah Jemy dan berkata dengan tatapan menusuk.
“Apapun yang lu lakuin sama dia, akibatnya akan lu rasain lebih dari pandangan lo. Lo inget itu, jangan pernah sesekali lu nyentuh dia atas nama gue!!!”
Nola yang berada diseberang Jemy hanya sesekali melirik Jemy takut dan menunduk. Jemy pun menatap Nola tajam dan menjawab tantangan Richard.
“Tenang aja, gue bakalan jagain putri kecil lo itu”
Sebelum akhirnya Richard kemblai berbicara, Nola sudah menahannya terlebih dahulu. Richard hanya bisa menatap Jemy sinis dan membawa Nola menjauh sebentar.
“Kamu terima gitu aja keputusan Fauziah?”
“Pake kak, kak Fauziah. Dia lebih tua dari kakak”
“Ya apalah itu, kamu terima pergi sama dia?”
“Ya aku harus gimana lagi, kak? Udah keputusan kak Fauziah. Bersikap profesional aja lah”
“Kakak ngga bisa kalo harus ngelepasin kamu sama Jemy lagi”
“Profesional, kak. Aku bakalan terus komunikasi kok sama kakak”
“Tetep aja k urang”
Nola pun berusaha menggenggam tanagn Richard dan memberi pengertian lebih.
“Kak, aku akan terus komunikasi sama kakak. Aku akan ngabarin semua kejadian nanti. Dan bisa aku pastiin aku akan jauh-jauh dari Kak Jemy. Pegang janji aku, kak. Kakak percaya kan sama aku?”
Richard diam membeku dalam keheningan. Lama mereka terdiam hingga akhirnya Rochard pergi begitu saja dan menghampiri Fauziha.
Entah apa yang mereka bicarakan, berdua dan lama. Semenit, dua menit hingga sepuluh menit berlangsung mereka pun usai berdiskusi berdua.
“Okey gue ke parkiran. Jery bareng gue lu ke parkiran”
Mendengar itu Nola hanya terdiam mematung. Apa yang ada di pkiran kak Richard? Apalagi yang akan ia perbuat?-pikir Nola.
“Nol, lu ikut gue ke parkiran sama Jery”
Panggil Richard dari kejauhan. Jujur Nola masih tidak mengerti apa yang ada di pikiran Richard. Richard memang cuek kepada dirinya malah terkesan tidak peduli setiap ia sakit di sekolah, Richard hanya menghampirinya dan memeriksa penyakitnya. Sesudahnya ia akan kembali ke dalam kelasnya dan memaksanya pulang bareng Richard.
Setiap Nola menghadapi masalah Richard memang mendengarkan setiap curahan hati Nola dan mendukungnya, tetapi saat Nola curhat. Yaitu saat dimana mereka diluar lingkungan sekolah. Saat mereka di lingkungan sekolah, Richard terkesan tidak pernah mengenal Nola.
Terkadang Nola sangat emosi disaat Nola bisa menyelesaikan masalah itu sendiri disaat itulah Richard datang menghampirinya. Tetapi disaat Nola butuh Richard untuk mendukungnya di saat itu pula Richard menghilang entah kemana.
Nola ingat sekali perkataan Richard di awal mereka bertemu.
“Gue tuh cuek sama siapa aja. Termasuk elo, gue itu orangnya ngga pedulian tapi disaat orang butuh gue, gue pasti ada”
Sebaris kalimat itu yang selalu diingat Nola disaat Richard menghilang dan menemaninya. Yang membuatnya yakin bagaimana sosok Richard sebenarnya.
Tin... tin...
Nola terbangun dari lamunannya tentang Richard. Kini sosok lelaki yang aneh namun membuatnya nyaman berada di hadapannya. Duduk diatas motor Ninja kesayangannya yang berwarna putih dengan sedikit modif di bagian ban.
“Cepet lu sono samperin Jery, ngapain bengong disini sih”
“Hah? Katanya ngikutin elu sama Jery ke parkiran”
“Daritadi elu tuh bengong. Gue panggil ngga denger denger. Lu tuh mikirin apaan sih?”
“Hah?”
Nola hanya menggeleng menjawad pertanyaan Richard.
“Dasar bocah kecil gue”
Richard mengacak-acak rambut Nola yang sudah rapih terikat. Nola yang sangat sebal mendapat perlakuan itu langsung memegang tangan Richard.
“Hahaha udah sana cepet ke Jery”
“Lu bener ngga apa-apa kak?”
“Selow sama gue mah”
“Ada yang lu tutupin nih, pasti. Apaan ngga? Jujur sama gue”
“Apasih adik kecil. Udah sana jangan ngulur-ngulur waktu. Lu belum curhat ke gue tentang semalem itu”
“Et? Masih elu inget ajadah kak”
“Hahaha utang lu tuh. Udah sana cepet ditungguin Jery, Lala, sama Jemy”
“Yaudah gue ke sana yaa”
Nola mulai melangkah menghampiri Jemy, Lala, dan Jery yang sedaritadi menunggu mereka tetapi baru saja satu langkah Richard menghadangnya kembali.
“Inget sama janji lo barusan. Lo bakal terus komunikasi sama gue, lo bakal terus ngabarin gue diapain aja lo sama si Jemy”
“Yelah kak. Apasih yang ngga gue ceritain ke elo? Semuanya gue ceritain, elu aja yang selalu tertutup dari gue”
“Yaudah sana bocah kecil gue pergi sana. Hati-hati yaaa”
“Sip abang kelas”
***
Tugas menyerahkan proposal ke spnsor itu adalah tugas yang paling disukai Nola apalagi bila ia pergi bersama Richard. Saat Nola harus berteriak karena Richard mengendarai motornya sesuka hatinya, saat ia harus membayar parkiran dan dipaksa meneraktir Richard. Saat dimana Richard berhasil membuat tawa dalam air mata. Semua itu terjadi dikala mereka mengantarkan proposal dengan tentu saja berbohong dengan alasan tempatnya yang jauh, mereka nyasar terlebih dahulu, dan alibi lainnya.
Tetapi saat ini, baginya tugas mengantar proposal justru tugas yang sangat berat untuknya. Ya, tentu saja kita semua tau bahwa Nola pergi sama Jemy dan Lala tidak bersama Richard. Sesaat Nola merasa ini memang tidak adil, Nola merasa lemah harus melihat kebersamaan Jemy dengan Lala yang telah menggantikan posisinya.
Tetapi inilah hidup, terkadang kita di atas bahagia tertawa lepas. Dan disuatu saat kita akan berada di bawah, saat kita menangis, kehilangan, tertawa hambar, dan tak tahu harus memulai bagaimana tanpa adanya dukungan.
“Nol, yang mau izin ke mba mba loby siapa?
Tanya Jery yang berhasil membuyarkan lamunan sesaat Nola.
“Ih norak amat sih lu masa mba mba loby manggilnya”
Sambung Lala dan tawa lepas antara Lala, Jemy, dan Jery. Diantara mereka berempat kini hanya Nola yang diam. Bingung, bimbang, tidak mengerti keadaan.
“Kok diem, La?”
Tanya Jery yang menyadari sedaritadi Nola hanya diam memandanga mereka berempat.
“Ngga apa-apa. Jadinya siapa yang mau izin? Kalo misalnya gue yang izin, berarti nanti yang menjelaskan ke super visernya bukan gue lagi”
“Yang jelasin ke super viser gue sama Nola. Yang izin lu sama Lala, udah cepet sana lu berdua izin gue sama Nola nunggu di ruang tunggu ya”
Nola bingung. Jemy mengajak bersamanya? Maksudnya berdua? Dengan dirinya bukan Lala? Tunggu pasti gue salah denger. Pasti yang dia maksud Lala bukan Nola-pikir Nola.
“Kak? Kamu sama Nola bukan sama aku?”
Tanya Lala yang ternyata tak kalah kagetnya.
“Iya. Kenapa, de?”
“Hmmm ngga apa-apa kok”
“Ikut kakak sini sebentar”
Tarik Jemy kepada Lala. Mereka menjauh dari Nola dan Jery. Nola sudah tidak mau memikirkan apa yang akan dilakukan Jemy, apa yang akan ia rencanakan. Jujur saja dirinya sudah sangat letih dipermainkan oleh Jemy. Terus selalu menarik ulur hatinya.
Nola memutuskan untuk duduk sebentar di ruang tunggu bersama Jery.
“Nol, hubungan lu sama Jemy berantakan gara-gara Lala ya?”
Nola terbangun dari sandarannya. Kaget mengapa tiba-tba Jemy menanyakan hal itu dan bingung akan menjawab apa pertanyaan tersebut.
“Eh, maaf kalo pertanyaan gue lancang. Ngga usah dijawab juga ngga apa-apa kok gue cuma iseng”
“Iya ngga apa-apa kok. Kenapa lu bisa nanya gitu ke gue?”
“Si Richard tadi sedikit cerita ke gue. Ya garis besarnya ajalah kenapa gue harus bener-bener jagain lo dari Jemy. Richard kayanya ngga suka banget sama Jemy terlebih benci”
“Hahahahaha Kak Richard lu denger. Kayak pantes aja dia di denger”
“Tapi selama ini lu kan apa-apa sama dia. Lu juga dengerin semua petuah dia, berarti dia emang pantes buat di denger kan?”
Skak, Nola tidak bisa membantah lagi. Semuanya memang benar. Mengenai hubungannya bersama Jemy yang kurang baik karena Lala. Mengenai Richard yang selalu ia dengarkan petuahnya. Ya, semuanya benar dan tak pantas untuk dibantah.
“Jer, yuk cepet izin ke resepsionisnya”
Ajak Lala yang langsung menggandeng tangan Jery dengan paksa. Alhasil mau tak mau, Jery harus menerima ajakan Lala dan meninggalkan Nola bersama Jemy dengan tatapan memohon maaf.
Nola mengerti posisi Jery dan hanya memilih diam memegang handphonenya. Ada sedikit pikiran untuk menghubungi Richard tetapi ia urungkan niatnya dan memilih untuk melihat album foto bersama Richard.
“Kayanya kamu deket banget ya sama Richard, de”
Mendengar itu, sedetik kemudian Nola diam dan melirik ke arah Jemy yang ternyata tengah melihat handphonenya.
Hah? Kamu? Hih sejak kapan tuh jadi sopan gini-pikir Nola dengan sedikit terheran.
“Kamu sama Richard jadian ya, de?”
“Hah? Ngga kok, kak”
“Ngga usah ngelak gitu kali. Kalian tuh di sekolah deket banget tau. Berantem terus, hahahahaha”
“Kalo berantem terus berarti musuh dong. Gimana mau pacaran ngga ada so sweetnya hahahaha”
“Berarti waktu itu cara kakak salah ya nyolot sama kamu?”
“Maksud?”
Nola yang sedaritadi tidak ingin memandang wajah Jemy. Jadi entah mengapa merasa obrolan ini sangatlah serius dan harus menatap wajahnya.
“Kamu jadian sama Richard?”
“Kan tadi aku udah bilang aku ngga jadian sama kak Richard”
“Tapi kalian deket dan aku rasa hubungan kalian ngga mungkin cuma sekdar teman biasa”
“Ya, aku memang sayang sama kak Richard. Tapi sebatas kakak. Kak Richard bisa buat aku nyaman berada di sisi dia. Dia bisa buat aku tenang di saat aku bingung sama semua masalah aku. Kak Richard selalu jagain aku dari apa saja dan yang paling jelas Kak Richard bener-bener ada buat aku. Ngga cuma mau mainin hati aku aja”
“Bentar, mainin hati kamu? Berarti kamu yakin jalanin sama dia? Maksudnya hati kamu bener-bener yakin jalan sama dia?”
Skak, Nola merasa Jemy sedang mengintogerasi dirinya. Nola mulai merasa risih dengan semua pertanyaan yang dilontarkan Jemy.
“Kenapa kakak jadi ngomong begini? Apa urusannya sama kakak? Peduli gitu kakak sama aku? Lagian tumben banget make bahasa aku-kamu. Sok sopan tau, kalo depan gue mah selow aja, kak. Jadi diri sendiri aja. Gue ya gue beda sama Lala”
“Itu yang buat kamu jauh dari aku? Gara-gara Lala? Kalian temenan udah dari SMP, Nol. Dewasa lah, Nol, masa gara-gara cowok kamu sama Lala harus kayak musuh?”
“Ih sok tau banget sih. Gue jauh dari lu itu kan lu yang mau, kak. Inget ngga itu kemauan elu, kak”
“Tapi kan aku ngubungin kamu lagi semenjak kejadian itu. Aku minta maaf sama kamu dan kamu bilang kamu maafin aku”
“Ya, emang gue maafin elu, kak. Tapi kalo untuk balik kayak dulu gue ngga tau. Gue ngga bisa jamin, kak”
“Karna kamu kenal Richard? Karna sekarang kehidupan kamu Richard yang atur?”
Nola diam sejenak. Memang semenjak dirinya memutuskan untuk benar-benar melupakan Jemy, Richard lah yang berhasil membuat dirinya benar-benar melupakan Jemy.
Semua cara telah dilakukan Nola untuk benar-benar melupakan Jemy, tapi cara Richard lah yang paling membantu dirinya. Entah mengapa memang Nola sangat menghormati Richard. Sekasar apapun Richard di arena pertarungan, secentil apapun Richard terhadap teman wanitanya, seamburadul apapun Richard di dunia balapannya, sebebas apapun kehidupan Richard, dan seenak apapun sikap Richard terhadap dirinya tetapi Nola tetap nyaman berada disebelah Richard. Nola nyaman dan merasa bahwa Richard pantas diberi penghormatan dengan caranya sendiri. Sekalipun masalah percintaannya diatur oleh Richard.
“Ya, sekalipun masalah percintaan gue yang ngatur Kak Richard. Gue menghormati dia sebagai kakak gue. Ya, mungkin dia bukan kakak kandung gue, tapi dia banyak menolong gue. Dia bener-bener ngejagain gue. Emang cara dia keliatan seenaknya, tapi itu cara dia. tiap orang punya caranya masing-masing”
“Aku suka sama kamu dari awal kita komunikasi. Aku sayang kamu”
Nola diam terpaku mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Jemy.
Jujur emang dulu gue mau banget, kak, denger pengakuan lo yang ini tapi dulu sebelum semuanya hilang-balas Nola dalam hati.
“Nol, cepet sana udah di tunggu”
Ucap Jery yang tiba-tiba datang dengan letih karena berlari-lari menghampiri Nola dan Jemy yang menunggunya di ruang tunggu.
Kesempatan gue-pikir Nola cepat dan langsung pergi mendahului Jemy.
Jemy dan Jery saling tatap bingung. Tetapi Jemy berhasil mengatasi kebingungannya dan mengerti gelagat Nola.
“Lu apain dia?”
“Gue Cuma nanya sedikit tentang Richard dan ngebahas masa lalu gue sama dia, apa pedulinya elu?”
“Gue yakin ngga itu doang. Di sini emang ngga ada Richard, tapi ada gue pengganti Richard”
***
“Lu ngapa si daritadi ngga bisa diem banget”
“Ini proposal terakhir kan?”
“Iya ini terakhir, kenapa? Bukannya elu pengen banget dispen mata pelajaran. Selow aja napa lama-lamain biasanya juga elu yang paling lama”
Ngga gue ngga mau lama-lama mengantar surat ngga jelas ini, gue butuh tau gimana keadaan Nola. Dia belum ngabarin gue sedaritadi pagi sampai siang jam 2 gini-pikir Richard yang dartadi mondar mandir ngga jelas.
Richard mengeluarkan telepone genggamnya dan berharap ada sms datang dari Nola. Tetapi nihil, itu hanya sebuah harapan kosong.
“Duh, masa iya lu lupa sama janji lu sendiri sih. Gue yakin ngga mungkin Jemy diem aja di sana. Semalem dia nekat banget mau ngomong sama elu dan gue rasa dia nekat, ayolah kapan lu sms gue”
“Kenapa harus Nola yang duluan sms elu?”
Tanya Berlian dengan santai sambil memainkan telepon genggamnya menunggu Herlin dan Sebastian yang sedang menemui Kak Tomy.
“Dia udah janji sama gue, dia pasti nepatn janjinya”
“Iya kalo nepatin, kalo ngga? Lu tau Jemy nekat”
“Gue percaya sama dia”
“Tapi ngga nutup kemungkinan dia cuma omdo kan”
“Dia ngga kayak gitu. Gue lebih kenal dia dibanding lo, jadi lo diem ajadeh. Ngga usah ikut campur urusan gue”
“Ya sekarang mah realnya aja. Dia janji mau komunikasi sama elu, tapi sekarang belum ada kabar? Di samping kita ingat sifat Jemy yang nekat memanaatkan waktu kapan saja”
“Ada Jery, gue minta sama Jery buat kasih tau gue perkembangan disana”
***
“Gue cuma jujur gue suka sama Nola, gue sayang sama dia”
Jawab Jemy yakin dan sekarang seperti terlihat menantang Jery.
“Mau lo tuh apasih? Lo udah ngancurn Lala sama Nola, sekarang apa lagi yang mau lu ancurin dari Nola? Jauhin Nola”
Jemy tidak terlalu menggubris perkataan Jery dan lebih memilih untuk berlalu meninggalkan Jery.
“Richard harus tau perkembangan ini. Gue rasa Nola belum sms Richard”
Ucap Jery yang segera mengeluarkan ponselnya dan segera menelpon Richard.
***
Tetapi malang menimpa keduanya, handphone Richard tengah di silent dikarena Richard tengah makan siang dengan Kak Tomy dan atasannya.
Di sepanjang acara makan siang tersebut, memang nampaknya Richard hanya diam tetapi kegelisahan tampak dari raut wajahnya.
“Lu ngapa, Chard?”
Bisik Berlian di sebelah Richard.
“Ngga kok ngga apa-apa”
“Lu mau ke kamar mandi?”
“Ngga tau gue bingung mau ngapain. Ngga enak banget gue rasanya”
***
“Haduh Richard kemana sih ngga di angkat-angkat. Nih bocah tablo kadang ngga tahan deh gue”
To: Richard Saputra Mahadewa
Heh barusan Jemy blg sayang sama Nola. Lu sebaiknya cepetan pantau Nola
“Semoga lu baca sms gue secepatnya”
***
Baru saja Nola menyelesaikan pertemuannya dengan super viser perusahaan bersama Jemy dan ternyata proposal mereka diterima secara langsung oleh perusahaan tersebut. Senang dirasa Nola, karena akhirnya ia berhasil memenangkan satu proposal. Proposal pertamanya yang langsug diterima tanpa menunggu sampi berhari-hari lamanya.
“Yeeee, kakak hebat banget proposalnya langsung diterima”
“Hahahaha itu semua kan berkat Nola yang pinter ngomong”
Balas Jemy yang melirik Nola yang sedang memakan baksonya disebelah Jery. Nola tidak mempermasalahkan perkataan Lala maupun Jemy. Jujur, Nola sudah lelah dengan permainan hati Jemy dulu.
“Bangun lu sini, brengsek”
Teriak Richard yang tiba-tiba datang dan langsung menghajar Richard tanpa henti. Mendengar teriakan Richard, Nola segera bangkit dan memisahkan keduanya yang dibantu Jery.
“Kak, istighfar, kak, istighfar”
Ucap Nola yang tidak didengar oleh Richard. Semua emosi Richard keluar tanpa henti dan tertumpah di sana.
“Chard, tahan emosi lu”
Ngga bisa gini, ini di tempat umum-pikir Nola yang langsung nekat menarik Richard dan menamparnya untuk membuat Richard sadar akan perilakunya.
Plok....
“Lu tuh kenapa sih, Kak. Dateng dateng langsung bikin gaduh. Jaga dong sikap kriminal lu. Gue udah pernah bilang kan sama lu, lu harus jaga sikap meskipun lu itu jagoan, Kak”
Richard yang sedang emosi hanya menggenggam tangan Nola dengan erat. Entah kekuatan apa yang membuat Richard tak ingin sedikit pun melepaskan genggaman tersebut malah menambah kekuatan genggamannya.
“Kak, duh, Kak. Lu ngapa sih, sakit nih tangan gue”
Richard hanya diam menatap tajam Nola. Tatapan yang pernah di liat Nola saat Ibunda Richard di tinggal pergi oleh ayahanda Richard. Tatapan iba kepada seorang perempuan yang sangat ia sayangi namun tajam menusuk hati.
Dengan lancang Jemy melepaskan genggaman tangan Richard kepada Nola. Tetapi gagal, malah Jemy yang tersungkur di hadapan Richard.
Ada yang Kak Richard tau tentang kejadian tadi dan gue lupa sms dia, mampus dia jadi ngamuk begini-pikir Nola dalam ketakutan.
“Maaf, Kak”
“Apa janji lu tadi sama gue?”
“Maaf, Kak”
“APA JANJI LU SAMA GUE??!!”
Teriak Richard tak terbentung lagi. Campuran perasaan emosi karena Nola melanggar janjinya dan takut kehilangan sosok bocah kecil yang selama ini ia jaga baik-baik.
“Gue lupa, Kak. Maaf, gue nyesel”
“Sibuk? Sibuk pacaran sama bocah tengil kayak dia?”
Tunjuk Richard kepada Jemy tepat di mata Jemy. Seketika keadaan sekitar tegang. Sosok jagoan yang selalu di depan saat pertempuran telah kembali jiwa pertempurannya. Yang membedakannya hanya satu, saat ini jiwa pertempurannya sedang bertempur melawan emosinya sendiri yang tidak mau kehilang Nola.
“Kak, yang sopan”
“Sopan? Lo berani masih bisa nyuruh gue sopan setelah dia PUAS NYAKITIN LO??!!”
“Kak, kita bahas di rumah aja. Okey, ini tempat umum”
Ajak Nola tetapi tetap saja Nihil. Kekuatan genggaman Richard lebih besar dari biasanya.
“Lo sayang sama Jemy? Lo masih sayang sama dia? Setelah gue susah payah buat lo lupa sama dia, sama semua kesakitan yang dia kasih ke elu, elu mau gitu aja balik sama dia?”
Nola hanya diam tertunduk. Ingin sekali ia menjawab tidak. Tetapi situasi kondisi emosi Richard yang sedang tidak stabil, Nola memilih lebih baik ia terdiam.
“JAWAB BOCAH KECILLLL!!”
“Gue.. gue bi... bingung”
Jawab Nola terbatah dan masih menunduk untuk menahan air matanya keluar.
“Okey kalo gitu”
Richard melepaskan genggaman di tangan Nola yang telah membuat tangan Nola yang putih terlihat merah tua.
“Gue akan pergi dari kehidupan lu. Semoga lu BAHAGIA bersama dia”
Ucap Richard tajam dan langsung pergi meninggalkan kegamangan. Kepergian Richard membuat Nola tidak bisa bergerak sedikit pun. Nola tetap terpaku di tempatnya. Pikirannya kacau.
Gue ngga mau kehilangan lu, Kak. Satu kalimat itu yang pengen banget gue ucapin sama lo dari dulu-batin Nola.
“Kamu ngga apa-apa?”
Tanya Jemy yang memegang tangan Nola bekas genggaman Richard.
“Lepasin tangan Nola. Lebih baik lo ajak Lala pergi dari sini sekarang juga”
Bentak Jery yang juga merasa marah melihat kelakuan Richard.
“Lo ngga tau apa-apa, Jer”
“GUE MINTA LO PERGI ATAU KEJADIAN TADI TERULANG?”
Jemy memutuskan untuk pergi membawa Lala pergi. Tetapi sebelum akhirnya Jemy benar-benar pergi. Jemy sempat membisikkan sebuah kalimat.
“Maaf sudah mengahdirkan luka di hati kamu. Cara aku memang salah dan aku pantas mendapatkan ini semua. Kamu lebih bahagia bersama Richard dan aku akan pergi dari kehidupan kamu, maaf adik ku”
Skak, hati Nola seketika menangis. Kak Richard pergi dan sekarang Kak Jemy pun pergi?-batin Nola.
Setelah semuanya kembali normal. Jery mulai menceritakan mengapa Richard bisa sampai ke tempat ini. Setelah mendengar penjelasan Jery, Nola meminta Jery untuk mengantarnya ke puncak. Tempat Richard menenangkan dirinya. Nola yakin sekali saat ini Richard berada di sana.
***
“Bangsat, Jemy ngambil start duluan !!!!”
Teriak Richard kasar. Dengan emosi yang menyala-nyala ini sepertinya seluruh isi kebun binatang akan ia sebutkan satu demi satu.
“Dengerin aku yaa kakak sayang. Kalo kamu lagi emosi jangan lagi pernah absen temen-temen kamu di kebun binatang sana. Mereka juga marah loh kamu make nama mereka tanpa izin, hehehehe”
Ucap Nola ketika ia menjenguk Richard di rumahnya yang baru saja berantem hebat dengan Gistar, ketua genk sekolah SMA Bangun Bakhti.
“Hahahaha iya adikku sayang, aku janji ngga lagi absen temen-temen kamu”
“Kok jadi temen-temen aku?”
“Kan aku pernah bilang temen aku ya temen kamu juga hahahaha”
Dengan refleks Nola memukul ringan tangan kanan Richard.
“Ih kakak jahat ih jahaaaaat”
“Eh eh eh sakit tau ih. Ngga tau apa abis memenangkan pertandingan hahahaha”
“Ngga gue ngga boleh lagi ngeluarin bahasa binantang. Gue udah dewasa”
“Aku yang belum dewasa, kak”
Ucap Nola yang baru saja tiba bersama Jery. Mendengar suara Nola, Richard hanya menoleh sesaat lalu membuang mukanya.
“Maaf, gue bener-bener lupa, kak. Ngga ada maksud sengaja buat ingkar janji sama lu. Tapi kejadiannya egitu cepat, kak”
Richard tak memberi respon. Richard tetap diam memandang pemandanga puncak yang khas akan dedaunan dan pohon serta udara yang sejuk yang membuat kedamaian hati.
“Jangan diem aja, kak. Gue takut”
Tetapi Rrichard tetaplah Richard. Di saat ia emosi memang lebih baik ia diam daripada harus berbuat atau mengatakan sesuatu yang fatal akibatnya. Di sisi lain, Nola bingung harus bersikap bagaimana lagi. Nola tidak mau kehilangan Richard sebagai kakak yang selalu ada dan mengerti dirinya.
Dengan tekad yang bulat Nola menghampiri Richard dan berdiri di sebelahnya.
“Apa kesalahan gue fatal banget sampe lu harus diemin gue gini?”
Lagi-lagi Richard hanya diam mematung.
Nola memberanikan diri memegang tangan Richard dan memohon.
“Kak, jawab, kak. Jangan buat gue bingung gini, kak”
Teriak Nola dengan air mata yang mengalir deras.
Ricahrd hanya meliriknya sekilas. Gue ngga boleh liat lu gini, gue ngga suka liat lu nangis dan gue ngga tega liat lu nangis-batin Richard.
Nola sudah putus asa. Enath harus apa lagi yang ia perbuat untuk meyakinkan Richard bahwa ia sungguh menyesal dan ngga mau kehilangan kakak yang sangat ia sayang. Nola melepaskan genggamannya dan terduduk di sebelah Richard dengan air mata yang mengalir deras dan berkata dengan lirih, pelan, namun sangat terdengar di telinga Richard.
“Gue sayang lo, kak. Gue ngga mau kehilangan lo. Itu doang yang mau gue bilang saat ini. Gue nyesel, kak”
Tetes demi tetes air mata Nola jatuh membasahi seluruh wajah Nola yang letih menjalani hari ini.
Jery yang iba kepada Nola akhirnya menghampiri Nola dan merangkulnya.
“Nol, udah, Nol”
Kini Nola menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan masih terus menangis sesenggukkan.
Gue ngga bisa lagi begini-batin Richard.richard pun ikut tertunduk di hadapan Nola. Membuka kedua telapak tangannya yang menutup wajah Nola dan menghapus air mata yang jatuh di pipi Nola.
“Aku bingung, kak. Aku cape, aku ngga mau kakak pergi gitu aja”
Richard langsung memeluk Nola dan berusaha menenangkannya.
“Ngga ada yang pergi kok”
“Tadi kata kakak, kakak akan pergi kalo aku balik sama Jemy. Aku ngga mau, kak. Sekarang aku sendiri”
“Kamu ngga akan pernah sendiri. Mau kamu balik sama Jemy atau ngga aku akan tetap jagain kamu, bocah kecil aku”
Nola melepaskan sesaat pelukan Richard.
“Trus tadi kenapa ngomong begitu?”
“Itu cuma luapan emosi sesaat aku aja, maaf ya adik kecil”
Richard berusaha memberikan senyum seindahnya. Dengan refleks Nla memukul Richard dengan ringan.
“Jahat ih udah buat aku takut, ih jahaaaaaat”
“Hahahahahaha lagi gampang banget di bodohin”
Richard kembali memeluk Nola dengan tawa khasnya.
“Semua hal bisa aku lakukan tapi untuk pergi dari kamu aku masih harus berfikir panjang dulu. Aku juga sayang sama bocah kecil aku”
“Yahh bocah kecilnya udah balikan sama yang dulu tuh, gimana?”
Pancing Nola dengan senyum yang tersembunyi di dada Richard. Richard diam sesaat dan membalas perkataan Nola.
“Yaudah berarti abangnya bocah kecil bakalan terus sabar sampe bocah kecilnya tau kalo abangnya si bocah kecil sayang banget sama bocah kecil”
“Hahahahaha bocah kecil juga sayang kok sama abangnya. Dan bisa dipastikan bocah kecil ngga akan kembali sama masa lalunya”
“Kamu yakin?”
Tanya Richard yang menatap mata Nola dalam jarak kurang dari 5 cm.
“Yaps. Aku juga cape di mainin terus sama dia. awalnya aku berfikir untuk balik lagi sama dia, tapi setelah hari ini merasakan apa yang ia perbuat ke aku dan abangnya bocah kecil, aku berubah pikiran. Ternyata bocah kecil baru bangun nih, Bang. Kalo sebenernya bocah kecil sayang banget sama abangnya dan ngga mau kehilangan abangnya. Kasih tau ke abangnya bocah kecil yaaa, kasian bocah kecil. Hehehehe”
Richard kembali memeluk Nola dengan semakin erat dan berkata.
“Nanti aku sampein ke abangnya bocah kecil dan pasti abangnya bocah kecil berkata seperti ini. Abang akan selalu jagain bocah kecil karena sampe kapan pun namanya bocah ya harus di jagain biar ngga main kesembarang tempat. Hahahahaha”
Nola mencubit tangan Richard dengan gemes mendengar jawaban Richard.
“Ihh aku udah dewasa”
“Kamu itu masih manja”
“Aku ngga manja”
“MANJA!!!”
“NGGA!!!”
“Buktinya masih mau di dalam pelukan aku”
Nola segera menjauh dan bangkit.
“Ih kakak”
“Hahahaha becanda sayang. Jadi kita?”
Tagih Richard yang berdiri tepat di depan wajah Nola yang merah.
“Maksud?”
“Sekarang kita?”
“Adik-kakak”
“Itukan udah 6 bulan yang lalu Nolaaaaaaa”
“Ya terus kita jadi apa? Manusia? Emang udah jadi manusia”
“Kan kan bocah nih ngeselin nih”
“Ya atuh ngga ngerti akunya”
“Sepik aja kamu”
“Emang hahahahaha”
Richard memegang kedua tangan Nola. Menatap lurus mata Nola berusaha meyakinkan dan berkata.
“Will you be my princess in my heart?”
Nola diam sesaat. Memikirkan jawaban istimewa lainnya.
“No, i will not”
Hah? Gue ditolak?-pikir Richard kemudian.
Sebelum Richard melepaskan genggaman tangannya, Nola meneruskan sepatah kalimatnya lagi.
“No, i will not. Because you just ask for I as your daughter don't ask for you being watchman in my heart”
“Wah kamu nih blajar bahasa inggris darimana hahahaha”
“Jahat ih di ledekin ih pacar sendiri”
“Emang lo udah jadi pacar gue?”
“Ya allah jleb meeen !!!!”
Ucap Nola yang langsung melepaskan tangannya dan membalikkan badannya.
“Hahaha ngambek pundung, dasar bocah kecil hahahaha”
“Orang mah so sweet kek ini malah ngajak ribut. Parah amat”
Richard berdiri di depan Nola dan kembali menggenggam tangan Nola.
“Hahahaha maaf yaa sayang aku”
“Ngga mau”
Jawab Nola yang membuang mukanya.
“Maunya gue buat nangis dulu yaa”
“Coba aja”
“Ngga ada yang bisa buat gue nangis depan umum siapa pun”
Ucap Nola yang di barengi Richard.
“Eh?”
“Hahahaha buktinya tadi kamu nangis tuh gara-gara aku”
“Tadi? Ngga tuh cuma akting”
“Hahahaha jujur aja ama guemah, dasar bocah gengsian”
“Ihhh kirain jadi pacar udah ngga bakal di ledekin. Ngga taunya ngga ada bedanya”
“Hahaha ya bedalah. Kalo sekarang mah ngeledeknya pake hati hahaha tapi suka kan aku ledekin?”
“Mau banget?”
“Mau dong sama pacar baru aku hahahahhaha”
Ucap Richard yang langsung pergi menjauh sedikit demi sedikit untuk memancing Nola mengejarnya. Mereka pun kembali menjadi adik-kakak dan bahkan sekarang naik tingkat menjadi sepasang kekasih. Dengan tawa lepas mereka sebuah kisah baru pun akan mereka songsong kelak.
“Emang bener ya. Antara cewek sama cowok bohong banget segala adik-kakak atau sahabat tanpa ada perasaan lebih di satu pihak enah itu si cewek apa cowok. Karena yang membuat mereka tetap bertahan di sisi lawan jenisnya ialah rasa saling memiliki, menjaga, dan menyayangi lebih dari seorang sahabat ataupun adik-kakak”
***
Tikungan perumahan Nola sudah tampak terlihat dari dalam Bus umum, dengan sigap Nola bangkit dari kursi dan bergegas untuk turun. Dan tampa sengaja Nola menyenggol Lala-yg ternyata siswi SMA Purna Bakhti Sosial-di depan pintu hingga Lala terjatuh keluar.
“Astagfirullah,” Nola langsung membantu Lala untuk bangkit.
“Maaf ya maaf.”
“Lala, kamu ngga apa-apa?” tanya seseorang yang langsung berdiri tepat di sebelah Lala dengan masih menggunakan helm-nya.
“Mampus gue, cowonya dateng lagi,” pikir Nola ketika melihat kedatangan pria itu dengan tiba-tiba.
“Iya aku ngga apa-apa kok,” jawab Lala dengan senyum sangat lebar.
“Makanya kamu tuh bandel sih, aku suruh tunggu aku selesai tanding ngga mau. Jadi harus pulang sendiri kan.”
“Ya ampun kak, itu namanya nyusahin. Udah aku ngga apa-apa.”
Kak? Berarti cowo ini senior dia dong? Jadi inget kak Jemy, pikir Nola di dalam hati.
Ini cowo baik banget sih. Padahal cewenya nolak terus tapi ini cowo malah maksa makein jaket, dulu waktu gue sama kak Jemy. Ahhh udah, gue udah move on juga, pikir Nola sekali lagi dalam hatinya.
“Oh iya, maaf ya tadi saya yang....,” Astagfirulloh kak Jemy , pikir Nola yang belum sempat melanjutkan ucapannya..
Tatapan mata mereka bertemu seketika, ada sesuatu hal ganjil yang di rasa Nola. Mengapa di saat dirinya mengingat orang itu, orang itu hadir-dengan wanita lain -.
“Iya ngga apa-apa kok, anak Purna juga ya?”
“Hah? Nggg Iya”
“Kelas berapa?”
“Kelas 10, kamu?”
“Dia kelas 10 juga,” kali ini yang menjawab Jemy.
“Oh, sekali lagi maaf ya. Tadi tuh bener-bener lagi buru-buru jadi...”
“Ya tapi meskipun buru-buru bisa lihat sekeliling kali. Lo tuh bisa membahayakan nyawa dia,” potong Jemy.
“Kak, udah lah emang kayanya dia juga buru-buru. Dia ngga salah kok.”
“Ya tapi kan....”
Nola tidak mendengar lagi apa yang di bicarakan Lala dengan Jemy. Tiba-tiba saja terbesit kenangan masa lalu.
***
“Nol, tunggu, Nol!!!”
Seuntas tangan berhasil menahan Nola.
“Nol, gue anter pulang yaaa.”
“Apaan sih lu kak?”
“Nol, dengerin gue dulu.”
“Lo yang minta gue ngelupain lo, yaudah akan gue lakuin sekarang.”
“Gue ngga mau nantinya kita kayak musuh.”
“Lo tau kak, ngga mungkin gue ngelupain lo tanpa ada rasa benci.”
“Ya tapi gue ngga mau.”
“Ya udahlah kak, jalanin masing-masing aja dulu. Lo minta gue lupain lo, FINE !!!!”
Dengan kasar Nola melepaskan tanggannya dari Jemy.
***
“Heyy??” panggil Lala.
“Eh iyaa,” Nola tersadar dari lamunannya.
“Kamu kenapa?”
“Ngga apa-apa, duluan yaaa.”
Tanpa pikir panjang Nola segera mengambil langkah seribu.
***
“Udah yuk kita pulang, udah malem,” ajak Jemy.
“Kok kayak pernah lihat cewe itu ya di rumah kamu?”
“Hah? Rumah aku? Becanda kamu, de”
“Serius, kak. Tapi bukan adik kaka kan?”
Jemy diam sesaat, bingung apa yang akan ia jawab.
“Kak?”
“Bukan siapa-siapa kok, udah nih pake helm-nya. Udah malem.”
Maaf harus bohongin kamu, La, batin Jemy.
***
“Shitt!!! Damn!!! Kenapa harus ketemu coba? Cowok ngga pengertian, cuma bisa bikin janji manis, cowo centil, emang lo tuh playboy, kak. Sama gue aja ngga pernah ngomong aku-kamu, borolah lu aja keseringan ngga peduli sama gue. Emang dasar lu, KACUNG!!”
Nola masih terus berkumandang tidak jelas dalam heningnya malam sampai ia kembali ke rumah. Nola baru saja akan tidur sampai akhirnya ia mendengar handphone-nya berbunyi, pertanda sms masuk.
From: 085697707947
Meskipun aku bukan siapa-siapa, bukan yang sempurna. Namun percayalah hati ku untuk mu. Meski sering ku mengecewakan mu maafkan lah aku janji ku kan setia padamu, hanyalah dirimu
“Hah? Siapa nih? Malem-malem gini? Kurang kerjaan amat, bodo ah gue tinggal tidur.”
***
Di sisi lain, terhat Jemy tengah duduk bersandar di lantai dan memainkan gitarnya. Satu petik, dua petik, terdengar tidak nyaman di dengar. Satu petik, dua petik selanjutnya Jemy gelisah dan sesekali melihat handphone-nya.
“Apa udah tidur kali yaa? Ngga deh, baru jam 9, dia biasa tidur jam 12 ke atas. Gue tunggu deh.”
Satu menit, lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit tidak tampak balasan.
“Ngga mungkin besok gue ajak ketemuan di sekolah. Apa gue telpon aja deh”
***
But hold you breath because to night
Will be the night they are will fall for u
Over again don`t make me change may mine
I wont live to see another than i swear its true
Because a girl like yo`re imposibble to fine
Yo`re imposibble to fine
Handphone Nola berbunyi di tengah malam yang sangat melelahkan baik secara fisik maupun batin buat Nola. Dengan malas Nola bangkit menuju meja belajarnya dan mengambil handphone berwarna ungu, warna kesukaan Nola.
“Haduh siapa sih? Ngga punya otak banget nelpon jam segini. Ngga tau apa besok gue mau ada ujian sama presentasi, cot banget nih ah”
Nola duduk di atas kursi uniknya yg berbentuk bola yang tentu saja berwarna ungu. Ya tentu saja mencari kursi tersebut amatlah susah dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tetapi buat mamanya, Nola itu kepentingan utama di bandingkan kakak laki-laki Nola yang lainnya.
“Hallo”
Hening.. Diam..
Tak ada jawaban dari siapa pun di ujung sana. Nola pun mengulang perkataannya.
“Hallo?”
Tetapi nihil. Tetap saja tak ada jawaban dari ujung sana. Nola menghadap jam dindingnya yang bergambar band ungu dan berwarna putih dengan corak khas anak band itu sangat kaget mengetahui jam berapa.
“What? Jam 3?”
“Iya”
Heh? Suara cowok? Nelpon gue?
Nola melihat sebentar nomer yang menelponnya dan ternyata nomer tidak dikenali.
“Maaf ini siapa yaa?”
“Senior kamu”
“Hah? Senior? Siapa? Ada perlu apa, kak? Emang harus malem-malem kayak gini ya?”
“Besok sepulang sekolah temui saya di depan lab.ips”
“Hah? Tapi ini sia....”
Tut.. tut..
“Hanjrit telponnya dimatiin. Siapa sih? Besok? Depan lab.ips? berarti dia anak ips dong? Bentar anak ips yang gue kenal cuma kak Richard. Atau jangan-jangan...”
Nola ingat kalau Richard meminta izin kepada Nola untuk memberitahu nomernya kepada temannya tetapi ditolak oleh Nola. Nola tidak mau ada yang tahu nomer Nola. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui nomernya. Ya orang terpilih.
Nola segera mencari nomer Richard dan segera menelponnya. Nola tidak percaya kalau Richard bisa selancang itu
“Halll..”
“Heh kak, ngapa sih lu ingkarin janji kita. Udah gue bilang jangan kasih tau nomer gue ke teman-teman lo, ngapa masih ngeyel sih”
“Hah? Apasih? Ini siapa? Tiba-tiba ngomel ke gue, lancang banget lo ganggu tidur gue. Jam berapa nih? Punya otak kaga lo? Cewek lagi ngga tau sopan santun”
“Heh ih kak Richard ini Nola”
“Oh elu de, ngapa sih nelpon langsung nyerocos ngga jelas. Udah malem nih bisa besok kan? Ngga tau waktu banget sih lu gangguin guenya”
“Ih gue juga ke ganggu sama temen lo yang super gajelas itu”
“Hah? Temen gue? Siapa dah? Ngapain bocah?”
“Ngga tau siapa, ngapain sih lu ngasih nomer gue ke dia. Hah? Udah gue bilang ngga usah ngasih nomer gue ke siapa-siapa, paham ngga sih?”
“Bentar. Temen gue? Ngasih nomer lo? Gue ngga pernah nyebarin nomer lo lagi de, kan lo ngga ngizinin gue kalau pun di izinin juga gue ngga akan nyebar nomer lo, gue udah pernah bilang dan pernah janji bukan?”
“Ya tapi ini buktinya? Muna banget sih jadi cowok”
“Ih lu jelasin yang bener napa, sumpah gue bingung banget de”
“Jadi barusan jam 3 ada cowok yang nelpon gue. Nomer tak dikenal oleh handphone gue dan besok ngajakin ketemuan di lab.ips dan senior yang gue kenal anak ips cuma elo kak. Bisa kan jagain nomer gue baik-baik? Ngga usah muna deh gue tuh udah percaya banget sama lo”
“Heh gue ngga suka yaa lo fitnah kayak gini, tengah malem nih nyari irbut banget deh ah. Lo tuh kenal gue berapa lama? Lo yakin gue bakal ngingkarin janji gue ke elo? Selama ini kan yang ingkar janji lo bukan gue dan gue selalu sabar. Apa iya gue pernah ngejerumusin elo? Gue pernah nyakitin lo? Gue pernah bohong ke elo? Hah?”
Nola diam sejenak-berfikir- selama ini memang Richard yang selalu melindunginya dari apapun. Richard tidak pernah membohonginya mengenai apapun, entah hal negative maupun positive, tapi siapa lagi anak ips yang ia kenal?
“Hallo? De? Nola? Lu teh ngapa jadi diem sih? Gue matiin nih gue ngatuk tau besok ada ujian matematika, lu ngga tau seberapa besar susahnya materi itu”
“Hmmm trus ini siapa kak? Besok ngajakin gue ketemuan, anak ips berarti anak Purna juga dan dia bilang senior gue. Gue selalu jaga nomer gue baik-baik lo pun tau”
“Anak ips? Yang tau nomer lo kan ada gue, Kak Mirna, Kak Sebastian, Kak Michael, Kak Fatur”
“Tapi mereka semua anak OSIS ya pantes lah mereka tau nomer gue kak”
“Sama Jemy, lo lupa hubungan lo sama Jemy?”
“Hah? Jemy? Dia kan minta gue lupain dia dan hapus nomer dia dari handphone gue, dan dia pun melakukan hal yang sama. Lagian nomer gue ganti kak”
“Bodo lah besok gue jemput lu dah udah malem gue ngantuk adeku capek banget gue abis tanding”
“Ih trus besok gue nemuin ini orang ngga?”
“Gue bilang kita bahas ini besok, besok gue jemput lo di rumah seperti biasa”
“Yaudah deh”
“Jangan nangis gitu napa, ngga tega guenya jadi nyudahin telponnya”
“Ngga apa-apa kok kak. Yaudah sorry ya ganggu lu dan sorry udah nyangka lu yang ngga-ngga”
“Iya ngga apa-apa selow ama guemah. Inget kata-kata gue, kita harus saling terbuka. Gue mau punya ade cewek dan gue harapin banget dari lo itu, gue sayang sama ade cewek gue”
“Iya kak gue ngerti. Gue juga ngga mau ada kebohongan dalam suatu hubungan. Maaf ganggu malem-malem, good night kak”
“Night too ade gue yang paling bawel hahaha”
***
“Dimana sih kak? Lama amat deh ah tau gini gue naik angkot aja”
Omel Nola pada Ricahrd karna sudah jam 7 kurang 15 Richard belum juga sampai rumahnya.
“Maaf maaf gue bangun kesiangan gara-gara lu telpon gue semalem lagian sih lu nelpon gue”
“Yaudah gue tinggal aja yaa”
“Ih jangan udah jam berapa nih? Angkot lama de, lu mau telat sampe sekolah?”
“Ya lu sampe rumah gue jam berapa? Sama sama telat kan kalo nungguin lu juga”
“Ini gue abis tambel ban di depan perumahan lu. Bareng guemah bakalan lolos selow aja napa”
“Hah? Depan perumahan? Kenapa ngga lu suruh aja gue ke depan perumah biar cepet ih tablo banget. Yaudah gue ke sana”
“Ngga usah ngga sopan ama nyokap lu. Udah ya gue tutup telponnya gue otw ke rumah lu nih”
“Tapi kak....”
Telpon pun langsung diputua oleh Richard.
“Ih ngeselin amat sih”
“Kamu belum jalan juga? Jam berapa nih, No?”
Tanya bunda yang masih melihat Nola duduk d sofa ruang tamu.
“Ini nungguin Kak Richard, Bun”
“Daritadi nungguin Richard terus. Emangnya dia beneran mau jemput kamu apa? Jangan-jangan ngga jadi terus sampe sekolah duluan loh, udah bawa motor sana”
“Ngga kok, Bun, tadi katanya udah di depan perumahan lagi mau ke sini”
“Lah? Ngapain di depan perumah lapor sama kamu?”
“Tadi bannya bocor harus ditambal”
Dan tak lama kemudian terdengar deru suara motor Richard di depan rumah Nola.
“Tuh, Bun, anaknya baru sampe”
“Assalamu`alaikum”
“Wa`alaikumsallam”
“Eh, Bunda, hehe maaf ya, Bun, baru sampe hehe tadi ada trouble”
“Kamu ini yaudah sana berangkat sudah jam berapa ini?”
“Selow aja, Bun, sama Richard mah ngga bakalan bisa telat”
“Yaiyalah lu bawanya kayak orang kesetanan hahahaha”
Sela kak Tomy-kakak kedua Nola yang masih duduk dibangku kuliah- yang tiba-tiba saja datang dan menyela pembicaraan mereka.
“Wes masbroh tau aja hahahaha”
“Etdah yaak dua orang ini. Udah yuk kak berangkat jam berapa nih”
“Sip, Bun, Richard berangkat dulu yaa. Assalamu`alaikum”
“Nola juga, Bun. Assalamu`alaikum”
“Wa`alaikumsallam”
“Chard, hati-hati itu ade gue loh”
“Siap, Bang, selow sama gue”
***
Selama dalam perjalanan, Nola hanya memegang tas Rchard erat-erat sambil menaruh kepalanya di atas pundak Richard karna takut dengan kelakuan Richard di atas motor yang sangat bebas tersebut.
“Tenang, Nol. Kayak baru sekali di boncengin gue aja. Lagian ini juga kecepatan 80 km/jam kok ngga kayak biasanya kan bawa elu guenya jadi bawanya harus pelan ngga boleh ngebut”
Hah? Pelan? Ngga boleh ngebut? Apaan? Gue aja bawa normal Cuma 40 km/jam kalo lagi kepepet aja 60 km/jam, dumel Nola dalam hati.
“Anteng banget sih lu di pundak gue, tidur lu yaa? Nol? Nol? Nolaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!”
“Apasih ribut amat”
“Lagian elu diem mulu gue ajak ngobrol”
“Udah lu fokus aja ngapa ama motor lu ini. 80 km/jam nih ngga usah sok jagoan jalanan kalo sama gue”
“Hahahahaha kebanyakan protes deh ade kecil ini....”
Richard pun mengacak-acak rambut Nola yang memang sudah berantakan karna angin yang sangat kencang.
“Etdah pake megang-megang rambut lagi. Udah napa cepet sampe sekolah napa”
“Hahaha tuh depan udah sekolah”
Nola menangangkat kepalanya dan menoleh ke arah kiri yang ternyata benar sekolahnya.
***
“Gue ngga usah ikut lu ke parkiran, kak”
“Loh? Ngapa?”
“Udah telat nih jam berapa”
“Heh lu OSIS mending ikut sama gue”
“Maksud?”
“Udah ikut aja”
Richard pun segera membawa motornya kencang hingga Nola tidak berani nekat untuk turun dari motor tersebut. Rasa kesal di hati Nola karena terkadang Richard selalu seenaknya saja bersikap seperti ini kepadanya.
***
Nola pun bergegas turun dari motor Richard dan hendak pergi ketika tangannya di tahan oleh Richard.
“Bentar napa, de. Buru-buru amat”
“Ih jam berapa ih? 2 menit lagi guru gue masuk”
“Yang penting ngga telat kan? Lagian lu kan mau cerita sama gue tentang yang semalem”
“Gue mau masuk kelas”
“Tapi mereka ngga masuk kelas tuh”
Tunjuk Richard kepada beberapa anak OSIS yang sedang berkumpul di DPR sekolah. Nola berfikir sesaat apa benar mereka anak OSIS atau mereka sekumpulan siswa yang memang sengaja tidak mau masuk kelas alias cabut dan apabila ketawan mereka mengatas namakan OSIS?
“Hey, Nola. Lama sekali sih kamu datangnya daritadi sudah ditunggu Sebastian tuh”
Sapa Kak Mirna yang ternyata baru saja dari kelas Nola.
“Hah? Itu OSIS? Maksud saya OSIS beneran kak? Ngapain ngumpul? Tumben banget ngga ada berita ngumpul semalem. Ngumpul ngapain lagi?”
“Loh? Kamu gimana sih. Kan kemarin di rapat sudah diberitahu hari ini kita mau ke sponsor tapi kita ngumpul dulu di DPR dan sudah pasti kita dispen. Ngapain lagi pake sms malemnya”
“Hah? Hmmm..... oiya hehehe”
Nola sedikit lupa mengenai kejadian rapat sore itu karena ia baru saja mengalami hal diluar kemauan dia.
“Mir, gue ikut dispen juga yaa hehe guekan nemenin Nola. Gue kan security nya Nola lagian gue juga OSIS”
“Elumah OSIS cabul. Kalo mood doang dateng rapat kalo ngga kabur”
“Yang penting pernah kerja daripada ngga kerja sama sekali hahaha”
Selama perbincangan Mirna dan Richard, tak sedikit pun Nola mendengarkannya. Ia masih terus mengingat mengenai rapat kemarin tetapi terhambat ketika melihat Lala dan Jemy yang juga baru saja datang.
Apa iya yang nelpon gue semalem lo? Tau nomer gue darimana? Lagia lo udah sama Lala ngapain peduli sama gue? Mau ngapain lagi ketemu sama gue?
“Nol? Nola?”
“Eh iya kak ada apa?”
“Ngapain bengong, cepet sana kamu ke DPR udah ditunggu kak Sebastian datanya kan di flashdisk kamu”
“Hehehe siap kak”
***
“Assalamu`alaikum”
Sapa Richard dan Nola berbarengan dan duduk di sebelah Kaka Sebastian dan Kak Fathur.
“Wa`alaikumsallam”
“Kemana aja neng? Tumben telat”
“Nih nih tukang ojek kesiangan. Jadi gini deh”
“Etdah yang penting gue jemput lu kan? Sampe dengan selamat kan?”
“Ya tapi telat”
“Kaga, blm bel”
“lima, empat, tiga, dua satu”
Teeeet....... teeeeeeeeet........
Bertepatan hitungan Nola selesai bertepatan pula dengan bunyi bel. Nola segera memelototi Richard dengan gaya khas-nya.
“Tapi kan lu dateng sebelum bel”
Richard tetap ngga mau kalah dalam argument tersebut.
“Ya tapi biasanya gue.....”
“Stoooop !!!! berisik tau, udah telat pake berisik lagi lu berdua”
“Nih flahsdisknya. Jadi sekarang jadwal kegiatannya gimana? Maksud saya pembagian tugas ke sponsornya gimana? Ngga mungkin kan kita datengin rame-rame dengan segini banyaknya anggota.
“Jadi gini. Kita harus ke 5 sponsor dulu. Dan disetiap sponsor kebagian 2 orang”
“Gue sama Nola kan?”
Nola segera mencubit Richard, memelototinya dan menyuruhnya diam dengan bahasa isyarat. Tetapi Richard ya tetap saja Richard, ia malah makin menjadi.
“Apasih, Nol? Gue kan security lo, harus jagain lo. Jadi gimana, yan? Gue sama Nola?”
“Iya. Lo sama Nola ke perusahaannya kak Tomy nyerahin draft acara sama proposal mohon bantuan dana”
“Hah? Kak Tomy? Ih itukan harusnya tugas ketua OSIS atau ketua panitia. Kok jadi gue sama kak Richard sih? Ih malah sama kak Richard? Yakin dia bisa ngadepin atasannya kak Tomy?”
“Heh, selow napa sama gue mah. Masalah ngeloby gue jagonya. Tinggal atur aja jam pertemuan sama kak Tomy sama atasannya”
“Tenang aja. Kak Tomy yang minta lo berdua yang ke perusahaannya. Masalah jadwal jam pertemuan dengan kak Tomy dan atasannya udah di atur sedemikian rupa. Kak Tomy menunggu kalian jam 10 di loby perusahaan. Kalian akan berbincang sebentar dengan kak Tomy dan bertemu atasannya pada saat jam isitirahat makan siang”
Jelas kak Sebastian. Tak lama kemudian datang kak Fauziah-mantan ketua OSIS yang sekarang duduk di bangku kelas 3- dan membawa beberapa daftar serta lembar kertas yang entah isinya apa.
“Maaf mengganggu. Ini amanah dari Pak Karim. Kalian diberi tambahan 5 sponsor untuk diselesaikan hari ini”
“HAH???”
Teriak semua anggota kepanitian yang bukan hanya dari OSIS saja.
“Maksud kakak apa? Sponsor untuk acara ulang tahun sekolah kita memang di targetkan cuma 5, kak. Dan kata beliau pun jangan ditambah lagi kalau bsa dikurangi malah”
“Ini sponsor untuk pensi di bulan yang akan datang. Untuk pensi nanti Pak Karim, saya, dan anggota kelas 3 yang lainnya kemarin mengadakan rapat dadakan yang bersifat non-formal. Kita memutuskan untuk pensi nanti mengajukan lebih dari 10 proposal”
“Banyak banget kak? Keperluan kita memangnya banyak?”
“Normalnya dari tahun ke tahun memang Cuma 7 tetapi kita pengajuan ke redaksi kompas dan radar bogor untuk meliput acara kita, proposal ke radar bogor untuk memantau sekaligus mendukung pembuatan majalah mengenai acara pensi kita, dan pengamanan dari pihak kepolisian”
“10 sponsor? Tapi kita cuma 10 orang kak. Masa 1 sponsor 1 orang?”
“Tenang aja ini ada beberapa daftar nama yang sudah saya atur izin dispen untuk hari ini selain kalian. Jadi kalian tetap mengantar proposal yang ada di tangan kalian kecuali beberapa nama yang akan saya sebutkan ini. Bisa saja 1 group mengantar 2 proposal bahkan lebih tetapi anggotanya akan saya tambahkan menjadi 4 orang”
“Siap, kak. Mempercepat waktu”
Sebelum kak Fauziah membacakan pembagian tugas tersebut. Tanpa Nola duga ternyata beberapa orang datang menghampiri mereka, 4 orang yang akan membantu tugas mereka. Dan diantaranya terdapat Lala dan Jemy. Melihat keduanya sontak Nola kaget bukan main dan harapan Nola Cuma 1, semoga gue sama kak Richard ngga diganti dan ngga bersama Jemy.
“Jadi yang dipecah itu Sisi dengan Silla dan Richard dengan Nola”
“WHATSSS?”
Nola dan Richard teriak bersamaan dan hampir tidak menyangka mereka akan terpisahkan.
“Ngga dong ngga bisa gitu. Gue tetep sama Nola gimana pun caranya”
“Okey saya lanjutkan...”
“Tapi...”
Nola menggenggam tangan Richard dan berbisik ke padanya.
“Udah lah kak terima aja”
“Tetep aja ngga bisa, Nol. Gue security lo kalo di OSIS. Lagian kalo lo kedapetan sama mereka gimana?”
“Ya udah doain aja semoga gue ngga dapet sama mereka. Beres kan?”
“Richard, Sebastian, Herlin, Berlian”
“Tuh gue sama si Herlin lagi, njirr ngga mau gue. Lo tau kan itu cewek ngejar gue kayak gimana. Hih dan gue harus ngebonceng dia pula”
“selanjutnya yang terakhir Jery, Lala, Jemy, Nola”
“Hah?”
Spontan mata Nola pun membulat lebar tidak percaya, barusan gue bilang semoga gue ngga dipecah sama kak Richard tapi dipecah juga dan doa gue semoga ngga satu group sama Kak Jemy tapi sekarang satu gropu????
“Ngga gue ngga terima, bodo amat gue akan tetep sama Nola dan akan tetep ke perusahaannya kak Tomy. Ngga mau tau. Mana, yan, proposal ke kantor Kak Tomy, mana?”
Richard mencoba merebut proposal yang ada di tangan Sebastian tapi terhalang oleh Rio.
“Minggir lu, yo. Jangan pernah ngalangin gue”
Nola yang berada di sebelah Richard membisikan sebaris kalimat yang membuat Richard tersadar.
“Dewasa, kak, dewasa. Gue baik-baik aja kok sama dia, lu tenang aja. Lu percaya ada perubahan sekecil apapun gue pasti komunikasi sama lo, lo percaya kan?”
Richard pun terdiam mematung. Semuanya hening seketika. Sedetik kemudian Richard menoleh ke arah Jemy dan menatapnya lirih. Lama mereka bertatap hingga akhirnya Richard pun berkata dengan nada tinggi dalam keheningan.
“Kita berangkat sekarang Sebastian, Herlin, Berlian”
Tetapi anehnya Richard malah menarik Nola dalam dekapannya dan membawa Nola menjauh dari kumpulan anak OSIS. Sebelum akhirnya mereka berdua, Richard sengaja berdiri lama diseblah Jemy dan berkata dengan tatapan menusuk.
“Apapun yang lu lakuin sama dia, akibatnya akan lu rasain lebih dari pandangan lo. Lo inget itu, jangan pernah sesekali lu nyentuh dia atas nama gue!!!”
Nola yang berada diseberang Jemy hanya sesekali melirik Jemy takut dan menunduk. Jemy pun menatap Nola tajam dan menjawab tantangan Richard.
“Tenang aja, gue bakalan jagain putri kecil lo itu”
Sebelum akhirnya Richard kemblai berbicara, Nola sudah menahannya terlebih dahulu. Richard hanya bisa menatap Jemy sinis dan membawa Nola menjauh sebentar.
“Kamu terima gitu aja keputusan Fauziah?”
“Pake kak, kak Fauziah. Dia lebih tua dari kakak”
“Ya apalah itu, kamu terima pergi sama dia?”
“Ya aku harus gimana lagi, kak? Udah keputusan kak Fauziah. Bersikap profesional aja lah”
“Kakak ngga bisa kalo harus ngelepasin kamu sama Jemy lagi”
“Profesional, kak. Aku bakalan terus komunikasi kok sama kakak”
“Tetep aja k urang”
Nola pun berusaha menggenggam tanagn Richard dan memberi pengertian lebih.
“Kak, aku akan terus komunikasi sama kakak. Aku akan ngabarin semua kejadian nanti. Dan bisa aku pastiin aku akan jauh-jauh dari Kak Jemy. Pegang janji aku, kak. Kakak percaya kan sama aku?”
Richard diam membeku dalam keheningan. Lama mereka terdiam hingga akhirnya Rochard pergi begitu saja dan menghampiri Fauziha.
Entah apa yang mereka bicarakan, berdua dan lama. Semenit, dua menit hingga sepuluh menit berlangsung mereka pun usai berdiskusi berdua.
“Okey gue ke parkiran. Jery bareng gue lu ke parkiran”
Mendengar itu Nola hanya terdiam mematung. Apa yang ada di pkiran kak Richard? Apalagi yang akan ia perbuat?-pikir Nola.
“Nol, lu ikut gue ke parkiran sama Jery”
Panggil Richard dari kejauhan. Jujur Nola masih tidak mengerti apa yang ada di pikiran Richard. Richard memang cuek kepada dirinya malah terkesan tidak peduli setiap ia sakit di sekolah, Richard hanya menghampirinya dan memeriksa penyakitnya. Sesudahnya ia akan kembali ke dalam kelasnya dan memaksanya pulang bareng Richard.
Setiap Nola menghadapi masalah Richard memang mendengarkan setiap curahan hati Nola dan mendukungnya, tetapi saat Nola curhat. Yaitu saat dimana mereka diluar lingkungan sekolah. Saat mereka di lingkungan sekolah, Richard terkesan tidak pernah mengenal Nola.
Terkadang Nola sangat emosi disaat Nola bisa menyelesaikan masalah itu sendiri disaat itulah Richard datang menghampirinya. Tetapi disaat Nola butuh Richard untuk mendukungnya di saat itu pula Richard menghilang entah kemana.
Nola ingat sekali perkataan Richard di awal mereka bertemu.
“Gue tuh cuek sama siapa aja. Termasuk elo, gue itu orangnya ngga pedulian tapi disaat orang butuh gue, gue pasti ada”
Sebaris kalimat itu yang selalu diingat Nola disaat Richard menghilang dan menemaninya. Yang membuatnya yakin bagaimana sosok Richard sebenarnya.
Tin... tin...
Nola terbangun dari lamunannya tentang Richard. Kini sosok lelaki yang aneh namun membuatnya nyaman berada di hadapannya. Duduk diatas motor Ninja kesayangannya yang berwarna putih dengan sedikit modif di bagian ban.
“Cepet lu sono samperin Jery, ngapain bengong disini sih”
“Hah? Katanya ngikutin elu sama Jery ke parkiran”
“Daritadi elu tuh bengong. Gue panggil ngga denger denger. Lu tuh mikirin apaan sih?”
“Hah?”
Nola hanya menggeleng menjawad pertanyaan Richard.
“Dasar bocah kecil gue”
Richard mengacak-acak rambut Nola yang sudah rapih terikat. Nola yang sangat sebal mendapat perlakuan itu langsung memegang tangan Richard.
“Hahaha udah sana cepet ke Jery”
“Lu bener ngga apa-apa kak?”
“Selow sama gue mah”
“Ada yang lu tutupin nih, pasti. Apaan ngga? Jujur sama gue”
“Apasih adik kecil. Udah sana jangan ngulur-ngulur waktu. Lu belum curhat ke gue tentang semalem itu”
“Et? Masih elu inget ajadah kak”
“Hahaha utang lu tuh. Udah sana cepet ditungguin Jery, Lala, sama Jemy”
“Yaudah gue ke sana yaa”
Nola mulai melangkah menghampiri Jemy, Lala, dan Jery yang sedaritadi menunggu mereka tetapi baru saja satu langkah Richard menghadangnya kembali.
“Inget sama janji lo barusan. Lo bakal terus komunikasi sama gue, lo bakal terus ngabarin gue diapain aja lo sama si Jemy”
“Yelah kak. Apasih yang ngga gue ceritain ke elo? Semuanya gue ceritain, elu aja yang selalu tertutup dari gue”
“Yaudah sana bocah kecil gue pergi sana. Hati-hati yaaa”
“Sip abang kelas”
***
Tugas menyerahkan proposal ke spnsor itu adalah tugas yang paling disukai Nola apalagi bila ia pergi bersama Richard. Saat Nola harus berteriak karena Richard mengendarai motornya sesuka hatinya, saat ia harus membayar parkiran dan dipaksa meneraktir Richard. Saat dimana Richard berhasil membuat tawa dalam air mata. Semua itu terjadi dikala mereka mengantarkan proposal dengan tentu saja berbohong dengan alasan tempatnya yang jauh, mereka nyasar terlebih dahulu, dan alibi lainnya.
Tetapi saat ini, baginya tugas mengantar proposal justru tugas yang sangat berat untuknya. Ya, tentu saja kita semua tau bahwa Nola pergi sama Jemy dan Lala tidak bersama Richard. Sesaat Nola merasa ini memang tidak adil, Nola merasa lemah harus melihat kebersamaan Jemy dengan Lala yang telah menggantikan posisinya.
Tetapi inilah hidup, terkadang kita di atas bahagia tertawa lepas. Dan disuatu saat kita akan berada di bawah, saat kita menangis, kehilangan, tertawa hambar, dan tak tahu harus memulai bagaimana tanpa adanya dukungan.
“Nol, yang mau izin ke mba mba loby siapa?
Tanya Jery yang berhasil membuyarkan lamunan sesaat Nola.
“Ih norak amat sih lu masa mba mba loby manggilnya”
Sambung Lala dan tawa lepas antara Lala, Jemy, dan Jery. Diantara mereka berempat kini hanya Nola yang diam. Bingung, bimbang, tidak mengerti keadaan.
“Kok diem, La?”
Tanya Jery yang menyadari sedaritadi Nola hanya diam memandanga mereka berempat.
“Ngga apa-apa. Jadinya siapa yang mau izin? Kalo misalnya gue yang izin, berarti nanti yang menjelaskan ke super visernya bukan gue lagi”
“Yang jelasin ke super viser gue sama Nola. Yang izin lu sama Lala, udah cepet sana lu berdua izin gue sama Nola nunggu di ruang tunggu ya”
Nola bingung. Jemy mengajak bersamanya? Maksudnya berdua? Dengan dirinya bukan Lala? Tunggu pasti gue salah denger. Pasti yang dia maksud Lala bukan Nola-pikir Nola.
“Kak? Kamu sama Nola bukan sama aku?”
Tanya Lala yang ternyata tak kalah kagetnya.
“Iya. Kenapa, de?”
“Hmmm ngga apa-apa kok”
“Ikut kakak sini sebentar”
Tarik Jemy kepada Lala. Mereka menjauh dari Nola dan Jery. Nola sudah tidak mau memikirkan apa yang akan dilakukan Jemy, apa yang akan ia rencanakan. Jujur saja dirinya sudah sangat letih dipermainkan oleh Jemy. Terus selalu menarik ulur hatinya.
Nola memutuskan untuk duduk sebentar di ruang tunggu bersama Jery.
“Nol, hubungan lu sama Jemy berantakan gara-gara Lala ya?”
Nola terbangun dari sandarannya. Kaget mengapa tiba-tba Jemy menanyakan hal itu dan bingung akan menjawab apa pertanyaan tersebut.
“Eh, maaf kalo pertanyaan gue lancang. Ngga usah dijawab juga ngga apa-apa kok gue cuma iseng”
“Iya ngga apa-apa kok. Kenapa lu bisa nanya gitu ke gue?”
“Si Richard tadi sedikit cerita ke gue. Ya garis besarnya ajalah kenapa gue harus bener-bener jagain lo dari Jemy. Richard kayanya ngga suka banget sama Jemy terlebih benci”
“Hahahahaha Kak Richard lu denger. Kayak pantes aja dia di denger”
“Tapi selama ini lu kan apa-apa sama dia. Lu juga dengerin semua petuah dia, berarti dia emang pantes buat di denger kan?”
Skak, Nola tidak bisa membantah lagi. Semuanya memang benar. Mengenai hubungannya bersama Jemy yang kurang baik karena Lala. Mengenai Richard yang selalu ia dengarkan petuahnya. Ya, semuanya benar dan tak pantas untuk dibantah.
“Jer, yuk cepet izin ke resepsionisnya”
Ajak Lala yang langsung menggandeng tangan Jery dengan paksa. Alhasil mau tak mau, Jery harus menerima ajakan Lala dan meninggalkan Nola bersama Jemy dengan tatapan memohon maaf.
Nola mengerti posisi Jery dan hanya memilih diam memegang handphonenya. Ada sedikit pikiran untuk menghubungi Richard tetapi ia urungkan niatnya dan memilih untuk melihat album foto bersama Richard.
“Kayanya kamu deket banget ya sama Richard, de”
Mendengar itu, sedetik kemudian Nola diam dan melirik ke arah Jemy yang ternyata tengah melihat handphonenya.
Hah? Kamu? Hih sejak kapan tuh jadi sopan gini-pikir Nola dengan sedikit terheran.
“Kamu sama Richard jadian ya, de?”
“Hah? Ngga kok, kak”
“Ngga usah ngelak gitu kali. Kalian tuh di sekolah deket banget tau. Berantem terus, hahahahaha”
“Kalo berantem terus berarti musuh dong. Gimana mau pacaran ngga ada so sweetnya hahahaha”
“Berarti waktu itu cara kakak salah ya nyolot sama kamu?”
“Maksud?”
Nola yang sedaritadi tidak ingin memandang wajah Jemy. Jadi entah mengapa merasa obrolan ini sangatlah serius dan harus menatap wajahnya.
“Kamu jadian sama Richard?”
“Kan tadi aku udah bilang aku ngga jadian sama kak Richard”
“Tapi kalian deket dan aku rasa hubungan kalian ngga mungkin cuma sekdar teman biasa”
“Ya, aku memang sayang sama kak Richard. Tapi sebatas kakak. Kak Richard bisa buat aku nyaman berada di sisi dia. Dia bisa buat aku tenang di saat aku bingung sama semua masalah aku. Kak Richard selalu jagain aku dari apa saja dan yang paling jelas Kak Richard bener-bener ada buat aku. Ngga cuma mau mainin hati aku aja”
“Bentar, mainin hati kamu? Berarti kamu yakin jalanin sama dia? Maksudnya hati kamu bener-bener yakin jalan sama dia?”
Skak, Nola merasa Jemy sedang mengintogerasi dirinya. Nola mulai merasa risih dengan semua pertanyaan yang dilontarkan Jemy.
“Kenapa kakak jadi ngomong begini? Apa urusannya sama kakak? Peduli gitu kakak sama aku? Lagian tumben banget make bahasa aku-kamu. Sok sopan tau, kalo depan gue mah selow aja, kak. Jadi diri sendiri aja. Gue ya gue beda sama Lala”
“Itu yang buat kamu jauh dari aku? Gara-gara Lala? Kalian temenan udah dari SMP, Nol. Dewasa lah, Nol, masa gara-gara cowok kamu sama Lala harus kayak musuh?”
“Ih sok tau banget sih. Gue jauh dari lu itu kan lu yang mau, kak. Inget ngga itu kemauan elu, kak”
“Tapi kan aku ngubungin kamu lagi semenjak kejadian itu. Aku minta maaf sama kamu dan kamu bilang kamu maafin aku”
“Ya, emang gue maafin elu, kak. Tapi kalo untuk balik kayak dulu gue ngga tau. Gue ngga bisa jamin, kak”
“Karna kamu kenal Richard? Karna sekarang kehidupan kamu Richard yang atur?”
Nola diam sejenak. Memang semenjak dirinya memutuskan untuk benar-benar melupakan Jemy, Richard lah yang berhasil membuat dirinya benar-benar melupakan Jemy.
Semua cara telah dilakukan Nola untuk benar-benar melupakan Jemy, tapi cara Richard lah yang paling membantu dirinya. Entah mengapa memang Nola sangat menghormati Richard. Sekasar apapun Richard di arena pertarungan, secentil apapun Richard terhadap teman wanitanya, seamburadul apapun Richard di dunia balapannya, sebebas apapun kehidupan Richard, dan seenak apapun sikap Richard terhadap dirinya tetapi Nola tetap nyaman berada disebelah Richard. Nola nyaman dan merasa bahwa Richard pantas diberi penghormatan dengan caranya sendiri. Sekalipun masalah percintaannya diatur oleh Richard.
“Ya, sekalipun masalah percintaan gue yang ngatur Kak Richard. Gue menghormati dia sebagai kakak gue. Ya, mungkin dia bukan kakak kandung gue, tapi dia banyak menolong gue. Dia bener-bener ngejagain gue. Emang cara dia keliatan seenaknya, tapi itu cara dia. tiap orang punya caranya masing-masing”
“Aku suka sama kamu dari awal kita komunikasi. Aku sayang kamu”
Nola diam terpaku mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Jemy.
Jujur emang dulu gue mau banget, kak, denger pengakuan lo yang ini tapi dulu sebelum semuanya hilang-balas Nola dalam hati.
“Nol, cepet sana udah di tunggu”
Ucap Jery yang tiba-tiba datang dengan letih karena berlari-lari menghampiri Nola dan Jemy yang menunggunya di ruang tunggu.
Kesempatan gue-pikir Nola cepat dan langsung pergi mendahului Jemy.
Jemy dan Jery saling tatap bingung. Tetapi Jemy berhasil mengatasi kebingungannya dan mengerti gelagat Nola.
“Lu apain dia?”
“Gue Cuma nanya sedikit tentang Richard dan ngebahas masa lalu gue sama dia, apa pedulinya elu?”
“Gue yakin ngga itu doang. Di sini emang ngga ada Richard, tapi ada gue pengganti Richard”
***
“Lu ngapa si daritadi ngga bisa diem banget”
“Ini proposal terakhir kan?”
“Iya ini terakhir, kenapa? Bukannya elu pengen banget dispen mata pelajaran. Selow aja napa lama-lamain biasanya juga elu yang paling lama”
Ngga gue ngga mau lama-lama mengantar surat ngga jelas ini, gue butuh tau gimana keadaan Nola. Dia belum ngabarin gue sedaritadi pagi sampai siang jam 2 gini-pikir Richard yang dartadi mondar mandir ngga jelas.
Richard mengeluarkan telepone genggamnya dan berharap ada sms datang dari Nola. Tetapi nihil, itu hanya sebuah harapan kosong.
“Duh, masa iya lu lupa sama janji lu sendiri sih. Gue yakin ngga mungkin Jemy diem aja di sana. Semalem dia nekat banget mau ngomong sama elu dan gue rasa dia nekat, ayolah kapan lu sms gue”
“Kenapa harus Nola yang duluan sms elu?”
Tanya Berlian dengan santai sambil memainkan telepon genggamnya menunggu Herlin dan Sebastian yang sedang menemui Kak Tomy.
“Dia udah janji sama gue, dia pasti nepatn janjinya”
“Iya kalo nepatin, kalo ngga? Lu tau Jemy nekat”
“Gue percaya sama dia”
“Tapi ngga nutup kemungkinan dia cuma omdo kan”
“Dia ngga kayak gitu. Gue lebih kenal dia dibanding lo, jadi lo diem ajadeh. Ngga usah ikut campur urusan gue”
“Ya sekarang mah realnya aja. Dia janji mau komunikasi sama elu, tapi sekarang belum ada kabar? Di samping kita ingat sifat Jemy yang nekat memanaatkan waktu kapan saja”
“Ada Jery, gue minta sama Jery buat kasih tau gue perkembangan disana”
***
“Gue cuma jujur gue suka sama Nola, gue sayang sama dia”
Jawab Jemy yakin dan sekarang seperti terlihat menantang Jery.
“Mau lo tuh apasih? Lo udah ngancurn Lala sama Nola, sekarang apa lagi yang mau lu ancurin dari Nola? Jauhin Nola”
Jemy tidak terlalu menggubris perkataan Jery dan lebih memilih untuk berlalu meninggalkan Jery.
“Richard harus tau perkembangan ini. Gue rasa Nola belum sms Richard”
Ucap Jery yang segera mengeluarkan ponselnya dan segera menelpon Richard.
***
Tetapi malang menimpa keduanya, handphone Richard tengah di silent dikarena Richard tengah makan siang dengan Kak Tomy dan atasannya.
Di sepanjang acara makan siang tersebut, memang nampaknya Richard hanya diam tetapi kegelisahan tampak dari raut wajahnya.
“Lu ngapa, Chard?”
Bisik Berlian di sebelah Richard.
“Ngga kok ngga apa-apa”
“Lu mau ke kamar mandi?”
“Ngga tau gue bingung mau ngapain. Ngga enak banget gue rasanya”
***
“Haduh Richard kemana sih ngga di angkat-angkat. Nih bocah tablo kadang ngga tahan deh gue”
To: Richard Saputra Mahadewa
Heh barusan Jemy blg sayang sama Nola. Lu sebaiknya cepetan pantau Nola
“Semoga lu baca sms gue secepatnya”
***
Baru saja Nola menyelesaikan pertemuannya dengan super viser perusahaan bersama Jemy dan ternyata proposal mereka diterima secara langsung oleh perusahaan tersebut. Senang dirasa Nola, karena akhirnya ia berhasil memenangkan satu proposal. Proposal pertamanya yang langsug diterima tanpa menunggu sampi berhari-hari lamanya.
“Yeeee, kakak hebat banget proposalnya langsung diterima”
“Hahahaha itu semua kan berkat Nola yang pinter ngomong”
Balas Jemy yang melirik Nola yang sedang memakan baksonya disebelah Jery. Nola tidak mempermasalahkan perkataan Lala maupun Jemy. Jujur, Nola sudah lelah dengan permainan hati Jemy dulu.
“Bangun lu sini, brengsek”
Teriak Richard yang tiba-tiba datang dan langsung menghajar Richard tanpa henti. Mendengar teriakan Richard, Nola segera bangkit dan memisahkan keduanya yang dibantu Jery.
“Kak, istighfar, kak, istighfar”
Ucap Nola yang tidak didengar oleh Richard. Semua emosi Richard keluar tanpa henti dan tertumpah di sana.
“Chard, tahan emosi lu”
Ngga bisa gini, ini di tempat umum-pikir Nola yang langsung nekat menarik Richard dan menamparnya untuk membuat Richard sadar akan perilakunya.
Plok....
“Lu tuh kenapa sih, Kak. Dateng dateng langsung bikin gaduh. Jaga dong sikap kriminal lu. Gue udah pernah bilang kan sama lu, lu harus jaga sikap meskipun lu itu jagoan, Kak”
Richard yang sedang emosi hanya menggenggam tangan Nola dengan erat. Entah kekuatan apa yang membuat Richard tak ingin sedikit pun melepaskan genggaman tersebut malah menambah kekuatan genggamannya.
“Kak, duh, Kak. Lu ngapa sih, sakit nih tangan gue”
Richard hanya diam menatap tajam Nola. Tatapan yang pernah di liat Nola saat Ibunda Richard di tinggal pergi oleh ayahanda Richard. Tatapan iba kepada seorang perempuan yang sangat ia sayangi namun tajam menusuk hati.
Dengan lancang Jemy melepaskan genggaman tangan Richard kepada Nola. Tetapi gagal, malah Jemy yang tersungkur di hadapan Richard.
Ada yang Kak Richard tau tentang kejadian tadi dan gue lupa sms dia, mampus dia jadi ngamuk begini-pikir Nola dalam ketakutan.
“Maaf, Kak”
“Apa janji lu tadi sama gue?”
“Maaf, Kak”
“APA JANJI LU SAMA GUE??!!”
Teriak Richard tak terbentung lagi. Campuran perasaan emosi karena Nola melanggar janjinya dan takut kehilangan sosok bocah kecil yang selama ini ia jaga baik-baik.
“Gue lupa, Kak. Maaf, gue nyesel”
“Sibuk? Sibuk pacaran sama bocah tengil kayak dia?”
Tunjuk Richard kepada Jemy tepat di mata Jemy. Seketika keadaan sekitar tegang. Sosok jagoan yang selalu di depan saat pertempuran telah kembali jiwa pertempurannya. Yang membedakannya hanya satu, saat ini jiwa pertempurannya sedang bertempur melawan emosinya sendiri yang tidak mau kehilang Nola.
“Kak, yang sopan”
“Sopan? Lo berani masih bisa nyuruh gue sopan setelah dia PUAS NYAKITIN LO??!!”
“Kak, kita bahas di rumah aja. Okey, ini tempat umum”
Ajak Nola tetapi tetap saja Nihil. Kekuatan genggaman Richard lebih besar dari biasanya.
“Lo sayang sama Jemy? Lo masih sayang sama dia? Setelah gue susah payah buat lo lupa sama dia, sama semua kesakitan yang dia kasih ke elu, elu mau gitu aja balik sama dia?”
Nola hanya diam tertunduk. Ingin sekali ia menjawab tidak. Tetapi situasi kondisi emosi Richard yang sedang tidak stabil, Nola memilih lebih baik ia terdiam.
“JAWAB BOCAH KECILLLL!!”
“Gue.. gue bi... bingung”
Jawab Nola terbatah dan masih menunduk untuk menahan air matanya keluar.
“Okey kalo gitu”
Richard melepaskan genggaman di tangan Nola yang telah membuat tangan Nola yang putih terlihat merah tua.
“Gue akan pergi dari kehidupan lu. Semoga lu BAHAGIA bersama dia”
Ucap Richard tajam dan langsung pergi meninggalkan kegamangan. Kepergian Richard membuat Nola tidak bisa bergerak sedikit pun. Nola tetap terpaku di tempatnya. Pikirannya kacau.
Gue ngga mau kehilangan lu, Kak. Satu kalimat itu yang pengen banget gue ucapin sama lo dari dulu-batin Nola.
“Kamu ngga apa-apa?”
Tanya Jemy yang memegang tangan Nola bekas genggaman Richard.
“Lepasin tangan Nola. Lebih baik lo ajak Lala pergi dari sini sekarang juga”
Bentak Jery yang juga merasa marah melihat kelakuan Richard.
“Lo ngga tau apa-apa, Jer”
“GUE MINTA LO PERGI ATAU KEJADIAN TADI TERULANG?”
Jemy memutuskan untuk pergi membawa Lala pergi. Tetapi sebelum akhirnya Jemy benar-benar pergi. Jemy sempat membisikkan sebuah kalimat.
“Maaf sudah mengahdirkan luka di hati kamu. Cara aku memang salah dan aku pantas mendapatkan ini semua. Kamu lebih bahagia bersama Richard dan aku akan pergi dari kehidupan kamu, maaf adik ku”
Skak, hati Nola seketika menangis. Kak Richard pergi dan sekarang Kak Jemy pun pergi?-batin Nola.
Setelah semuanya kembali normal. Jery mulai menceritakan mengapa Richard bisa sampai ke tempat ini. Setelah mendengar penjelasan Jery, Nola meminta Jery untuk mengantarnya ke puncak. Tempat Richard menenangkan dirinya. Nola yakin sekali saat ini Richard berada di sana.
***
“Bangsat, Jemy ngambil start duluan !!!!”
Teriak Richard kasar. Dengan emosi yang menyala-nyala ini sepertinya seluruh isi kebun binatang akan ia sebutkan satu demi satu.
“Dengerin aku yaa kakak sayang. Kalo kamu lagi emosi jangan lagi pernah absen temen-temen kamu di kebun binatang sana. Mereka juga marah loh kamu make nama mereka tanpa izin, hehehehe”
Ucap Nola ketika ia menjenguk Richard di rumahnya yang baru saja berantem hebat dengan Gistar, ketua genk sekolah SMA Bangun Bakhti.
“Hahahaha iya adikku sayang, aku janji ngga lagi absen temen-temen kamu”
“Kok jadi temen-temen aku?”
“Kan aku pernah bilang temen aku ya temen kamu juga hahahaha”
Dengan refleks Nola memukul ringan tangan kanan Richard.
“Ih kakak jahat ih jahaaaaat”
“Eh eh eh sakit tau ih. Ngga tau apa abis memenangkan pertandingan hahahaha”
“Ngga gue ngga boleh lagi ngeluarin bahasa binantang. Gue udah dewasa”
“Aku yang belum dewasa, kak”
Ucap Nola yang baru saja tiba bersama Jery. Mendengar suara Nola, Richard hanya menoleh sesaat lalu membuang mukanya.
“Maaf, gue bener-bener lupa, kak. Ngga ada maksud sengaja buat ingkar janji sama lu. Tapi kejadiannya egitu cepat, kak”
Richard tak memberi respon. Richard tetap diam memandang pemandanga puncak yang khas akan dedaunan dan pohon serta udara yang sejuk yang membuat kedamaian hati.
“Jangan diem aja, kak. Gue takut”
Tetapi Rrichard tetaplah Richard. Di saat ia emosi memang lebih baik ia diam daripada harus berbuat atau mengatakan sesuatu yang fatal akibatnya. Di sisi lain, Nola bingung harus bersikap bagaimana lagi. Nola tidak mau kehilangan Richard sebagai kakak yang selalu ada dan mengerti dirinya.
Dengan tekad yang bulat Nola menghampiri Richard dan berdiri di sebelahnya.
“Apa kesalahan gue fatal banget sampe lu harus diemin gue gini?”
Lagi-lagi Richard hanya diam mematung.
Nola memberanikan diri memegang tangan Richard dan memohon.
“Kak, jawab, kak. Jangan buat gue bingung gini, kak”
Teriak Nola dengan air mata yang mengalir deras.
Ricahrd hanya meliriknya sekilas. Gue ngga boleh liat lu gini, gue ngga suka liat lu nangis dan gue ngga tega liat lu nangis-batin Richard.
Nola sudah putus asa. Enath harus apa lagi yang ia perbuat untuk meyakinkan Richard bahwa ia sungguh menyesal dan ngga mau kehilangan kakak yang sangat ia sayang. Nola melepaskan genggamannya dan terduduk di sebelah Richard dengan air mata yang mengalir deras dan berkata dengan lirih, pelan, namun sangat terdengar di telinga Richard.
“Gue sayang lo, kak. Gue ngga mau kehilangan lo. Itu doang yang mau gue bilang saat ini. Gue nyesel, kak”
Tetes demi tetes air mata Nola jatuh membasahi seluruh wajah Nola yang letih menjalani hari ini.
Jery yang iba kepada Nola akhirnya menghampiri Nola dan merangkulnya.
“Nol, udah, Nol”
Kini Nola menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan masih terus menangis sesenggukkan.
Gue ngga bisa lagi begini-batin Richard.richard pun ikut tertunduk di hadapan Nola. Membuka kedua telapak tangannya yang menutup wajah Nola dan menghapus air mata yang jatuh di pipi Nola.
“Aku bingung, kak. Aku cape, aku ngga mau kakak pergi gitu aja”
Richard langsung memeluk Nola dan berusaha menenangkannya.
“Ngga ada yang pergi kok”
“Tadi kata kakak, kakak akan pergi kalo aku balik sama Jemy. Aku ngga mau, kak. Sekarang aku sendiri”
“Kamu ngga akan pernah sendiri. Mau kamu balik sama Jemy atau ngga aku akan tetap jagain kamu, bocah kecil aku”
Nola melepaskan sesaat pelukan Richard.
“Trus tadi kenapa ngomong begitu?”
“Itu cuma luapan emosi sesaat aku aja, maaf ya adik kecil”
Richard berusaha memberikan senyum seindahnya. Dengan refleks Nla memukul Richard dengan ringan.
“Jahat ih udah buat aku takut, ih jahaaaaaat”
“Hahahahahaha lagi gampang banget di bodohin”
Richard kembali memeluk Nola dengan tawa khasnya.
“Semua hal bisa aku lakukan tapi untuk pergi dari kamu aku masih harus berfikir panjang dulu. Aku juga sayang sama bocah kecil aku”
“Yahh bocah kecilnya udah balikan sama yang dulu tuh, gimana?”
Pancing Nola dengan senyum yang tersembunyi di dada Richard. Richard diam sesaat dan membalas perkataan Nola.
“Yaudah berarti abangnya bocah kecil bakalan terus sabar sampe bocah kecilnya tau kalo abangnya si bocah kecil sayang banget sama bocah kecil”
“Hahahahaha bocah kecil juga sayang kok sama abangnya. Dan bisa dipastikan bocah kecil ngga akan kembali sama masa lalunya”
“Kamu yakin?”
Tanya Richard yang menatap mata Nola dalam jarak kurang dari 5 cm.
“Yaps. Aku juga cape di mainin terus sama dia. awalnya aku berfikir untuk balik lagi sama dia, tapi setelah hari ini merasakan apa yang ia perbuat ke aku dan abangnya bocah kecil, aku berubah pikiran. Ternyata bocah kecil baru bangun nih, Bang. Kalo sebenernya bocah kecil sayang banget sama abangnya dan ngga mau kehilangan abangnya. Kasih tau ke abangnya bocah kecil yaaa, kasian bocah kecil. Hehehehe”
Richard kembali memeluk Nola dengan semakin erat dan berkata.
“Nanti aku sampein ke abangnya bocah kecil dan pasti abangnya bocah kecil berkata seperti ini. Abang akan selalu jagain bocah kecil karena sampe kapan pun namanya bocah ya harus di jagain biar ngga main kesembarang tempat. Hahahahaha”
Nola mencubit tangan Richard dengan gemes mendengar jawaban Richard.
“Ihh aku udah dewasa”
“Kamu itu masih manja”
“Aku ngga manja”
“MANJA!!!”
“NGGA!!!”
“Buktinya masih mau di dalam pelukan aku”
Nola segera menjauh dan bangkit.
“Ih kakak”
“Hahahaha becanda sayang. Jadi kita?”
Tagih Richard yang berdiri tepat di depan wajah Nola yang merah.
“Maksud?”
“Sekarang kita?”
“Adik-kakak”
“Itukan udah 6 bulan yang lalu Nolaaaaaaa”
“Ya terus kita jadi apa? Manusia? Emang udah jadi manusia”
“Kan kan bocah nih ngeselin nih”
“Ya atuh ngga ngerti akunya”
“Sepik aja kamu”
“Emang hahahahaha”
Richard memegang kedua tangan Nola. Menatap lurus mata Nola berusaha meyakinkan dan berkata.
“Will you be my princess in my heart?”
Nola diam sesaat. Memikirkan jawaban istimewa lainnya.
“No, i will not”
Hah? Gue ditolak?-pikir Richard kemudian.
Sebelum Richard melepaskan genggaman tangannya, Nola meneruskan sepatah kalimatnya lagi.
“No, i will not. Because you just ask for I as your daughter don't ask for you being watchman in my heart”
“Wah kamu nih blajar bahasa inggris darimana hahahaha”
“Jahat ih di ledekin ih pacar sendiri”
“Emang lo udah jadi pacar gue?”
“Ya allah jleb meeen !!!!”
Ucap Nola yang langsung melepaskan tangannya dan membalikkan badannya.
“Hahaha ngambek pundung, dasar bocah kecil hahahaha”
“Orang mah so sweet kek ini malah ngajak ribut. Parah amat”
Richard berdiri di depan Nola dan kembali menggenggam tangan Nola.
“Hahahaha maaf yaa sayang aku”
“Ngga mau”
Jawab Nola yang membuang mukanya.
“Maunya gue buat nangis dulu yaa”
“Coba aja”
“Ngga ada yang bisa buat gue nangis depan umum siapa pun”
Ucap Nola yang di barengi Richard.
“Eh?”
“Hahahaha buktinya tadi kamu nangis tuh gara-gara aku”
“Tadi? Ngga tuh cuma akting”
“Hahahaha jujur aja ama guemah, dasar bocah gengsian”
“Ihhh kirain jadi pacar udah ngga bakal di ledekin. Ngga taunya ngga ada bedanya”
“Hahaha ya bedalah. Kalo sekarang mah ngeledeknya pake hati hahaha tapi suka kan aku ledekin?”
“Mau banget?”
“Mau dong sama pacar baru aku hahahahhaha”
Ucap Richard yang langsung pergi menjauh sedikit demi sedikit untuk memancing Nola mengejarnya. Mereka pun kembali menjadi adik-kakak dan bahkan sekarang naik tingkat menjadi sepasang kekasih. Dengan tawa lepas mereka sebuah kisah baru pun akan mereka songsong kelak.
“Emang bener ya. Antara cewek sama cowok bohong banget segala adik-kakak atau sahabat tanpa ada perasaan lebih di satu pihak enah itu si cewek apa cowok. Karena yang membuat mereka tetap bertahan di sisi lawan jenisnya ialah rasa saling memiliki, menjaga, dan menyayangi lebih dari seorang sahabat ataupun adik-kakak”
***
Langganan:
Postingan (Atom)
