Minggu, 20 September 2015

Kesegaran Hasil Laut Pasar Kramat Jati

Pasar Kramat Jati. Sebagian masyarakat ibu kota tentu sudah tidak asing dengan salah satu pasar tradisional itu, terutama masyarakat yang mendiami daerah Jakarta Timur. Pasar yang terletak di tepi Jalan Raya Bogor kilometer 20 itu sebagai pusat perbelanjaan tertua di daerah Kramat Jati Indah. Meskipun bersebelahan dengan gedung Mall Lippo Plaza Kramat Jati, pasar induk ini tetap dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitar.
Layaknya sebuah pasar tradisional, Pasar Kramat Jati tentu tidak terlepas dari bisingnya suara para pedagang yang menawarkan barang jajakannya. Suara itu terdengar seperti saut menyahut antarpedagang yang menginginkan dagangannya dilirik dan dibeli para pengunjung. Selain itu, kita dapat mencium aroma tidak sedap, yakni bau anyir. Tajamnya bau anyir itu memperlengkap kekayaan suasana pasar tradisional.
Tak diragukan lagi keramaian di Pasar Kramat Jati. Hal ini terbukti dari dilihatnya para pengunjung yang rela berdesak-desakan di dalam pasar demi mendapatkan barang yang diinginkan dan diharapkannya. Salah satu alasan mengapa para pengunjung rela berdesak-desakan ialah harga miring dari sebuah barang. Para pengunjung seperti saling berlomba menawar harga. Inilah kelebihan lain dari sebuah pasar tradisional. Akan tetapi, pengunjung akan tetap merasakan kenyamanan karena Pasar Kramat Jati telah mengalami renovasi, yakni tak terlihat lagi jalanan penuh dengan lumpur dan genangan air. Seluruh jalanan di wilayah Pasar Kramat Jati telah diaspal.
Pasar Kramat Jati menawarkan dagangan seperti sayur-mayur dan sembako. Tak hanya sayur-mayur dan sembako saja yang dijajakan para pedagang. Di sana kita dapat menemui aneka dagangan mulai dari sandang dan pangan. Tentu saja semua dagangan itu dengan mudah kita tawar. Seperti yang terlihat di area luar gedung Pasar Kramat Jati banyak sekali Pedagang Kaki Lima yang menjual daging, sayur-mayur, dan bumbu dapur.
Daging yang disajikan pun beraneka ragam, seperti daging sapi, daging ayam, daging ikan, dan aneka makanan laut. Di malam hari, khususnya, terlihat pengiriman barang dari mobil pick up yang mengantarkan ikan dan makanan laut. Memang, di pasar tradisional ini terkenal dengan segarnya olahan makanan laut d malam hari.
Daging ikan masih terlihat kenyal pada tekstur dagingnya. Mata ikan masih tampak bercahaya, dan aroma yang dikeluarkan pun masih segar, seperti aroma laut. Sedangkan untuk olahan makanan laut, di pasar ini pun tidak dapat diragukan lagi kesegarannya. Olahan makanan laut itu terlihat masih dibiarkan hidup di sebuah wadah hingga pembeli menginginkan olahan tersebut lalu baru dipotong oleh pedagang. Olahan makanan laut itu pun tidak beraroma busuk, melainkan beraroma segar layaknya binatang laut sama seperti ikan.
Bila kita telaah lebih dalam, cirri-ciri sebuah daging ikan sehat dan daging makanan laut yang dijual di Pasar Tradisional Kramat Jati masuk ke dalam cirri-ciri daging ikan dan daging makanan laut berkualitas baik. Untuk daging ikan sendiri mempunyai cirri-ciri seperti yang telah dirincikan di atas dengan tambahan insang yang tidak berlendir dan sisik melekat kuat apabila dipegang oleh manusia. Sedangkan untuk makanan laut makanan lau itu harus masih hidup, beraroma segar, dan daging berwarna putih.

Inilah kelebihan sebuah pasar tradisional dibandingkan pasar modern atau supermarket. Meskipun menjamurnya pasar modern, bukan berarti masyarakat melupakan pasar tradisional. 

Kembalilah Juniku

Malam itu aku sedang disibukkan dengan kegiatan menulisku. Aku berniat untuk menyelesaikan sebuah novel yang ditugaskan oleh seorang dosenku dan dijanjikan akan diterbitkannya naskahku ini. Kondisi emosionalku pun rupanya mendukung untuk menyelesaikan tugas itu. Jemariku menari indah di atas tuts-tuts huruf. Ku biarkan otakku beristirahat sejenak karena di dalam menulis kali ini, perasaanku memegang kuasa penuh.
Di tengah keasyikanku, teman karibku mengabari bahwa terdapat kendala dalam menyelesaikan tugas fotografi kami. Ia tidak bisa mengirim email kepada dosen dan ketua kelas, sementara Sang Dosen menunggu tugas itu hingga jam satu malam. Aku melirik jam dindingku yang berwarna merah dengan gambar kartun elmo di dalamnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.45 WIB.
Ide yang sedang menari pun seketika lari terbirit-birit. Buyar sudah konsentrasiku. Kini, bukan hanya sibuk dengan ponselku, melainkan akupun sibuk memikirkan rencana-rencana agar tugasku terkirim tepat waktu. Aku sedikit geram dengan operatorku karena di saat yang genting justru mereka tidak mendukung. Sial! Umpatku.
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. Waktu yang ku punya pun hanya tersisa empat setengah jam lagi. Kalau hanya mengandalkan kirim via email dan BBM saja, mungkin aku bisa gila. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengirim pesan singkat kepada seorang lelaki. Harap-harap cemas aku menunggu balasannya. Pasalnya, semenjak kami memutuskan fokus akan pendidikan kami masing-masing, ia sama sekali sulit dihubungi.
Di tengah kepanikan yang melandaku, lelaki itu membalas pesan singkatku. Aku terkejut bukan main. Bukan hanya terkejut karena lelaki itu membalas pesan singkatku, rupanya ia bersedia menemaniku mengambil tugas fotografi di rumah teman karibku yang berada di Cibubur.
Tak butuh waktu lama ia pun tiba di pelataran rumahku. Ia sama sekali tidak menolehkan kepalanya hanya untuk sekedar menyapaku. Tak apa, aku mengerti kondisi kami yang sama-sama saling tidak mengerti keadaan yang sudah terjadi.
Sebelum aku menaiki motor itu. Aku melihat kembali dengan detail motor itu. Motor yang dahulu berwarna hitam dan putih kini telah berganti warna. Warna dasarnya memang tetap putih, namun pada bodynya terdapat beberapa aksen tempelan anak muda zaman sekarang. Aku melihatnya tidak bangga, justru ilfeel.
“Alay,” Begitu pekikku dalam hati.
Hanya dengan melihat kondisi motornya saja sudah bisa ku pastikan, motor itu sudah bukan yang dulu. Bukan lagi niat saja untuk menghilangkan kenangan kami, rupanya ia sudah menjadikannya sebuah kenyataan dengan mengganti body motor itu. Mungkin, kalau ia mempunyai uang lebih, ia akan mengganti motor itu. Kembali aku merasakan sakit di hulu hati.
Sepanjang perjalanan, aku mengalami dilema. “Aku harus banyak berbicara atau banyak diam? Kalau aku banyak berbicara nanti dia tidak respon kan malu berbicara sendiri. Tapi, kalau banyak diam, nanti dia menyangka supir lagi tidak diajak berbicara,” Bisikku pada diri sendiri.
Aku memutuskan untuk menjadi diriku sendiri. Maksudku menjadi diri sendiri ketika menghadapi teman, bukan menghadapi sesosok lelaki yang pernah saling membahagiakan dan yang masih menetap di hati. Sesekali aku sibuk dengan ponselku dan sesekali aku berbicara kepadanya.
Aku sedikit takut kepada diriku sendiri. Apa mungkin aku dapat bersikap biasa kepadanya? Apa mungkin aku akan bisa menekan rasa rinduku yang menggelora ini dengan bersikap layaknya teman?
Aku melihat punggung itu. Punggung itu ditutupi tasnya. Biasanya, tas itu akan aku yang bawakan atau ia akan menaruhnya di belakang stang motor. Selanjutnya, ia akan berbagi pundak itu untuk meringkan sedikit ketakutan dan kepanikanku, bahkan tak jarang berbagi kebahgiaan dan rasa sayang. Ia telah menutupnya.
“Hmm aku dapat mengerti,” Gumamku pelan.
Kami pun berhenti di pinggir jalan. Aku yang baru pertama kali ke daerah itu malam hari bingung di mana letak rumah temanku. Aku menelpon temanku dan menanyakan dia sedang berada di mana. Ia mengatakan bahwa aku harus menunggunya di tempatku berhenti. Telpon pun ditutup dan aku menyampaikan pesan itu kepada lelaki di hadapanku.
“Yaudah cari minum dulu,” Ucapnya dengan membawaku menelusuri jalan raya.
Tak ada warung kecil rupanya. Dia pun terlihat letih. Ia menghentikan kendaraannya di pinggir jalan dan aku turun. Aku sempat bingung akan bersikap bagaimana kepadanya. Akhirnya aku memutuskan untuk melihat jalan raya sembari menerawang siapa yang melewati jalan raya itu.
“Aku merokok di sana ya,” Ucapnya tepat di telinga kananku.
Bulu kudukku berdiri mendapatkan perlakuan seperti itu. Aku seperti kehabisa napas dan tak tahu akan mengeluarkan kata-kata apa. Aku hanya mengangguk dan ia berjalan memunggungiku. Dalam waktu yang cukup lama kami saling memunggungi satu sama lain.
Aku sedikit menyesal mengangguk ketika ia pamit akan merokok. Aku benci asap rokok dan dia tahu itu. Dia tidak berani merokok di dekatku kala itu. Apa ia melakukan itu hanya untuk membuatku membencinya?
Tak lama temanku datang. Kami saling berbagi file yang kami kirim via ponsel. Aku sempat meliriknya. Ia sedang memerhatikanku. Tak ada sebatang rokok di kedua tangannya. Di sekitarnya pun tak ada rokok. Aneh.
Berkirim file pun usai. Waktu telah menunjukkan pukul 22.35 WIB. Aku segera mengajaknya pulang. Beban pikiran pun telah ringan. Aku dapat sepenuhnya merasakan udara malam.
Dahulu, kami tidak pernah keluar semalam ini. Batas ia membawaku pergi hanya sampai jam 9 malam. Tetapi  malam itu seperti terdapat pengecualian. Aku sangat menikmatinya. Entahlah apa yang aku nikmati di dalam perjalanan yang hanya diam itu.
Ia membawa motor itu dengan kecepatan yang sangat cepat, 60-80 km/jam. Berbeda sekali dengan waktu itu, ia hanya berani membawaku pada kecepatan 20-40km/jam. Tak apa. Biar aku merasakan segala hal bersamanya, bukan hanya hal yang membahagiakan. Angin menyergap wajah dan kulitku. Meskipun aku mengenakan jaket tebal, aku tetap merasakan dingin itu.
Aku baru tersadar, malam itu malam di Bulan Juni. Aku sangat menyayangkan mengapa bukan tepat di tanggal 2 Juni kemarin. Tak apa, setidaknya aku  merasakan kembali malam di Bulan Juni. Aku merindukannya.

Teruntuk lelaki di hadapanku. Tahukah kau apa yang aku rasakan di belakang? Dingin. Semuanya. Kembali aku mengatakan, taka apa. Tahukah kau apa yang kusuarakan di dalam hati ini? Kembalilah Juniku.

Senja Kini

Tepat jam enam sore
Hampir seluruh kepala terlihat di jalan
Tepat jam enam sore
Aku tenggelam pada kemacetan

Enam sore kala itu
Kau mengait lenganku
Percuma aku beringsut lalu
Nampaknya, kau enggan melepaskan ku

Kini, senja tiba
Kala petang berteman kabut
Kau menghimpit rasa dalam asa

Kala itupula cincin ini terpaut

Kehiningan Malam

Malam…
Cahaya mulai temaram
Menandakan lampu akan padam
Namun, tubuh ini duduk tertanam

Malam…
Ku lihat bulan bersinar
Ku lihat bintang berpijar
Namun, mata ini menatap nanar

Malam…
Di antara lelap dan sadar
Hati ini masih terus tercekam
Menanti kedatangan fajar


Merdekakan Pendidikan Papua

Pulau Papua merupakan pulau terbesar pertama di Indonesia dengan luas mencapai 890.000 . Pulau Papua pun menduduki peringkat kedua sebagai pulau terbesar di dunia. Banyak sekali kekayaan yang tersimpan di dalamnya. Terlihat dari sektor pertambangan yang mempengaruhi 50% perekonomian di Indonesia. Pulau Papua mempunyai luas hutan yang memakan 90% wilayahnya itu sendiri. Perkebunan di dalamnya mampu menghasilkan sawit, kakao, karet, buah merah, dan kopi Arabic. Rupanya, tanah Papua memang sangat subur. Selain sektor pertambangan, hutan, dan pekerbunan, tanah Papua mempunyai sawah dengan luas 3.845 ha yang menghasilkan 61.922 ton padi tiap tahunnya. Pulau Papua memang mempunyai sumber daya alam yang benar-benar melimpah.
Namun, amat disayangkan. Sumber daya alam yang berlimpah itu belum mendapatkan perhatian secara intensif dari para penduduk di sekitarnya untuk dimanfaatkan menjadi sumber ekonomi. Di sinilah letak permasalahan yang tengah dialami oleh Pulau Papua. Mereka sulit mengolah sumber daya alam tersebut karena minimnya Ilmu Pengetahuan mereka akan alam dan perekonomian dalam membangun pulaunya. Setelah ditelusuri lebih lanjut, rupanya permasalahan Ilmu Pengetahuan ini telah menghasilkan tingginya angka pengidam Tuna Aksara usia 15-59 tahun sebanyak 675.253 jiwa atau 35,98% dari 1.876.746 jiwa. Masalah kompleks lainnya, yaitu anak pada usia 0-6 tahun belum dapat menikmati Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang menyebabkan sulitnya mereka ketika berada pada lingkungan sekolah tingkat dasar. Anak usia 7-12 tahun dan 13-15 tahun pun rupanya belum dapat menikmati pendidikan dasar. Hal tersebut berdampak pada rendahnya indicator melek huruf di Pulau Papua.
Sangatlah sulit merealisasikan Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen yang menyebutkan bahwa pada tahun 2015, pemerintah mesti menuntaskan kualifikasi guru ke jenjang S1 di Pulau Papua. Mengapa? Karena para pengajar dalam mengemban amanatnya mendapatkan rintangan yang sulit. Tiadanya rumah dinas yang dekat dengan gedung sekolah yang menyebabkan para pengajar menempuh jalan puluhan kilometer atau bahkan tidak jarang dari mereka yang memutuskan untuk tidak mengajar pada beberapa hari diakibatkan jarak dan medan yang mereka lampoi. Tak heran, jika di Pulau Papua kita dapat menemukan di dalam satu sekolah dasar dengan 6 tingkat hanya memiliki satu guru yang mengajar. APM SD terendah terdapat di Kabupaten Nduga dengan usia 7-12 tahun hanya 15,6% anak yang bersekolah dan 84,4% anak yang tidak bersekolah. Selain jauhnya tempat pengajar, di daerah tertentu seperti di pedalaman gunung dan lembah yang belum terinfrastruktur yang semakin menyulitkan Ilmu Pengetahuan itu menyebar secara merata. Dan masalah lainnya yang tak kalah pentingnya ialah masalah Bahasa Ibu. Bahasa Ibu mempunyai peran penting dalam proses pengajaran. Para pengajar tentunya harus menguasai Bahasa Ibu terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan untuk mengajar di sana. Terdapat 7 wilayah adat, yaitu Mamta, Saireri, Bomberai, Domberai, Mipago, Lapago, dan Hainam yang harus diperhitungkan, karena dalam merealisasikan pendidikan di Pulau Papua ketujuh daerah itu mempunyai peran besar dana budaya dan Bahasa Ibu.
Tentunya melihat itu, bukan saja pemerintah yang harus memperhatikan pendidikan di Pulau Papua, tetapi seluruh elemen di negeri ini seharusnya mulai peduli akan nasib pulau dengan kekayaan alam yang sangat melimpah ini. Badan PBB yang diwakili Koordinasi Badan-Badan PBB yang menaungi UNDD di Indonesia, Douglas Broderick, membantu Pulau Papua dalam bidang pembangunan seperti pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Selain itu, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom) bekerja sama dengan Unit Implementasi Kurikulum Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) dengan program “Bagimu Guru Kupersembahkan.” Terdapat pula lembaga sosial seperti Lembaga Pancaran Kasih Papua yang membantu pendidikan di Pulau Papua dengan program “Runah Belajar Pancaran Kasih Papua.” Tentunya, banyak sekali wadah lainnya yang bertujuan membangun Pulau Papua. Tentunya, sebagai penerus negeri ini, sudah selayaknya kita mengikuti program lembaga-lembaga itu demi memerdekakan Papua.

Muda-Mudi Berbusana Bahasa, Salahkah?


Kalian sudah tidak asing lagi dengan kata kebudayaan. Lantas, tahukah kalian apa itu kebudayaan? Kebudayaan merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Kebudayaan sendiri berasal dari Bahasa Sansekerta yakni Buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari Buddhi (Budi atau Akal). Menurut Herskovits dan Bronislaw Malinowski, kebudayaan didapatkan dari hasil turum temurun (superorganis). Terdapat istilah cultural-Determinisim, yaitu segala sesuatu yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.
Sementara kata dasar dari kebudayaan ialah budaya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, budaya merupakan suatu kebisaan yang sukar diubah atau suatu hal mengenai kebudayaan yang sudah berkembang. Wujud nyata dari budaya ialah  gagasan (ide), aktivitas (tindakan), dan artefak (karya). Ketiganya saling berkaitan hingga menjadi sebuah kebudayaan di daerah tertentu.
Sebagai Bangsa Indonesia tentu kita harus mengetahui kebudayaan di Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Kebudayaan tersebut mulai dari rumah adat, tarian adat, pakaian adat, lagu adat, alat musik, makanan, seni, hingga bahasa yang digunakan sehari-hari. Tak ayal membuat Bangsa Indonesia banyak sekali wisatawan mancanegara menjadikan Indonesia menadi destinasi wisata yang kaya akan alam dan budayanya.
Selain menyukai paronama yang disuguhkan oleh alam di Indonesia, rupanya para wisatawan mancanegara tersebut menyukai keramahan masyarakat Indonesia dan tutur kata masyarakatnya yang sopan dan lembut. Meskipun masyarakat hanya menggunakan Bahasa Inggirs “ala kadar”nya untuk menjalin interaksi kepada para turis, justru hal tersebut membuat para wisatawan ingin belajar lebih dalam lagi mengenai Bahasa Indonesia dan juga kebudayaan yang berada di dalamnya.
Namun, justru kondisi yang sangat tragis terjadi di era millennium ini. Tiap muda-mudi lebih menyukai bahasa yang digunakan oleh para wisatawan mancanegara itu. Entah karena mereka belajar di sekolah sesuai kurikulum ataupun memang untuk tujuan tertentu. Amat disayangkan bila yang terjadi ialah untuk tujuan tertentu, terlebih untuk menjatuhkan orang lain, berbuat sombong, bahkan mendiskriminasi bahasa sendiri.
Para orang tua dengan bangga berbicara menggunakan bahasa asing terutama Bahasa Inggris kepada anaknya di tempat umum. Rasa bangga tersebut mereka tuangkan dengan berbicara bahasa asing dengan nada yang besar. Terkadang, tanpa merea sadari, kata yang keluar dari mulut mereka mempunyai arti yang berbeda. Tak takutkah mereka apabila terdengar oleh seorang yang paham betul akan bahasa tersebut? Lantas, di manakan busana yang tepat untuk Bangsa Indonesia?
Salah satu artikel di dunia maya mengatakan bahwa dewasa ini, tengah marak tren busana berbahasa. Busana berbahasa? Apa itu? Maksudnya pakaian dan baju? Tentu tidak. Tren busana berbahasa merupakan sebuah kebudayaan baru yang tanpa sadar telah menjadi budaya di Indonesia, khususnya untuk kalangan Anak Baru Gede (ABG) dan Remaja. Tren busana berbahasa ini bekerja dengan cara menyatukan dua atau lebih bahasa yang mempunyai makna sama dan digunakan di dalam satu kalimat.
Busana sendiri berarti seuntai benang yang dirajut hingga menjadi pakaian untuk menutupi tubuh kita. Busana berbahasa pun dapat kita katakan sebagai seuntai kata-kata yang selalu diucapkan oleh seseorang hingga membuat orang lain percaya kita dengan hanya dikatakan oleh kata-kata. Mungkin apabila perkataan yang dikatakannya itu memang sesuai dengan karakter orang tersebut. Namun, apabila tidak? Itu hanya menjadi sebuah pencitraan dan “tameng” untuk orang itu sendiri.
Apabila kita menggunakan busana berbahasa ini justru kita sendiri yang telah mendiskriminasi Bahasa Indonesia. Sebagai sebuah contoh saya ambil dari buku SAYA INDONESIA hasil ulasan dari salah satu penulisnya yaitu Sammy ‘Not A Slim Boy’ yang memberikan persamaan antara coffe shop dan warung kopi. Secara leksikal, bukankah keduanya mempunyai makna yang sama? Coffe shop ialah sebuah kedai kopi atau warung kopi, yang membedakan keduanya ialah coffe shop berada di pasar swalayan atau mall-mall besar Ibu Kota sementara warung kopi berada terletak di pinggir jalan yang kumuh.
Dari dua contoh di atas jelas sekali bahasa ibu negara ini, yaitu Bahasa Indonesia, telah mengalami pergeseran yang bersifat penyempitan makna ke arah yang lebih buruk (peyoratif).
Kalau kita berani telaah lebih jauh, terdapat dua dampak dari busana berbahasa seperti contoh di atas. Dampak pertama sudah tentu diskriminasi Bahasa Indonesia. Tanpa sadar mereka lebih bangga menggunakan bahasa asing daripada Bahasa Indonesia. Terlihat jelas penurunan sikap cinta tanah air, menjatuhkan bahasa ibu atau Bahasa Indonesia. Inilah problematika terbesar yang dihasilkan dari tren busana berbahasa.
Dampak kedua ialah pengelompokkan di tengah masyarakat itu sendiri. Jurang perbedaan iu terjadi karena warung kopi yang sudah kita tahu hanya untuk kalangan bawah seperti supir angkutan umum dan supir truk pengantar barang. Semennara itu, coffe shop yang letaknya di pasar modern selalu didatangi oleh kalangan orang menengah dan tidak sedikit anak remaja dan ABG mencicipi pergaulan di sana. Ironis sekali, mereka membuat pengelompokkan di atas semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Tren busana berbahasa sebenarnya sudah mengalami pergeseran pragmatis yang signifikan. Sebuah kalimat yang seharusnya sederhana dengan susunan yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berada di buku sintaksis mengalami pemborosan kata.
Contoh yang saya akan ambil ialah "Kita tidak boleh negative thinking, itu suudzon, namanya sudah berburuk sangka." Perhatikan lebih cermat kata-kata yang sengaja di tebal dan miringkan itu. Apakah kalian paham benar makna dari negative thinking dan suudzon itu? Apa perlu sebuah pertanyaan terlontar bahwa berburuk sangka itu mempunyai makna apa?
Hal yang paling melakukan ialah terdapat beberapa pemenang kontes atau ajang tertentu menggunakan tren busana berbahasa ini. Seperti ketika mereka memenangkan sebuah piala dan mereka akan mengucapkan, “Terima kasih atas dukungan dan supportnya.” Sekali lagi bangsa ini seharusnya malu kepada para pahlawan yang sudah merebut kemerdekaan Indonesia.
Kembali kita menemukan dua kata yang mempunyai makna sama namun digunakan serangkai seakan-akan mereka bukan saudara dengan satu ibu. Tanpa malu mereka menggunakannya di depan umum. Para penonton pun seakan terhipnotis karenanya. Contoh di atas bukanlah sebuah kalimat yang mengandung majas repetisi.
Berbusanalah yang sopan dan santun, berbahasalah yang baik dan benar. Tak ada larangan di negeri ini bahwa kita tidak boleh menggunakan bahasa asing. Justru yang terjadi ialah bahasa asing masuk ke dalam kurikulum di negeri ini untuk dipelajari dengan baik.
Pendidikan di Indonesia memang mewajibkan segenap bangsanya dapat menggunakan Bahasa Internasional tersebut. Namun, patutka kita lebih bangga menggunakan bahasa asing itu? Siapa yang akan menggunakan, mempelajari, dan mewariskan kebudayaan Bahasa Indonesia kepada anak dan cucunya di negerinya sendiri? Mungkinkah negeri ini tidak lagi menggunakan busana yang sesuai dengan negerinya?
Tempatkanlah Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dan mempersatu bangsa. Sebisa mungkin hindari berbahasa asing jikalau berkomunikasi dengan masyarakat negeri sendiri. Apabila memang ingin menggunakan bahasa asing, tidak diperlukan mengatakan bahasa asing dan langsung diartikan ke dalam Bahasa Indonesia. Bukankah itu jadi terlihat tidak bergua bahasa asing yang digunakan?
Belajarlah mencintai Bahasa Indonesia sejak dini dan ajarkanlah kepada adik-adik dan masyarakat lainnya. Karena rasa cinta tanah air akan muncul ketika kita menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Sabtu, 12 September 2015

BENARKAH NTT MENGALAMI KEBODOHAN?


Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu daerah di Indonesia Bagian Timur yang menempati posisi ekor atau posisi pada urutan ke-33 tingkat kelulusan terendah tahun ajaran 2007/2008. Posisi Nusa Tenggara Timur ini melahirkan penilaian bahwa mutu pendidikan di Nusa Tenggara Timur paling rendah secara nasional. Akan tetapi, penilaian ini sepatutnya dipertimbangankan kembali bila mengukur tingkat mutu pendidikan di Nusa Tenggara Timur jika hanya dari hasil Ujian Nasional saja. Karena pada dasarnya, pendidikan tidak sekadar prestasi intelektual, melainkan juga mencakup aspek kepribadian dan budi pekerti serta masih ada aspek lainnya. Sementara yang diukur dalam Ujian Nasional hanya aspek intelektual semata.
Setelah ditelaah, menurut Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Timur, Ir. Thobias Uly, itu terbukti dari data yang menunjukkan kelulusan Ujian Nasional tingkat SMA/SMK/MK tahun ajaran 2005/2006 memiliki prosentase sebesar 70%; tahun ajaran 2006/2007 sebesar 62,08%; dan tahun ajaran 2007/2008 sebesar 62,25%. Pendidikan di Nusa Tenggara Timur berjaya pada tahun 1960-an dengan Standar Kelulusan Nasional 6,00, berbeda sekali dengan standar kelulusan kini yang berada pada nilai 5,00-5,25 pun masih banyak peserta didik yang tidak lulus. Menurut Prof. Elias Kopong, merosotnya mutu pendidikan di Nusa Tenggara Timur ini sudah terjadi sejak tahun 1970-an, namun belum menjadi pembicaraan khusus di masyarakat.
Prof. Elias Kopong kembali mengatakan bahwa hal tersebut terjadi karena dua faktor, yakni kurangnya sumber tenaga pendidik dan sistem pembagian guru pada wilayah kerja. Rupanya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Sinus Petrus Manuk, dan hasil diskusi yang digelar Pos Kupang menyatakan hal serupa, bahwa terdapat dua faktor yang menjadi penghambat majunya pendidikan di Nusa Tenggara Timur, yakni kurangnya tenaga pendidik dan penyebaran guru yang tidak merata. Terlihat besar prosentase guru yang masih menggunakan ijazah SMA sebesar 44,63% dari 80.000 tenaga pendidik. Prosentase tersebut pun sudah mengalami kemajuan dari tahun 1990-an yang hanya sebesar 9000 tenaga pendidik dari 50.000 tenaga pendidik. Melihat hal itu, Sinun Petrus mengupayakan agar tenaga pendidikan yang masih berijazah SMA akan disekolahkan kembali pada tingkat yang lebih tinggi lagi.
Tenaga pendidik yang tersedia pun rupanya memiliki masalah di dalam kegiatan belajar mengajar. Seperti yang diutarakan kembali oleh Prof. Elias Kopong, bahwa satu tenaga pendidik tidak hanya menekuni dan mengajar satu mata pelajaran, namun berbagai mata pelajaran yang sekiranya dikuasai pula oleh tenaga pendidik tersebut. Salah satu contohnya ialah seorang tenaga pendidik yang menguasai mata pelajaran matematika rupanya harus mengajar mata pelajaran fisika yang dirasa mempunyai ilmu dasar sama, yaitu menghitung.
Masalah lain yang terlihata ialah akibat dari tenaga pendidik yang belum mempunyai ijazah S1. Bila kita telaah, apabila tenaga pendidik berijazah S1 tentunya ia akan mengetahui materi yang tepat diberikan untuk siswa pada tingkat SMP ataupun SMA. Tak peduli bila kurikulum telah berganti dari tahun ke tahun karena mereka sudah memahami betul materi yang akan mereka ajarkan.
Hal lain yang menjadi faktor pembodohan di Nusa Tenggara Timur ialah penyebaran atau pemerataan tenaga pendidik yang jauh dari kata seimbang. Tenaga pendidik berkumpul di pusat kota sementara daerah pedalaman yang sangat membutuhkan pendidikan tersebut pun hanya memiliki 1-2 tenaga pendidik.
Karenanya, Nusa Tenggara Timur menjadi daerah terbelakang berlatar belakang tingkat kelulusan Ujian Nasional terendah. Hal tersebut terjadi bukan karena rakyat Nusa Tenggara Timur yang kurang pandai melainkan sistem pendidikan yang dinilai menjadi faktor pembodohan rakyat Nusa Tenggara Timur.
Pemerintah melalui Kementerian Agama pun tengah gencar membangun pendidikan di Nusa Tenggara Timur dengan adanya Pemutakhiran tenaga pendidik melalui Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian dengan waktu pencapaian tanggal 10 April 2015 kemarin. Pemutakhiran tenaga pendidik tersebut mencakup 2 hal terpenting dalam memecahkan sistem pendidikan di Nusa Tenggara Timur, yakni menempatkan guru sesuai dengan tempat mengajar dan melengkapi semua bidang studi untuk setiap guru.
Maksud dari menempatkan guru sesuai dengan tempat mengajarnya ialah menempatkan tenaga pendidik tersebut di sekolah atau daerah yang membutuhkan tenaga pendidik atau minim tenaga pendidik, sekalipun sekolah tersebut berada di daerah pedalaman.
Selain menyebarluaskan tenaga pendidik, pemerintah pun memperhatikan kualitas pendidikan yang diterima siswa Nusa Tenggara Timur dengan semua bidang studi untuk setiap guru. Hal tersebut bertujuan agar tidak terlihat kembali seorang tenaga pendidik yang mengajar dua mata pelajaran.

Terlindungi Di Sisi Kucing


Bulan Desember, bulan di mana seluruh organisasi di sekolah ku melakukan kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan, atau biasa kami sebut LDK. Perkenalkan, nama saya Putri Nindya Mahkota Tita, panggil saja aku Tita. Seorang siswi pada tingkat 3 yang tengah melaksanakan salah satu program kerja wajib tahunan di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Negeri terkemuka di Desa Sukahati. Hari itu, hari kedua kami melaksanakan LDK. Saya memegang tanggung jawab penuh terhadap segala kegiatan administrasi untuk kegiatan tersebut. Para peserta LDK beserta beberapa para panitia tengah melaksanakan kegiatan baris berbaris yang dipimpin langsung oleh Ekstrakulikuler Paskibra dan Pramuka. Saya dengan beberapa panitia inti tengah berada di ruang isolasi, mendiskusikan lebih terperinci kegiatan Bimbingan Mental yang akan dilakukan pada dini hari malam nanti.
“Anggota rohis sudah kamu hubungi, Jer?” Tanyaku.
“Sudah, Ta. Nanti sore mereka akan tiba di sini. Jumlah seluruh anggota rohis 10 siswa. Untuk biaya transportasi kita ganti jadi biaya konsumsi sesuai rencana dan mereka tidak keberatan.”
“Konsumsinya pun berbeda dari anggota lainnya kok, Ta. Mereka aku pesankan nasi kotak. Nasi kotaknya tidak mahal, aku memesannya pada Pak Tono, penjaga kantin sekolah kita,” Timpal Tania.
“Berapa biaya anggaran konsumsi untuk mereka?” Tanya Eko, Ketua Penyelenggara Kegiatan.
“Seratus ribu rupiah, Ko. Sesuai dengan dana tak terduga yang sudah kita pinta. Saya memesan 20 dengan harga sepuluh ribu rupiah beserta air mineralnya.”
“Kamu kenapa, Ta?” Bisik Karel, Bendahara pada kegiatan LDK.
“Meskipun aku sudah tiga tahun melakukan kegiatan ini, dari semasa aku menjadi junior. Tapi aku tetap was-was, Rel,” Balas Tita dengan berbisik yang rupanya terdengar oleh Ario, panitia yang bertanggung jawab pada seluruh keamanan pada kegiatan tersebut.
“Ta, panitia di bawah naungan gue itu banyak, ganas-ganas lagi. Lo tenang aja masalah keamanan selama kegiatan bintal nanti malam,” Potong Ario.
“Yo, kamu tuh bukan hanya menangani seorang makhluk hidup, Yo.”
“Setidaknya anak buah gue ngga ada yang penakut. Dan di setiap pos akan selalu disertai anggota rohis. Anggota rohis yang tidak berada di pos pun akan ikut gue jalan-jalan di dalam area bintal nanti malam. Gue udah jelasin sistem kerja seksi gue kan?”
“Ta, kamu cuma parno. Kamu masih dibayang-bayangin kejadian tahun lalu karena kamu satu kelompok bersama Naomi. Untuk malam ini pun kegiatan tidak dilaksanakan terlalu larut kan? Dimulai dari jam setengah 2 malam sesuai permintaan kamu, dan jam 4 malam harus sudah selesai untuk mereka beristirahat sebentar menunggu adzan subuh,” Jelas Ari, panitia yang bertanggung jawab akan segala rangkaian acara pada kegiatan hari itu.
“Oke. Jadi aku bacakan hasil kesimpulan pertemuan singkat hari ini ya,” Ucap Tita yang dilanjutkan dengan anggukan kepala dari panitia lainnya.
“Pos pertama sebagai pos terminal dijaga oleh Eko bersama Ratna. Pos kedua sebagai pos bintal pertama dijaga oleh Tita dan Karel. Pos ketiga sebagai bintal kedua dijaga oleh Jerry dan Rio. Pos ketiga dengan materi pendidikan kewarganegaraan dijaga oleh Putri dan Oktav. Pos keempat dijaga oleh Cinta dan Shella dengan materi lingkungan. Pos terakhir, yaitu kelima dengan materi keterampilan akan dijaga Richard dan Kia. Ada pertanyaan?” Jelas Tita.
Panitia lainnya hanya menggelengkan kepala tanda mereka sudah paham dan tidak akan mengeluarkan pertanyaan. Melihat kondisi itu, Tita segera bertanya. Sedaritadi pikirannya terus bertanya mengenai adanya pos bintal sejumlah dua? Untuk apa? Ia sendiri pun sebenarnya bingung akan mengisi pos bintal itu dengan apa.
“Pos bintal pertama itu akan ditempatkan di belakang, di ruangan yang sedang dibangun. Kenapa terbagi menjadi dua, karena kami mau dari organisasi MPK dan OSIS ada tahap bintal tersendiri dan kamu bersama Karel kan petinggi MPK,” Jelas Eko.
“Tunggu, gedung MO? Gedung yang lagi dibangun untuk ruang praktik jurusan Mesin Otomotif? Yang pintu tembusannya ke kantin belakang?” Ucap Tita dengan panik.
Teringat di kepalanya cerita teman-temannya akan daerah gedung belakang itu. Gedung praktik jurusan Permesinan dan Mesin Otomotif yang bersebelahan dan terletak di belakang. Konon di dua gedung itu terutama di Gedung Permesinan terdapat seorang gadis bernama Melati yang suka melintas seenaknya saja di depan mata. Tak memandang siang ataupun malam.
“Kamu ngga usah takut, Ta. Pos kita berdampingan. Aku kan di kantinnya. Tepat di tempat siluman setengah harimaunya,” Ucap Jerry yang seakan-akan dapat membaca pikiran Tita.
Tita kembali teringat akan pos kantin itu, pos di mana ia menjadi saski hidup akan awal mula kegilaan Naomi, teman satu tim-nya dulu ketika menjadi junior, hingga meninggal beberapa bulan kemudian. Setidaknya, Si Melati ini tidak pernah mengganggu. Hanya menampakkan diri saja. Begitu pikirnya.
***
Malam pun tiba. Waktu sudah menunjukkan pukul. 22.00. Para peserta LDK telah diperintahkan untuk tidur 30 menit yang lalu. Sebagian panitia yang terdiri dari perempuan memutuskan untuk tidur bergantian hingga jam 1 malam. Dan para panitia lelaki memutuskan untuk berjaga dengan bermain gitar di malam hari yang sunyi.
Tita mempersilahkan Karel untuk tidur terlebih dahulu. Tita masih belum merasa aman. Bukan kali pertama ia melihat sekolahnya gelap gulita seperti ini, namun perasaan was-was itu masih terus bercokol di hatinya. Kenangan satu tahun silam tetap bergelayutan dalam benaknya. Selepas menunaikan sholat Isya tadi, Tita terus memanjatkan doa permohonan perlindungan akan kegiatannya dini  hari nanti.
“Ta, pada tidur semua yang perempuan?” Tanya Jery yang berhasil mengagetkan Tita dengan masuk ke dalam ruangan secara tiba-tiba.
“Eh, astagfirullohalazim, Jery! Ketok-ketok dulu kenapa sih. Ini kan isinya perempuan semua, kalo ada yang ganti baju gimana?” Celoteh Tita.
Jery mendekati Tita dan duduk di sebalahnya Tita, “Yailah, Ta. Sebanyak itukah baju yang di bawa para perempuan di dalam kegiataan kaya gini? Masih takut?”
“Tita tidur ya, Jer. Lumayan tidur 2-3 jam,” Jery hanya mengangguk dan meninggalkan Tita. Tita berusaha terlelap. Meskipun dengan usahanya yang keras untuk tertidur, ia pun berhasil tertidur entah pada jam ke berapa.
Tak lama Tita merasakn tidur, ia dibangunkan oleh Karel. Teman satu pos-nya itu.
“Ta, bangun, Ta. Kita ada rapat sebentar sebelum kegiatan dimulai,” Panggil Karel yang sedang mengguncang tubuh mungil Tita.
Setengah sadar Tita terbangun dan segera menarik selimutnya lebih dalam. Ketika Tita terduduk, ia terkejut. Seluruh teman-temannya sudah duduk melingkar tak jauh darinya duduk. Tita pun mendekati teman-temannya dan merapatkan mantelnya karena udara malam itu amat dingin. Beberapa menit yang lalu turun hujan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 01.15. Sebagian panitia bergegas menuju lapangan dan sebagiannya lagi membangunkan para peserta LDK. Dalam waktu 10 menit mereka telah berbaris sesuai kelompok di lapangan dan para penjaga pos serta panitia lainnya mulai berkeliaran hingga menyisakan Eko dan Ratna sebagai penjaga pos satu.
Ketika rapat tadi, Eko memutuskan untuk memindahkan pos ku sehingga berada di depan Gedung Permesinan. Bukan di belakang Gedung Permesinan tempat gedung baru akan dibangun. Aku sangat bersyukur dan berterima kasih. Lega. Itu yang aku rasakan. Aku pun sudah berada di pos baru ku. Aku mencari tempat yang tidak mudah dicari namun dapat melihat sekitar. Aku memutuskan untuk duduk di tangga membelakangi Gedung Permesinan dan berhadapan langsung dengan pepohonan lebat yang tumbuh di sekitar area menuju parkiran.
“Ta, kenapa di sini sih kita?” Buka Karel yang sedaritadi aku perhatikan hanya diam.
“Memangnya kenapa? Bagus dong di sini, daripada di belakang coba. Jauh dari peradaban. Kalo ada apa-apa kita susah untuk lari ke depan, Rel.”
“Justru di sini lo menantang maut. Pohon lebat itu. Itu tempat Si Melati duduk. Di dahan paling tinggi kalau sepi dan dahan paling rendah kalau ia tahu masih ada makhluk di sekitarnya,” Ucap Karel yang berhasil membuat bulu kuduk ku berdiri.
Sepintas aku melihat pohon yang dimaksud Karel. Kosong. Pada dahan terendah tak ada apapun. Mungkin sosok itu belum mengetahui. Tetapi nanti? Setelah beberapa kelompok yang melewati pos ini? Bagaimana nasib mereka berdua? Entahlah. Tita terus berusaha menenangkan Karel dengan terus mengatakan ini tempat aman dan dekat dari manapun. Jadi tidak perlu merasa khawatir berlebihan.
Aku terus berbincang dengan Karel mengisi kekosongan waktu. Karena ketika kami diam, aku merasa banyak sekali bibir yang membicarakan kami di sekitar kami. Dua kelompok sudah melewati pos kami dan tidak menyadari adanya kami. Kami berhasil.
Aku merasa waktu berjalan begitu lama. Untuk pertama kalinya selama aku mendiami tempat itu. Aku merasa sedang diperhatikan dari arah atas dan sebelah kiri ku, tepat terdapat sebuah bangku kosong dengan dipayungi pohon. Sekolah ku memang pernah memenangkan penghargan tentang kebersihan dan lingkungan, jadi jangan heran melihat banyak sekali pepohonan.
Aku memberanikan diri sesekali melirik ke atas, ke dahan pohon tertinggi itu. Namun tidak ada apa-apa. Sekali dua kali aku melihatnya, aku tidak ingin melihat yang ketiga kalinya lagi. Takut-takut sesosok itu akan muncul pada penglihatan ku yang ketiga.
Aku pun memberanikan diri melihat ke sebelah kiri ku, tempat bangku kosong itu. Aku memang melihat bangku itu tidak kosong, namun pikiran ku berkata itu hanya tumpukan tempat sampah yang biasa diletakkan disitu oleh Pak Mono, penjaga sekolah ku. Aku tidak mengambil pusing. Tak lama Jery datang menghampiri kami.
“Kalian di sini? Bukan di gedung baru? Pantas saja aku ke sana kosong,” Ucap Jery yang langsung duduk di sebelah kiri ku. Mau tidak mau aku menoleh kembali ke arah kiri, namun pandangan ku bergeser pada bangku kosong itu. Aku merasa semakin berhasil melihat sesosok yang berada di sana.
“Rel, kalian di sana aja jangan di sini. Justru lebih bahaya di sini,” Ucap Jery yang tak di dengar oleh Tita karena tatapannya melekat pada daerah bangku itu.
“Aku juga udah bilang gitu ke Tita Jer. Dia malah bilang di sini lebih amat ketimbang di belakang. Dianya mau di sini, yaudah apa boleh buat?”
Tak lama Ario, penanggung jawab keamanan pun menghampiri mereka sejenak ketika sedang berjalan-jalan bersama salah satu anggota rohis, Abidin. Ario berdiri di sebelah Karel dan Abidin berdiri di depan Tita seraya memandang Tita penuh lekat. Ia tau apa yang sedang terjadi.
“Kenapa kalian di sini? Ini pos berapa? Bagaimana dengan pos kalian?”
“Tau nih, Yo. Tadi gue ada di pos ketiga di kantin. Terus si Fikih dateng dia katanya  mau jaga pos ketiga, yaudah gue mau ke pos kedua. Eh pas gue ke belakang ngga ada Karel sama Tita,” Balas Jery.
“Gue udah bilang, Yo, ke Tita mending di gedung baru dia ngga mau. Dia selalu bilang di sini aman, udah gue bujuk dianya ngga mau terus. Alhamdulillah sih daritadi ngga ada kejadian aneh apapun,” Bela Karel.
“Tau darimana lu ngga ada kejadian aneh? Di posnya Fikih, daritadi anak-anak pada bilang itu pos dua. Gue curiga. Gue cari Abidin. Gue ajak cari kalian. Baru kami menemukan kalian. Ayo pindah ke gedung baru lebih aman di sana. Di sini tempat kontak langsung dengan mereka yang ada di sini.”
Jery dan Karel pun berdiri bersiap untuk beranjak pergi. Namun rupanya sedaritadi Tita tetap memandang bangku kosong itu lekat-lekat. Abidin pun menyentuh pundak Tita, lama, lalu memanggil namanya, “Tita.”
Tak lama Tita menoleh dan terkejut mendapati Abidin di depannya dan Karel yang sudah berada di bawah bersama Jery dan Ario, “Loh? Sejak kapan kamu ada di sini, Din?”
“Hayo kita pindah,” Ajak Abidin yang mempersilahkan Tita menuruni anak tangga terlebih dahulu. Semacam robot, Tita hanya mengangguk dan mengikuti perintah Abidin untuk turun. Ketika Tita berada di anak tangga terakhir, ia seperti mendengar seseorang berkata, “Hati-hati ya.”
Reflex Tita menoleh ke belakang dan mendapati Abidin tersenyum, “Lanjutkan. Kamu akan aman.” Tita tertegun. Apa Abidin juga mendengar apa yang ia dengar? Apa ia akan bertanya pada Abidin? Sepertinya tidak akan.
Ketika melewati pohon lebat itu untuk mencapai gedung baru pun Tita hanya terdiam. Ia masih terus memikirkan apa yang ia dengar barusan. Dan seperti peluru, sebuah suara kembali ia dengar, “Ya ya yaaaa,” begitu panjang hingga di telan hembusan angin.
Aku kembali terkejut. Namun memutuskan untuk diam dan tidak terlihat panik. Setibanya kami di gedung baru. Aku sangat tidak percaya. Terlihat terang dengan cahaya bulan. Berbeda sekali dengan tempat yang tadi kami diami. Ario dan Abidin meninggalkan kami. Sebelum Abidin beranjak, ia sempat bertanya padaku, “Suka kucing?” Aku mengangguk dengan senyum selebar mungkin. Abidin hanya mengangguk dan meninggalkan kami, aku, Karel, dan Jery.
Tak lama terlihat rombongan kelompok yang entah sudah kelompok ke berapa. Kelompok lainpun berdatangan silih berganti dan fokus ku kini pada para peserta bukan lingkungan.
Ketika aku duduk, aku terkejut ada seekor kucing mendekat dan menggeram di punggungku. Aku sempat melonjak, namun Jery tersenyum dan berkata, “Kucing itu baik.”
Aku merasa aman dan aku membiarkan kucing itu menggeram di balik punggung ku. Sesekali aku mengelus leher dan tubuhnya ketika lenggang. Dan kucing itu akan beridiri di sebelah ku ketika para peserta sedang berada di pos ku. Layaknya seorang penjaga. Mungkin aku menggambarkannya seperti itu.
kelompok para peserta pun usai. Aku, Karel, dan Jery bergegas meninggalkan tempat itu menuju lapangan utama yang berada jauh di depan. Aku kembali melewati bangku kosong itu, namun anehnya aku seperti melihat Abidin duduk di sana.
“Abidin? Jangan diganggu, itu tugas dia ketika acara selesai. Nanti juga dia akan berkumpul bersama kita kalau tugasnya sudah selesai,” Ucap Jery yang melihat arah pandangan ku. Aku hanya mengangguk.
Aku berjalan menuju lapangan utama sambil berpikir. Seperti baru terdasar satu hal, tadi ia seperti melihat Abidin di bangku kosong itu ketika berjaga pos. Ia terkejut ketika melihat Abidin di depannya dan memanggil namanya. Mungkin itu hanya perasannya saja. Begitulah pikiran Tita.
Seusai kegiatan seluruh peserta dan panitia dipersilahkan untuk beristirahat. Beberapa temannya ada yang menyambangi ruang tidur juniornya ada pula yang memutuskan untuk beristirahat. Kebanyakan panitia lelaki yang akhirnya memutuskan untuk beristirahat setelah melewati malam yang panjang.
***
Keesokan harinya, Tita terbangun dan kembali terkejut melihat dirinya sendiri yang masih berada di dalam ruangan. Ia melihat jendela dan panas matahari seperti sudah di atas kepala. Jam berapa sekarang? Begitu pikirnya. Ia melihat jam dan menunjukkan pukul 6.00. Tak lama Ario masuk ke dalam ruangan untuk menyimpan jaketnya.
“Baru bangun, Ta? Kebo banget tidurnya,” Sapa Ario yang sedang berdiri di sudut ruang.
“Enak aja, kalian tuh yang ngga bangunin Tita,” Jawab Tita yang kembali merapatkan jaketnya. Aneh.
Ario menghampirinya. Duduk di sebelahnya dengan tatapan menusuk.
“Apa?” Tanya Tita risih.
“Mau tahu sesuatu hal mengenai semalam?” Tanya Ario sok misterius.
Lagi-lagi Tita kembali terkejut. Namun, kali ini dengan pikiran buruk mengenai dirinya dan semalam. Memang tadi selepas kegiatan hanya ia satu-satunya perempuan yang memutuskan untuk beristirahat. Namun, setega itukah teman-temannya?
“Jangan jorok lu!” Ucap Ario, “Semalam pas bintal. Gue kasih tau ya, lu tuh dijagain semalem.”
“Dijagain? Sama siapa? Jery?”
“Bukan. Jadi Abidin dateng sama Fikih ke pos-nya Jery semalem dan minta Fikih menggantikan Jery. Lalu Jery disuruh jaga di pos lu. Abidin minta Jery nyusul ke pos lu. Pas Jery di pos belakang, dia ketemu gue yang kebetulan lagi jaga disitu. Gue kesel soalnya ngga liat lu sama Karel di sana.”
Tita hanya mengangguk meminta lanjutan dari cerita itu.
“Jery memutuskan nyari di tempat yang lu tempatin kemarin. Gue bilang ke Jery di sana ngga ada siapa-siapa soalnya gue abis dari sana dan nihil.”
“Hah? Ario ngga liat Tita sama Karel di sana?” Tanya Tita terkejut.
“Iya, makanya gue bingung Jery bisa nemuin lo di sana. Pas jery menuju tempat lo, gue ke pos tiga jemput Abidin. Terus lo ngga engeh kan gue sama Abidin dateng? Itu karena lo lagi ditahan sama Si Melati.”
“Hah?”
“Iya lo kan mandang bangku kosong terus dan Abidin mandang l uterus. Singkat cerita pas kita di gedung baru Abidin ngirim kucing dia di sana deh buat jagain lu. Terus udahan cerita lu jadi lelah banget terus tidur deh. Makanya daritadi kita ngga ada yang berani bangunin lu,” Tutur Ario.
“Kucing itu, pantes matanya kaya Tita kenal. Trus pas liat ke bangku kosong itu, itu mirip banget Abidin. Ngga taunya. Alhamdulillah Tita masih selamat.”
“Makanya banyak doa di lingkungan baru. Kurang doa tuh.”
Tita hanya tersenyum dan ia tersadar akan lingkungan baru. Semenjak itu. dimanapun ia menapaki kakinya. Ia selalu berdoa sebisanya. Memohon perlindungan dan keselamatan kepada-Nya.

Filosofi Balon


Balon…
Beragam sekali makna yang terkandung di dalam benda ringan itu. Terkadang, kita tak pernah melihat senyum bocah kecil yang sumringah tetapi akan berbeda bila ia melihat sebuah balon. Dengan hanya melihat balon itu saja, bocah kecil akan sudah merasa senang, tak terbayangkan betapa bahagianya seorang bocah kecil apabila memiliki balon itu. Sejurus kemudian bocah kecil itu bimbang. Bagaimana cara merawat benda ringan itu agar tetap menjadi miliknya? Apabila ia pegang erat-erat, balon itu akan pecah akibat ulahnya. Tetapi, apabila ia tidak menggenggam balon itu dengan erat, tentu saja balon itu akan dengan mudah terbang tinggi diangkasa. Bocah kecil itu melamun di tepian sungai dengan terus memandang balon itu. “Apakah setega itu aku mendekapmu dan membiarkan kau pecah di dalam dekapanku? Tetapi, kau teramat lucu dan lugu untuk aku nikmati sendiri. Apakah aku harus berbagi? Tetapi, kepada siapa? Aku takut kau terluka,” Begitu kata bocah kecil itu.
Seakan angin menjadi perantara jawaban dari balon itu yang berhembus kencang secara tiba-tiba. “Kau benar! Aku memang amat lugu dan lucu. Banyak sekali bocah kecil seperti mu bahkan semua orang yang sangat senang memandang keluguanku. Untuk itulah aku ada. Untuk memberikan kebahagian dan kehangatan, serta untuk memberikan pelajaran kebersamaan. Maka dari itu, lepaskan lah aku. Biarkan aku terbang tinggi di atas awan dan semua orang akan memandangku,” Jawab balon itu.
“Tetapi, siapa yang akan melindungimu di atas sana? Bagaimana kalau ada tangan jahil yang ingin memecahkan mu dari bumi?” Tanya bocah kecil itu lagi. “Kau tak perlu khawatir. Biarkan aku terbang di atas awan yang tinggi. Apabila aku pecah di atas sana, setidaknya aku tidak pecah dengan sia-sia. Sebelum aku pecah, aku berhasil membuat banyak orang di bawah sana tersenyum. Dan kau, tentunya sangat berpengaruh akan hal itu. Kau akan menyadari betapa bahagianya berbagi, meskipun itu dengan artian kau akan melepaskan apa yang menjadi milikmu di awal. Tuhan akan senang dengan sikap mu, Sayang,” Jawab sekali lagi balon tersebut. Dan bocah kecil itu melepaskan balon yang ia miliki. Satu balon yang amat sangat ia jaga awalnya dan ia lepaskan akhirnya.
“Ibu lihat balon itu bagus sekali, berbentuk kepala miki mouse,” Ujar seorang anak kecil yang tak sengaja lewat bersama Ibunya. Sang Ibu hanya tersenyum melihat anak itu.
“Sayang, lihat itu balon miki mouse. Jarang banget balon berbentuk seperti itu. Kok ada ya yang mau melepaskan balon seunik itu,” Ucap seorang perempuan kepada kekasihnya.
Bocah kecil itu tertegun melihat sekitarnya yang terpana akan balon yang baru saja ia lepas. Tak menyangka sebuah balon kecil membuat kehangatan yang sangat besar di sekitarnya. “Benar katamu, Balon, mereka semua terkagum-kagum melihatmu di atas sana. Kau memang tampak menarik di atas sana. Dan ada perasaan bahagia terselip melihat mereka tersenyum karena kepunyaanku sendiri,” Tutup Bocah Kecil itu sebelum kembali ke rumah.
Itulah makna yang tersirat. Di dalam kehidupan ini, kita tetap harus saling berbagi dan memikirkan orang lain karena kita makhluk sosial. Saling berbagi, apapun, baik benda yang terlihat ataupun yang tidak terlihat seperti kepandaian dan kebahagian serta rasa kasih sayang.
Di dunia ini tidak ada yang abadi dan di sanalah kita seharunya belajar. Bahwa apapun yang kita punya bukanlah milik kita. Itu hanya titipan dari-Nya sebagai amanah untuk menjaganya dan menjadikan titipan itu berdampak positif untuk kita.
Dan tentunya untuk para remaja, seharusnya ini menjadi tamparan untuk kalian. Para remaja yang baru saja putus cinta, lepaskanlah. Sekeras apapun kau menjaga sebuah hubungan ataupun setinggi apapun kau menggapai, kau akan tetap kalah. Karena balon akan tetap terbang tinggi tak melihat seseorang yang terengah-engah mengejarnya di bumi. Ikhlas lah belajar melepaskan dengan lapang dada dan lihat dampak pada dirimu.