“Duh, deg-degan nih gue. Lulus ngga ya?” kata Cinta di halaman sekolah yang sudah tidak sabar menerima amplop berisi keutusan lulus atau tidak lulus yang sebentar lagi akan ia terima.
“Iya, aku juga nih,” sambung Awan yang berada di sebelah Cinta.
“Aduh, yang pacaran mah beda,” sindir Ikhsan dengan senyum nakal kepada Clara.
“Iya nih. Envy deh jadinya,” sambung Clara.
“Ya, sekarang baris sesuai kelas masing-masing,” perintah Bapak kepala sekolah lewat microfone yang disediakan.
“Gue misah dulu ya,” kata Awan kepada Ikhsan dan Clara.
“Oke,” jawab Ikhsan.
“Nanti sms gue ya,” pinta Clara kepada Cinta.
“Oke,” kata Cinta dengan senyum dan pergi bersama Awan.
***
“Eh, janngan masuk barisan dulu dong. Nanti aku sendirian,” tahan Cinta kepada Awan ketika melihat Awan ingin bergabung bersama Doni dan Nino.
“Kamu sama Claudy sama Cindy lah. Masa sama aku? Kamu mau ketahuan sama teman-teman?” tanya Awan.
“Yah, yaudah deh,” jawab Cinta singkat dan langsung masuk ke barisan kelasnya.
Awan yang sekilas melihat Claudy dan Cindy segera mengejar Cinta, “Ta, Claudy sama Cindy ada di barisan tengah tuh.”
“Kamu lihat?”
“Iya.”
“Oh, thanks,” kata Cinta dengan lunglai.
“Sorry ya, Ta, yang tadi. Aku refleks ngomong gitu. Ngga ada maksud kok,” tahan Awan ketika melihat Cinta ingin menghampiri Claudy dan Cindy.
“Iya, ngga apa-apa. Udah kamu masuk barisan sana,” kata Cinta dengan seuntas senyum.
***
“Enak banget ya si Awan sama Cinta. Udah sekelas pacaran lagi,” kata Ikhsan kepada Clara ketika Awan dan Cinta telah pergi.
Clara hanya diam tanpa memberikan jawaban apapun. Terlihat bahwa Clara tengah memikirkan sesuatu.
Clara: terus aku harus gimana kak? Aku ngga mau sampai kak Tito balik lagi di kehidupan ku.
Ciko: yaudah kamu pura-pura pacaran aja sama kakak.
Clara: hah?
Ciko: iya kamu tenang aja, besok kakak jemput ya
“Apa iya dengan begitu masalah bisa selesai?” batin Clara dalam hati.
“Ya kan, Ra?” tanya Ikhsan sekali lagi untuk memastikan.
Lagi-lagi Clara hanya diam, “Terus kalo dia tau gimana?” batinnya sekali lagi.
“Ra,” panggil Ikhsan yang memutuskan untuk menoleh ke arah Clara, “Ra? Hallo?”
“Oh, iya. Aku juga deg-degan nunggu hasil pengumuman,” jawab Clara dengan salah tingkah.
“Loh? Emang gue nanya apa sih?” tanya Ikhsan.
“Emm, perasaan aku kan menjelang hasil kelulusan,” kata Clara pelan dan berusaha memastikan.
“Hahahaha, lu kenapa sih? Aneh banget, tumben banget lagi pake aku kamu,” kata Ikhsan meledek, “Kamu lagi kenapa sih, sayang? Hahahaha”
“Ih, apaan sih lo!” kata Clara yang sangat malu.
“Ih, kamu,” goda Ikhsan.
“Udah ah. Marah nih,” ancam Clara.
“Iya deh iya,” kata Ikhsan.
***
“Bembi Putualin,” panggil Ibu Tika, wali kelas 9-2 yang sedang membagikan amplop berisi kelulusan.
“Duh, gue deg-degan nih. Abis ini gue,” kata Cinta kepada Claudy dan Cindy dengan was-was.
“Cinta Putri Kirana,” panggil Bu Tika.
“Berjuang, Ta, berjuang,” kata Claudy memberi semangat.
“Ayo, Ta, cepet ke depan,” sambung Cindy.
Dengan perlahan Cinta maju, sebelum sampai di depan Ibu Tika, sekilas Cinta melirik ke arah Awan yang memberikan senyuman kepadanya.
“Ini punya kamu,” kata Bu Tika memberikan amplop.
“Iya, Bu. Makasih ya, Bu,” sambung Cinta.
***
“Chika Ayudia Ningsih,” panggil Bu Sartini, wali kelas 9-1 yang juga sedang membagikan hasil pengumuman.
“Ra, jangan bengong lagi. Sebentar lagi lo tuh,” kata Ikhsan mengingatkan.
“Iya-iya,” kata Clara yang hanya memusatkan pandangannya kepada Bu Sartini.
“Clara Putri Cantika,” panggil Bu Sartini.
“Cepet, Ra, maju,” kata Ikhsan.
“Iya-iya, ngg sabaran banget sih,” kata Clara yang langsung berjaan menuju Bu Sartini.
“Ini punya kamu,” kata Bu Sartini.
“Makasih ya, Bu,” ucap Clara seusai menerima amplop tersebut.
***
“Ya, setelah amplop sudah dibagikan, kalian boeh membukanya bersama-sama,” kata Kepala Sekolah menggunakan microfone.
Tanpa pikir panjang, seluruh siswa-siswi membuka amplop tersebut dengan hati yang sangat takut.
Di tempat Cinta, terlihat wajah kebahagian.
“YE, GUE LULUS!!!!” teriak Cinta.
“Gue juga, Ta. YEEE!!” susul Claudy yang langsung memeluk Cinta.
“Gimana lo, Cin?” tanya Cinta melihat Cindy yang masih memegang amplopnya.
“Oke, gue buka sekarang,” kata Cindy yang dilanjutkan membuka amplop, “YEEEE!!!!” teriak Cindy yang juga memeluk Cinta dan Claudy.
“Lo lulus ngga, Clau?” tanya Dino yang ikut menggabungkan diri.
“Gue lulus,” jawab Claudy dengan senyum mengembang, “Lo?”
“Gue mah pasti lulus, hahahaha,” jawab Doni pede.
“kamu lulus?” bisik Awan di sebelah Cinta.
“Iya aku lulus,” jawab Cinta dengan senyum terbaiknya, “Kamu gimana?”
“Aku juga kok,” jawab Awan dengan nada bijak.
“Kita ke Clara sama Ikhsan yuk,” ajak Cinta.
“Yuk,” jawab Awan yang langsung menggandeng Cinta.
***
“Ra, gimana hasilnya?” tanya Ikhsan.
“Gue lulus,” jawab Clara dan dengan tanpa sadar memeluk Ikhsan, “Gue lulus, San.”
“Iya-iya, gue juga lulus kok,” jawab Ikhsan yang juga memeluk Clara dengan hangat.
“Lo jadi daftar di SMA 90 kan?” tanya Clara yang masih memeluk Ikhsan tanpa sadar.
“Ya,” jawab Ikhsan singkat dan lemas, gue ngga janji, batin Ikhsan.
Tak lama kemudian datanglah Cinta bersama Awan. Melihat Clara dan Ikhsan sedang berpelukan, Cinta dan Awan saling tatap dan tersenyum nakal.
“Ehem,” buka Awan.
“kayaknya kita ngga pas nih, cabut yuk,” sambung Cinta.
Mendengar itu, Clara langsung melepaskan Ikhsan, “Eh.” Ikhsan dan Clara pun hanya saling melempar senyum.
“Wah, udah ditegor aja masih dikacangin kita,” sindir Cinta sekali lagi.
“Yaudah yuk cabut,” ajak Awan yang menggenggam tangan Cinta.
“Eh, jangan dong,” tahan Clara.
“Ya atuh so sweat banget kalian,” kata Cinta.
“Lo lulus, Wan?” tanya Ikhsan berusaha mengalihkan perhatian.
“Iya dong, gue sama Cinta lulus kok, lo berdua?” tanya Awan.
“Gue sama Clara juga lulus,” jawab Ikkhsan dengann senyum mengembang.
“YE, CINTA!!!” teriak Clara yang langsung memeluk Cinta.
“YEEEE, GUE SENENG BANGET, RA!!!!!”
“Duh, pengen deh gue kayak cewek yang bisa asal peluk,” kata Ikhsan yang merangkul Awan.
“Ye, bukannya tadi lu udah dapet dari Clara. Gue aja belum dapet dari Cinta,” sindir Awan.
Mendengar itu, Clara langsung melepaskan pelukannya kepada Cinta, “Ih, apaan sih lu.”
“Yailah, Ra,” sambung Cinta dengan senyum nakal.
Kau cinta pertama dan terakhirku
Bila suatu saat kau harus pergi
“Eh, bentar ya handphone gue bunyi,” kata Clara yanng langsung memisahkan diri.
“Cie yang tadi pelukan,” sindir Cinta.
“Apaan sih lu, Ta,” jawab Ikhsan dengan senyum malu.
“Gue aja yang pacaran ngga dapet,” kata Awan merangkul Ikhsan.
“Kamu mau?” tanya Cinta dengan melotot.
“Becanda, Ta,” jawab Awan dengan senyum.
Tidak lama kemudia, Clara datang, “Eh, gue duluan ya.”
“Mau kemana?” tanya Ikhsan.
“Cie yang perhatian,” kata Awan.
“Gue udah dijemput,” jawab Clara serius.
“Sama siapa?” tanya Ikhsan lagi yang tak memerdulikan Cinta dan Awan yang asik menggoda mereka.
“Mau dun diperhatiin Ikhsan,” kata Cinta.
“Sama mama,” jawab Clara bohong tanpa menatap Ikhsan.
“Hey semua,” kata Ciko yang tiba-tiba datang.
“Ngapain lo ke sini?” tanya Cinta heran.
“Gue mau jemput,” kata Ciko tenang.
“Gue kan ngga minta jemput,” jawab Cinta.
“Gue ngga mau jemput lo, tapi Clara,” jawab Ciko yang langsung menggandeng Clara.
“Ra?” panggil Cinta.
Melihat keadaan ini, Ikhsan hanya mematung dan menyaksikan tanpa ikut campur sedikit pun. Sempat Clara melirik Ikhsan yang tampak bingung, Sorry San, batinnya.
Ngga bisa gini, batin Cinta.
“Kak, mending lo pulang deh. Clara ngga butuh dijemput lo. Udah ada Ikhsan,” kata Cinta melepaskan tangan Clara dari Ciko.
“Loh, Clara yang minta gue jemput,” jawab Ciko dengan tenang.
“Ra?” kali ini Awan yang memanggil Clara.
Kenapa lo diem, batin Clara yang hannya menunduk.
Ikhsan hanya menatap tajam ke arah Clara, ada yang ngga beres, batin Ikhsan.
“Ra, bisa kan jawab pertanyaan Awan?” kata Cinta yang berdiri tegap di depan Clara.
Calar hanya bisa menatap lemah ke arah Cinta.
“Jawab, Ra,” kata Cinta dengan lembut.
Clara hanya menatap Cinta dengan makna, Ta gue ngga bisa jawab sekarang.
Akhirnya Cinta mengusir kakaknya dengan kasar, “Pergi, lo!!!”
“Bisa kan lo ngga kasar sama gue? Gue kakak lo,” teriak Ciko.
“Ya tapi ini teman-teman gue,” sambung Cinta dengan nada tinggi.
“Ta,” tahan Awan.
“Apasih?” Cinta segera melepaskan pegangan tangan Awan.
“Itu kakak kamu,” sambung Awan dengan lembut.
“Ya tapi dia,” belum sempat Cinat meneruskan, ia sempat melihat Ikhsan yang memberi senyum, kenapa dia tersenyum?
Tak lama kemudian Ikhsan maju perlahan dan, PROK PROK PROK!!!
Terdengar suara pukulan dan Ciko tersungkur ke atas tanah. Clara langsung menghampiri Ikhsan dan berusaha menahannya, “San.”
Ikhsan hanya bisa menatapnya. Dan di saat Ikhsan menatap Clara, Ciko menggunakan kesempatan itu untuk menghajar Ikhsan.
Bruk Bruk Bruk!!!!
Ikhsan pun terjatuh.
“IKHSAN!!” teriak Clara dan Cinta berbarengan.
Cinta berusaha membantu Ikhsan berdiri dan Clara hanya bisa mematung memandang semua kejadian itu, maaf.
“Ayo kita pergi,” ajak Ciko menggandeng Clara.
“Ra,” panggil Cinta, “Yakin lo ikut Ciko.”
Clara hanya mengangguk dan pergi meninggalkan Ikhsan, Cinta, dan Awan dengan penuh tanya.
“Ngga, ngga mungkin. Gue harus bikin perhitungan sama Ciko,” kata Cinta yang langsung pergi.
“Ta, Ta, Cinta,” panggil Awan yang belum sempat menahan Cinta.
Ikhsan hanya termenung tak percaya.
“San, lo ngga apa-apa?” tanya Awan dengan hati-hati.
Ikhsan hanya berdiri dan berjalan tanpa memerdulikan Awan.
“San, waktu masalah gue sama Ciko, lo bantuin gue, kenapa sekarang gue ngga boleh?” tahan Awan.
“Belum saatnya,” jawab Ikhsan singkat, “Nanti gue akan hubungi lo kok.”
“Oke, gue tunggu.”
***
Beep beep!! Beep beep!!! Terdengar suara handphone Clara.
To: Clara
From: Ikhsan
Gue tunggu di kafe d-spot jam 1
Setelah Clara mengambil handphone-nya, ia sangat kaget mendapat sms dari Ikhsan, “Duh, gue ke sana ngga ya? Tempat tongkrongannya kak Romy lagi.”
“Ada apa?” tanya Ciko setelah mengisi bensin motornya.
“Ikhsan minta ketemuan,” jawab Clara singkat.
“Kapan? Dimana?”
“jam 1 di..,” Clara bingung untuk menyebutkan nama kafenya.
“Dimana?”
“Di kafe d-spot,” jawab Clara bimbang.
“yaudah aku anterin ke sana ya,” kata Ciko bijak.
“tapi kan kak, itu deket tempat kak Romy. Kalo dia tau kita bohongan gimana? Kalo tiba-tiba dia nyerang?”
“kakak bawa pasukan kok di belakang kamu, yaudah yuk naik,” ajak Ciko dengan halus dan Clara hanya menurut.
***
Di kafe d-spot, telah tampak Ikhsan yang menunggu termenug sendiri, “Apa lo mau ketemu gue?”
Tak lama kemudian, Clara pun tiba, “Sorry lama,” Clara langsung mengambil bangku di depan Ikhsan.
“Ya,” jawab Ikhsan singkat.
“Ada apa? Tumben ketemuan? Biasanya ke rumah.”
“Tadi udah ke rumah tapi lo belum pulang. Kemana?”
“Emm, itu tadi,” duh gue harus bilang apa.
“Tadi kata orang rumah sih pergi sama kak Ciko,” sambung Ikhsan lurus.
“Oh, iya,” ucap Clara dengan senyum menggantung.
“Lo beneran jadian?” tanya Ikhsan tanpa basa-basi.
Gue ngge jadian, ini semua rekayasa, batin Clara.
Clara bingung dengan jawaban yang akan ia berikan.
“Iya juga ngga apa-apa kok,” sambung Ikhsan lagi.
Tak lama kemudian, Romy lewat tanpa di duga, “Clara?”
Mampus gue ketemu dia, batinnya.
“Dia siapa?” tanya Ikhsan bingung.
Kak Ciko dimana?
“Oh, sekarang lo sama Ikhsan?” pancing Romy.
Clara hanya bisa diam dan mencari sesosok Ciko di sekitarnya.
“Lo ngga bisa jawab kan? Lo tau konsekuensinya?” pancing Romy yang sudah mencodongkan tubuhnya.
“Eh, jaga dong kelakuan lo,” kata Ikhsan yang risih melihat kejadian ini.
“Eh, ada anak bawang,” balas Romy.
“Apa maksud lo?” kata Ikhsan dengan cool.
Bruk Bruk Bruk!!!
Terdengar suara pukulan dan bersamaan dengan itu Ikhsan pun jatuh tersungkur.
“Kak Romy,” panggil Clara.
“Ini kado spesial buat lo yang udah bikin adik gue dendam sama lo,” ucap Romy.
Ikhsan langsung membalasnya, “Gue ngga adik lo.”
Prok! Romy langsung membalasnya, “Adik gue yang sangat cinta sama lo, tapi apa yang lo kasih?”
sedetik kemudian terjadi perkelahian hebat antara Romy dan Ikhsan. Clara hanya bisa diam ketakutan melihat aksi nekat Ikhsan, lo tau San dia Romy, lo tau dia ketua geng The Rizakly kenapa lo nekat?
sedetik kemudian terjadi perkelahian hebat antara Romy dan Ikhsan. Clara hanya bisa diam ketakutan melihat aksi nekat Ikhsan, lo tau San dia Romy, lo tau dia ketua geng The Rizakly kenapa lo nekat?
Tak lama kemudian, anak buah Romy datang. Melihat kedatangan mereka, Clara langsung menarik Ikhsan dari perkelahian itu, “IKHSAN!”
“Lepasin gue,” pinta Ikhsan.
“Ngga, ngga akan gue lepsin. Lo lupa siapa kak Romy?”
“Ya, gue tau. Kenapa?” bentak Ikhsan.
“Liat tuh,” kata Clara menunjuk ke arah anak buah Romy, “Gue ngga mau terjadi hal yang di luar nalar gue.”
“Lo ngga usah takut. Berapa lama lo temenan sama gue sama Awan? Berapa lo tau gue itu anak Geng Motor?”
“Iya, kamu tenang aja. Sekarang Ikhsan di tempat yang aman,” sambung Ciko yang berdiri di sebelah Clara dengan geng motornya, “Dito, amanin Clara sama Ikhsan.”
“Siap bos!!!” Dito langsung membawa Clara, “Mari ikut.”
“Ngga, gue juga mau ikut, Cik. Lo lupa apa yang dilakukan Romy sama kita dulu?” ucap Ikhsan menatap Romy dengan tatapan benci.
“Oke, gue hargai. Kiko lo selalu di sebelah Ikhsan,” perintah Ciko.
“Oke bos, kapan kita mulai?” jawab Kiko.
“Wah, hebat ya. Sekarang kalian bersatu lagi rupanya. Apa lo lupa, San, Geng Victoria yang lo ketuain di sekolah lo itu juga gue yang