Sabtu, 14 Mei 2011


“Duh, deg-degan nih gue. Lulus ngga ya?” kata Cinta di halaman sekolah yang sudah tidak sabar menerima amplop berisi keutusan lulus atau tidak lulus yang sebentar lagi akan ia terima.
“Iya, aku juga nih,” sambung Awan yang berada di sebelah Cinta.
“Aduh, yang pacaran mah beda,” sindir Ikhsan dengan senyum nakal kepada Clara.
“Iya nih. Envy deh jadinya,” sambung Clara.
“Ya, sekarang baris sesuai kelas masing-masing,” perintah Bapak kepala sekolah lewat microfone yang disediakan.
“Gue misah dulu ya,” kata Awan kepada Ikhsan dan Clara.
“Oke,” jawab Ikhsan.
“Nanti sms gue ya,” pinta Clara kepada Cinta.
“Oke,” kata Cinta dengan senyum dan pergi bersama Awan.

***

“Eh, janngan masuk barisan dulu dong. Nanti aku sendirian,” tahan Cinta kepada Awan ketika melihat Awan ingin bergabung bersama Doni dan Nino.
“Kamu sama Claudy sama Cindy lah.  Masa sama aku? Kamu mau ketahuan sama teman-teman?” tanya Awan.
“Yah, yaudah deh,” jawab Cinta singkat dan langsung masuk ke barisan kelasnya.
Awan yang sekilas melihat Claudy dan Cindy segera mengejar Cinta, “Ta, Claudy sama Cindy ada di barisan tengah tuh.”
“Kamu lihat?”
“Iya.”
“Oh, thanks,” kata Cinta dengan lunglai.
“Sorry ya, Ta, yang tadi. Aku refleks ngomong gitu. Ngga ada maksud kok,” tahan Awan ketika melihat Cinta ingin menghampiri Claudy dan Cindy.
“Iya, ngga apa-apa. Udah kamu masuk barisan sana,” kata Cinta dengan seuntas senyum.

***

“Enak banget ya si Awan sama Cinta. Udah sekelas pacaran lagi,” kata Ikhsan kepada Clara ketika Awan dan Cinta telah pergi.
Clara hanya diam tanpa memberikan jawaban apapun. Terlihat bahwa Clara tengah memikirkan sesuatu.
Clara: terus aku harus gimana kak? Aku ngga mau sampai kak Tito balik lagi  di kehidupan ku.
Ciko: yaudah kamu pura-pura pacaran aja sama kakak.
Clara: hah?
Ciko: iya kamu tenang aja, besok kakak jemput ya
“Apa iya dengan begitu masalah bisa selesai?” batin Clara dalam hati.
“Ya kan, Ra?” tanya Ikhsan sekali lagi untuk memastikan.
Lagi-lagi Clara hanya diam, “Terus kalo dia tau gimana?” batinnya sekali lagi.
“Ra,” panggil Ikhsan yang memutuskan untuk menoleh ke arah Clara, “Ra? Hallo?”
“Oh, iya. Aku juga deg-degan nunggu hasil pengumuman,” jawab Clara dengan salah tingkah.
“Loh? Emang gue nanya apa sih?” tanya Ikhsan.
“Emm, perasaan aku kan menjelang hasil kelulusan,” kata Clara pelan dan berusaha memastikan.
“Hahahaha, lu kenapa sih? Aneh banget, tumben banget lagi pake aku kamu,” kata Ikhsan meledek, “Kamu lagi kenapa sih, sayang? Hahahaha”
“Ih, apaan sih lo!” kata Clara yang sangat malu.
“Ih, kamu,” goda Ikhsan.
“Udah ah. Marah nih,” ancam Clara.
“Iya deh iya,” kata Ikhsan.

***

“Bembi Putualin,” panggil Ibu Tika, wali kelas 9-2 yang sedang membagikan amplop berisi kelulusan.
“Duh, gue deg-degan nih. Abis ini gue,” kata Cinta kepada Claudy dan Cindy dengan was-was.
“Cinta Putri Kirana,” panggil Bu Tika.
“Berjuang, Ta, berjuang,” kata Claudy memberi semangat.
“Ayo, Ta, cepet ke depan,” sambung Cindy.
Dengan perlahan Cinta maju, sebelum sampai di depan Ibu Tika, sekilas Cinta melirik ke arah Awan yang memberikan senyuman kepadanya.
“Ini punya kamu,” kata Bu Tika memberikan amplop.
“Iya, Bu. Makasih ya, Bu,” sambung Cinta.

***

“Chika Ayudia Ningsih,” panggil Bu Sartini, wali kelas 9-1 yang juga sedang membagikan hasil pengumuman.
“Ra, jangan bengong lagi. Sebentar lagi lo tuh,” kata Ikhsan mengingatkan.
“Iya-iya,” kata Clara yang hanya memusatkan pandangannya kepada Bu Sartini.
“Clara Putri Cantika,” panggil Bu Sartini.
“Cepet, Ra, maju,” kata Ikhsan.
“Iya-iya, ngg sabaran banget sih,” kata Clara yang langsung berjaan menuju Bu Sartini.
“Ini punya kamu,” kata Bu Sartini.
“Makasih ya, Bu,” ucap Clara seusai menerima amplop tersebut.

***

“Ya, setelah amplop sudah dibagikan, kalian boeh membukanya bersama-sama,” kata Kepala Sekolah menggunakan microfone.
Tanpa pikir panjang, seluruh siswa-siswi membuka amplop tersebut dengan hati yang sangat takut.
Di tempat Cinta, terlihat wajah kebahagian.
“YE, GUE LULUS!!!!” teriak Cinta.
“Gue juga, Ta. YEEE!!” susul Claudy yang langsung memeluk Cinta.
“Gimana lo, Cin?” tanya Cinta melihat Cindy yang masih memegang amplopnya.
“Oke, gue buka sekarang,” kata Cindy yang dilanjutkan membuka amplop, “YEEEE!!!!” teriak Cindy yang juga memeluk Cinta dan Claudy.
“Lo lulus ngga, Clau?” tanya Dino yang ikut menggabungkan diri.
“Gue lulus,” jawab Claudy dengan senyum mengembang, “Lo?”
“Gue mah pasti lulus, hahahaha,” jawab Doni pede.
“kamu lulus?” bisik Awan di sebelah Cinta.
“Iya aku lulus,” jawab Cinta dengan senyum terbaiknya, “Kamu gimana?”
“Aku juga kok,” jawab Awan dengan nada bijak.
“Kita ke Clara sama Ikhsan yuk,” ajak Cinta.
“Yuk,” jawab Awan yang langsung menggandeng Cinta.

***

“Ra, gimana hasilnya?” tanya Ikhsan.
“Gue lulus,” jawab Clara dan dengan tanpa sadar memeluk Ikhsan, “Gue lulus, San.”
“Iya-iya, gue juga lulus kok,” jawab Ikhsan yang juga memeluk Clara dengan hangat.
“Lo jadi daftar di SMA 90 kan?” tanya Clara yang masih memeluk Ikhsan tanpa  sadar.
“Ya,” jawab Ikhsan singkat dan lemas, gue ngga janji, batin Ikhsan.
Tak lama kemudian datanglah Cinta bersama Awan. Melihat Clara dan Ikhsan sedang berpelukan, Cinta dan Awan saling tatap dan tersenyum nakal.
“Ehem,” buka Awan.
“kayaknya kita ngga pas nih, cabut yuk,” sambung Cinta.
Mendengar itu, Clara langsung melepaskan Ikhsan, “Eh.” Ikhsan dan Clara pun hanya saling melempar senyum.
“Wah, udah ditegor aja masih dikacangin kita,” sindir Cinta sekali lagi.
“Yaudah yuk cabut,” ajak Awan yang menggenggam tangan Cinta.
“Eh, jangan dong,” tahan Clara.
“Ya atuh so sweat banget kalian,” kata Cinta.
“Lo lulus, Wan?” tanya Ikhsan berusaha mengalihkan perhatian.
“Iya dong, gue sama Cinta lulus kok, lo berdua?” tanya Awan.
“Gue sama Clara juga lulus,” jawab Ikkhsan dengann senyum mengembang.
“YE, CINTA!!!” teriak Clara yang langsung memeluk Cinta.
“YEEEE, GUE SENENG BANGET, RA!!!!!”
“Duh, pengen deh gue kayak cewek yang bisa asal peluk,” kata Ikhsan yang merangkul Awan.
“Ye, bukannya tadi lu udah dapet dari Clara. Gue aja belum dapet dari Cinta,” sindir Awan.
Mendengar itu, Clara langsung melepaskan pelukannya kepada Cinta, “Ih, apaan sih lu.”
“Yailah, Ra,” sambung Cinta dengan senyum nakal.

Kau cinta pertama dan terakhirku
Bila suatu saat kau harus pergi

“Eh, bentar ya handphone gue bunyi,” kata Clara yanng langsung memisahkan diri.
“Cie yang tadi pelukan,” sindir Cinta.
“Apaan sih lu, Ta,” jawab Ikhsan dengan senyum malu.
“Gue aja yang pacaran ngga dapet,” kata Awan merangkul Ikhsan.
“Kamu mau?” tanya Cinta dengan melotot.
“Becanda, Ta,” jawab Awan dengan senyum.
Tidak lama kemudia, Clara datang, “Eh, gue duluan ya.”
“Mau kemana?” tanya Ikhsan.
“Cie yang perhatian,” kata Awan.
“Gue udah dijemput,” jawab Clara serius.
“Sama siapa?” tanya Ikhsan lagi yang tak memerdulikan Cinta dan Awan yang asik menggoda mereka.
“Mau dun diperhatiin Ikhsan,” kata Cinta.
“Sama mama,” jawab Clara bohong tanpa menatap Ikhsan.
“Hey semua,” kata Ciko yang tiba-tiba datang.
“Ngapain lo ke sini?” tanya Cinta heran.
“Gue mau jemput,” kata Ciko tenang.
“Gue kan ngga minta jemput,” jawab Cinta.
“Gue ngga mau jemput lo, tapi Clara,” jawab Ciko yang langsung menggandeng Clara.
“Ra?” panggil Cinta.
Melihat keadaan ini, Ikhsan hanya mematung dan menyaksikan tanpa ikut campur sedikit pun. Sempat Clara melirik Ikhsan yang tampak bingung, Sorry San, batinnya.
Ngga bisa gini, batin Cinta.
“Kak, mending lo pulang deh. Clara ngga butuh dijemput lo. Udah ada Ikhsan,” kata Cinta melepaskan tangan Clara dari Ciko.
“Loh, Clara yang minta gue jemput,” jawab Ciko dengan tenang.
“Ra?” kali ini Awan yang memanggil Clara.
Kenapa lo diem, batin Clara yang hannya menunduk.
Ikhsan hanya menatap tajam ke arah Clara, ada yang ngga beres, batin Ikhsan.
“Ra, bisa kan jawab pertanyaan Awan?” kata Cinta yang berdiri tegap di depan Clara.
Calar hanya bisa menatap lemah ke arah Cinta.
“Jawab, Ra,” kata Cinta dengan lembut.
Clara hanya menatap Cinta dengan makna, Ta gue ngga bisa jawab sekarang.
Akhirnya Cinta mengusir kakaknya dengan kasar, “Pergi, lo!!!”
“Bisa kan lo ngga kasar sama gue? Gue kakak lo,” teriak Ciko.
“Ya tapi ini teman-teman gue,” sambung Cinta dengan nada tinggi.
“Ta,” tahan Awan.
“Apasih?” Cinta segera melepaskan pegangan tangan Awan.
“Itu kakak kamu,” sambung Awan dengan lembut.
“Ya tapi dia,” belum sempat Cinat meneruskan, ia sempat melihat Ikhsan yang memberi senyum, kenapa dia tersenyum?
Tak lama kemudian Ikhsan maju perlahan dan, PROK PROK PROK!!!
Terdengar suara pukulan dan Ciko tersungkur ke atas tanah. Clara langsung menghampiri Ikhsan dan berusaha menahannya, “San.”
Ikhsan hanya bisa menatapnya. Dan di saat Ikhsan menatap Clara, Ciko menggunakan kesempatan itu untuk menghajar Ikhsan.
Bruk Bruk Bruk!!!!
Ikhsan pun terjatuh.
“IKHSAN!!” teriak Clara dan Cinta berbarengan.
Cinta berusaha membantu Ikhsan berdiri dan Clara hanya bisa mematung memandang semua kejadian itu, maaf.
“Ayo kita pergi,” ajak Ciko menggandeng Clara.
“Ra,” panggil Cinta, “Yakin lo ikut Ciko.”
Clara hanya mengangguk dan pergi meninggalkan Ikhsan, Cinta, dan Awan dengan penuh tanya.
“Ngga, ngga mungkin. Gue harus bikin perhitungan sama Ciko,” kata Cinta yang langsung pergi.
“Ta, Ta, Cinta,” panggil Awan yang belum sempat menahan Cinta.
Ikhsan hanya termenung tak percaya.
“San, lo ngga apa-apa?” tanya Awan dengan hati-hati.
Ikhsan hanya berdiri dan berjalan tanpa memerdulikan Awan.
“San, waktu masalah gue sama Ciko, lo bantuin gue, kenapa sekarang gue ngga boleh?” tahan Awan.
“Belum saatnya,” jawab Ikhsan singkat, “Nanti gue akan hubungi lo kok.”
“Oke, gue tunggu.”

***

Beep beep!! Beep beep!!! Terdengar suara handphone Clara.
To: Clara
From: Ikhsan
Gue tunggu di kafe d-spot jam 1
Setelah Clara mengambil handphone-nya, ia sangat kaget mendapat sms dari Ikhsan, “Duh, gue ke sana ngga ya? Tempat tongkrongannya kak Romy lagi.”
“Ada apa?” tanya Ciko setelah mengisi bensin motornya.
“Ikhsan minta ketemuan,” jawab Clara singkat.
“Kapan? Dimana?”
“jam 1 di..,” Clara bingung untuk menyebutkan nama kafenya.
“Dimana?”
“Di kafe d-spot,” jawab Clara bimbang.
“yaudah aku anterin ke sana ya,” kata Ciko bijak.
“tapi kan kak, itu deket tempat kak Romy. Kalo dia tau kita bohongan gimana? Kalo tiba-tiba dia nyerang?”
“kakak bawa pasukan kok di belakang kamu, yaudah yuk naik,” ajak Ciko dengan halus dan Clara hanya menurut.

***

Di kafe d-spot, telah tampak Ikhsan yang menunggu termenug sendiri, “Apa lo mau ketemu gue?”
Tak lama kemudian, Clara pun tiba, “Sorry lama,” Clara langsung mengambil bangku di depan Ikhsan.
“Ya,” jawab Ikhsan singkat.
“Ada apa? Tumben ketemuan? Biasanya ke rumah.”
“Tadi udah ke rumah tapi lo belum pulang. Kemana?”
“Emm, itu tadi,” duh gue harus bilang apa.
“Tadi kata orang rumah sih pergi sama kak Ciko,” sambung Ikhsan lurus.
“Oh, iya,” ucap Clara dengan senyum menggantung.
“Lo beneran jadian?” tanya Ikhsan tanpa basa-basi.
Gue ngge jadian, ini semua rekayasa, batin Clara.
Clara bingung dengan jawaban yang akan ia berikan.
“Iya juga ngga apa-apa kok,” sambung Ikhsan lagi.
Tak lama kemudian, Romy lewat tanpa di duga, “Clara?”
Mampus gue ketemu dia, batinnya.
“Dia siapa?” tanya Ikhsan bingung.
Kak Ciko dimana?
“Oh, sekarang lo sama Ikhsan?” pancing Romy.
Clara hanya bisa diam dan mencari sesosok Ciko di sekitarnya.
“Lo ngga bisa jawab kan? Lo tau konsekuensinya?” pancing Romy yang sudah mencodongkan tubuhnya.
“Eh, jaga dong kelakuan lo,” kata Ikhsan yang risih melihat kejadian ini.
“Eh, ada anak bawang,” balas Romy.
“Apa maksud lo?” kata Ikhsan dengan cool.
Bruk Bruk Bruk!!!
Terdengar suara pukulan dan bersamaan dengan itu Ikhsan pun jatuh tersungkur.
“Kak Romy,” panggil Clara.
“Ini kado spesial buat lo yang udah bikin adik gue dendam sama lo,” ucap Romy.
Ikhsan langsung membalasnya, “Gue ngga adik lo.”
Prok! Romy langsung membalasnya, “Adik gue yang sangat cinta sama lo, tapi apa yang lo kasih?”
sedetik kemudian terjadi perkelahian hebat antara Romy dan Ikhsan. Clara hanya bisa diam ketakutan melihat aksi nekat Ikhsan, lo tau San dia Romy, lo tau dia ketua geng The Rizakly kenapa lo nekat?
Tak lama kemudian, anak buah Romy datang. Melihat kedatangan mereka, Clara langsung menarik Ikhsan dari perkelahian itu, “IKHSAN!”
“Lepasin gue,” pinta Ikhsan.
“Ngga, ngga akan gue lepsin. Lo lupa siapa kak Romy?”
“Ya, gue tau. Kenapa?” bentak Ikhsan.
“Liat tuh,” kata Clara menunjuk ke arah anak buah Romy, “Gue ngga mau terjadi hal yang di luar nalar gue.”
“Lo ngga usah takut. Berapa lama lo temenan sama gue sama Awan? Berapa lo tau gue itu anak Geng Motor?”
“Iya, kamu tenang aja. Sekarang Ikhsan di tempat yang aman,” sambung Ciko yang berdiri di sebelah Clara dengan geng motornya, “Dito, amanin Clara sama Ikhsan.”
“Siap bos!!!” Dito langsung membawa Clara, “Mari ikut.”
“Ngga, gue juga mau ikut, Cik. Lo lupa apa yang dilakukan Romy sama kita dulu?” ucap Ikhsan menatap Romy dengan tatapan benci.
“Oke, gue hargai. Kiko lo selalu di sebelah Ikhsan,” perintah Ciko.
“Oke bos, kapan kita mulai?” jawab Kiko.
“Wah, hebat ya. Sekarang kalian bersatu lagi rupanya. Apa lo lupa, San, Geng Victoria yang lo ketuain di sekolah lo itu juga gue yang

Rabu, 11 Mei 2011

Cinta Saat Ujian

http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7346543257482582191 

“duuhh bunda gimana sih, aku telat kan,” omel Cinta kepada sang Bunda yang ternyata telat membangunkannya di hari pertama ujian nasional yang akan dilewati Cinta.
Putri Cinta Kirana, itulah nama panjang Cinta. Siswi yang sudah duduk dibangku kelas 9 SMP ini memang tengah menghadapi ujian nasional yang akan di laksanakan selama 4 hari yang dimulai dari senin, 25 april 2011 hingga kamis, 28 april 2011.
“kok nyalahin bunda? Daritadi bunda udah ketok-ketok pintu kamar kamu, kamunya aja yang ngga denger. Udah nih makan dulu,” jawab bunda yang sedang menyiapkan roti selai untuk anak bungsunya itu.
“makanya buka dong pintu kamar aku. Aku sarapan di sekolah aja, Bun,” kata Cinta yang sedang meminum susu coklat kesukaannya.
“kan kamar kamu kunci, gimana sih?” balas Bunda dan dibalas senyum lebar oleh Cinta lalu ia meminum susu kembali.
“tau nih,” sambung Ciko dengan mengacak rambut Cinta, kakak Cinta yang baru saja bergabung di atas meja makan.
Ciko adalah siswa kelas 11 di salah satu sekolah menengah atas negeri terkemuka di Jakarta. Kakak yang paling dekat dengan Cinta dan menjadi teman curahan hati Cinta.
“ih, apa sih lu ah,” balas Cinta yang sedang merapikan rambutnya, “rambut gue berantakan kan,” protes Cinta dengan kesal.
“udah abisin dulu susunya nanti telat lagi, biar nanti kakak yang nganterin,” kata Nico lembut.
“udah abis, nih. Harusnya kakak yang cepetan abisin rotinya, masih banyak gitu,” balas Cinta yang masih sibuk dengan rambutnya.
“ini mah mau gue bawa ke kampus. Udah yuk jalan,” ajak Nico.
Cinta pun ikut saja ditarik Nico, “eh tunggu, pamit dulu dong sama Bunda,” kata Cinta yang langsung pamit kepada Bunda, “Cinta berangkat dulu ya, Bun.”
“iya, nih bawa rotinya,” jawab Bunda yang memberi kotak bekal Cinta.
“kayak anak kecil banget sih,” kata Cinta yang akhirnya menerima kotak bekal itu.
“nanti taro aja di mobil gue kalo udah abis, biar ngga malu-maluin lo,” usul Nico setelah berpamit kepada Bunda.
“gue ikut mobil lo dong, Nic,” pinta Ciko yang ikutan pamit kepada Bunda.
“hah?” tanya Cinta kaget.
“tenang aja, Nico nganterin lo duluan kok,” kata Ciko yang lagi-lagi mengacak rambut Cinta.
“bisa ngga sih ngga usah resek,” protes Cinta yang jalan duluan menuju halaman depan.
Ciko yang tidak tahan marahan terlalu lama sama Cinta, akhirnya menyusul Cinta dan meminta maaf, “iya deh iya maafin gue napa, Ta.”
“iya-iya,” balas Cinta tidak menoleh ke Ciko.
“yah ngga ikhlas ya maafinnya?” tanya Ciko yang sekarang sudah berada di depan Cinta yang mau membuka pintu mobil.
“iya-iya udah ah misi gue mau masuk,” jawab Cinta yang menyingkirkan Ciko.
“tapi maafin ya,” tahan Ciko dengan memegang erat tangan Cinta.
“iya kakak ku yang ganteng dan baik hati,” balas Cinta yang langsung masuk ke dalam mobil.
“yah,” jawab Ciko ketika pintu mobilnya langsung ditutup oleh Cinta.
“udah sana ah, kamu ini Ciko,” kata Bunda mengelus rambut Ciko.
“hehehehehe,” nyengir Ciko.
“udah cepet masuk daripada nyonya ngamuk lagi,” kata Nico yang baru ingin memasuki mobilnya dan berbarengan dengan terbukanya kaca mobil tempat Cinta duduk.
“iya deh iya, peace peace,” balas Ciko yang langsung masuk ke bagian belakang mobil Nico.
Deru mobil pun terdengar.
“Bun, Cinta berangkat dulu ya,” pamit Cinta dalam mobil yang diikuti oleh Nico dan Ciko.
“Nico juga, Bun.”
“Ciko juga, nanti Ciko pulang telat mau rapat OSIS.”
“terus gue pulang bareng siapa?” tanya Cinta bingung.
“ya sendiri dong, Nak,” jawab Bunda.
“hehehehe iya, Bun,” kata Cinta malu.
“tau nih, manja banget,” sambung Ciko.
“udah sana jalan, nanti telat loh. Hari pertama ujian kan,” usul Bunda.
“iya, Bun. Assalamu`alaikum,” pamit Cinta, Ciko, dan Nico berbarengan.
Mobil pun melaju dengan kencang. Nico yang sudah terbiasa membawa mobil dengan kecepatan di atas 80 km/jam pun dengan tenang mengemudi, walaupun terdengar percekcokan antara Cinta dan Ciko.

***

“udah sampe nih.”
“udah sana turun, nanti keburu masuk loh,” sambung Ciko mengelus rambut Cinta.
“iya-iya, pengen banget sih lu gue turun,” kata Cinta yang langsung turun dari mobilnya dan berjalan.
“eh, tunggu tunggu,” tahan Ciko.
“apalagi? Katanya suruh turun?”
“nih bawa kotak bekel lo,” Ciko langsung menyodorkan kotak makan Cinta.
“ih, apa-apaan sih lo? Malu-maluin gue aja.” Cinta langsung was-was melihat sekeliling.
“kenapa sih cantik? Takut diliat Coki?” goda Ciko.
“ih, kak Ciko. Ini wilayah sekolah tau. Jangan buat aku malu.”
Dari dalam mobil Nico hanya bisa tertawa, “yaudah lah, Cik. Kasian tau di godain mulu. Mending lu masuk deh bawa kotak bekelnya.”
“tapi kan ini kotak bekel dia.”
“gue panggilin clara lu,” pancing Cinta.
“iya deh iya, bye adik ku tersayang,” putus Ciko yang langsung memasuki mobil.
“bye Cinta, jangan gunain contekan ya,” pesan Nico dari dalam mobil.
“sip kak Nico.”
Nico dan Ciko pun pergi meninggalkan Cinta yang masih takut kalau-kalau ada yang melihat tingkah Ciko tadi.

***

Perlahan-lahan Cinta berjalan menuju kelasnya.
“duh, tadi genk-nya Mutiara ngeliat gue ngga ya?”
“ngeliat apa?” tanya Ikhsan dan Clara yang berhasill membuat Cinta kaget setengah mati.
“astagfirullah, lo berdua ya,” bentak Cinta.
“kenapa sih, Cin? Ngomel-ngomel mulu,” tanya Clara.
“ngga, gue lagi sebel aja sama kak Ciko,” jawab Cinta.
“kenapa lagi sih kakak lo?” tanya Ikhsan.
“jadi tuh,” kata-kata Cinta terpotonang ketika Coki, Doni, dan Awan datang menghampiri mereka.
“kelasnya dimana, Cin?” tanya Doni.
Cinta tak langsung menjawab pertanyaan Doni karena kaget melihat kehadiran Coki dan Awan berbarengan.
“Cinta?” panggil Coki dengan senyum.
“hah? Apa?” tanya Cinta salah tingkah.
“tadi Doni nanya kelas kamu dimana?” ulang Coki.
Mendengar Coki memanggilnya dengan sebutan kamu, Cinta merasa dirinya tidak mengendalikan dirinya.
“emm, nggaa tau deh. Aku baru datang,” jawab Cinta dengan gugup.
“yaudah cari bareng yuk,” ajak Coki.
“hah? Bareng?” tanya Cinta yang melirik ke arah Ikhsan dan Clara yang berada di sebelahnya.
Ikhsan dan Clara yang mengetahui keadaannya hanya bisa tersenyum melihat tingkah Cinta.
“yaudah ngga apa-apa kok, Cin. Lagian gue sama Ikhsan ada perlu sama Bu Sartini, ya kan?” tanya Clara kepada Ikhsan yang ternyata sedang melihat Awan yang tidak jauh berada bersamanya.
“hah? Iya bener iya.”
“yaudah, kita duluan ya. Bye,” akhir Clara yang langsung pergi bersama Ikhsan.
“yaudah yuk, nanti telat,” ajak Coki.
“iya,” jawab Cinta yang mengikuti Coki berjalan di sebelahnya,

***

“eh, San. Tadi lo ngapain liat-liatan sama Awan?” tanya Clara di tengah perjalan menuju kelasnya.
“kasian tau, Awan. Mukanya ditekuk banget,” jawab Ikhsan.
“lagian kenapa mereka bisa putus sih? Ngga enak banget.”
“tau tuh, malah si Awan milih cewek kaya Bunga.”
“emang cewek kaya Bunga gimana maksudnya?” tanya Clara bingung.
“ya gitu, uda ah kenapa jadi ngegosip gini?” jawab Ikhsan yang langsung memasuki kelasnya.
“tapi kan Awan sama Cinta satu kelas lagi ya, kasian banget,” sambung Clara.

***

“kayaknya ini deh kelasnya,”  kata Doni melihat ruangan bernomor 28.
“emang kita ruang 28?” tanya Cinta bingung.
“eh, Coki,” sapa Mutiara yang langsung menggandeng Coki.
“apa-apaan sih, Mutiara,” kata Cinta sendiri dengan suara pelan supaya tidak terdengar.
Coki merasa risih dengan cara Mutiara menggandengnya, “eh, Mutiara.”
“kelas kamu dimana?” tanya Mutiara tanpa malu.
“ngga tau deh,” jawab Coki singkat dan berusaha melepaskan pegangan Mutiara.
“iya ini kelas kita,” kata Doni kepada Awan, Cinta, dan Coki.
“oh, ini kelas kamu. Aku di sebelah kamu dong. Wah kelas kita dekat ya,” kata Mutiara yang tidak melepaskan pegangannya.
“iya, udah ya lepas,” pinta Coki dengan halus.
“yaudah ya, gue masuk duluan,” kata Cinta dengan lemah dan berjalan masuk.
“gue sama Doni juga deh,” kata Awan mengikuti Cinta bersama Doni.
“udah ya gue masuk duluan,” kata Coki yang akhirnya berhasil lepas dari Mutiara.

***

Setelah menaruh tas, Cinta langsung membuka handphone BB-nya dan membuka twitter untuk meng-update perkembanga hatinya.
Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“hay,” sapa Coki yang berada di sebelahnya.
Spontan handphone Cinta jatuh, “yah handphone gue.”
“aku ambilin ya,” kata Coki yang langsung menunduk ke kolong meja untuk mengambilkan handphone Cinta, “wah lagi ol twitter,” bisik Coki.
“mana handphone-nya?” tanya Cinta dari atas meja.
“oiya, nih handphone kamu,” kata Coki yang langsung mengembalikan handphone Cinta, “aku balik ke tempat aku dulu ya,” kata Coki yang langsung duduk di bangku yang berada di sebelah Cinta.
“duh, tweet gue dibaca ngga ya sama Coki?” tanya Cinta sendiri dengan was-was dan langsung melihat hamdphone-nya kembali.
CikoSikirana Siapa tuh Coki RT@cintakirana Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“ih, kak Ciko ngapain sih komment ngga jelas,” protes Cinta.
Apa sih kak Ciko RT@CokiSikirana Siapa tuh Coki RT@cintakirana Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“Cinta, udah ada pengawas,”panggil Coki yang melihat Cinta masih memegang handphone-nya.
“oh, iya makasiih ya,” balas Cinta yang langsung menaruh handphone-nya.

***

Ujian hari itu pun selesai. Cinta yang tidak langsung bergegas pulang menemukan selembar kunci di kolong meja Awan, “Awan make kunci?”
“Cinta,” panggil Claudy dari luar, teman satu kelas Cinta.
“oh, iya,” balas Cinta yang langsung memasuki kunci yang ia lihat ke dalam tasnya.
“ngapain lo tadi di meja Awan?” tanya Cindy.
“oh, ngga kok. Ngga ngapa-ngapain,” jawab Cinta berusaha menutupi.
“Cinta duluan ya,” pamit Coki begitu melewati Cinta bersama Awan.
“oh iya,” jawab Cinta gugup ketika melihat Awan. Cinta masih tidaak percaya apa Awan benar-benar menggunakan kunci jawaban tersebut.
“eh Cinta gimana tadi menurut lo soal bahasa Indonesia?” tanya Claudy yang berhasil memecah lamunan Cinta.
“hah? Oh bahasa tadi, biasa aja ah,” jawab Cinta.
“iya deh yang pinter beda, hahahahaha,” sindir Cindy.
“ih, apaan sih. Udah ah gue pulanga duluan ya,” pamit Cinta.
“nanti les kan?” tanya Claudy.
“iya.”

***

“duh kak Ciko lama aja nih,” protes Cinta yang sudah tidak sabar, “yaudah gue buka twitter aja deh.”
CokiLaksana Kok ada nama gue? RT@putricinta Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“wah gawat, Coki baca lagi, gue harus balas apa nih?”
Memangnya kenapa? RT@CokiLaksana Kok ada nama gue? RT@putricinta Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“hay, ninggalin kita lu,” sapa Clara yang mengagetkan Cinta.
“ih, Clara,” omel Cinta dengan jengkel.
“cie yang tadi seneng diajak ke kelas bareng Coki, ciecie,” goda Clara dengan senyum centilnya.
“ih apaan sih,” elak Cinta dengan pipi mulai memerah.
“ciecie pipinya merah,” goda Clara lagi.
“oiya tumben lu sendiri, Ikhsan mana?” tanya Cinta heran melihat Clara sendiri.
“cie ganti topik.”
“ih, bukannya gitu. Katanya Ikhsan mau ketemu kak Ciko.”
“oh yang lagu itu ya?”
“iya, mana sih Ikhsan?”
“dia tadi diajak ngobrol gitu sama Awan. Kayaknya sih curhat,” jawab Clara.
“tau dari mana lo curhat?” tanya Cinta yang sedang melihat balasan mention Coki.
“tadi si Awan suruh gue pergi gitu. Katanya privacy gitu,” jawab Clara yang aneh melihat Cinta senyum-senyum sendiri, “Cin?”
“oh iya,” jawab Cinta yang sama sekali tidak memalingkan wajanhya dari handphone-nya.
“lu lagi ngaain sih? Gue cerita dicuekin. Liat apasih?” tanya Clara penasaran yang akhirnya merebut handphone Cinta dan melihat apa yang sedang dilakukan Cinta.
“ih, Clara ngga sopan banget sih.”
“lo yang ngga sopan gue lagi curhat malah buka twitter,” jawab Clara yang kaget melihat mention antara Cinta dan Coki.
Ya ngga apa-apa sih Cuma mau tau aja RT@putricinta Memangnya kenapa? RT@CokiLaksana Kok ada nama gue? RT@putricinta
“lo dari tadi mention-mentionan sama Coki?” tanya Clara yang ikutan tidak memalingkan wajahnya darihandphone Cinta.
Yaudah kalo gue ngga jawab ngga apa-apa dong RT@CokiLaksana Ya ngga apa-apa sih Cuma mau tau aja RT@putricinta Memangnya kenapa? RT@Cokilaksana
“iya, dia mention duluan status gue,” jawab Cinta dengan malu.
Selesai UN, mau ngga nonton berang gue? RT@putricinta Yaudah kalo gue ngga jawab ngga apa-apa dong RT@CokiLaksana Ya ngga apa-apa sih Cuma mau tau aja
“lo diajak nonton sama Coki?” tanya Clara dengan antusias.
“iya,” jawab Cinta lemas.
“lo terima ngga?” tanya Clara yang mengembalikan handphone Cinta.
“ngga tau deh belum gue jawab, menurut lo gimana?” Cinta yang terlihat bimbang malah balik bertanya.
“yaudah terima aja, ini kesempatan emas loh buat lo. Berarti dia udah mulai mau pedekate sama lo.”
“tapi abis UN gue juga ada janji.”
“sama siapa?” tanya Clara yang berbarengan dengan kedatangan Awan dan Ikhsan yang menghampiri mereka berdua.
“Cin, nanti jadikan main band?” tanya Ikhsan.
“hah?” Cinta kaget melihat kehadiran Ikhsan bersama Awan.
“janji lo sama mereka?” tanya Clara yang melirik ke arah Awan dan Ikhsan dan diikuti angguka Cinta.
“Cinta ngga bisa main band dulu,” jawab Clara.
“Ikhsan kan nanya ke Cinta, bukan lu, Ra,” balas Awan.
“ya tapi emang nyatanya Cinta ngga bisa.”
“tapi kata kak Nico sama kak Ciko bisa kok,” sambung Ikhsan berusaha memastikan.
“hay, Cinta,” sapa Coki tiba-tiba dengan memegang pundak Cinta yang membuat Cinta salah tingkah.
“hay,” jawab Cinta seadanya.
“nanti setelah UN jadikan?” tanya Coki memastikan.
“mau kemana lu, Cok?” tanya Awan dengan heran.
“abis UN gue sama Cinta mau nonton,” jawab Coki dengan santai.
Cinta hanya bisa tertunduk karena sudah pasti Ikhsan dan Awan sedang memerhatikan Cinta.
“berdua aja?” tanya Awan memastikan.
“iya, kenapa?”
“gue ikut ya?” pinta Awan.
“hah?” Cinta dan Clara sangat kaget atas ucapan Awan yang sangat di luar kendali mereka.
“emm, terserah Cinta. Gue duluan ya,” akhir Coki yang langsung pergi meninggalkan Cinta, Awan, Clara, dan Ikhsan dengan penuh tanya.
“gimana jadinya, Cin?” tanya Ikhsan memastikan.
“bentar ya, handphone gue bunyi,” kata Cinta yang langsung mengambil handphone-nya dan pergi menjauh dari mereka, “hallo, kak, jadi jemput ngga?”
“ih, gimana sih lu, kan motor gue lagi di bengkel gara-gara balapan kemarin. Lo lupa?” jawab Ciko.
“oiya, duh.”
“lagian kan tadi gue berangkat bareng lo sama Nico. Kan tadi pagi kita berantem, gimana sih ih,” sambung Ciko lagi.
“ya Allah, kak,” balas Cinta dengan lemas.
“oiya, tadi lo mention-mentionan ya sama Coki? Sodara kembar gue,” pancing Ciko.
“ih, berkali-kali gue bilang. Lo sama Coki beda jauh,” balas Cinta dengan emosi.
“yaudah jangan marah, tapi sih sebenernya gue lagi ada di rumah Dicky. Lo mau sekalian gue jemput?” tawar Ciko.
“tapi kan kakak ngga bawa motor?”
“ye maksud gue pulang bareng tuh naik angkot cantik.”
“oh, yaudah cepet ya, sekarang jalan.”
“ih ngga bisa motornya Dicky lagi di pake sama adiknya.”
“lah? Katanya naik angkot?”
“maksud gue dari rumah Dicky sampai sekolah lu, sayangku. Geregetan gue sama lu.”
“oh, sory-sorry kak. Lagi bingung banget gue.”
“kenapa?”
“Coki ngajakin aku nonton,” jawab Cinta dengan was-was.
“bagus dong, lu terima?”
“belum gue terima tapi Coki udah pede banget mau jalan sama gue.”
“yaudah lo terima apa salahnya?”
“tapi dia ngajakinnya sesudah UN.”
“lah? Kita kan mau nge-band?”
“makanya gue bingung, malah Awan minta ikut.”
“Awan? Awan teman lo dari kelas 7? Mantan lo itu?”
“iya, Kak. Gimana dong? Malah kata Coki terserah gue boleh ngajak Awan apa ngga.”
“yaudah nanti lagi ya lu ceritanya. Gue baru mau jalan ke sekolah lu nih.”
“iya, cepet ya.”

***

Selama Cinta menelefon kakanya, Awan ternyata menggunakan kesempatan itu untuk bertanya-tanya kepada Clara.
“Ra, Cinta beneran suka sama Coki?” tanya Awan dengan penasaran.
“iya, bukannya lu udah tau?”
“iya gue udah tau tapi kirain gue itu bohongan. Kan Cinta waktu itu masih ngejar-ngejar gue,” jawab Awan dengan pede.
“bukan ngejar-ngear kali. Lebih tepatnya menyatukan kita berempat lagi dengan kesalahan lo yang terlalu childish,” sambung Clara.
“tau lo, Wan. Putus dari Cinta malah milih orang kayak Bunga,” tambah Ikhsan.
“emang kenapa sih sama Bunga? Kok kayaknya lo berdua ngga suka banget sama Bunga.”
“bingung gue jelasinnya, ini masalahnya aib orang coy,” jawab Ikhsan dengan gaya sok asik.
“kira-kira kalo gue nembak Cinta lagi di terima ngga ya?” tanya Awan kepada Clara dan Ikhsan yang sangat kaget, “hah?”
“lo mau nembak Cinta?” tanya Ikhsan dan langsung saling pandang kepada Clara dan berucap bersama-sama, “LAGI!!!”
“iya, emang kenapa sih? Dosa banget apa gue?”
“ya bukannya gitu, dia udah kese banget tau sama lo,” jawab Ikhsan.
“tau, Cinta sama Bunga jauh beda sayang. Apalagi sekarang Coki menunjukkan sikap-sikap open heart sama Cinta, wah siap kalah deh,”  sambung Clara.
“tenang aja kali gue ngga mau kalah sebelum bertanding,” jawab Awan dengan yakin.
“ini nih kelebihan lu yang bikin gue suka sama lo dulu. Terlalu pede dengan apapun,” kata Clara.
Cinta pun datang dengan hati yang was-was karena takut kalau Awan menagih jawabannya.
“telefon dari siapa?” tanya Awan.
“hah? Dari kak Coki,” jawab Cinta dengan gugup.
“jadi nanti lo jalan apa nge-band nih?” tanya Ikhsan dengan penuh kepastian.
“gue juga belum tau, San,” jawab Cinta seadanya.
“kalo lo jalan, gue boleh ikut ngga?” tanya Awan.
Akhirnya dia nanya apa yang gue hindarin, batin Cinta.
“emm, gue ngga tau deh,” jawab Cinta dengan senyum, “eh kakak gue udah datang, duluan ya,” pamit Cinta yang melihat Ciko dari kejauhan.
“hey, Bro,” sapa Ciko kepada Awan, Clara, dan Ikhsan dengan berjabat tangan.
Claranya hanya membalas dengan senyum menawan yang berhasil membuat Ciko berdegup kencang.
“kak Ciko, jangan mupeng ya,” sindir Ikhsan.
“hahahahahha, sial lo,” balas Ciko.
“yaudah yuk pulang, udah siang nih. Gue mau belajar buat besok,” sambung Cinta.
“yaudah ya, besok lagi ya kita ketemu, bye,” pamit Ciko.
“bye semua,” pamit Cinta.
“yaudah yuk pulang,” ajak Clara.
“yuk,” kata Ikhsan yang berjalan bersama Clara.
“eh, nanti dulu,” sambung Awan.
“kenapa?” tanya Ikhsan bingung.
“gue mau ke sanggar dulu ya, ada perlu.”
“loh? Gue ngga dikasih tau suruh ngumpul,” sambung Clara bingung.
“eh, gue ada urusan sama Nino kok,” kata Awan bohong.
“oh yaudah, duluan ya,” pamit Clara.
“gue juga ya,” pamit Ikhsan.

***

Di taman, Awan melihat Coki dan Floren tengah berbincang serius dengan sesekali diselingi nada tinggi dari keduanya.
“jadi lo setuju kan sama ide gue tadi siang. Tenang aja kok, kalau lo ikutin gue, gue akan ikutin lo,” tawar Floren dengan senyum sinis.
“gue ngga bisa,” jawab Coki dengan seadanya.
“tapi jujur kan lo ngga suka sama Cinta?”
Hah? Coki?, batin Awan.
“tapi gue belakangan ini juga suka sama Cinta.”
“halah, Mutiara kan yang benar-benar lo cintai?”
“ya tapi,” Coki bingung harus melanjutkan kalimatnya seperti apalagi. Dia merasa Floren sedang mempermainkan dirinya tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“oke, kita balik ke rencana awal. Gimana?” kata Floren yang masih berusaha untuk menawar.
“ngga jahat apa?” tanya Coki dengan bingung.
“tenang aja, nanti lo kasih minuman yang udah gue siapin di parkiran sebelum lo berdua nonton,” kata Floren.
“minuman itu isinya apa dulu?” tanya Coki dengan nada tinggi.
“nyantai dong, Bro. Minuman itu isinya Cuma obat tidur doang kok, reaksinya Cuma 12 jam setelah Cinta meminumnya,” jelas Floren.
“kenapa sih lo minta gue lakuin ini? Kenapa ngga orang lain?” tanya Coki dengan gemas.
“ya karena dia sukanya sama lo, dan gue pengen lo jadian sama Mutiara di depan Cinta,” jawab Floren dengan mantap.
“gue yakin selain itu ada yang lain,” pancing Coki.
“iya, gue pengen nama baik mantan ketua OSIS, mantan ketua PMR, dan Cinta sendiri sebagai mantan wakil ketua Paskibra hancur di akhir mereka bersekolah di sini.”
“ya tapi kenapa, Flo? Kenapa? Lo kan pernah dekat sama mereka?”
“ya memang gue pernah dekat sama mereka, dan gue ngga terima mereka dekat sama Ikhsan.”
“Ikhsan? Lo suka sama dia?”
“ya dulu, tapi sekarang gue udah muak sama Ikhsan. Enak banget dia nyampakin gue.”
“dan lo balas dendam lewat gue?”
“iya, gue akan bilang ke bokap gue untuk melunasi hutang bokap lo. Gimana? Saling menguntungkan kan?”
“terserah lo, gue udah gerah,” jawab Coki yang langsung pergi meninggalkan Floren.
“inget lo, Cok. Keluarga lo ada di tangan gue,” kata Floren dengan nada tinggi.

***

“hah? Coki? Ya ampun dugaan gue bener. Gue harus bilang ke Cinta,” kata Awan yang langsung berjalan tetapi terhenti oleh Coki yanng ada di depannya kini, “dan gue harap lo ada di saat Cinta nonton bareng gue karena gue ngga bisa ngelindungi dia, ada Floren di sana.”
“BIADAB LO, COK!!!!” bentak Awan yang langsung menghajar Coki dengan segenap emosi.
Awan terus-menerus menghajar Coki meski Coki sudah merintih, “lo mau nyampakin Cinta gitu aja? Ngga akan tinggal diam gue.”
Akhirnya dengan sisa tenaganya Coki menahan Awan, “oke gue terima ini, tapi please!! Ini masih rahasia, gue nga akan berlaku terlalu jauh sama Cinta kalo lo mau datang dengan diam-diam pada malam nanti.”
Awan pun berhenti memukuli Coki dan berdiri membantu di depan Coki yang sudah berdiri. Tetapi Coki malah menyerang Awan dengan pukulan yang tak henti. Awan hanya bisa diam, di pikirannya kini bagaimana ia memberitahu Cinta tenteng ide gila Floren bersama Coki.
“cukup gue nonjokin lo,” kata Coki yang akhirnya pergi meninggalkan Awan, “dan satu lagi, jangan harap Cinta bisa tersenyum besok dan lo bisa menghalangi gue.”
“ORANG KAYAK LO BIADAB, COK!!!” teriak Awan.
“ya memang, daripada lo. Membohogi perasaan lo demi cewek yang sama sekali ngga lo cinta,” akhir Coki yang langsung pergi.
“gue harus sms Clara sama Ikhsan. Atau kayaknnya lebih baik Ikhsan aja,” kata Awan yang langsung mengirim pesan singkat kepada Ikhsan.
To: Ikhsan
Gue tunggu lo di rumah gue jam 3, ada hal yang harus gue omongin sama lo
Awan pun langsung bergegas pulang sebelum ada guru atau penjaga sekolah yang melihatnya babak belur.

***

Tok tok tok!!!
“Cinta,” panggil Clara dari luar rumah Cinta, “Assalamu`alaikum, Cinta.”
“iya tunggu sebentar,” teriak Cinta yang sedang bermain dengn laptopnya.
“CINTA!!! ASSALAMU`ALAIKUM CINTA!!” teriak Clara dari luar rumah.
Cinta langsung membukakan pintu dan dengan menutup telinganya, “duh, bisa ngga sih ngga usah teriak? Budeg nih gue.”
“iya deh iya sorry, atuh tiba-tiba lo nyuruh gue ke rumah lo. Gue kan lagi belajar buat matematika besok.”
“ya kan sekarang udah sore kali.”
“apanya yang sore? Masih jam setengah tiga begini. Kenapa ngga jam 4 aja sih gue ke rumah lo.”
“ya jam 4 gue mau tidur rencananya.”
“ya ampun, Cinta. Sore-sore begitu lo tidur?” tanya Clara heran melihat tingkah Cinta yang masih kekanak-kanakan.
“duh bawel deh, masuk deh kalau gitu. Ngga enak diliat tetangga gue,” ajak Cinta yang berjalan duluan menuju ruang tamu.
“ada apa sih lo nyuruh gue ke sini?” tanya Clara yang duduk di depan laptop Cinta, “lo main laptop? Bukannya belajar lu?”
“ya kan Cuma bentar. Ini juga gue baru buka.”
“tapi kan ini UN Cinta.”
“yaudah ah, kayak nyokap gue aja deh lo.”
“iya deh iya, gue ngapain nih ke rumah lo?”
“nih liat kelakuan sahabat lo itu,” kata Cinta yang langsung menunjukkan laptopnya.
Clara membaca beberapa mention antara Cinta dan Coki.
“hah?” Clara sangat kaget dengan apa yang dibacanya.
“tolong deh lo bilangin sama sahabat lo itu, kenapa sih dia? Enak banget mukulin Coki, apa salah Coki?”
“ya mana gue tau? Lagian lo tau darimana kalo Coki ngga bohong sama lo?”
“tadi dia ke rumah gue sebentar buat ngasih buku gue yang ketinggalan di perpus.”
“trus ngapain lo mention-mentionan?”
“tadi dia duluan yang mention gue yaudah gue bales.”
“oh gitu,” kata Clara yang langsung mengambil handphone-nya karena berbunyi.
“eh, tadi lo kan pulang bareng Awan?”
“ya trus? Lo mau nyalahin gue juga gitu?”
“ya ngga gitu juga, Ra. Cuma kan aneh aja, benar lo ngga liat Awan sama Coki?”
“ngga, tadi emang mau pulang bareng tapi dia ada janji sama Nino katanya.”
“atau jangan-jangan dia sama Nino kali? Wah Nino awas aja, gue samperin ke rumahnya,” kata Cinta emosi dan langsung berlari menuju kamarnya.
“ye si Cinta,” kata Clara yang memainkan laptop Cinta di ruang tamu.

***

Tok tok tok!!
“Wan, ada Ikhsan noh di luar,” panggil Citra.
“iya, kak, suruh tunggu sebentar,” jawab Awan.
“kasian itu si Ikhsan udah daritadi,” teriak Citra lagi dan bersamaan dengan dibukanya pintu kamar Awan, “ah, bawel banget sih lu.”
“muka lu kenapa?” tanya Citra yang langsung memegang wajah Awan.
“aw!!” teriak Awan yang langsung menyingkirkan tangan Citra dari wajahnya.
“sorry sorry, tumben lo berantem,” sambung Citra.
“yailah gue kan cowo.”
“pasti gara-gara cewek, hahahahaha,” kata Citra yang langsung pergi menuju kamarnya.
“tau aja itu bocah,” kata Awan yang langsung pergi menuju ruang tamu.

***

Di rumah Cinta, ternyata Cinta juga tengah bersiap untuk pergi menuju rumah Nino yang tak jauh dari rumahnya.
“yuk, Ra, pergi sebelum kakak gue bangun,” ajak Cinta yang sudah rapih dengn T-shirt yang ditutupi jaket dan celana pendeknya.
“emang kenapa kalo ada kakak lo?” tanya Clara bingung.
“resek dia mah,” kata Cinta yang menarik Clara untuk berdiri.
“eh, ada Clara,” sapa Ciko dari arah kamarnya yang tida jauh dari ruang tamu.
“heh, ada si resek deh,” kata Cinta lemas.
“mau pergi kemana?”
“ke rumah Nino, kak,” jawab Clara dengan sopan.
“loh? Mau ngapain? Bukannya besok masih ujian ya? Kok udah main aja?”
“ada hal penting, kak, yang mau aku tanyain ke Nino,” jawab Cinta.
“oh, yaudah gue anterin ya,” tawar Ciko kepada Clara, “emm gimana ya, kak?”
“udah ngga usah, biar naik motor gue aja,” jawab Cinta yang langsung membawa Clara pergi.
“yaudah hati-hati ya,” teriak Ciko.

***

Awan telah duduk lemah di sebelah Ikhsan yang sedaritadi menunggunya di ruang tamu.
“ngapa muka lu?” tanya Ikhsan bingung, “perasaan tadi pas gue sama Clara ninggalin lo, ngga kayak gini deh muka lo. Ribut sama anak mana? Kenapa ngga bilang? Kan lo punya pasukan?”
“ah bawel lo kayak cewek,” kata Awan gerah dengan kata-kata Ikhsan yang tiada hentinya.
“jadi lo manggil gue karna lo mau nyiapin pasukan untuk membalas ini? Katanya selama ujian ngga mau tempur dulu?”
“emang ngga, ini bukan karena tawuran tau,” jawab Awan.
“terus?” tanya Ikhsan penuh harap.
“gue berantem sama Coki tadi di taman sebelum pulang sekolah,” jawab Awan dengan nada lurus.
“hah? Berantem? Serius lo? Bukannya tadi lo mau ke Nino?”
“ngga kok, itu alasan gue aja. Coki ngga seindah yg dibayangkan Cinta.”
“maksudnya? Ini bukan karena lo mau nembak dia kan?”
“ngga kok, tadi gue denger pembicaraann dia sama Floren,” jawab Awan singkat.
“Floren? Teman kita waktu kelas 8?”
“iya, dia naksir berat sama lo.”
“hah? Yang benar?”
“iya, dan karena dulu lo deket banget sama Cinta dan nyia-nyiain cintanya Floren, jadi sekarang dia balas dendam ke Cinta.”
“lah, kok?” tanya Ikhsan yang masih heran dengan cerita Awan yang berbelit, “yang jelas ngapa kalo cerita.”
“oke, jadi tadi gue liat Coki sama Floren ngobrol berdua di taman. Mereka mempunyai rencana buat jahatin Cinta.”
“karena apa mereka berbuat kayak gitu?” tanya Ikhsan.
“pertama Floren pengen jatohin nama baik lo, Clara, dan tentunya Cinta sendiri. Dua dia balas dendam karena dulu lo nyia-nyiain cintanya Floren dan dia iri melihat kedekatan lo sama Cinta.”
“oh, aneh. Lanjut,” pinta Ikhsan yang masih mencoba mengerti arah pembicaraan mereka.
“cara mereka jahatin Cinta lewat Coki.”