Rabu, 28 Oktober 2015

Terngiang-Ngiang akan Pulau Sangiang


                Tak banyak dari mereka yang mengenal Pulau Sangiang, pulau dengan kekayaan berlimpah ruah. Mulai dari keanekaragaman tumbuh-tumbuhan, satwa, hingga sejarah pun dapat dijumpai di Pulau Sangiang. Hutan rimba memang julukan yang tepat untuk menggambarkan pulau kecil di Selat Sunda ini. Mengapa demikian? Karena di pulau inilah satwa seperti lutung, kucing hutan, landak, biawak, elang laut, hingga biota laut masih diberi kesempatan bebas untuk bernapas dan merasakan kesejukan Pulau Sangiang.
                Pantas saja pulau itu dikatakan hutan rimba. Keasrian yang belum terjamah jari-jari tangan anak kota membuat ekosistem hutan, dataran rendah, dan hutan pantai masih seimbang dan menghasilkan pesona alam yang sungguh menakjubkan. Warga Pulau Sangianglah yang dapat merawat pulau mereka dengan naluri keibuannya. Warga merawat dan menjaga alam seperti mereka menjaga tubuh mereka sendiri.
                Mereka sangat tahu bagaimana berbincang singkat pada lutung. Elang laut pun tak sungkan memberi warga makan dengan hasil tangkapannya di laut dan sayur-mayur hasil diskusi elang laut dengan tetumbuhan agar mereka bersedia menjadikan diri mereka santapan keluarga mereka sendiri, warga Pulau Sangiang. Keseharian mereka bermain dan tertawa lepas bersama kucing hutan dan biawak tak menggambarkan perbedaan derajat kedua spesies berbeda itu.
                Benteng-benteng tak terpakai semasa penjajahan Jepang  tak luput dari tempat persembunyian kucing hutan agar anak-anak di Pulau Sangiang mencari mereka.
                Wahyu Adi Prayoga memang baru sekali menjajaki diri di pemukiman dengan pesona alam tak terlukiskan itu. Namun kenangan itu memang tak dapat luput dari ingatannya. Walaupun ia menjadi pendatang baru, alam nampaknya akan menjadikannya jua sebagai keluarga. Anak-anak menariknya hingga ia mau ikut bermain bersama mereka, anak-anak Pulau Sangiang dan satwa yang kebetulan ingin bermain.
                “Layaknya anak-anak, mereka senang bermain. Mereka tak sungkan membagi dunia mereka kepada kami pendatang baru. Kami pun tak sungkan memberikan pengetahuan yang kami dapatkan untuk anak-anak di Pulau Sangiang,” tutur Wahyu begitulah sapaan akrabnya.
                Ia melihat secara langsung tarzan-tarzan cilik mencakar kucing hutan dan melonglong bak merekalah kucing hutan yang sebenarnya. Namun demikian, bukan berarti mereka ialah hewan ataupun manusia berperilaku hewan. Tentu tidak. Anak-anak di Pulau Sangiang tahu betul tingkah sopan dan santun kepada orang yang lebih tua, terlebih pendatang baru. Layaknya seorang putri, terkadang mereka bertutur kata lembut selembut orang-orang Jawa. Mereka pandaia sekali.
                Selain pandai merawat, menjaga, dan berbahasa baik, rupanya mereka memiliki kepandaian lain. “Mereka pun bersekolah juga meskipun sekolahnya harus di Pulau Anyer,” Jelas Wahyu, , seorang Engineer Mechanical lulusan Politeknik Negeri Jakarta. Tak terbayangkan dalam benak usaha mereka bangun di sepertiga pagi untuk mempersiapkan diri dalam memperdalam ilmu-ilmu. Pagi buta mereka telah siap menyebrangi lautan demi mengejar ilmu yang mereka dambakan. Waktu tempuhnya memang hanya 45 menit, namun untuk ukuran seorang anak-anak jelaslah mereka terlatih sikap disiplin dan pantang menyerah.
                Pulau Sangiang di pagi hari sangatlah sepi. Kucing hutan dan biawak hanya bertatap sepi melihat lautan yang tenang. Elang laut mengemban tugas yang sangat penting untuk satwa dan tetumbuhan di sana, yakni memantau kepulangan anak-anak bersama ibu mereka yang menggali ilmu di pulau tetangga.
                Di pagi hari kalian akan bertemu dengan kepala keluarga saja, tidak satwa yang bermain, tidak ibu-ibu, terlebih anak-anak Pulau Sangiang yang riang. “Di pagi hari itulah saya bersama kawanan saya memberikan penyuluhan kepada bapak-bapak mengenai penggunaan dan perawatan solarsol,” ungkap Wahyu yang juga tercatat sebagai volunteer 1000 guru.
                Wahyu dan kawannya tak hanya memperkosa kebudayaan dan alam Pulau Sangian. Mereka memberi sedikit ilmu yang mereka punya dan taman baca. Tingkah anak-anak di sana sangatlah menggemaskan ketika mereka meminta dibangunnya taman bacaan. Katanya, mereka ingin mengajak kucing hutan dan biawak membaca buku juga, agar mereka tak hanya bermain di hutan lepas bersama dua satwa tersebut.

                Terkenanglah sudah kegiatan Wahyu Adi Prayoga semasa dirinya menjadi ‘keluarga singkat’ Pulau Sangiang. Terhitung sangat singkat sekali, yakni dua hari lamanya. Namun keterbukaan warga dan alam Pulau Sangianglah yang membuat dirinya betah dan tak sabar untuk kembali ke pulau itu. Bukan hanya pulau itu saja, melainkan pulau-pulau lain yang tak sempat diperkosa anak kota lantaran terlalu sibuknya mereka mementingkan diri sendiri dan gengsi semata. Alam, satwa, pendidikan, anak-anak memang seperti saudara kandung di mana ibu mereka Allah SWT dan ayah mereka rasa kepedulian terhadap sesama makhluk hidup.

Minggu, 25 Oktober 2015

BUSUKNYA SABAR

Pagi itu, Maria memasuki ruang kelasnya dengan hati yang sangat riang. Tulisannya baru saja lolos di salah satu surat kabar harian Ibu Kota ternama. Selain itu, ia pun mendapatkan royalti yang memang tidak seberapa untuk para penulis hebat yang sering menulis untuk harian tersebut, tetapi baginya sudah menjadi penghargaan tersendiri.
Ia pun mengajak salah satu teman lamanya yang rupanya dipertemukan lagi di Perguruan Tinggi untuk makan siang bersama seusai kuliah. Jehan. Itulah nama sapaan teman lama Maria. Meskipun mereka berada di dalam program studi yang berbeda, namun keduanya kerap kali membantu dan memberi dukungan demi kesuksesan keduanya.
Begitupula saat ia berniat mengirim tulisannya pada salah satu surat kabar harian itu. Jehan membantu memberikan masukan untuk tema yang akan ia angkat. Sampai pada tahap ingin dikirim pun Jehan dengan sukarela mengoreksi tulisan Maria.
To: Rana Putri Jehan
Han, jangan lupa pulang kuliah tunggu aku di Gedung A ya
Begitulah isi pesan singkat Maria untuk Jehan sebelum akhirnya ia fokus mengikuti mata kuliah hari itu. Ia sangat senang sehingga hari itu ia sangat fokus pada materi mata kuliah yang diberikan dosennya itu.
***
Kini, Maria dan Jehan sudah duduk di salah satu kafe yang terkenal dengan es krim super enaknya itu dan jajaran rak buku yang menarik. Maria sangat menyukai desain interior yang dimiliki kafe tersebut. Jika kalian hanya ingin menghabiskan waktu untuk sekedar minum kopi dan berkumpul dengan teman, kalian bisa menggunakan lantai bawah. Namun, apabila kalian ingin juga berdiskusi atau membaca buku kalian bisa langsung saja naik ke lantai selanjutnya.
Maria dan Jehan sudah berada di sudut lantai dua dengan buku novel pinjaman mereka dan segelas coklat panas bersama kentang goreng sebagai camilan. Salah satu kelebih kafe ini ialah apabila kalian sudah tercatat sebagai member kalian dapat meminjam buku dengan biaya sewa yang berbeda tiap bukunya.
“Jadi ditraktir nih?” Buka Jehan ketika mereka baru saja duduk.
“Hahaha iya berbagi rezeki aja,” Jawab Maria yang sibuk dengan telepon genggamnya itu.
“Jadi ngga sabar nih nunggu hasil kiriman liputan aku. Diterima ngga ya di stasiun televisi itu?”
“InsyaAllah keterima. Kita kan udah berusaa semaksimal mungkin. Oh iya, si Loli ngajak kita renang nih.”
“Loli? Dia ngga sibuk apa di IPB? Yang ngajakin kamu apa dia nih?”
“Dia sih ngajak ketemuan terus karena aku pengen renang jadi ya dia bilang renang bareng aja,” Jawab Maria yang sedang menyeruput coklat panasnya itu.
“Yakin tuh bakal terlaksana? Kamu kan tahu sendiri dia itu jenis orang yang kayak gimana kalau janjian.”
“Kayaknya mah dia udah berubah deh. Aku sering lihat dia jalan sama teman-teman kuliahnya bahkan waktu itu main sama Erni. Jadi kayaknya dia udah berubah deh,” Jawab Maria ragu.
“Kita lihat saja nanti,” Timpal Jehan yang diikuti gelak tawa keduanya.
Maria dan Jehan memang berasal dari Sekolah Menengah Atas yang sama, bahkan mereka satu kelas. Loli dan Erni pun teman mereka yang sama ketika sekolah dahulu namun berbeda Perguruan Tinggi. Jadi, tak heran apabila Jehan begitu memahami karakter teman-temannya itu.
***
Sesampainya di rumah, Maria menaruh perlengkapan kuliahnya di kamar. Maria bergegas menuju halaman belakang mencari Ibundanya yang biasa menjahit di sana. Maria sudah memikirkan kata-kata apa yang akan dikeluarkan sebagai andalannya agar mendapatkan izin dari Ibundanya itu.
“Bundaaaaa,” Peluk Maria kepada Sang Ibunda dari belakang.
“Ada apa ini? Kok tumben pulang-pulang bersikap manis. Pasti mau minta sesuatu yaa?” Selidik Ibundanya.
“Kok Bunda tahu banget tentang aku sih. Duuh jadi malu deh, Bun,” Timpal Maria yang duduk di kursi depan Ibundanya.
“Kamu mau apa? Ada pengeluaran kuliah lagi?”
“Tidak, Bun. Aku cuma mau izin sabtu ini aku renang ya sama teman-teman SMA aku.”
“Siapa saja?”
“Jehan, Loli, Erni, Listi, dan Kia, Bun. Paling renangnya di perumahan golden sana.”
“Iya tapikan…,” Belum usai Ibunda menyelesaikan kalimatnya Maria telah memotongnya, “Tenang kok aku punya uang sendiri jadi aku ngga bakal minta ke Bunda.”
“Iya tapikan sabtu ini Bunda mau belanja bahan buat baju jahitan, Mar. Kamu lupa Ibu Gina memesan 50 baju untuk acara keluarga mereka?” Jawab Bunda yang kini menatap anak sulungnya itu.
“Yaaah, Bun. Tapikan kapan lagi aku kumpul sama teman-teman SMA aku lengkap begini, Bun. Lagian berenang kan sebentar paling jam 3 atau 4 sore aku sudah di rumah,” Pinta Maria.
“Lantas yang jaga rumah dan Nadia siapa? Mereka kan masih kecil masa mau mama tinggal sendirian di rumah. Mama pun tidak bisa membawa Nadia ikut belanja kain bahan, Nadia kan masih kecil yang ada Bunda bakal kerepotan, Sayang.”
“Yaah, Bundaaa,” Jawab Maria murung dan menundukkan kepala.
Melihat anak gadisnya itu bermurung durja, Sang Bunda tak tega. Akhirnya ia mengalah dan menunda untuk berbelanja kain bahan. Mendengar hal itu Maria sangatlah senang. Maria segera memeluk Sang Ibunda dan mencium pipinya. Kemudia Maria bergegas menuju kamar tidurnya.
***
Sabtu pun datang. Namun, temannya itu tak kunjung mengirim pesan singkat kepadanya untuk sekedar mengabari acara renang mereka. Sedari pagi hari tadi, Maria hanya melamun di kamarnya menunggu pesan singkat dari Loli. Ia bertekad untuk tidak mengirim pesan singkat kepada Loli dengan tujuan agar Loli peduli terhadap janji mereka. Sepertinya itu hal yang mustahil.
Maria keluar kamar untuk membersihkan rumah. Ia membereskan sisa-sisa bahan tak tersisa dengan memasukkannya ke dalam karung besar yang sudah disiapkan. Setelah ruang jahit sudah dirasa rapih, ia bergegas membersihkan ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Terdapat mainan adiknya di sana-sini. Selain itu pula terdapat gelas berserakan di meja televisi.
“Ini naro gelas di sini. Kalau gelasnya tumpah airnya kena tv gimana? Pada ngga mikir banget sih,” Begitulah gumamnya.
Setelah dirasa ruangan tersebut telah rapih, ia beranjak menuju dapur. Rupanya Ibundanya telah usai memasak dan tengah membersihkan ruangan tersebut. Maria segera menghampiri Ibundanya dan membantu membersihkan dapurnya.
“Mar, kamu ngga jadi renang?” Buka Ibunda ketik mereka membersihkan dapur.
“Belum tahu nih, Bun. Belum pada ngabarin. Lagian janjiannya jam 10 sih,” Balas Maria dengan rasa tidak enak.
Hanya pertanyaan itu yang diajukan Sang Ibunda. Keduanya terhanyut dalam pikiran masing-masing. Namun sudah dapat dipastikan Maria sangatlah merasa tidak enak dengan Ibundanya tersebut. Bagaimanapun juga karenanyalah Sang Ibunda tidak dapat pergi berbelanja kain bahan.
***
Rumahnya pun sudah bersih. Maria sendiri sudah membersihkan tubuhnya dan masuk ke dalam kamar dengan harapan semoga teman-temannya itu mengiriminya pesan singkat. Sebab setelah ia melihat jam dinding, rupanya hari sudah menunjukkan jam 10 lewat 10 menit.
Ketika ia memasuki kamarnya, ia tidak mendapatkan pesan singkat yang masuk di ponselnya. Maria sangatlah kesal dengan Loli. Sudah kesekian kalinya Loli berperilaku seperti ini kepadanya. Kerap kali Loli membuat janji namun ia sendiri pun tak tahu akan hadir atau tidak. Sementara orang lain? Sudah meluangkan waktunya demi pertemuan itu.
Loli semakin urak-urakan di kamar. Ia sangat menyesal dengan keputusannya yang egois demi berkumpul dengan teman-teman lamanya. Sementara kepentingan yang amatlah penting, seperti Ibunda yang akan berbelanja kain,, tidak diindahkannya.
Lambat laun Maria terlelap tidur di kamarnya. Rupanya, menahan luapan emosi membuatnya sangat letih dan tanpa ia sadari ia tertidur lelap. Sebelum ia tertidur, ia sempat mengatakan sesuatu kepada dirinya sendiri.
“Sampai di atas jam 12 siang mereka tidak memberikan kabar. Ia tidak akan ikut renang dan ikut Ibundanya berbelanja kain,” Kata Maria.
***
Maria berasumsi ia tidur hanya selama satu sampai dua jam dan selepas itu ia akan bertekad ikut Ibundanya berbelanja bahan di pasar. Namun, manusia memang hanya bisa berencana tetap Tuhan yang memutuskan jalan itu. Maria bangun ketika ia mendengar suara adzan ashar.
Maria mengucek matanya sejenak ketika mendengar adzan. Ia masih berasumsi bahwa hari masih siang karena ia baru mendengar adzan hari itu. Ia beranjak dari tempat tidur menuju meja belajarnya mencari ponselnya.
Ia sempat terkejut karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.15 WIB. Bagaimana bisa ia baru bangun ketika menjelang sore hari? Mengapa Ibunda tidak membangunkannya? Begitu batinnya.
Ia teringat akan rencananya yang menemani Sang Ibunda berbelanja bahan. Ia segera keluar kamar dan mencari Ibundanya. Ia mencari di dapur, namun hasil yang didapatnya nihil. Ia kembali mencari di ruang jahit, tempat di mana Ibunda menghabiskan waktu, namun kali ini ia tidak menemukan Sang Ibunda di sana. Ia berjalan menuju ruang tamu dan hal yang sama tetap ia dapatkan.
Sampai akhirnya ia menemukan Sang Ibunda di teras rumah bersama Ibu Gina. Maria sempat mendengar obrolan sengit di antara keduanya.
“Bu, bagaimana sih masa belum beli bahan? Acaranya tinggal satu bulan lagi loh, Bu. Belum lagi nanti kita nyobain bajunya,” Protes Ibu Gina.
“Maaf ya,Bu. Hari ini saya tidak bisa belanja bahannya karena saya sedang tidak enak badan. insyaAllah besok saya akan belanja bahannya,” Balas Ibunda dengan nada seramah mungkin.
“Mengapa tidak menyuruh Maria saja? Maria ada di rumah kan? Kalau jahitannya tidak tepat waktu gimana? Saya minta ganti rugi ya.”
“InsyaAllah akan tepat waktu kok, Bu.”
Mendengar percakapan itu hati Maria terenyuh. Kali ini ia benar-benar merasa ditampar. Maria sebagai anak pertama sudah sepatutnya membantu kedua orang tuanya, bukan malah menambah beban keduanya. Maria sungguh sangat menyesali perilakunya yang terkadang egois itu. Maria segera berlari menuju kamarnya.
Ia menangis sesenggukkan di kamarnya. Kenapa aku egois sekali? Kenapa aku tidak bisa melihat prioritas? Kenapa aku selalu mendahulukan pergaulan ketimbang keluargaku? Memannya mereka pedulis terhadap ku? Begitulah teriakan hatinya.
Maria sangat membenci dirinya sendiri. Ia tak henti-hentinya menangis dan menangis hingga perasaannya kembali membaik yang tak tahu sampai kapan hatinya akan membaik.
Pintunya terbuka dan Sang Ibunda masuk ke dalam kamarnya. Maria terkejut dan segera menghapus air matanya, berusaha untuk tidak melihat ke arah Ibundanya. Namun, hal itu tetaplah tidak dapat disembunyikan dari seorang Ibu.
Ibunda Maria duduk di samping anaknya dan mengelus helai demi helai rambut anaknya itu. Ibunda Maria membiarkan keadaan dicekam waktu dan emosional. Ibunda Maria membiarkan anaknya itu berhasil menenangkan dirinya sebelum memulai cerita.
Lama kondisi itu terjadi membuat Maria tidak tahan berdiam diri di depan Sang Ibunda. Maria bertekad akan meminta maaf. Meskipun sesungguhnya sangat sulit untuknya mengucapkan maaf tanpa keluarnya air mata. Ia selalu menanamkan di dirinya bahwa di depan keluarga terutama Ibundanya, ia harus kuat dan tidak boleh menngis.
Maria menarik napas dalam-dalam. Seluruh kata-kata telah ia atur di dalam benaknya. Ia sudah memberanikan diri untuk menoleh menghadap Ibundanya. Ketika ia menoleh, hal pertama yang ia lihat adalah senyum manis Sang Ibunda yang selalu sabar meladeni segala permintaannya.
Maria sudah tidak kuat lagi menahan segenap rasa bersalahnya. Ia segera berhamburan dipeluk Ibundanya dan menangis sejadi-jadinya. “Maaf, Bun, maaf,” Hanya itu yang mampu terucap dari serangkaian kata yang telah Maria atur di dalam benaknya.
“Bunda mengerti sayang. Apakah kamu sudah sadar? Selama ini kamu gunakan kesabaran kamu sudah benar?” Tanya Ibunda dengan lembut.
“Iya, Bun, Maria baru tersadar. Seharusnya Maria lebih mengutamakan proiritas dan proritas Maria ialah keluarga. Maria terlalu sibuk dengan teman-teman Maria yang mereka sendiri tidak peduli kepada Maria. Maafkan Maria, Bun,” Jawab Maria sesenggukkan di dalam pelukan Sang Ibunda.
“Alhamdulillah kamu sadar juga. Bunda memang sengaja memberikan kebebasan untuk kamu dalam memutuskan segalanya. Akan tetapi Bunda tetap memberikan pertimbangan-pertimbangan lain bukan?”
“Iya, Bun. Bunda pun meskipun sebenarnya tidak setuju tetapi tetap membiarkan Maria melakukan hal itu, seperti Bunda membiarkan Maria renang bersama teman-teman Marian. Mengapa Bunda melakukan itu?”
“Karena untuk Bunda pelajaran yang paling berharga ialah dari pengalaman yang kamu rasakan dan alami sendiri. Percuma Bunda bilang rasa garam itu asin terus menerus tanpa kamu mencoba rasa garam itu, kamu akan tetap terus mencoba rasa garam itu bukan?”
Maria hanya bisa tersenyum menahan rasa malu sekaligus rasa bangga memiliki Ibu seperti Ibundanya. Maria pun memeluk Sang Ibunda dan kembali menangis di dalam pelukan Sang Ibunda.
***
Hari berjalan begitu saja setelah peristiwa yang menyadarkan Maria. Ia kembali pada rutinitasnya sedia kala. Ia pun tetap meluangkan waktu untuk sekedar minum coklat panas seperti biasanya bersama Jehan.
Sore itu, seusai kuliah, Jehan dan Maria kembali menikmati coklat panas di kafe kesukaan mereka. Selain mereka meminum minuman yang sama, mereka pun berada diaktifitas yang sama, yaitu membaca sebuah buku. Mereka tenggelam di dalam buku mereka masing-masing. Sesekali Jehan tertawa dan sesekali jua Maria bergumam tak jelas akibat buku bacaannya itu.
Ponsel Maria berdering. Ia segera menutup buku setebal 200 halaman itu dan meraih ponselnya yang berada di meja. Ia sedikit terkejut mendapatkan pesan singkat dari Loli.
Udah lewat satu minggu janjian renang kenapa baru kirim pesan sekarang? Batinnya.
From: Lolita Anggraini
Mar, kmrn jd berenangnya? Kok km ngga ngabarin aku?
Maria hanya tersenyum masam  melihat isi pesan singkat itu. Betapa ia muaknya membuat janji kepada teman-teman lamanya yang tidak memperdulikannya itu.
Jehan melirik teman semejanya itu ketika membuka pesan singkat. Ad rasa penasaran dihatinya melihat tingkah temannya itu. Namun, ia urung menanyakannya. Ia berasumsi bahwa temannya itu akan menceritakan kepadanya kelak.
Suasana pun tetap sama, yakni hening. Jehan sibk dengan buku bacaannya dan Maria rupanya tetap sibuk namun kepada ponselnya bukan buku bacaan.
“Han, Loli mengirimi aku pesan singkat. Dia menanyakan renang yang waktu itu. Lucu banget ya dia kaya ngga punya rasa bersalah gitu,” Buka Maria.
Mendengar namanya dipanggil, Jehan menutup bukunya dengan senyum mengembang. Ia sudah menebak dari awal bahwa teman yang berada di dekatnya itu tidak mudah menutupi sesuatu.
“Lalu kamu balas apa?”
“Ya aku balas singkat-singkat abis aku jadi males ngeladenin orang kaya gitu,” Jawab Maria tak acuh yang lalu menyeruput coklat panasnya itu.
“Hahaha kan aku sudah bilang dari awal kamu saja yang tidak percaya. Biarkan mereka yang membuat acara. Kamu hanya perlu diam dan datang seperti yang aku lakukan. Toh, bakal keliatan yang serius bertemu siapa.”
“Aku malah jadi males buat janjian lagi sama dia. Aku jadinya ngga mau memprioritaskan lagi kalo mau main sama kalian-kalian gitu. Semacam trauma gitu hahaha.”
“Kamu ini terlalu berlebihan, Mar, hahaha,” Balas Jehan yang kini ikut tertawa lepas.
Begitulah arti sebuh kesabaran yang sejatinya tak pernah terlihat. Kesabaran memng tidak ada batasnya, namun tempatkanlah kesabaranmu sesuai tempatnya.

Sewajarnya kalian harus berhati-hati kepada seseorang yang selalu sabar menghadapi tingkah kalian. Sebab, terkadang mereka akan menyesali kesabaran mereka untuk kalian. Dan berjalannya waktu pun penyesalan itu akan berubah menjadi benci dan dendam.

Peluncuran Buku Pieta ‘Senandung Indonesia Raya’

Selasa, 12 mei 2015 kemarin adalah hari paling membanggakan untuk kampus Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta, terutama mahasiswa program studi Penerbitan. Pasalnya kampus PoliMedia mendapatkan kesempatan menjadi tuan rumah dalam peluncuran buku PietaSenandung Indonesia Raya” yang diterbitkan oleh Kompas Gramedia. Acara peluncuruan buku yang ditulis oleh Bapak Nurinwa Ki S. Hendrowinoto ini dihadiri oleh lebih dari 100 peserta yang terdiri dari mahasiswa program studi Penerbitan, para petinggi di kampus PoliMedia beserta jajaran pengajar atau dosen, beberapa jendral, dan juga pers dari beberapa media cetak maupun elektronik, seperti kompas.
Sebagai sebuah perguruan tinggi dengan salah satu program studi yang dimiliki ialah penerbitan merupakan hal yang sangat membanggakan diberi kesempatan menjadi tuan rumah oleh penerbit terkemuka di Indonesia, yakni Gramedia. Kesempatan ini tidaklah disia-siakan oleh mahasiswa untuk mempelajari lebih dalam mengenai proses menerbitkan buku.
Kata ‘Pieta’ sendiri berasal dari Italia yang dalam Bahasa Indonesia memiliki arti Kasihan. Kata ‘Pieta’ memiliki persamaan makna dalam kata ‘Piiti’ dalam Bahasa Inggris yang berarti rasa sedih. Dari kedua makna tersebut dapat dikatakan bahwa buku ‘Pieta’ ini merupakan kisah mengharukan penulis yang ia tuangkan di dalam sebuah kisah perjalanan.
Buku ini sendiri merupakan sebuah memoar perjalanan penulis ke Eropa yang melihat beragam keunikan di dunia dan dapat dikatakan perjalanan batin Sang Penulis. Perjalanan batin yang dilalui penuls hingga penuli seperti terlempar hingga lapisan masa lalu yang menyedihkan. Banyaknya figur Ibu yang ditemui oleh penulis dengan beragam tanggung jawab Ibu dari beragaman tokoh.
“Buku ini merupakan kegelisahan menjawab pertanyaan mengapa Bangsa Indonesia kurang atau tidak didengar, dibaca, dan ditonton oleh dunia. Sehingga penulis yang merasakan kegelisahan itu membuat buku pieta ini,” Kata Bapak Nurinwa ketika ditanyai seputar ide yang Beliau dapatkan dalam menulis buku ini.
Cover yang dipilih untuk menggambarkan buku ini ialah gabungan gambar seorang yang berpengaruh di Indonesia, Ir. Soekarno, dan juga patung pieta. Makna estetika yang terkandung dari cover itu merupakan patung terindah di dunia dan bercerita mengenai kemanusiaan. Bagaimana perasaan seorang Ibu melihat anaknya yang diajari sejak dini hingga Sang Anak wafat dalam pangkuannya. Sedangkan secara kemanusiaan makna yang terkadung yakni tanpa kita sadari banyak sekali pieta-pieta hadir di lapisan bumi mana saja.
“Pieta akan menjadi symbol di dalam kematian banyak umat akibat perang. Saya mencoba bersenandung melalui lagu mengenai kekerasan yang terjadi,” Begitu ungkap Bapak Nurinwa ketika ditanya harapan Beliau atas dampak yang diberikan buku ini untuk Bangsa Indonesia.
Salah satu pembicara dalam acara peluncuran buku tersebut ialah Ayu Utami. Seorang sastrawan lulusan Sastra Rusia Universitas Indonesia memberikan pemahaman kepada hadirin mengenai betapa indahnya buku ini untuk kita nikmati bersama dalam pertikaian yang sebenarnya telah lama terjadi di belahan dunia mana saja.
Pendiri Aliansi Jurnalis Independent ini mengemukakan bahwa betapa pentingnya figur seorang Ibu dalam pertikaian yang terjadi pada tahun 1960-1965an. Patung Pieta telah menggambarkan seorang Ibu yang bersedih menerima kabar kematian anaknya sebagai korban pembunuhan tahun 1960-1965. Suka dan duka seorang Ibu dalam merawat kesakitan anaknya dan kekerasan lainnya yang ia terima.
Ayu Utami sekali lagi menegaskan bahwa di dalam buku ini akan ditemukan banyak sekali model Ibu sederhana dengan lulusan bukan sekolah tinggi, yakni seperti Maria, yang menemani anaknya menderita. Ayu Utami kembali mengatakan bahwa mungkin saja di masa depan tak ditemuinya lagi kesederhanaan seorang Ibu yang telah tertutupi oleh kekayaan dan teknologi yang sudah berkembang.
Acara yang dimoderatori oleh Bapak Purnomo, selaku dosen pada program studi penerbitan, ini berjalan dua arah. Bukan hanya pembicara yang aktif memberikan penilaiannya terhadap buku ini, melainkan para hadirin pun memberikan respon yang baik terhadap buku ini.
Peluncuran buku ini selain dibawakan oleh pembawa acara yakni Cikal dan Kiata, mahasiswa semester 4 pada program studi penerbitan, juga diisi hiburan oleh mahasiswa-mahasiswa program studi penerbitan semester 2.
Pada pembukaan diisi oleh pembacaan puisi oleh Iin, Diah, dan Martha mahasiswa semester dua dengan judul Long Life Reading yang ditulis oleh M. Frans Parera. Mahasiswa lainnya yakni Syahidah, Tri Sifa, Nurlina, dan Fifi pun menghibur hadirin dengan menyanyikan lagu I Have a Dream yang dipopulerkan oleh Weastlife.

Minggu, 20 September 2015

Kesegaran Hasil Laut Pasar Kramat Jati

Pasar Kramat Jati. Sebagian masyarakat ibu kota tentu sudah tidak asing dengan salah satu pasar tradisional itu, terutama masyarakat yang mendiami daerah Jakarta Timur. Pasar yang terletak di tepi Jalan Raya Bogor kilometer 20 itu sebagai pusat perbelanjaan tertua di daerah Kramat Jati Indah. Meskipun bersebelahan dengan gedung Mall Lippo Plaza Kramat Jati, pasar induk ini tetap dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitar.
Layaknya sebuah pasar tradisional, Pasar Kramat Jati tentu tidak terlepas dari bisingnya suara para pedagang yang menawarkan barang jajakannya. Suara itu terdengar seperti saut menyahut antarpedagang yang menginginkan dagangannya dilirik dan dibeli para pengunjung. Selain itu, kita dapat mencium aroma tidak sedap, yakni bau anyir. Tajamnya bau anyir itu memperlengkap kekayaan suasana pasar tradisional.
Tak diragukan lagi keramaian di Pasar Kramat Jati. Hal ini terbukti dari dilihatnya para pengunjung yang rela berdesak-desakan di dalam pasar demi mendapatkan barang yang diinginkan dan diharapkannya. Salah satu alasan mengapa para pengunjung rela berdesak-desakan ialah harga miring dari sebuah barang. Para pengunjung seperti saling berlomba menawar harga. Inilah kelebihan lain dari sebuah pasar tradisional. Akan tetapi, pengunjung akan tetap merasakan kenyamanan karena Pasar Kramat Jati telah mengalami renovasi, yakni tak terlihat lagi jalanan penuh dengan lumpur dan genangan air. Seluruh jalanan di wilayah Pasar Kramat Jati telah diaspal.
Pasar Kramat Jati menawarkan dagangan seperti sayur-mayur dan sembako. Tak hanya sayur-mayur dan sembako saja yang dijajakan para pedagang. Di sana kita dapat menemui aneka dagangan mulai dari sandang dan pangan. Tentu saja semua dagangan itu dengan mudah kita tawar. Seperti yang terlihat di area luar gedung Pasar Kramat Jati banyak sekali Pedagang Kaki Lima yang menjual daging, sayur-mayur, dan bumbu dapur.
Daging yang disajikan pun beraneka ragam, seperti daging sapi, daging ayam, daging ikan, dan aneka makanan laut. Di malam hari, khususnya, terlihat pengiriman barang dari mobil pick up yang mengantarkan ikan dan makanan laut. Memang, di pasar tradisional ini terkenal dengan segarnya olahan makanan laut d malam hari.
Daging ikan masih terlihat kenyal pada tekstur dagingnya. Mata ikan masih tampak bercahaya, dan aroma yang dikeluarkan pun masih segar, seperti aroma laut. Sedangkan untuk olahan makanan laut, di pasar ini pun tidak dapat diragukan lagi kesegarannya. Olahan makanan laut itu terlihat masih dibiarkan hidup di sebuah wadah hingga pembeli menginginkan olahan tersebut lalu baru dipotong oleh pedagang. Olahan makanan laut itu pun tidak beraroma busuk, melainkan beraroma segar layaknya binatang laut sama seperti ikan.
Bila kita telaah lebih dalam, cirri-ciri sebuah daging ikan sehat dan daging makanan laut yang dijual di Pasar Tradisional Kramat Jati masuk ke dalam cirri-ciri daging ikan dan daging makanan laut berkualitas baik. Untuk daging ikan sendiri mempunyai cirri-ciri seperti yang telah dirincikan di atas dengan tambahan insang yang tidak berlendir dan sisik melekat kuat apabila dipegang oleh manusia. Sedangkan untuk makanan laut makanan lau itu harus masih hidup, beraroma segar, dan daging berwarna putih.

Inilah kelebihan sebuah pasar tradisional dibandingkan pasar modern atau supermarket. Meskipun menjamurnya pasar modern, bukan berarti masyarakat melupakan pasar tradisional. 

Kembalilah Juniku

Malam itu aku sedang disibukkan dengan kegiatan menulisku. Aku berniat untuk menyelesaikan sebuah novel yang ditugaskan oleh seorang dosenku dan dijanjikan akan diterbitkannya naskahku ini. Kondisi emosionalku pun rupanya mendukung untuk menyelesaikan tugas itu. Jemariku menari indah di atas tuts-tuts huruf. Ku biarkan otakku beristirahat sejenak karena di dalam menulis kali ini, perasaanku memegang kuasa penuh.
Di tengah keasyikanku, teman karibku mengabari bahwa terdapat kendala dalam menyelesaikan tugas fotografi kami. Ia tidak bisa mengirim email kepada dosen dan ketua kelas, sementara Sang Dosen menunggu tugas itu hingga jam satu malam. Aku melirik jam dindingku yang berwarna merah dengan gambar kartun elmo di dalamnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.45 WIB.
Ide yang sedang menari pun seketika lari terbirit-birit. Buyar sudah konsentrasiku. Kini, bukan hanya sibuk dengan ponselku, melainkan akupun sibuk memikirkan rencana-rencana agar tugasku terkirim tepat waktu. Aku sedikit geram dengan operatorku karena di saat yang genting justru mereka tidak mendukung. Sial! Umpatku.
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. Waktu yang ku punya pun hanya tersisa empat setengah jam lagi. Kalau hanya mengandalkan kirim via email dan BBM saja, mungkin aku bisa gila. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengirim pesan singkat kepada seorang lelaki. Harap-harap cemas aku menunggu balasannya. Pasalnya, semenjak kami memutuskan fokus akan pendidikan kami masing-masing, ia sama sekali sulit dihubungi.
Di tengah kepanikan yang melandaku, lelaki itu membalas pesan singkatku. Aku terkejut bukan main. Bukan hanya terkejut karena lelaki itu membalas pesan singkatku, rupanya ia bersedia menemaniku mengambil tugas fotografi di rumah teman karibku yang berada di Cibubur.
Tak butuh waktu lama ia pun tiba di pelataran rumahku. Ia sama sekali tidak menolehkan kepalanya hanya untuk sekedar menyapaku. Tak apa, aku mengerti kondisi kami yang sama-sama saling tidak mengerti keadaan yang sudah terjadi.
Sebelum aku menaiki motor itu. Aku melihat kembali dengan detail motor itu. Motor yang dahulu berwarna hitam dan putih kini telah berganti warna. Warna dasarnya memang tetap putih, namun pada bodynya terdapat beberapa aksen tempelan anak muda zaman sekarang. Aku melihatnya tidak bangga, justru ilfeel.
“Alay,” Begitu pekikku dalam hati.
Hanya dengan melihat kondisi motornya saja sudah bisa ku pastikan, motor itu sudah bukan yang dulu. Bukan lagi niat saja untuk menghilangkan kenangan kami, rupanya ia sudah menjadikannya sebuah kenyataan dengan mengganti body motor itu. Mungkin, kalau ia mempunyai uang lebih, ia akan mengganti motor itu. Kembali aku merasakan sakit di hulu hati.
Sepanjang perjalanan, aku mengalami dilema. “Aku harus banyak berbicara atau banyak diam? Kalau aku banyak berbicara nanti dia tidak respon kan malu berbicara sendiri. Tapi, kalau banyak diam, nanti dia menyangka supir lagi tidak diajak berbicara,” Bisikku pada diri sendiri.
Aku memutuskan untuk menjadi diriku sendiri. Maksudku menjadi diri sendiri ketika menghadapi teman, bukan menghadapi sesosok lelaki yang pernah saling membahagiakan dan yang masih menetap di hati. Sesekali aku sibuk dengan ponselku dan sesekali aku berbicara kepadanya.
Aku sedikit takut kepada diriku sendiri. Apa mungkin aku dapat bersikap biasa kepadanya? Apa mungkin aku akan bisa menekan rasa rinduku yang menggelora ini dengan bersikap layaknya teman?
Aku melihat punggung itu. Punggung itu ditutupi tasnya. Biasanya, tas itu akan aku yang bawakan atau ia akan menaruhnya di belakang stang motor. Selanjutnya, ia akan berbagi pundak itu untuk meringkan sedikit ketakutan dan kepanikanku, bahkan tak jarang berbagi kebahgiaan dan rasa sayang. Ia telah menutupnya.
“Hmm aku dapat mengerti,” Gumamku pelan.
Kami pun berhenti di pinggir jalan. Aku yang baru pertama kali ke daerah itu malam hari bingung di mana letak rumah temanku. Aku menelpon temanku dan menanyakan dia sedang berada di mana. Ia mengatakan bahwa aku harus menunggunya di tempatku berhenti. Telpon pun ditutup dan aku menyampaikan pesan itu kepada lelaki di hadapanku.
“Yaudah cari minum dulu,” Ucapnya dengan membawaku menelusuri jalan raya.
Tak ada warung kecil rupanya. Dia pun terlihat letih. Ia menghentikan kendaraannya di pinggir jalan dan aku turun. Aku sempat bingung akan bersikap bagaimana kepadanya. Akhirnya aku memutuskan untuk melihat jalan raya sembari menerawang siapa yang melewati jalan raya itu.
“Aku merokok di sana ya,” Ucapnya tepat di telinga kananku.
Bulu kudukku berdiri mendapatkan perlakuan seperti itu. Aku seperti kehabisa napas dan tak tahu akan mengeluarkan kata-kata apa. Aku hanya mengangguk dan ia berjalan memunggungiku. Dalam waktu yang cukup lama kami saling memunggungi satu sama lain.
Aku sedikit menyesal mengangguk ketika ia pamit akan merokok. Aku benci asap rokok dan dia tahu itu. Dia tidak berani merokok di dekatku kala itu. Apa ia melakukan itu hanya untuk membuatku membencinya?
Tak lama temanku datang. Kami saling berbagi file yang kami kirim via ponsel. Aku sempat meliriknya. Ia sedang memerhatikanku. Tak ada sebatang rokok di kedua tangannya. Di sekitarnya pun tak ada rokok. Aneh.
Berkirim file pun usai. Waktu telah menunjukkan pukul 22.35 WIB. Aku segera mengajaknya pulang. Beban pikiran pun telah ringan. Aku dapat sepenuhnya merasakan udara malam.
Dahulu, kami tidak pernah keluar semalam ini. Batas ia membawaku pergi hanya sampai jam 9 malam. Tetapi  malam itu seperti terdapat pengecualian. Aku sangat menikmatinya. Entahlah apa yang aku nikmati di dalam perjalanan yang hanya diam itu.
Ia membawa motor itu dengan kecepatan yang sangat cepat, 60-80 km/jam. Berbeda sekali dengan waktu itu, ia hanya berani membawaku pada kecepatan 20-40km/jam. Tak apa. Biar aku merasakan segala hal bersamanya, bukan hanya hal yang membahagiakan. Angin menyergap wajah dan kulitku. Meskipun aku mengenakan jaket tebal, aku tetap merasakan dingin itu.
Aku baru tersadar, malam itu malam di Bulan Juni. Aku sangat menyayangkan mengapa bukan tepat di tanggal 2 Juni kemarin. Tak apa, setidaknya aku  merasakan kembali malam di Bulan Juni. Aku merindukannya.

Teruntuk lelaki di hadapanku. Tahukah kau apa yang aku rasakan di belakang? Dingin. Semuanya. Kembali aku mengatakan, taka apa. Tahukah kau apa yang kusuarakan di dalam hati ini? Kembalilah Juniku.

Senja Kini

Tepat jam enam sore
Hampir seluruh kepala terlihat di jalan
Tepat jam enam sore
Aku tenggelam pada kemacetan

Enam sore kala itu
Kau mengait lenganku
Percuma aku beringsut lalu
Nampaknya, kau enggan melepaskan ku

Kini, senja tiba
Kala petang berteman kabut
Kau menghimpit rasa dalam asa

Kala itupula cincin ini terpaut

Kehiningan Malam

Malam…
Cahaya mulai temaram
Menandakan lampu akan padam
Namun, tubuh ini duduk tertanam

Malam…
Ku lihat bulan bersinar
Ku lihat bintang berpijar
Namun, mata ini menatap nanar

Malam…
Di antara lelap dan sadar
Hati ini masih terus tercekam
Menanti kedatangan fajar