Tak banyak dari mereka yang
mengenal Pulau Sangiang, pulau dengan kekayaan berlimpah ruah. Mulai dari
keanekaragaman tumbuh-tumbuhan, satwa, hingga sejarah pun dapat dijumpai di
Pulau Sangiang. Hutan rimba memang julukan yang tepat untuk menggambarkan pulau
kecil di Selat Sunda ini. Mengapa demikian? Karena di pulau inilah satwa
seperti lutung, kucing hutan, landak, biawak, elang laut, hingga biota laut masih
diberi kesempatan bebas untuk bernapas dan merasakan kesejukan Pulau Sangiang.
Pantas saja pulau itu dikatakan
hutan rimba. Keasrian yang belum terjamah jari-jari tangan anak kota membuat
ekosistem hutan, dataran rendah, dan hutan pantai masih seimbang dan
menghasilkan pesona alam yang sungguh menakjubkan. Warga Pulau Sangianglah yang
dapat merawat pulau mereka dengan naluri keibuannya. Warga merawat dan menjaga
alam seperti mereka menjaga tubuh mereka sendiri.
Mereka sangat tahu bagaimana
berbincang singkat pada lutung. Elang laut pun tak sungkan memberi warga makan
dengan hasil tangkapannya di laut dan sayur-mayur hasil diskusi elang laut
dengan tetumbuhan agar mereka bersedia menjadikan diri mereka santapan keluarga
mereka sendiri, warga Pulau Sangiang. Keseharian mereka bermain dan tertawa
lepas bersama kucing hutan dan biawak tak menggambarkan perbedaan derajat kedua
spesies berbeda itu.
Benteng-benteng tak terpakai
semasa penjajahan Jepang tak luput dari
tempat persembunyian kucing hutan agar anak-anak di Pulau Sangiang mencari
mereka.
Wahyu Adi Prayoga memang baru
sekali menjajaki diri di pemukiman dengan pesona alam tak terlukiskan itu.
Namun kenangan itu memang tak dapat luput dari ingatannya. Walaupun ia menjadi
pendatang baru, alam nampaknya akan menjadikannya jua sebagai keluarga.
Anak-anak menariknya hingga ia mau ikut bermain bersama mereka, anak-anak Pulau
Sangiang dan satwa yang kebetulan ingin bermain.
“Layaknya anak-anak, mereka
senang bermain. Mereka tak sungkan membagi dunia mereka kepada kami pendatang
baru. Kami pun tak sungkan memberikan pengetahuan yang kami dapatkan untuk
anak-anak di Pulau Sangiang,” tutur Wahyu begitulah sapaan akrabnya.
Ia melihat secara langsung
tarzan-tarzan cilik mencakar kucing hutan dan melonglong bak merekalah kucing
hutan yang sebenarnya. Namun demikian, bukan berarti mereka ialah hewan ataupun
manusia berperilaku hewan. Tentu tidak. Anak-anak di Pulau Sangiang tahu betul
tingkah sopan dan santun kepada orang yang lebih tua, terlebih pendatang baru.
Layaknya seorang putri, terkadang mereka bertutur kata lembut selembut
orang-orang Jawa. Mereka pandaia sekali.
Selain pandai merawat, menjaga,
dan berbahasa baik, rupanya mereka memiliki kepandaian lain. “Mereka pun
bersekolah juga meskipun sekolahnya harus di Pulau Anyer,” Jelas Wahyu, ,
seorang Engineer Mechanical lulusan Politeknik Negeri Jakarta. Tak terbayangkan
dalam benak usaha mereka bangun di sepertiga pagi untuk mempersiapkan diri
dalam memperdalam ilmu-ilmu. Pagi buta mereka telah siap menyebrangi lautan
demi mengejar ilmu yang mereka dambakan. Waktu tempuhnya memang hanya 45 menit,
namun untuk ukuran seorang anak-anak jelaslah mereka terlatih sikap disiplin
dan pantang menyerah.
Pulau Sangiang di pagi hari
sangatlah sepi. Kucing hutan dan biawak hanya bertatap sepi melihat lautan yang
tenang. Elang laut mengemban tugas yang sangat penting untuk satwa dan
tetumbuhan di sana, yakni memantau kepulangan anak-anak bersama ibu mereka yang
menggali ilmu di pulau tetangga.
Di pagi hari kalian akan bertemu
dengan kepala keluarga saja, tidak satwa yang bermain, tidak ibu-ibu, terlebih
anak-anak Pulau Sangiang yang riang. “Di pagi hari itulah saya bersama kawanan
saya memberikan penyuluhan kepada bapak-bapak mengenai penggunaan dan perawatan
solarsol,” ungkap Wahyu yang juga tercatat sebagai volunteer 1000 guru.
Wahyu dan kawannya tak hanya
memperkosa kebudayaan dan alam Pulau Sangian. Mereka memberi sedikit ilmu yang
mereka punya dan taman baca. Tingkah anak-anak di sana sangatlah menggemaskan
ketika mereka meminta dibangunnya taman bacaan. Katanya, mereka ingin mengajak
kucing hutan dan biawak membaca buku juga, agar mereka tak hanya bermain di
hutan lepas bersama dua satwa tersebut.
Terkenanglah sudah kegiatan
Wahyu Adi Prayoga semasa dirinya menjadi ‘keluarga singkat’ Pulau Sangiang.
Terhitung sangat singkat sekali, yakni dua hari lamanya. Namun keterbukaan
warga dan alam Pulau Sangianglah yang membuat dirinya betah dan tak sabar untuk
kembali ke pulau itu. Bukan hanya pulau itu saja, melainkan pulau-pulau lain
yang tak sempat diperkosa anak kota lantaran terlalu sibuknya mereka
mementingkan diri sendiri dan gengsi semata. Alam, satwa, pendidikan, anak-anak
memang seperti saudara kandung di mana ibu mereka Allah SWT dan ayah mereka
rasa kepedulian terhadap sesama makhluk hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar