Rabu, 28 Oktober 2015

Terngiang-Ngiang akan Pulau Sangiang


                Tak banyak dari mereka yang mengenal Pulau Sangiang, pulau dengan kekayaan berlimpah ruah. Mulai dari keanekaragaman tumbuh-tumbuhan, satwa, hingga sejarah pun dapat dijumpai di Pulau Sangiang. Hutan rimba memang julukan yang tepat untuk menggambarkan pulau kecil di Selat Sunda ini. Mengapa demikian? Karena di pulau inilah satwa seperti lutung, kucing hutan, landak, biawak, elang laut, hingga biota laut masih diberi kesempatan bebas untuk bernapas dan merasakan kesejukan Pulau Sangiang.
                Pantas saja pulau itu dikatakan hutan rimba. Keasrian yang belum terjamah jari-jari tangan anak kota membuat ekosistem hutan, dataran rendah, dan hutan pantai masih seimbang dan menghasilkan pesona alam yang sungguh menakjubkan. Warga Pulau Sangianglah yang dapat merawat pulau mereka dengan naluri keibuannya. Warga merawat dan menjaga alam seperti mereka menjaga tubuh mereka sendiri.
                Mereka sangat tahu bagaimana berbincang singkat pada lutung. Elang laut pun tak sungkan memberi warga makan dengan hasil tangkapannya di laut dan sayur-mayur hasil diskusi elang laut dengan tetumbuhan agar mereka bersedia menjadikan diri mereka santapan keluarga mereka sendiri, warga Pulau Sangiang. Keseharian mereka bermain dan tertawa lepas bersama kucing hutan dan biawak tak menggambarkan perbedaan derajat kedua spesies berbeda itu.
                Benteng-benteng tak terpakai semasa penjajahan Jepang  tak luput dari tempat persembunyian kucing hutan agar anak-anak di Pulau Sangiang mencari mereka.
                Wahyu Adi Prayoga memang baru sekali menjajaki diri di pemukiman dengan pesona alam tak terlukiskan itu. Namun kenangan itu memang tak dapat luput dari ingatannya. Walaupun ia menjadi pendatang baru, alam nampaknya akan menjadikannya jua sebagai keluarga. Anak-anak menariknya hingga ia mau ikut bermain bersama mereka, anak-anak Pulau Sangiang dan satwa yang kebetulan ingin bermain.
                “Layaknya anak-anak, mereka senang bermain. Mereka tak sungkan membagi dunia mereka kepada kami pendatang baru. Kami pun tak sungkan memberikan pengetahuan yang kami dapatkan untuk anak-anak di Pulau Sangiang,” tutur Wahyu begitulah sapaan akrabnya.
                Ia melihat secara langsung tarzan-tarzan cilik mencakar kucing hutan dan melonglong bak merekalah kucing hutan yang sebenarnya. Namun demikian, bukan berarti mereka ialah hewan ataupun manusia berperilaku hewan. Tentu tidak. Anak-anak di Pulau Sangiang tahu betul tingkah sopan dan santun kepada orang yang lebih tua, terlebih pendatang baru. Layaknya seorang putri, terkadang mereka bertutur kata lembut selembut orang-orang Jawa. Mereka pandaia sekali.
                Selain pandai merawat, menjaga, dan berbahasa baik, rupanya mereka memiliki kepandaian lain. “Mereka pun bersekolah juga meskipun sekolahnya harus di Pulau Anyer,” Jelas Wahyu, , seorang Engineer Mechanical lulusan Politeknik Negeri Jakarta. Tak terbayangkan dalam benak usaha mereka bangun di sepertiga pagi untuk mempersiapkan diri dalam memperdalam ilmu-ilmu. Pagi buta mereka telah siap menyebrangi lautan demi mengejar ilmu yang mereka dambakan. Waktu tempuhnya memang hanya 45 menit, namun untuk ukuran seorang anak-anak jelaslah mereka terlatih sikap disiplin dan pantang menyerah.
                Pulau Sangiang di pagi hari sangatlah sepi. Kucing hutan dan biawak hanya bertatap sepi melihat lautan yang tenang. Elang laut mengemban tugas yang sangat penting untuk satwa dan tetumbuhan di sana, yakni memantau kepulangan anak-anak bersama ibu mereka yang menggali ilmu di pulau tetangga.
                Di pagi hari kalian akan bertemu dengan kepala keluarga saja, tidak satwa yang bermain, tidak ibu-ibu, terlebih anak-anak Pulau Sangiang yang riang. “Di pagi hari itulah saya bersama kawanan saya memberikan penyuluhan kepada bapak-bapak mengenai penggunaan dan perawatan solarsol,” ungkap Wahyu yang juga tercatat sebagai volunteer 1000 guru.
                Wahyu dan kawannya tak hanya memperkosa kebudayaan dan alam Pulau Sangian. Mereka memberi sedikit ilmu yang mereka punya dan taman baca. Tingkah anak-anak di sana sangatlah menggemaskan ketika mereka meminta dibangunnya taman bacaan. Katanya, mereka ingin mengajak kucing hutan dan biawak membaca buku juga, agar mereka tak hanya bermain di hutan lepas bersama dua satwa tersebut.

                Terkenanglah sudah kegiatan Wahyu Adi Prayoga semasa dirinya menjadi ‘keluarga singkat’ Pulau Sangiang. Terhitung sangat singkat sekali, yakni dua hari lamanya. Namun keterbukaan warga dan alam Pulau Sangianglah yang membuat dirinya betah dan tak sabar untuk kembali ke pulau itu. Bukan hanya pulau itu saja, melainkan pulau-pulau lain yang tak sempat diperkosa anak kota lantaran terlalu sibuknya mereka mementingkan diri sendiri dan gengsi semata. Alam, satwa, pendidikan, anak-anak memang seperti saudara kandung di mana ibu mereka Allah SWT dan ayah mereka rasa kepedulian terhadap sesama makhluk hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar