Selasa, 12 mei 2015 kemarin adalah hari paling
membanggakan untuk kampus Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta, terutama
mahasiswa program studi Penerbitan. Pasalnya kampus PoliMedia mendapatkan
kesempatan menjadi tuan rumah dalam peluncuran buku Pieta “Senandung Indonesia Raya” yang diterbitkan oleh Kompas Gramedia.
Acara peluncuruan buku yang ditulis oleh Bapak Nurinwa Ki S. Hendrowinoto ini
dihadiri oleh lebih dari 100 peserta yang terdiri dari mahasiswa program studi
Penerbitan, para petinggi di kampus PoliMedia beserta jajaran pengajar atau
dosen, beberapa jendral, dan juga pers dari beberapa media cetak maupun
elektronik, seperti kompas.
Sebagai sebuah perguruan tinggi dengan salah satu
program studi yang dimiliki ialah penerbitan merupakan hal yang sangat
membanggakan diberi kesempatan menjadi tuan rumah oleh penerbit terkemuka di
Indonesia, yakni Gramedia. Kesempatan ini tidaklah disia-siakan oleh mahasiswa
untuk mempelajari lebih dalam mengenai proses menerbitkan buku.
Kata ‘Pieta’ sendiri berasal dari Italia yang dalam
Bahasa Indonesia memiliki arti Kasihan. Kata ‘Pieta’ memiliki persamaan makna
dalam kata ‘Piiti’ dalam Bahasa Inggris yang berarti rasa sedih. Dari kedua
makna tersebut dapat dikatakan bahwa buku ‘Pieta’ ini merupakan kisah
mengharukan penulis yang ia tuangkan di dalam sebuah kisah perjalanan.
Buku ini sendiri merupakan sebuah memoar perjalanan
penulis ke Eropa yang melihat beragam keunikan di dunia dan dapat dikatakan
perjalanan batin Sang Penulis. Perjalanan batin yang dilalui penuls hingga
penuli seperti terlempar hingga lapisan masa lalu yang menyedihkan. Banyaknya
figur Ibu yang ditemui oleh penulis dengan beragam tanggung jawab Ibu dari
beragaman tokoh.
“Buku ini merupakan kegelisahan menjawab pertanyaan
mengapa Bangsa Indonesia kurang atau tidak didengar, dibaca, dan ditonton oleh
dunia. Sehingga penulis yang merasakan kegelisahan itu membuat buku pieta ini,”
Kata Bapak Nurinwa ketika ditanyai seputar ide yang Beliau dapatkan dalam
menulis buku ini.
Cover yang dipilih untuk menggambarkan buku ini
ialah gabungan gambar seorang yang berpengaruh di Indonesia, Ir. Soekarno, dan
juga patung pieta. Makna estetika yang terkandung dari cover itu merupakan
patung terindah di dunia dan bercerita mengenai kemanusiaan. Bagaimana perasaan
seorang Ibu melihat anaknya yang diajari sejak dini hingga Sang Anak wafat
dalam pangkuannya. Sedangkan secara kemanusiaan makna yang terkadung yakni
tanpa kita sadari banyak sekali pieta-pieta hadir di lapisan bumi mana saja.
“Pieta akan menjadi symbol di dalam kematian banyak
umat akibat perang. Saya mencoba bersenandung melalui lagu mengenai kekerasan
yang terjadi,” Begitu ungkap Bapak Nurinwa ketika ditanya harapan Beliau atas
dampak yang diberikan buku ini untuk Bangsa Indonesia.
Salah satu pembicara dalam acara peluncuran buku
tersebut ialah Ayu Utami. Seorang sastrawan lulusan Sastra Rusia Universitas
Indonesia memberikan pemahaman kepada hadirin mengenai betapa indahnya buku ini
untuk kita nikmati bersama dalam pertikaian yang sebenarnya telah lama terjadi
di belahan dunia mana saja.
Pendiri Aliansi Jurnalis Independent ini
mengemukakan bahwa betapa pentingnya figur seorang Ibu dalam pertikaian yang
terjadi pada tahun 1960-1965an. Patung Pieta telah menggambarkan seorang Ibu
yang bersedih menerima kabar kematian anaknya sebagai korban pembunuhan tahun
1960-1965. Suka dan duka seorang Ibu dalam merawat kesakitan anaknya dan
kekerasan lainnya yang ia terima.
Ayu Utami sekali lagi menegaskan bahwa di dalam buku
ini akan ditemukan banyak sekali model Ibu sederhana dengan lulusan bukan
sekolah tinggi, yakni seperti Maria, yang menemani anaknya menderita. Ayu Utami
kembali mengatakan bahwa mungkin saja di masa depan tak ditemuinya lagi
kesederhanaan seorang Ibu yang telah tertutupi oleh kekayaan dan teknologi yang
sudah berkembang.
Acara yang dimoderatori oleh Bapak Purnomo, selaku
dosen pada program studi penerbitan, ini berjalan dua arah. Bukan hanya
pembicara yang aktif memberikan penilaiannya terhadap buku ini, melainkan para
hadirin pun memberikan respon yang baik terhadap buku ini.
Peluncuran buku ini selain dibawakan oleh pembawa
acara yakni Cikal dan Kiata, mahasiswa semester 4 pada program studi
penerbitan, juga diisi hiburan oleh mahasiswa-mahasiswa program studi
penerbitan semester 2.
Pada pembukaan diisi oleh pembacaan puisi oleh Iin,
Diah, dan Martha mahasiswa semester dua dengan judul Long Life Reading yang ditulis oleh M. Frans Parera. Mahasiswa
lainnya yakni Syahidah, Tri Sifa, Nurlina, dan Fifi pun menghibur hadirin
dengan menyanyikan lagu I Have a Dream
yang dipopulerkan oleh Weastlife.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar