Minggu, 25 Oktober 2015

BUSUKNYA SABAR

Pagi itu, Maria memasuki ruang kelasnya dengan hati yang sangat riang. Tulisannya baru saja lolos di salah satu surat kabar harian Ibu Kota ternama. Selain itu, ia pun mendapatkan royalti yang memang tidak seberapa untuk para penulis hebat yang sering menulis untuk harian tersebut, tetapi baginya sudah menjadi penghargaan tersendiri.
Ia pun mengajak salah satu teman lamanya yang rupanya dipertemukan lagi di Perguruan Tinggi untuk makan siang bersama seusai kuliah. Jehan. Itulah nama sapaan teman lama Maria. Meskipun mereka berada di dalam program studi yang berbeda, namun keduanya kerap kali membantu dan memberi dukungan demi kesuksesan keduanya.
Begitupula saat ia berniat mengirim tulisannya pada salah satu surat kabar harian itu. Jehan membantu memberikan masukan untuk tema yang akan ia angkat. Sampai pada tahap ingin dikirim pun Jehan dengan sukarela mengoreksi tulisan Maria.
To: Rana Putri Jehan
Han, jangan lupa pulang kuliah tunggu aku di Gedung A ya
Begitulah isi pesan singkat Maria untuk Jehan sebelum akhirnya ia fokus mengikuti mata kuliah hari itu. Ia sangat senang sehingga hari itu ia sangat fokus pada materi mata kuliah yang diberikan dosennya itu.
***
Kini, Maria dan Jehan sudah duduk di salah satu kafe yang terkenal dengan es krim super enaknya itu dan jajaran rak buku yang menarik. Maria sangat menyukai desain interior yang dimiliki kafe tersebut. Jika kalian hanya ingin menghabiskan waktu untuk sekedar minum kopi dan berkumpul dengan teman, kalian bisa menggunakan lantai bawah. Namun, apabila kalian ingin juga berdiskusi atau membaca buku kalian bisa langsung saja naik ke lantai selanjutnya.
Maria dan Jehan sudah berada di sudut lantai dua dengan buku novel pinjaman mereka dan segelas coklat panas bersama kentang goreng sebagai camilan. Salah satu kelebih kafe ini ialah apabila kalian sudah tercatat sebagai member kalian dapat meminjam buku dengan biaya sewa yang berbeda tiap bukunya.
“Jadi ditraktir nih?” Buka Jehan ketika mereka baru saja duduk.
“Hahaha iya berbagi rezeki aja,” Jawab Maria yang sibuk dengan telepon genggamnya itu.
“Jadi ngga sabar nih nunggu hasil kiriman liputan aku. Diterima ngga ya di stasiun televisi itu?”
“InsyaAllah keterima. Kita kan udah berusaa semaksimal mungkin. Oh iya, si Loli ngajak kita renang nih.”
“Loli? Dia ngga sibuk apa di IPB? Yang ngajakin kamu apa dia nih?”
“Dia sih ngajak ketemuan terus karena aku pengen renang jadi ya dia bilang renang bareng aja,” Jawab Maria yang sedang menyeruput coklat panasnya itu.
“Yakin tuh bakal terlaksana? Kamu kan tahu sendiri dia itu jenis orang yang kayak gimana kalau janjian.”
“Kayaknya mah dia udah berubah deh. Aku sering lihat dia jalan sama teman-teman kuliahnya bahkan waktu itu main sama Erni. Jadi kayaknya dia udah berubah deh,” Jawab Maria ragu.
“Kita lihat saja nanti,” Timpal Jehan yang diikuti gelak tawa keduanya.
Maria dan Jehan memang berasal dari Sekolah Menengah Atas yang sama, bahkan mereka satu kelas. Loli dan Erni pun teman mereka yang sama ketika sekolah dahulu namun berbeda Perguruan Tinggi. Jadi, tak heran apabila Jehan begitu memahami karakter teman-temannya itu.
***
Sesampainya di rumah, Maria menaruh perlengkapan kuliahnya di kamar. Maria bergegas menuju halaman belakang mencari Ibundanya yang biasa menjahit di sana. Maria sudah memikirkan kata-kata apa yang akan dikeluarkan sebagai andalannya agar mendapatkan izin dari Ibundanya itu.
“Bundaaaaa,” Peluk Maria kepada Sang Ibunda dari belakang.
“Ada apa ini? Kok tumben pulang-pulang bersikap manis. Pasti mau minta sesuatu yaa?” Selidik Ibundanya.
“Kok Bunda tahu banget tentang aku sih. Duuh jadi malu deh, Bun,” Timpal Maria yang duduk di kursi depan Ibundanya.
“Kamu mau apa? Ada pengeluaran kuliah lagi?”
“Tidak, Bun. Aku cuma mau izin sabtu ini aku renang ya sama teman-teman SMA aku.”
“Siapa saja?”
“Jehan, Loli, Erni, Listi, dan Kia, Bun. Paling renangnya di perumahan golden sana.”
“Iya tapikan…,” Belum usai Ibunda menyelesaikan kalimatnya Maria telah memotongnya, “Tenang kok aku punya uang sendiri jadi aku ngga bakal minta ke Bunda.”
“Iya tapikan sabtu ini Bunda mau belanja bahan buat baju jahitan, Mar. Kamu lupa Ibu Gina memesan 50 baju untuk acara keluarga mereka?” Jawab Bunda yang kini menatap anak sulungnya itu.
“Yaaah, Bun. Tapikan kapan lagi aku kumpul sama teman-teman SMA aku lengkap begini, Bun. Lagian berenang kan sebentar paling jam 3 atau 4 sore aku sudah di rumah,” Pinta Maria.
“Lantas yang jaga rumah dan Nadia siapa? Mereka kan masih kecil masa mau mama tinggal sendirian di rumah. Mama pun tidak bisa membawa Nadia ikut belanja kain bahan, Nadia kan masih kecil yang ada Bunda bakal kerepotan, Sayang.”
“Yaah, Bundaaa,” Jawab Maria murung dan menundukkan kepala.
Melihat anak gadisnya itu bermurung durja, Sang Bunda tak tega. Akhirnya ia mengalah dan menunda untuk berbelanja kain bahan. Mendengar hal itu Maria sangatlah senang. Maria segera memeluk Sang Ibunda dan mencium pipinya. Kemudia Maria bergegas menuju kamar tidurnya.
***
Sabtu pun datang. Namun, temannya itu tak kunjung mengirim pesan singkat kepadanya untuk sekedar mengabari acara renang mereka. Sedari pagi hari tadi, Maria hanya melamun di kamarnya menunggu pesan singkat dari Loli. Ia bertekad untuk tidak mengirim pesan singkat kepada Loli dengan tujuan agar Loli peduli terhadap janji mereka. Sepertinya itu hal yang mustahil.
Maria keluar kamar untuk membersihkan rumah. Ia membereskan sisa-sisa bahan tak tersisa dengan memasukkannya ke dalam karung besar yang sudah disiapkan. Setelah ruang jahit sudah dirasa rapih, ia bergegas membersihkan ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Terdapat mainan adiknya di sana-sini. Selain itu pula terdapat gelas berserakan di meja televisi.
“Ini naro gelas di sini. Kalau gelasnya tumpah airnya kena tv gimana? Pada ngga mikir banget sih,” Begitulah gumamnya.
Setelah dirasa ruangan tersebut telah rapih, ia beranjak menuju dapur. Rupanya Ibundanya telah usai memasak dan tengah membersihkan ruangan tersebut. Maria segera menghampiri Ibundanya dan membantu membersihkan dapurnya.
“Mar, kamu ngga jadi renang?” Buka Ibunda ketik mereka membersihkan dapur.
“Belum tahu nih, Bun. Belum pada ngabarin. Lagian janjiannya jam 10 sih,” Balas Maria dengan rasa tidak enak.
Hanya pertanyaan itu yang diajukan Sang Ibunda. Keduanya terhanyut dalam pikiran masing-masing. Namun sudah dapat dipastikan Maria sangatlah merasa tidak enak dengan Ibundanya tersebut. Bagaimanapun juga karenanyalah Sang Ibunda tidak dapat pergi berbelanja kain bahan.
***
Rumahnya pun sudah bersih. Maria sendiri sudah membersihkan tubuhnya dan masuk ke dalam kamar dengan harapan semoga teman-temannya itu mengiriminya pesan singkat. Sebab setelah ia melihat jam dinding, rupanya hari sudah menunjukkan jam 10 lewat 10 menit.
Ketika ia memasuki kamarnya, ia tidak mendapatkan pesan singkat yang masuk di ponselnya. Maria sangatlah kesal dengan Loli. Sudah kesekian kalinya Loli berperilaku seperti ini kepadanya. Kerap kali Loli membuat janji namun ia sendiri pun tak tahu akan hadir atau tidak. Sementara orang lain? Sudah meluangkan waktunya demi pertemuan itu.
Loli semakin urak-urakan di kamar. Ia sangat menyesal dengan keputusannya yang egois demi berkumpul dengan teman-teman lamanya. Sementara kepentingan yang amatlah penting, seperti Ibunda yang akan berbelanja kain,, tidak diindahkannya.
Lambat laun Maria terlelap tidur di kamarnya. Rupanya, menahan luapan emosi membuatnya sangat letih dan tanpa ia sadari ia tertidur lelap. Sebelum ia tertidur, ia sempat mengatakan sesuatu kepada dirinya sendiri.
“Sampai di atas jam 12 siang mereka tidak memberikan kabar. Ia tidak akan ikut renang dan ikut Ibundanya berbelanja kain,” Kata Maria.
***
Maria berasumsi ia tidur hanya selama satu sampai dua jam dan selepas itu ia akan bertekad ikut Ibundanya berbelanja bahan di pasar. Namun, manusia memang hanya bisa berencana tetap Tuhan yang memutuskan jalan itu. Maria bangun ketika ia mendengar suara adzan ashar.
Maria mengucek matanya sejenak ketika mendengar adzan. Ia masih berasumsi bahwa hari masih siang karena ia baru mendengar adzan hari itu. Ia beranjak dari tempat tidur menuju meja belajarnya mencari ponselnya.
Ia sempat terkejut karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.15 WIB. Bagaimana bisa ia baru bangun ketika menjelang sore hari? Mengapa Ibunda tidak membangunkannya? Begitu batinnya.
Ia teringat akan rencananya yang menemani Sang Ibunda berbelanja bahan. Ia segera keluar kamar dan mencari Ibundanya. Ia mencari di dapur, namun hasil yang didapatnya nihil. Ia kembali mencari di ruang jahit, tempat di mana Ibunda menghabiskan waktu, namun kali ini ia tidak menemukan Sang Ibunda di sana. Ia berjalan menuju ruang tamu dan hal yang sama tetap ia dapatkan.
Sampai akhirnya ia menemukan Sang Ibunda di teras rumah bersama Ibu Gina. Maria sempat mendengar obrolan sengit di antara keduanya.
“Bu, bagaimana sih masa belum beli bahan? Acaranya tinggal satu bulan lagi loh, Bu. Belum lagi nanti kita nyobain bajunya,” Protes Ibu Gina.
“Maaf ya,Bu. Hari ini saya tidak bisa belanja bahannya karena saya sedang tidak enak badan. insyaAllah besok saya akan belanja bahannya,” Balas Ibunda dengan nada seramah mungkin.
“Mengapa tidak menyuruh Maria saja? Maria ada di rumah kan? Kalau jahitannya tidak tepat waktu gimana? Saya minta ganti rugi ya.”
“InsyaAllah akan tepat waktu kok, Bu.”
Mendengar percakapan itu hati Maria terenyuh. Kali ini ia benar-benar merasa ditampar. Maria sebagai anak pertama sudah sepatutnya membantu kedua orang tuanya, bukan malah menambah beban keduanya. Maria sungguh sangat menyesali perilakunya yang terkadang egois itu. Maria segera berlari menuju kamarnya.
Ia menangis sesenggukkan di kamarnya. Kenapa aku egois sekali? Kenapa aku tidak bisa melihat prioritas? Kenapa aku selalu mendahulukan pergaulan ketimbang keluargaku? Memannya mereka pedulis terhadap ku? Begitulah teriakan hatinya.
Maria sangat membenci dirinya sendiri. Ia tak henti-hentinya menangis dan menangis hingga perasaannya kembali membaik yang tak tahu sampai kapan hatinya akan membaik.
Pintunya terbuka dan Sang Ibunda masuk ke dalam kamarnya. Maria terkejut dan segera menghapus air matanya, berusaha untuk tidak melihat ke arah Ibundanya. Namun, hal itu tetaplah tidak dapat disembunyikan dari seorang Ibu.
Ibunda Maria duduk di samping anaknya dan mengelus helai demi helai rambut anaknya itu. Ibunda Maria membiarkan keadaan dicekam waktu dan emosional. Ibunda Maria membiarkan anaknya itu berhasil menenangkan dirinya sebelum memulai cerita.
Lama kondisi itu terjadi membuat Maria tidak tahan berdiam diri di depan Sang Ibunda. Maria bertekad akan meminta maaf. Meskipun sesungguhnya sangat sulit untuknya mengucapkan maaf tanpa keluarnya air mata. Ia selalu menanamkan di dirinya bahwa di depan keluarga terutama Ibundanya, ia harus kuat dan tidak boleh menngis.
Maria menarik napas dalam-dalam. Seluruh kata-kata telah ia atur di dalam benaknya. Ia sudah memberanikan diri untuk menoleh menghadap Ibundanya. Ketika ia menoleh, hal pertama yang ia lihat adalah senyum manis Sang Ibunda yang selalu sabar meladeni segala permintaannya.
Maria sudah tidak kuat lagi menahan segenap rasa bersalahnya. Ia segera berhamburan dipeluk Ibundanya dan menangis sejadi-jadinya. “Maaf, Bun, maaf,” Hanya itu yang mampu terucap dari serangkaian kata yang telah Maria atur di dalam benaknya.
“Bunda mengerti sayang. Apakah kamu sudah sadar? Selama ini kamu gunakan kesabaran kamu sudah benar?” Tanya Ibunda dengan lembut.
“Iya, Bun, Maria baru tersadar. Seharusnya Maria lebih mengutamakan proiritas dan proritas Maria ialah keluarga. Maria terlalu sibuk dengan teman-teman Maria yang mereka sendiri tidak peduli kepada Maria. Maafkan Maria, Bun,” Jawab Maria sesenggukkan di dalam pelukan Sang Ibunda.
“Alhamdulillah kamu sadar juga. Bunda memang sengaja memberikan kebebasan untuk kamu dalam memutuskan segalanya. Akan tetapi Bunda tetap memberikan pertimbangan-pertimbangan lain bukan?”
“Iya, Bun. Bunda pun meskipun sebenarnya tidak setuju tetapi tetap membiarkan Maria melakukan hal itu, seperti Bunda membiarkan Maria renang bersama teman-teman Marian. Mengapa Bunda melakukan itu?”
“Karena untuk Bunda pelajaran yang paling berharga ialah dari pengalaman yang kamu rasakan dan alami sendiri. Percuma Bunda bilang rasa garam itu asin terus menerus tanpa kamu mencoba rasa garam itu, kamu akan tetap terus mencoba rasa garam itu bukan?”
Maria hanya bisa tersenyum menahan rasa malu sekaligus rasa bangga memiliki Ibu seperti Ibundanya. Maria pun memeluk Sang Ibunda dan kembali menangis di dalam pelukan Sang Ibunda.
***
Hari berjalan begitu saja setelah peristiwa yang menyadarkan Maria. Ia kembali pada rutinitasnya sedia kala. Ia pun tetap meluangkan waktu untuk sekedar minum coklat panas seperti biasanya bersama Jehan.
Sore itu, seusai kuliah, Jehan dan Maria kembali menikmati coklat panas di kafe kesukaan mereka. Selain mereka meminum minuman yang sama, mereka pun berada diaktifitas yang sama, yaitu membaca sebuah buku. Mereka tenggelam di dalam buku mereka masing-masing. Sesekali Jehan tertawa dan sesekali jua Maria bergumam tak jelas akibat buku bacaannya itu.
Ponsel Maria berdering. Ia segera menutup buku setebal 200 halaman itu dan meraih ponselnya yang berada di meja. Ia sedikit terkejut mendapatkan pesan singkat dari Loli.
Udah lewat satu minggu janjian renang kenapa baru kirim pesan sekarang? Batinnya.
From: Lolita Anggraini
Mar, kmrn jd berenangnya? Kok km ngga ngabarin aku?
Maria hanya tersenyum masam  melihat isi pesan singkat itu. Betapa ia muaknya membuat janji kepada teman-teman lamanya yang tidak memperdulikannya itu.
Jehan melirik teman semejanya itu ketika membuka pesan singkat. Ad rasa penasaran dihatinya melihat tingkah temannya itu. Namun, ia urung menanyakannya. Ia berasumsi bahwa temannya itu akan menceritakan kepadanya kelak.
Suasana pun tetap sama, yakni hening. Jehan sibk dengan buku bacaannya dan Maria rupanya tetap sibuk namun kepada ponselnya bukan buku bacaan.
“Han, Loli mengirimi aku pesan singkat. Dia menanyakan renang yang waktu itu. Lucu banget ya dia kaya ngga punya rasa bersalah gitu,” Buka Maria.
Mendengar namanya dipanggil, Jehan menutup bukunya dengan senyum mengembang. Ia sudah menebak dari awal bahwa teman yang berada di dekatnya itu tidak mudah menutupi sesuatu.
“Lalu kamu balas apa?”
“Ya aku balas singkat-singkat abis aku jadi males ngeladenin orang kaya gitu,” Jawab Maria tak acuh yang lalu menyeruput coklat panasnya itu.
“Hahaha kan aku sudah bilang dari awal kamu saja yang tidak percaya. Biarkan mereka yang membuat acara. Kamu hanya perlu diam dan datang seperti yang aku lakukan. Toh, bakal keliatan yang serius bertemu siapa.”
“Aku malah jadi males buat janjian lagi sama dia. Aku jadinya ngga mau memprioritaskan lagi kalo mau main sama kalian-kalian gitu. Semacam trauma gitu hahaha.”
“Kamu ini terlalu berlebihan, Mar, hahaha,” Balas Jehan yang kini ikut tertawa lepas.
Begitulah arti sebuh kesabaran yang sejatinya tak pernah terlihat. Kesabaran memng tidak ada batasnya, namun tempatkanlah kesabaranmu sesuai tempatnya.

Sewajarnya kalian harus berhati-hati kepada seseorang yang selalu sabar menghadapi tingkah kalian. Sebab, terkadang mereka akan menyesali kesabaran mereka untuk kalian. Dan berjalannya waktu pun penyesalan itu akan berubah menjadi benci dan dendam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar