Pagi itu, Maria memasuki ruang kelasnya dengan hati
yang sangat riang. Tulisannya baru saja lolos di salah satu surat kabar harian
Ibu Kota ternama. Selain itu, ia pun mendapatkan royalti yang memang tidak
seberapa untuk para penulis hebat yang sering menulis untuk harian tersebut,
tetapi baginya sudah menjadi penghargaan tersendiri.
Ia pun mengajak salah satu teman lamanya yang
rupanya dipertemukan lagi di Perguruan Tinggi untuk makan siang bersama seusai
kuliah. Jehan. Itulah nama sapaan teman lama Maria. Meskipun mereka berada di
dalam program studi yang berbeda, namun keduanya kerap kali membantu dan
memberi dukungan demi kesuksesan keduanya.
Begitupula saat ia berniat mengirim tulisannya pada
salah satu surat kabar harian itu. Jehan membantu memberikan masukan untuk tema
yang akan ia angkat. Sampai pada tahap ingin dikirim pun Jehan dengan sukarela
mengoreksi tulisan Maria.
To: Rana Putri Jehan
Han, jangan lupa pulang
kuliah tunggu aku di Gedung A ya
Begitulah isi pesan singkat Maria untuk Jehan
sebelum akhirnya ia fokus mengikuti mata kuliah hari itu. Ia sangat senang
sehingga hari itu ia sangat fokus pada materi mata kuliah yang diberikan
dosennya itu.
***
Kini, Maria dan Jehan sudah duduk di salah satu kafe
yang terkenal dengan es krim super enaknya itu dan jajaran rak buku yang
menarik. Maria sangat menyukai desain interior yang dimiliki kafe tersebut.
Jika kalian hanya ingin menghabiskan waktu untuk sekedar minum kopi dan
berkumpul dengan teman, kalian bisa menggunakan lantai bawah. Namun, apabila
kalian ingin juga berdiskusi atau membaca buku kalian bisa langsung saja naik
ke lantai selanjutnya.
Maria dan Jehan sudah berada di sudut lantai dua
dengan buku novel pinjaman mereka dan segelas coklat panas bersama kentang
goreng sebagai camilan. Salah satu kelebih kafe ini ialah apabila kalian sudah
tercatat sebagai member kalian dapat meminjam buku dengan biaya sewa yang berbeda
tiap bukunya.
“Jadi ditraktir nih?” Buka Jehan ketika mereka baru
saja duduk.
“Hahaha iya berbagi rezeki aja,” Jawab Maria yang
sibuk dengan telepon genggamnya itu.
“Jadi ngga sabar nih nunggu hasil kiriman liputan aku.
Diterima ngga ya di stasiun televisi itu?”
“InsyaAllah keterima. Kita kan udah berusaa
semaksimal mungkin. Oh iya, si Loli ngajak kita renang nih.”
“Loli? Dia ngga sibuk apa di IPB? Yang ngajakin kamu
apa dia nih?”
“Dia sih ngajak ketemuan terus karena aku pengen
renang jadi ya dia bilang renang bareng aja,” Jawab Maria yang sedang
menyeruput coklat panasnya itu.
“Yakin tuh bakal terlaksana? Kamu kan tahu sendiri
dia itu jenis orang yang kayak gimana kalau janjian.”
“Kayaknya mah dia udah berubah deh. Aku sering lihat
dia jalan sama teman-teman kuliahnya bahkan waktu itu main sama Erni. Jadi
kayaknya dia udah berubah deh,” Jawab Maria ragu.
“Kita lihat saja nanti,” Timpal Jehan yang diikuti
gelak tawa keduanya.
Maria dan Jehan memang berasal dari Sekolah Menengah
Atas yang sama, bahkan mereka satu kelas. Loli dan Erni pun teman mereka yang
sama ketika sekolah dahulu namun berbeda Perguruan Tinggi. Jadi, tak heran
apabila Jehan begitu memahami karakter teman-temannya itu.
***
Sesampainya di rumah, Maria menaruh perlengkapan
kuliahnya di kamar. Maria bergegas menuju halaman belakang mencari Ibundanya
yang biasa menjahit di sana. Maria sudah memikirkan kata-kata apa yang akan
dikeluarkan sebagai andalannya agar mendapatkan izin dari Ibundanya itu.
“Bundaaaaa,” Peluk Maria kepada Sang Ibunda dari
belakang.
“Ada apa ini? Kok tumben pulang-pulang bersikap
manis. Pasti mau minta sesuatu yaa?” Selidik Ibundanya.
“Kok Bunda tahu banget tentang aku sih. Duuh jadi
malu deh, Bun,” Timpal Maria yang duduk di kursi depan Ibundanya.
“Kamu mau apa? Ada pengeluaran kuliah lagi?”
“Tidak, Bun. Aku cuma mau izin sabtu ini aku renang
ya sama teman-teman SMA aku.”
“Siapa saja?”
“Jehan, Loli, Erni, Listi, dan Kia, Bun. Paling
renangnya di perumahan golden sana.”
“Iya tapikan…,” Belum usai Ibunda menyelesaikan
kalimatnya Maria telah memotongnya, “Tenang kok aku punya uang sendiri jadi aku
ngga bakal minta ke Bunda.”
“Iya tapikan sabtu ini Bunda mau belanja bahan buat
baju jahitan, Mar. Kamu lupa Ibu Gina memesan 50 baju untuk acara keluarga
mereka?” Jawab Bunda yang kini menatap anak sulungnya itu.
“Yaaah, Bun. Tapikan kapan lagi aku kumpul sama
teman-teman SMA aku lengkap begini, Bun. Lagian berenang kan sebentar paling
jam 3 atau 4 sore aku sudah di rumah,” Pinta Maria.
“Lantas yang jaga rumah dan Nadia siapa? Mereka kan
masih kecil masa mau mama tinggal sendirian di rumah. Mama pun tidak bisa
membawa Nadia ikut belanja kain bahan, Nadia kan masih kecil yang ada Bunda
bakal kerepotan, Sayang.”
“Yaah, Bundaaa,” Jawab Maria murung dan menundukkan
kepala.
Melihat anak gadisnya itu bermurung durja, Sang
Bunda tak tega. Akhirnya ia mengalah dan menunda untuk berbelanja kain bahan.
Mendengar hal itu Maria sangatlah senang. Maria segera memeluk Sang Ibunda dan
mencium pipinya. Kemudia Maria bergegas menuju kamar tidurnya.
***
Sabtu pun datang. Namun, temannya itu tak kunjung
mengirim pesan singkat kepadanya untuk sekedar mengabari acara renang mereka.
Sedari pagi hari tadi, Maria hanya melamun di kamarnya menunggu pesan singkat
dari Loli. Ia bertekad untuk tidak mengirim pesan singkat kepada Loli dengan
tujuan agar Loli peduli terhadap janji mereka. Sepertinya itu hal yang
mustahil.
Maria keluar kamar untuk membersihkan rumah. Ia
membereskan sisa-sisa bahan tak tersisa dengan memasukkannya ke dalam karung
besar yang sudah disiapkan. Setelah ruang jahit sudah dirasa rapih, ia bergegas
membersihkan ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Terdapat mainan adiknya di
sana-sini. Selain itu pula terdapat gelas berserakan di meja televisi.
“Ini naro gelas di sini. Kalau gelasnya tumpah airnya
kena tv gimana? Pada ngga mikir banget sih,” Begitulah gumamnya.
Setelah dirasa ruangan tersebut telah rapih, ia
beranjak menuju dapur. Rupanya Ibundanya telah usai memasak dan tengah
membersihkan ruangan tersebut. Maria segera menghampiri Ibundanya dan membantu
membersihkan dapurnya.
“Mar, kamu ngga jadi renang?” Buka Ibunda ketik
mereka membersihkan dapur.
“Belum tahu nih, Bun. Belum pada ngabarin. Lagian
janjiannya jam 10 sih,” Balas Maria dengan rasa tidak enak.
Hanya pertanyaan itu yang diajukan Sang Ibunda.
Keduanya terhanyut dalam pikiran masing-masing. Namun sudah dapat dipastikan
Maria sangatlah merasa tidak enak dengan Ibundanya tersebut. Bagaimanapun juga
karenanyalah Sang Ibunda tidak dapat pergi berbelanja kain bahan.
***
Rumahnya pun sudah bersih. Maria sendiri sudah
membersihkan tubuhnya dan masuk ke dalam kamar dengan harapan semoga
teman-temannya itu mengiriminya pesan singkat. Sebab setelah ia melihat jam
dinding, rupanya hari sudah menunjukkan jam 10 lewat 10 menit.
Ketika ia memasuki kamarnya, ia tidak mendapatkan
pesan singkat yang masuk di ponselnya. Maria sangatlah kesal dengan Loli. Sudah
kesekian kalinya Loli berperilaku seperti ini kepadanya. Kerap kali Loli
membuat janji namun ia sendiri pun tak tahu akan hadir atau tidak. Sementara
orang lain? Sudah meluangkan waktunya demi pertemuan itu.
Loli semakin urak-urakan di kamar. Ia sangat
menyesal dengan keputusannya yang egois demi berkumpul dengan teman-teman
lamanya. Sementara kepentingan yang amatlah penting, seperti Ibunda yang akan
berbelanja kain,, tidak diindahkannya.
Lambat laun Maria terlelap tidur di kamarnya.
Rupanya, menahan luapan emosi membuatnya sangat letih dan tanpa ia sadari ia
tertidur lelap. Sebelum ia tertidur, ia sempat mengatakan sesuatu kepada
dirinya sendiri.
“Sampai di atas jam 12 siang mereka tidak memberikan
kabar. Ia tidak akan ikut renang dan ikut Ibundanya berbelanja kain,” Kata
Maria.
***
Maria berasumsi ia tidur hanya selama satu sampai
dua jam dan selepas itu ia akan bertekad ikut Ibundanya berbelanja bahan di
pasar. Namun, manusia memang hanya bisa berencana tetap Tuhan yang memutuskan
jalan itu. Maria bangun ketika ia mendengar suara adzan ashar.
Maria mengucek matanya sejenak ketika mendengar
adzan. Ia masih berasumsi bahwa hari masih siang karena ia baru mendengar adzan
hari itu. Ia beranjak dari tempat tidur menuju meja belajarnya mencari
ponselnya.
Ia sempat terkejut karena waktu sudah menunjukkan
pukul 15.15 WIB. Bagaimana bisa ia baru
bangun ketika menjelang sore hari? Mengapa Ibunda tidak membangunkannya?
Begitu batinnya.
Ia teringat akan rencananya yang menemani Sang
Ibunda berbelanja bahan. Ia segera keluar kamar dan mencari Ibundanya. Ia
mencari di dapur, namun hasil yang didapatnya nihil. Ia kembali mencari di
ruang jahit, tempat di mana Ibunda menghabiskan waktu, namun kali ini ia tidak
menemukan Sang Ibunda di sana. Ia berjalan menuju ruang tamu dan hal yang sama
tetap ia dapatkan.
Sampai akhirnya ia menemukan Sang Ibunda di teras
rumah bersama Ibu Gina. Maria sempat mendengar obrolan sengit di antara
keduanya.
“Bu, bagaimana sih masa belum beli bahan? Acaranya
tinggal satu bulan lagi loh, Bu. Belum lagi nanti kita nyobain bajunya,” Protes
Ibu Gina.
“Maaf ya,Bu. Hari ini saya tidak bisa belanja
bahannya karena saya sedang tidak enak badan. insyaAllah besok saya akan
belanja bahannya,” Balas Ibunda dengan nada seramah mungkin.
“Mengapa tidak menyuruh Maria saja? Maria ada di
rumah kan? Kalau jahitannya tidak tepat waktu gimana? Saya minta ganti rugi
ya.”
“InsyaAllah akan tepat waktu kok, Bu.”
Mendengar percakapan itu hati Maria terenyuh. Kali
ini ia benar-benar merasa ditampar. Maria sebagai anak pertama sudah sepatutnya
membantu kedua orang tuanya, bukan malah menambah beban keduanya. Maria sungguh
sangat menyesali perilakunya yang terkadang egois itu. Maria segera berlari
menuju kamarnya.
Ia menangis sesenggukkan di kamarnya. Kenapa aku egois sekali? Kenapa aku tidak
bisa melihat prioritas? Kenapa aku selalu mendahulukan pergaulan ketimbang
keluargaku? Memannya mereka pedulis terhadap ku? Begitulah teriakan
hatinya.
Maria sangat membenci dirinya sendiri. Ia tak
henti-hentinya menangis dan menangis hingga perasaannya kembali membaik yang
tak tahu sampai kapan hatinya akan membaik.
Pintunya terbuka dan Sang Ibunda masuk ke dalam
kamarnya. Maria terkejut dan segera menghapus air matanya, berusaha untuk tidak
melihat ke arah Ibundanya. Namun, hal itu tetaplah tidak dapat disembunyikan
dari seorang Ibu.
Ibunda Maria duduk di samping anaknya dan mengelus
helai demi helai rambut anaknya itu. Ibunda Maria membiarkan keadaan dicekam
waktu dan emosional. Ibunda Maria membiarkan anaknya itu berhasil menenangkan
dirinya sebelum memulai cerita.
Lama kondisi itu terjadi membuat Maria tidak tahan
berdiam diri di depan Sang Ibunda. Maria bertekad akan meminta maaf. Meskipun
sesungguhnya sangat sulit untuknya mengucapkan maaf tanpa keluarnya air mata.
Ia selalu menanamkan di dirinya bahwa di depan keluarga terutama Ibundanya, ia
harus kuat dan tidak boleh menngis.
Maria menarik napas dalam-dalam. Seluruh kata-kata
telah ia atur di dalam benaknya. Ia sudah memberanikan diri untuk menoleh
menghadap Ibundanya. Ketika ia menoleh, hal pertama yang ia lihat adalah senyum
manis Sang Ibunda yang selalu sabar meladeni segala permintaannya.
Maria sudah tidak kuat lagi menahan segenap rasa
bersalahnya. Ia segera berhamburan dipeluk Ibundanya dan menangis
sejadi-jadinya. “Maaf, Bun, maaf,” Hanya itu yang mampu terucap dari
serangkaian kata yang telah Maria atur di dalam benaknya.
“Bunda mengerti sayang. Apakah kamu sudah sadar? Selama
ini kamu gunakan kesabaran kamu sudah benar?” Tanya Ibunda dengan lembut.
“Iya, Bun, Maria baru tersadar. Seharusnya Maria
lebih mengutamakan proiritas dan proritas Maria ialah keluarga. Maria terlalu
sibuk dengan teman-teman Maria yang mereka sendiri tidak peduli kepada Maria.
Maafkan Maria, Bun,” Jawab Maria sesenggukkan di dalam pelukan Sang Ibunda.
“Alhamdulillah kamu sadar juga. Bunda memang sengaja
memberikan kebebasan untuk kamu dalam memutuskan segalanya. Akan tetapi Bunda
tetap memberikan pertimbangan-pertimbangan lain bukan?”
“Iya, Bun. Bunda pun meskipun sebenarnya tidak
setuju tetapi tetap membiarkan Maria melakukan hal itu, seperti Bunda
membiarkan Maria renang bersama teman-teman Marian. Mengapa Bunda melakukan
itu?”
“Karena untuk Bunda pelajaran yang paling berharga
ialah dari pengalaman yang kamu rasakan dan alami sendiri. Percuma Bunda bilang
rasa garam itu asin terus menerus tanpa kamu mencoba rasa garam itu, kamu akan
tetap terus mencoba rasa garam itu bukan?”
Maria hanya bisa tersenyum menahan rasa malu
sekaligus rasa bangga memiliki Ibu seperti Ibundanya. Maria pun memeluk Sang
Ibunda dan kembali menangis di dalam pelukan Sang Ibunda.
***
Hari berjalan begitu saja setelah peristiwa yang
menyadarkan Maria. Ia kembali pada rutinitasnya sedia kala. Ia pun tetap
meluangkan waktu untuk sekedar minum coklat panas seperti biasanya bersama
Jehan.
Sore itu, seusai kuliah, Jehan dan Maria kembali
menikmati coklat panas di kafe kesukaan mereka. Selain mereka meminum minuman
yang sama, mereka pun berada diaktifitas yang sama, yaitu membaca sebuah buku.
Mereka tenggelam di dalam buku mereka masing-masing. Sesekali Jehan tertawa dan
sesekali jua Maria bergumam tak jelas akibat buku bacaannya itu.
Ponsel Maria berdering. Ia segera menutup buku
setebal 200 halaman itu dan meraih ponselnya yang berada di meja. Ia sedikit
terkejut mendapatkan pesan singkat dari Loli.
Udah lewat satu
minggu janjian renang kenapa baru kirim pesan sekarang? Batinnya.
From: Lolita Anggraini
Mar, kmrn jd berenangnya?
Kok km ngga ngabarin aku?
Maria hanya tersenyum masam melihat isi pesan singkat itu. Betapa ia
muaknya membuat janji kepada teman-teman lamanya yang tidak memperdulikannya
itu.
Jehan melirik teman semejanya itu ketika membuka
pesan singkat. Ad rasa penasaran dihatinya melihat tingkah temannya itu. Namun,
ia urung menanyakannya. Ia berasumsi bahwa temannya itu akan menceritakan
kepadanya kelak.
Suasana pun tetap sama, yakni hening. Jehan sibk
dengan buku bacaannya dan Maria rupanya tetap sibuk namun kepada ponselnya
bukan buku bacaan.
“Han, Loli mengirimi aku pesan singkat. Dia
menanyakan renang yang waktu itu. Lucu banget ya dia kaya ngga punya rasa
bersalah gitu,” Buka Maria.
Mendengar namanya dipanggil, Jehan menutup bukunya
dengan senyum mengembang. Ia sudah menebak dari awal bahwa teman yang berada di
dekatnya itu tidak mudah menutupi sesuatu.
“Lalu kamu balas apa?”
“Ya aku balas singkat-singkat abis aku jadi males
ngeladenin orang kaya gitu,” Jawab Maria tak acuh yang lalu menyeruput coklat
panasnya itu.
“Hahaha kan aku sudah bilang dari awal kamu saja
yang tidak percaya. Biarkan mereka yang membuat acara. Kamu hanya perlu diam
dan datang seperti yang aku lakukan. Toh, bakal keliatan yang serius bertemu
siapa.”
“Aku malah jadi males buat janjian lagi sama dia.
Aku jadinya ngga mau memprioritaskan lagi kalo mau main sama kalian-kalian
gitu. Semacam trauma gitu hahaha.”
“Kamu ini terlalu berlebihan, Mar, hahaha,” Balas Jehan
yang kini ikut tertawa lepas.
Begitulah arti sebuh kesabaran yang sejatinya tak
pernah terlihat. Kesabaran memng tidak ada batasnya, namun tempatkanlah
kesabaranmu sesuai tempatnya.
Sewajarnya kalian harus berhati-hati kepada
seseorang yang selalu sabar menghadapi tingkah kalian. Sebab, terkadang mereka
akan menyesali kesabaran mereka untuk kalian. Dan berjalannya waktu pun
penyesalan itu akan berubah menjadi benci dan dendam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar