Malam itu aku sedang disibukkan dengan kegiatan
menulisku. Aku berniat untuk menyelesaikan sebuah novel yang ditugaskan oleh
seorang dosenku dan dijanjikan akan diterbitkannya naskahku ini. Kondisi
emosionalku pun rupanya mendukung untuk menyelesaikan tugas itu. Jemariku
menari indah di atas tuts-tuts huruf. Ku biarkan otakku beristirahat sejenak
karena di dalam menulis kali ini, perasaanku memegang kuasa penuh.
Di tengah keasyikanku, teman karibku mengabari bahwa
terdapat kendala dalam menyelesaikan tugas fotografi kami. Ia tidak bisa
mengirim email kepada dosen dan ketua kelas, sementara Sang Dosen menunggu
tugas itu hingga jam satu malam. Aku melirik jam dindingku yang berwarna merah
dengan gambar kartun elmo di dalamnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.45 WIB.
Ide yang sedang menari pun seketika lari
terbirit-birit. Buyar sudah konsentrasiku. Kini, bukan hanya sibuk dengan
ponselku, melainkan akupun sibuk memikirkan rencana-rencana agar tugasku
terkirim tepat waktu. Aku sedikit geram dengan operatorku karena di saat yang
genting justru mereka tidak mendukung. Sial!
Umpatku.
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. Waktu yang
ku punya pun hanya tersisa empat setengah jam lagi. Kalau hanya mengandalkan
kirim via email dan BBM saja, mungkin aku bisa gila. Tanpa berpikir panjang aku
langsung mengirim pesan singkat kepada seorang lelaki. Harap-harap cemas aku
menunggu balasannya. Pasalnya, semenjak kami memutuskan fokus akan pendidikan
kami masing-masing, ia sama sekali sulit dihubungi.
Di tengah kepanikan yang melandaku, lelaki itu
membalas pesan singkatku. Aku terkejut bukan main. Bukan hanya terkejut karena
lelaki itu membalas pesan singkatku, rupanya ia bersedia menemaniku mengambil
tugas fotografi di rumah teman karibku yang berada di Cibubur.
Tak butuh waktu lama ia pun tiba di pelataran
rumahku. Ia sama sekali tidak menolehkan kepalanya hanya untuk sekedar
menyapaku. Tak apa, aku mengerti kondisi kami yang sama-sama saling tidak
mengerti keadaan yang sudah terjadi.
Sebelum aku menaiki motor itu. Aku melihat kembali
dengan detail motor itu. Motor yang dahulu berwarna hitam dan putih kini telah
berganti warna. Warna dasarnya memang tetap putih, namun pada bodynya terdapat beberapa aksen tempelan
anak muda zaman sekarang. Aku melihatnya tidak bangga, justru ilfeel.
“Alay,” Begitu pekikku dalam hati.
Hanya dengan melihat kondisi motornya saja sudah
bisa ku pastikan, motor itu sudah bukan yang dulu. Bukan lagi niat saja untuk
menghilangkan kenangan kami, rupanya ia sudah menjadikannya sebuah kenyataan
dengan mengganti body motor itu. Mungkin, kalau ia mempunyai uang lebih, ia
akan mengganti motor itu. Kembali aku merasakan sakit di hulu hati.
Sepanjang perjalanan, aku mengalami dilema. “Aku
harus banyak berbicara atau banyak diam? Kalau aku banyak berbicara nanti dia
tidak respon kan malu berbicara sendiri. Tapi, kalau banyak diam, nanti dia
menyangka supir lagi tidak diajak berbicara,” Bisikku pada diri sendiri.
Aku memutuskan untuk menjadi diriku sendiri.
Maksudku menjadi diri sendiri ketika menghadapi teman, bukan menghadapi sesosok
lelaki yang pernah saling membahagiakan dan yang masih menetap di hati.
Sesekali aku sibuk dengan ponselku dan sesekali aku berbicara kepadanya.
Aku sedikit takut kepada diriku sendiri. Apa mungkin
aku dapat bersikap biasa kepadanya? Apa mungkin aku akan bisa menekan rasa
rinduku yang menggelora ini dengan bersikap layaknya teman?
Aku melihat punggung itu. Punggung itu ditutupi
tasnya. Biasanya, tas itu akan aku yang bawakan atau ia akan menaruhnya di
belakang stang motor. Selanjutnya, ia akan berbagi pundak itu untuk meringkan
sedikit ketakutan dan kepanikanku, bahkan tak jarang berbagi kebahgiaan dan
rasa sayang. Ia telah menutupnya.
“Hmm aku dapat mengerti,” Gumamku pelan.
Kami pun berhenti di pinggir jalan. Aku yang baru
pertama kali ke daerah itu malam hari bingung di mana letak rumah temanku. Aku
menelpon temanku dan menanyakan dia sedang berada di mana. Ia mengatakan bahwa
aku harus menunggunya di tempatku berhenti. Telpon pun ditutup dan aku
menyampaikan pesan itu kepada lelaki di hadapanku.
“Yaudah cari minum dulu,” Ucapnya dengan membawaku
menelusuri jalan raya.
Tak ada warung kecil rupanya. Dia pun terlihat
letih. Ia menghentikan kendaraannya di pinggir jalan dan aku turun. Aku sempat
bingung akan bersikap bagaimana kepadanya. Akhirnya aku memutuskan untuk
melihat jalan raya sembari menerawang siapa yang melewati jalan raya itu.
“Aku merokok di sana ya,” Ucapnya tepat di telinga
kananku.
Bulu kudukku berdiri mendapatkan perlakuan seperti
itu. Aku seperti kehabisa napas dan tak tahu akan mengeluarkan kata-kata apa.
Aku hanya mengangguk dan ia berjalan memunggungiku. Dalam waktu yang cukup lama
kami saling memunggungi satu sama lain.
Aku sedikit menyesal mengangguk ketika ia pamit akan
merokok. Aku benci asap rokok dan dia tahu itu. Dia tidak berani merokok di
dekatku kala itu. Apa ia melakukan itu hanya untuk membuatku membencinya?
Tak lama temanku datang. Kami saling berbagi file
yang kami kirim via ponsel. Aku sempat meliriknya. Ia sedang memerhatikanku.
Tak ada sebatang rokok di kedua tangannya. Di sekitarnya pun tak ada rokok.
Aneh.
Berkirim file pun usai. Waktu telah menunjukkan
pukul 22.35 WIB. Aku segera mengajaknya pulang. Beban pikiran pun telah ringan.
Aku dapat sepenuhnya merasakan udara malam.
Dahulu, kami tidak pernah keluar semalam ini. Batas
ia membawaku pergi hanya sampai jam 9 malam. Tetapi malam itu seperti terdapat pengecualian. Aku
sangat menikmatinya. Entahlah apa yang aku nikmati di dalam perjalanan yang
hanya diam itu.
Ia membawa motor itu dengan kecepatan yang sangat
cepat, 60-80 km/jam. Berbeda sekali dengan waktu itu, ia hanya berani membawaku
pada kecepatan 20-40km/jam. Tak apa. Biar aku merasakan segala hal bersamanya,
bukan hanya hal yang membahagiakan. Angin menyergap wajah dan kulitku. Meskipun
aku mengenakan jaket tebal, aku tetap merasakan dingin itu.
Aku baru tersadar, malam itu malam di Bulan Juni.
Aku sangat menyayangkan mengapa bukan tepat di tanggal 2 Juni kemarin. Tak apa,
setidaknya aku merasakan kembali malam
di Bulan Juni. Aku merindukannya.
Teruntuk lelaki di hadapanku. Tahukah kau apa yang
aku rasakan di belakang? Dingin. Semuanya. Kembali aku mengatakan, taka apa.
Tahukah kau apa yang kusuarakan di dalam hati ini? Kembalilah Juniku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar