“Duuhh bunda gimana sih, aku telat kan,” omel Cinta kepada sang Bunda yang ternyata telat membangunkannya di hari pertama ujian nasional yang akan dilewati Cinta.
Putri Cinta Kirana, itulah nama panjang Cinta. Siswi yang sudah duduk dibangku kelas 9 SMP ini memang tengah menghadapi ujian nasional yang akan di laksanakan selama 4 hari yang dimulai dari senin, 25 april 2011 hingga kamis, 28 april 2011.
“Kok nyalahin bunda? Daritadi bunda udah ketok-ketok pintu kamar kamu, kamunya aja yang ngga denger. Udah nih makan dulu,” jawab bunda yang sedang menyiapkan roti selai untuk anak bungsunya itu.
“Makanya buka dong pintu kamar aku. Aku sarapan di sekolah aja, Bun,” kata Cinta yang sedang meminum susu coklat kesukaannya.
“Kan kamar kamu kunci, gimana sih?” balas Bunda dan dibalas senyum lebar oleh Cinta lalu ia meminum susu kembali.
“Tau nih,” sambung Ciko dengan mengacak rambut Cinta, kakak Cinta yang baru saja bergabung di atas meja makan.
Ciko adalah siswa kelas 11 di salah satu sekolah menengah atas negeri terkemuka di Jakarta. Kakak yang paling dekat dengan Cinta dan menjadi teman curahan hati Cinta.
“Ih, apa sih lu ah,” balas Cinta yang sedang merapikan rambutnya, “Rambut gue berantakan kan,” protes Cinta dengan kesal.
“Udah abisin dulu susunya nanti telat lagi, biar nanti kakak yang nganterin,” kata Nico lembut.
“Udah abis, nih. Harusnya kakak yang cepetan abisin rotinya, masih banyak gitu,” balas Cinta yang masih sibuk dengan rambutnya.
“Ini mah mau gue bawa ke kampus. Udah yuk jalan,” ajak Nico.
Cinta pun ikut saja ditarik Nico, “Eh tunggu, pamit dulu dong sama Bunda,” kata Cinta yang langsung pamit kepada Bunda, “Cinta berangkat dulu ya, Bun.”
“Iya, nih bawa rotinya,” jawab Bunda yang memberi kotak bekal Cinta.
“Kayak anak kecil banget sih,” kata Cinta yang akhirnya menerima kotak bekal itu.
“Nanti taruh aja di mobil gue kalo udah abis, biar ngga malu-maluin lo,” usul Nico setelah berpamit kepada Bunda.
“Gue ikut mobil lo dong, Nic,” pinta Ciko yang ikutan pamit kepada Bunda.
“Hah?” tanya Cinta kaget.
“Tenang aja, Nico nganterin lo duluan kok,” kata Ciko yang lagi-lagi mengacak rambut Cinta.
“Bisa ngga sih ngga usah resek,” protes Cinta yang jalan duluan menuju halaman depan.
Ciko yang tidak tahan marahan terlalu lama sama Cinta, akhirnya menyusul Cinta dan meminta maaf, “Iya deh iya maafin gue napa, Ta.”
“Iya-iya,” balas Cinta tidak menoleh ke Ciko.
“Yah ngga ikhlas ya maafinnya?” tanya Ciko yang sekarang sudah berada di depan Cinta yang mau membuka pintu mobil.
“Iya-iya udah ah misi gue mau masuk,” jawab Cinta yang menyingkirkan Ciko.
“Tapi maafin ya,” tahan Ciko dengan memegang erat tangan Cinta.
“Iya kakak ku yang ganteng dan baik hati,” balas Cinta yang langsung masuk ke dalam mobil.
“Yah,” jawab Ciko ketika pintu mobilnya langsung ditutup oleh Cinta.
“Udah sana ah, kamu ini Ciko,” kata Bunda mengelus rambut Ciko.
“Hehehehehe,” nyengir Ciko.
“Udah cepet masuk daripada nyonya ngamuk lagi,” kata Nico yang baru ingin memasuki mobilnya dan berbarengan dengan terbukanya kaca mobil tempat Cinta duduk.
“Iya deh iya, peace peace,” balas Ciko yang langsung masuk ke bagian belakang mobil Nico.
Deru mobil pun terdengar.
“Bun, Cinta berangkat dulu ya,” pamit Cinta dalam mobil yang diikuti oleh Nico dan Ciko.
“Nico juga, Bun.”
“Ciko juga, nanti Ciko pulang telat mau rapat OSIS.”
“Terus gue pulang bareng siapa?” tanya Cinta bingung.
“Ya sendiri dong, Nak,” jawab Bunda.
“Hehehehe iya, Bun,” kata Cinta malu.
“Tau nih, manja banget,” sambung Ciko.
“Udah sana jalan, nanti telat loh. Hari pertama ujian kan,” usul Bunda.
“Iya, Bun. Assalamu`alaikum,” pamit Cinta, Ciko, dan Nico berbarengan.
Mobil pun melaju dengan kencang. Nico yang sudah terbiasa membawa mobil dengan kecepatan di atas 80 km/jam pun dengan tenang mengemudi, walaupun terdengar percekcokan antara Cinta dan Ciko.
***
“Udah sampe nih.”
“Udah sana turun, nanti keburu masuk loh,” sambung Ciko mengelus rambut Cinta.
“Iya-iya, pengen banget sih lu gue turun,” kata Cinta yang langsung turun dari mobilnya dan berjalan.
“Eh, tunggu tunggu,” tahan Ciko.
“Apalagi? Katanya suruh turun?”
“Nih bawa kotak bekel lo,” Ciko langsung menyodorkan kotak makan Cinta.
“Ih, apa-apaan sih lo? Malu-maluin gue aja.” Cinta langsung was-was melihat sekeliling.
“Kenapa sih cantik? Takut diliat Coki?” goda Ciko.
“Ih, kak Ciko. Ini wilayah sekolah tau. Jangan buat aku malu.”
Dari dalam mobil Nico hanya bisa tertawa, “Yaudah lah, Cik. Kasian tau di godain mulu. Mending lu masuk deh bawa kotak bekelnya.”
“Tapi kan ini kotak bekel dia.”
“Gue panggilin clara lu,” pancing Cinta.
“Iya deh iya, bye adik ku tersayang,” putus Ciko yang langsung memasuki mobil.
“Bye Cinta, jangan gunain contekan ya,” pesan Nico dari dalam mobil.
“Sip kak Nico.”
Nico dan Ciko pun pergi meninggalkan Cinta yang masih takut kalau-kalau ada yang melihat tingkah Ciko tadi.
***
Perlahan-lahan Cinta berjalan menuju kelasnya.
“Duh, tadi genk-nya Mutiara ngeliat gue ngga ya?”
“Ngeliat apa?” tanya Ikhsan dan Clara yang berhasill membuat Cinta kaget setengah mati.
“Astagfirullah, lo berdua ya,” bentak Cinta.
“Kenapa sih, Cin? Ngomel-ngomel mulu,” tanya Clara.
“Ngga, gue lagi sebel aja sama kak Ciko,” jawab Cinta.
“Kenapa lagi sih kakak lo?” tanya Ikhsan.
“Jadi tuh,” kata-kata Cinta terpotong ketika Coki, Doni, dan Awan datang menghampiri mereka.
“Kelasnya dimana, Cin?” tanya Doni.
Cinta tak langsung menjawab pertanyaan Doni karena kaget melihat kehadiran Coki dan Awan berbarengan.
“Cinta?” panggil Coki dengan senyum.
“Hah? Apa?” tanya Cinta salah tingkah.
“Tadi Doni nanya kelas kamu dimana?” ulang Coki.
Mendengar Coki memanggilnya dengan sebutan kamu, Cinta merasa dirinya tidak terkendali.
“Emm, ngga tau deh. Aku baru datang,” jawab Cinta dengan gugup.
“Yaudah cari bareng yuk,” ajak Coki.
“Hah? Bareng?” tanya Cinta yang melirik ke arah Ikhsan dan Clara yang berada di sebelahnya.
Ikhsan dan Clara yang mengetahui keadaannya hanya bisa tersenyum melihat tingkah Cinta.
“Yaudah ngga apa-apa kok, Cin. Lagian gue sama Ikhsan ada perlu sama Bu Sartini, ya kan?” tanya Clara kepada Ikhsan yang ternyata sedang melihat Awan yang tidak jauh berada bersamanya.
“Hah? Iya bener iya.”
“Yaudah, kita duluan ya. Bye,” akhir Clara yang langsung pergi bersama Ikhsan.
“Yaudah yuk, nanti telat,” ajak Coki.
“Iya,” jawab Cinta yang mengikuti Coki berjalan di sebelahnya,
***
“Eh, San. Tadi lo ngapain liat-liatan sama Awan?” tanya Clara di tengah perjalan menuju kelasnya.
“Kasian tau, Awan. Mukanya ditekuk banget,” jawab Ikhsan.
“Lagian kenapa mereka bisa putus sih? Ngga enak banget.”
“Tau tuh, malah si Awan milih cewek kaya Bunga.”
“Emang cewek kaya Bunga gimana maksudnya?” tanya Clara bingung.
“Ya gitu, uda ah kenapa jadi ngegosip gini?” jawab Ikhsan yang langsung memasuki kelasnya.
“Tapi kan Awan sama Cinta satu kelas lagi ya, kasian banget,” sambung Clara.
***
“Kayaknya ini deh kelasnya,” kata Doni melihat ruangan bernomor 28.
“Emang kita ruang 28?” tanya Cinta bingung.
“Eh, Coki,” sapa Mutiara yang langsung menggandeng Coki.
“Apa-apaan sih, Mutiara,” kata Cinta sendiri dengan suara pelan supaya tidak terdengar.
Coki merasa risih dengan cara Mutiara menggandengnya, “Eh, Mutiara.”
“Kelas kamu dimana?” tanya Mutiara tanpa malu.
“Ngga tau deh,” jawab Coki singkat dan berusaha melepaskan pegangan Mutiara.
“Iya ini kelas kita,” kata Doni kepada Awan, Cinta, dan Coki.
“Oh, ini kelas kamu. Aku di sebelah kamu dong. Wah kelas kita dekat ya,” kata Mutiara yang tidak melepaskan pegangannya.
“Iya, udah ya lepas,” pinta Coki dengan halus.
“Yaudah ya, gue masuk duluan,” kata Cinta dengan lemah dan berjalan masuk.
“Gue sama Doni juga deh,” kata Awan mengikuti Cinta bersama Doni.
“Udah ya gue masuk duluan,” kata Coki yang akhirnya berhasil lepas dari Mutiara.
***
Setelah menaruh tas, Cinta langsung membuka handphone BB-nya dan membuka twitter untuk meng-update perkembanga hatinya.
Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“Hay,” sapa Coki yang berada di sebelahnya.
Spontan handphone Cinta jatuh, “Yah handphone gue.”
“Aku ambilin ya,” kata Coki yang langsung menunduk ke kolong meja untuk mengambilkan handphone Cinta, “Wah lagi ol twitter,” bisik Coki.
“Mana handphone-nya?” tanya Cinta dari atas meja.
“Oiya, nih handphone kamu,” kata Coki yang langsung mengembalikan handphone Cinta, “Aku balik ke tempat aku dulu ya,” kata Coki yang langsung duduk di bangku yang berada di sebelah Cinta.
“Duh, tweet gue dibaca ngga ya sama Coki?” tanya Cinta sendiri dengan was-was dan langsung melihat hamdphone-nya kembali.
CikoSikirana Siapa tuh Coki RT@cintakirana Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“Ih, kak Ciko ngapain sih komment ngga jelas,” protes Cinta.
Apa sih kak Ciko RT@CikoSikirana Siapa tuh Coki RT@cintakirana Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“Cinta, udah ada pengawas,”panggil Coki yang melihat Cinta masih memegang handphone-nya.
“Oh, iya makasiih ya,” balas Cinta yang langsung menaruh handphone-nya.
***
Ujian hari itu pun selesai. Cinta yang tidak langsung bergegas pulang menemukan selembar kunci di kolong meja Awan, “Awan make kunci?”
“Cinta,” panggil Claudy dari luar, teman satu kelas Cinta.
“Oh, iya,” balas Cinta yang langsung memasuki kunci yang ia lihat ke dalam tasnya.
“Ngapain lo tadi di meja Awan?” tanya Cindy.
“Oh, ngga kok. Ngga ngapa-ngapain,” jawab Cinta berusaha menutupi.
“Cinta duluan ya,” pamit Coki begitu melewati Cinta bersama Awan.
“Oh iya,” jawab Cinta gugup ketika melihat Awan. Cinta masih tidak percaya apa Awan benar-benar menggunakan kunci jawaban tersebut.
“Eh Cinta gimana tadi menurut lo soal bahasa Indonesia?” tanya Claudy yang berhasil memecah lamunan Cinta.
“Hah? Oh bahasa tadi, biasa aja ah,” jawab Cinta.
“Iya deh yang pinter beda, hahahahaha,” sindir Cindy.
“Ih, apaan sih. Udah ah gue pulanga duluan ya,” pamit Cinta.
“Nanti les kan?” tanya Claudy.
“Iya.”
***
“Duh kak Ciko lama aja nih,” protes Cinta yang sudah tidak sabar, “Yaudah gue buka twitter aja deh.”
CokiLaksana Kok ada nama gue? RT@putricinta Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“Wah gawat, Coki baca lagi, gue harus balas apa nih?”
Memangnya kenapa? RT@CokiLaksana Kok ada nama gue? RT@putricinta Heuh, udah seneng jalan bareng Coki eh ada Mutiara
“Hay, ninggalin kita lu,” sapa Clara yang mengagetkan Cinta.
“Ih, Clara,” omel Cinta dengan jengkel.
“Cie yang tadi seneng diajak ke kelas bareng Coki, ciecie,” goda Clara dengan senyum centilnya.
“Ih apaan sih,” elak Cinta dengan pipi mulai memerah.
“Ciecie pipinya merah,” goda Clara lagi.
“Oiya tumben lu sendiri, Ikhsan mana?” tanya Cinta heran melihat Clara sendiri.
“Cie ganti topik.”
“Ih, bukannya gitu. Katanya Ikhsan mau ketemu kak Ciko.”
“Oh yang lagu itu ya?”
“Iya, mana sih Ikhsan?”
“Dia tadi diajak ngobrol gitu sama Awan. Kayaknya sih curhat,” jawab Clara.
“Tau dari mana lo curhat?” tanya Cinta yang sedang melihat balasan mention Coki.
“Tadi si Awan suruh gue pergi gitu. Katanya privacy gitu,” jawab Clara yang aneh melihat Cinta senyum-senyum sendiri, “Cin?”
“Oh iya,” jawab Cinta yang sama sekali tidak memalingkan wajanhya dari handphone-nya.
“Lu lagi ngaain sih? Gue cerita dicuekin. Liat apasih?” tanya Clara penasaran yang akhirnya merebut handphone Cinta dan melihat apa yang sedang dilakukan Cinta.
“Ih, Clara ngga sopan banget sih.”
“Lo yang ngga sopan gue lagi curhat malah buka twitter,” jawab Clara yang kaget melihat mention antara Cinta dan Coki.
Ya ngga apa-apa sih Cuma mau tau aja RT@putricinta Memangnya kenapa? RT@CokiLaksana Kok ada nama gue? RT@putricinta
“Lo dari tadi mention-mentionan sama Coki?” tanya Clara yang ikutan tidak memalingkan wajahnya darihandphone Cinta.
Yaudah kalo gue ngga jawab ngga apa-apa dong RT@CokiLaksana Ya ngga apa-apa sih Cuma mau tau aja RT@putricinta Memangnya kenapa? RT@Cokilaksana
“Iya, dia mention duluan tweet gue,” jawab Cinta dengan malu.
Selesai UN, mau ngga nonton berang gue? RT@putricinta Yaudah kalo gue ngga jawab ngga apa-apa dong RT@CokiLaksana Ya ngga apa-apa sih Cuma mau tau aja
“Lo diajak nonton sama Coki?” tanya Clara dengan antusias.
“Iya,” jawab Cinta lemas.
“Lo terima ngga?” tanya Clara yang mengembalikan handphone Cinta.
“Ngga tau deh belum gue jawab, menurut lo gimana?” Cinta yang terlihat bimbang malah balik bertanya.
“Yaudah terima aja, ini kesempatan emas loh buat lo. Berarti dia udah mulai mau pedekate sama lo.”
“Tapi abis UN gue juga ada janji.”
“Sama siapa?” tanya Clara yang berbarengan dengan kedatangan Awan dan Ikhsan yang menghampiri mereka berdua.
“Cin, nanti jadikan main band?” tanya Ikhsan.
“Hah?” Cinta kaget melihat kehadiran Ikhsan bersama Awan.
“Janji lo sama mereka?” tanya Clara yang melirik ke arah Awan dan Ikhsan dan diikuti anggukan Cinta.
“Cinta ngga bisa main band dulu,” jawab Clara.
“Ikhsan kan nanya ke Cinta, bukan lu, Ra,” balas Awan.
“Ya tapi emang nyatanya Cinta ngga bisa.”
“Tapi kata kak Nico sama kak Ciko bisa kok,” sambung Ikhsan berusaha memastikan.
“Hay, Cinta,” sapa Coki tiba-tiba dengan memegang pundak Cinta yang membuat Cinta salah tingkah.
“Hay,” jawab Cinta seadanya.
“Nanti setelah UN jadikan?” tanya Coki memastikan.
“Mau kemana lu, Cok?” tanya Awan dengan heran.
“Abis UN gue sama Cinta mau nonton,” jawab Coki dengan santai.
Cinta hanya bisa tertunduk karena sudah pasti Ikhsan dan Awan sedang memerhatikan Cinta.
“Berdua aja?” tanya Awan memastikan.
“Iya, kenapa?”
“Gue ikut ya?” pinta Awan.
“Hah?” Cinta dan Clara sangat kaget atas ucapan Awan yang sangat di luar kendali mereka.
“Emm, terserah Cinta. Gue duluan ya,” akhir Coki yang langsung pergi meninggalkan Cinta, Awan, Clara, dan Ikhsan dengan penuh tanya.
“Gimana jadinya, Cin?” tanya Ikhsan memastikan.
“Bentar ya, handphone gue bunyi,” kata Cinta yang langsung mengambil handphone-nya dan pergi menjauh dari mereka, “Hallo, kak, jadi jemput ngga?”
“Ih, gimana sih lu, kan motor gue lagi di bengkel gara-gara balapan kemarin. Lo lupa?” jawab Ciko.
“Oiya, duh.”
“Lagian kan tadi gue berangkat bareng lo sama Nico. Kan tadi pagi kita berantem, gimana sih ih,” sambung Ciko lagi.
“Ya Allah, kak,” balas Cinta dengan lemas.
“Oiya, tadi lo mention-mentionan ya sama Coki? Sodara kembar gue,” pancing Ciko.
“Ih, berkali-kali gue bilang. Lo sama Coki beda jauh,” balas Cinta dengan emosi.
“Yaudah jangan marah, tapi sih sebenernya gue lagi ada di rumah Dicky. Lo mau sekalian gue jemput?” tawar Ciko.
“Tapi kan kakak ngga bawa motor?”
“Ye maksud gue pulang bareng tuh naik angkot cantik.”
“Oh, yaudah cepet ya, sekarang jalan.”
“Ih ngga bisa motornya Dicky lagi di pake sama adiknya.”
“Lah? Katanya naik angkot?”
“Maksud gue dari rumah Dicky sampai sekolah lu, sayangku. Geregetan gue sama lu.”
“Oh, sory-sorry kak. Lagi bingung banget gue.”
“Kenapa?”
“Coki ngajakin gue nonton,” jawab Cinta dengan was-was.
“Bagus dong, lu terima?”
“Belum gue terima tapi Coki udah pede banget mau jalan sama gue.”
“Yaudah lo terima apa salahnya?”
“Tapi dia ngajakinnya sesudah UN.”
“Lah? Kita kan mau nge-band?”
“Makanya gue bingung, malah Awan minta ikut.”
“Awan? Awan teman lo dari kelas 7? Mantan lo itu?”
“Iya, Kak. Gimana dong? Malah kata Coki terserah gue boleh ngajak Awan apa ngga.”
“Yaudah nanti lagi ya lu ceritanya. Gue baru mau jalan ke sekolah lu nih.”
“Iya, cepet ya.”
***
Selama Cinta menelefon kakanya, Awan ternyata menggunakan kesempatan itu untuk bertanya-tanya kepada Clara.
“Ra, Cinta beneran suka sama Coki?” tanya Awan dengan penasaran.
“Iya, bukannya lu udah tau?”
“Iya gue udah tau tapi kirain gue itu bohongan. Kan Cinta waktu itu masih ngejar-ngejar gue,” jawab Awan dengan pede.
“Bukan ngejar-ngear kali. Lebih tepatnya menyatukan kita berempat lagi dengan kesalahan lo yang terlalu childish,” sambung Clara.
“Tau lo, Wan. Putus dari Cinta malah milih orang kayak Bunga,” tambah Ikhsan.
“Emang kenapa sih sama Bunga? Kok kayaknya lo berdua ngga suka banget sama Bunga.”
“Bingung gue jelasinnya, ini masalahnya aib orang coy,” jawab Ikhsan dengan gaya sok asik.
“Kira-kira kalo gue nembak Cinta lagi di terima ngga ya?” tanya Awan kepada Clara dan Ikhsan yang sangat kaget, “Hah?”
“Lo mau nembak Cinta?” tanya Ikhsan dan langsung saling pandang kepada Clara dan berucap bersama-sama, “LAGI!!!”
“Iya, emang kenapa sih? Dosa banget apa gue?”
“Ya bukannya gitu, dia udah kesel banget tau sama lo,” jawab Ikhsan.
“Tau, Cinta sama Bunga jauh beda sayang. Apalagi sekarang Coki menunjukkan sikap-sikap open heart sama Cinta, wah siap kalah deh,” sambung Clara.
“Tenang aja kali gue ngga mau kalah sebelum bertanding,” jawab Awan dengan yakin.
“Ini nih kelebihan lu yang bikin gue suka sama lo dulu. Terlalu pede dengan apapun,” kata Clara.
Cinta pun datang dengan hati yang was-was karena takut kalau Awan menagih jawabannya.
“Telefon dari siapa?” tanya Awan.
“Hah? Dari kak Coki,” jawab Cinta dengan gugup.
“Jadi nanti lo jalan apa nge-band nih?” tanya Ikhsan dengan penuh kepastian.
“Gue juga belum tau, San,” jawab Cinta seadanya.
“Kalo lo jalan, gue boleh ikut ngga?” tanya Awan.
Akhirnya dia nanya apa yang gue hindarin, batin Cinta.
“Emm, gue ngga tau deh,” jawab Cinta dengan senyum, “Eh kakak gue udah datang, duluan ya,” pamit Cinta yang melihat Ciko dari kejauhan.
“Hey, Bro,” sapa Ciko kepada Awan, Clara, dan Ikhsan dengan berjabat tangan.
Claranya hanya membalas dengan senyum menawan yang berhasil membuat Ciko berdegup kencang.
“Kak Ciko, jangan mupeng ya,” sindir Ikhsan.
“Hahahahahha, sial lo,” balas Ciko.
“Yaudah yuk pulang, udah siang nih. Gue mau belajar buat besok,” sambung Cinta.
“Yaudah ya, besok lagi ya kita ketemu, bye,” pamit Ciko.
“Bye semua,” pamit Cinta.
“Yaudah yuk pulang,” ajak Clara.
“Yuk,” kata Ikhsan yang berjalan bersama Clara.
“Eh, nanti dulu,” sambung Awan.
“Kenapa?” tanya Ikhsan bingung.
“Gue mau ke sanggar dulu ya, ada perlu.”
“Loh? Gue ngga dikasih tau suruh ngumpul,” sambung Clara bingung.
“Eh, gue ada urusan sama Nino kok,” kata Awan bohong.
“Oh yaudah, duluan ya,” pamit Clara.
“Gue juga ya,” pamit Ikhsan.
***
Di taman, Awan melihat Coki dan Floren tengah berbincang serius dengan sesekali diselingi nada tinggi dari keduanya.
“Jadi lo setuju kan sama ide gue tadi siang. Tenang aja kok, kalau lo ikutin gue, gue akan ikutin lo,” tawar Floren dengan senyum sinis.
“Gue ngga bisa,” jawab Coki dengan seadanya.
“Tapi jujur kan lo ngga suka sama Cinta?”
Hah? Coki?, batin Awan.
“Tapi gue belakangan ini juga udah mulai suka sama Cinta.”
“Halah, Mutiara kan yang benar-benar lo cintai?”
“Ya tapi,” Coki bingung harus melanjutkan kalimatnya seperti apalagi. Dia merasa Floren sedang mempermainkan dirinya tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Oke, kita balik ke rencana awal. Gimana?” kata Floren yang masih berusaha untuk menawar.
“Ngga jahat apa?” tanya Coki dengan bingung.
“Tenang aja, nanti lo kasih minuman yang udah gue siapin di parkiran sebelum lo berdua nonton,” kata Floren.
“Minuman itu isinya apa dulu?” tanya Coki dengan nada tinggi.
“Nyantai dong, Bro. Minuman itu isinya Cuma obat tidur doang kok, reaksinya cuma 12 jam setelah Cinta meminumnya,” jelas Floren.
“Kenapa sih lo minta gue lakuin ini? Kenapa ngga orang lain?” tanya Coki dengan gemas.
“Ya karena dia sukanya sama lo, dan gue pengen lo jadian sama Mutiara di depan Cinta,” jawab Floren dengan mantap.
“Gue yakin selain itu ada yang lain,” pancing Coki.
“Iya, gue pengen nama baik mantan ketua OSIS, mantan ketua PMR, dan Cinta sendiri sebagai mantan wakil ketua Paskibra hancur di akhir mereka bersekolah di sini.”
“Ya tapi kenapa, Flo? Kenapa? Lo kan pernah dekat sama mereka?”
“Ya memang gue pernah dekat sama mereka, dan gue ngga terima mereka dekat sama Ikhsan.”
“Ikhsan? Lo suka sama dia?”
“Ya dulu, tapi sekarang gue udah muak sama Ikhsan. Enak banget dia nyampakin gue.”
“Dan lo balas dendam lewat gue?”
“Iya, gue akan bilang ke bokap gue untuk melunasi hutang bokap lo. Gimana? Saling menguntungkan kan?”
“Terserah lo, gue udah gerah,” jawab Coki yang langsung pergi meninggalkan Floren.
“Inget lo, Cok. Keluarga lo ada di tangan gue,” kata Floren dengan nada tinggi.
***
“Hah? Coki? Ya ampun dugaan gue bener. Gue harus bilang ke Cinta,” kata Awan yang langsung berjalan tetapi terhenti oleh Coki yang ada di depannya kini, “Dan gue harap lo ada di saat Cinta nonton bareng gue karena gue ngga bisa ngelindungi dia, ada Floren di sana.”
“BIADAB LO, COK!!!!” bentak Awan yang langsung menghajar Coki dengan segenap emosi.
Awan terus-menerus menghajar Coki meski Coki sudah merintih, “Lo mau nyampakin Cinta gitu aja? Ngga akan tinggal diam gue.”
Akhirnya dengan sisa tenaganya Coki menahan Awan, “Oke gue terima ini, tapi please!! Ini masih rahasia, gue ngga akan berlaku terlalu jauh sama Cinta kalo lo mau datang dengan diam-diam pada malam nanti.”
Awan pun berhenti memukuli Coki dan berdiri membantu di depan Coki yang sudah berdiri. Tetapi Coki malah menyerang Awan dengan pukulan yang tak henti. Awan hanya bisa diam, di pikirannya kini bagaimana ia memberitahu Cinta tenteng ide gila Floren bersama Coki.
“Cukup gue nonjokin lo,” kata Coki yang akhirnya pergi meninggalkan Awan, “Dan satu lagi, jangan harap Cinta bisa tersenyum besok dan lo bisa menghalangi gue.”
“ORANG KAYAK LO BIADAB, COK!!!” teriak Awan.
“Ya memang, daripada lo. Membohongi perasaan lo demi cewek yang sama sekali ngga lo cinta,” akhir Coki yang langsung pergi.
“Gue harus sms Clara sama Ikhsan. Atau kayaknnya lebih baik Ikhsan aja,” kata Awan yang langsung mengirim pesan singkat kepada Ikhsan.
To: Ikhsan
Gue tunggu lo di rumah gue jam 3, ada hal yang harus gue omongin sama lo
Awan pun langsung bergegas pulang sebelum ada guru atau penjaga sekolah yang melihatnya babak belur.
***
Tok tok tok!!!
“Cinta,” panggil Clara dari luar rumah Cinta, “Assalamu`alaikum, Cinta.”
“Iya tunggu sebentar,” teriak Cinta yang sedang bermain dengan laptopnya.
“CINTA!!! ASSALAMU`ALAIKUM CINTA!!” teriak Clara dari luar rumah.
Cinta langsung membukakan pintu dan dengan menutup telinganya, “Duh, bisa ngga sih ngga usah teriak? Budeg nih gue.”
“Iya deh iya sorry, atuh tiba-tiba lo nyuruh gue ke rumah lo. Gue kan lagi belajar buat matematika besok.”
“Ya kan sekarang udah sore kali.”
“Apanya yang sore? Masih jam setengah tiga begini. Kenapa ngga jam 4 aja sih gue ke rumah lo.”
“Ya jam 4 gue mau tidur rencananya.”
“Ya ampun, Cinta. Sore-sore begitu lo tidur?” tanya Clara heran melihat tingkah Cinta yang masih kekanak-kanakan.
“Duh bawel deh, masuk deh kalau gitu. Ngga enak diliat tetangga gue,” ajak Cinta yang berjalan duluan menuju ruang tamu.
“Ada apa sih lo nyuruh gue ke sini?” tanya Clara yang duduk di depan laptop Cinta, “Lo main laptop? Bukannya belajar lu?”
“Ya kan Cuma bentar. Ini juga gue baru buka.”
“Tapi kan ini UN Cinta.”
“Yaudah ah, kayak nyokap gue aja deh lo.”
“Iya deh iya, gue ngapain nih ke rumah lo?”
“Nih liat kelakuan sahabat lo itu,” kata Cinta yang langsung menunjukkan laptopnya.
Clara membaca beberapa mention antara Cinta dan Coki.
“Hah?” Clara sangat kaget dengan apa yang dibacanya.
“Tolong deh lo bilangin sama sahabat lo itu, kenapa sih dia? Enak banget mukulin Coki, apa salah Coki?”
“Ya mana gue tau? Lagian lo tau darimana kalo Coki ngga bohong sama lo?”
“Tadi dia ke rumah gue sebentar buat ngasih buku gue yang ketinggalan di perpus.”
“Terus ngapain lo mention-mentionan?”
“Tadi dia duluan yang mention gue yaudah gue bales.”
“Oh gitu,” kata Clara yang langsung mengambil handphone-nya karena berbunyi.
“Eh, tadi lo kan pulang bareng Awan?”
“Ya terus? Lo mau nyalahin gue juga gitu?”
“Ya ngga gitu juga, Ra. Cuma kan aneh aja, benar lo ngga liat Awan sama Coki?”
“Ngga, tadi emang mau pulang bareng tapi dia ada janji sama Nino katanya.”
“Atau jangan-jangan dia sama Nino kali? Wah Nino awas aja, gue samperin ke rumahnya,” kata Cinta emosi dan langsung berlari menuju kamarnya.
“Ye si Cinta,” kata Clara yang memainkan laptop Cinta di ruang tamu.
***
Tok tok tok!!
“Wan, ada Ikhsan noh di luar,” panggil Citra.
“Iya, kak, suruh tunggu sebentar,” jawab Awan.
“Kasian itu si Ikhsan udah daritadi,” teriak Citra lagi dan bersamaan dengan dibukanya pintu kamar Awan, “Ah, bawel banget sih lu.”
“Muka lu kenapa?” tanya Citra yang langsung memegang wajah Awan.
“Aw!!” teriak Awan yang langsung menyingkirkan tangan Citra dari wajahnya.
“Sorry sorry, tumben lo berantem,” sambung Citra.
“Yailah gue kan cowo.”
“Pasti gara-gara cewek, hahahahaha,” kata Citra yang langsung pergi menuju kamarnya.
“Tau aja itu bocah,” kata Awan yang langsung pergi menuju ruang tamu.
***
Di rumah Cinta, ternyata Cinta juga tengah bersiap untuk pergi menuju rumah Nino yang tak jauh dari rumahnya.
“Yuk, Ra, pergi sebelum kakak gue bangun,” ajak Cinta yang sudah rapih dengn T-shirt yang ditutupi jaket dan celana pendeknya.
“Emang kenapa kalo ada kakak lo?” tanya Clara bingung.
“Resek dia mah,” kata Cinta yang menarik Clara untuk berdiri.
“Eh, ada Clara,” sapa Ciko dari arah kamarnya yang tida jauh dari ruang tamu.
“Heh, ada si resek deh,” kata Cinta lemas.
“Mau pergi kemana?”
“Ke rumah Nino, kak,” jawab Clara dengan sopan.
“Loh? Mau ngapain? Bukannya besok masih ujian ya? Kok udah main aja?”
“Ada hal penting yang mau gue tanyain ke Nino,” jawab Cinta.
“Oh, yaudah aku anterin ya,” tawar Ciko kepada Clara, “Emm gimana ya, kak?”
“udah ngga usah, biar naik motor gue aja,” jawab Cinta yang langsung membawa Clara pergi.
“Yaudah hati-hati ya,” teriak Ciko.
***
Awan telah duduk lemah di sebelah Ikhsan yang sedaritadi menunggunya di ruang tamu.
“Ngapa muka lu?” tanya Ikhsan bingung, “Perasaan tadi pas gue sama Clara ninggalin lo, ngga kayak gini deh muka lo. Ribut sama anak mana? Kenapa ngga bilang? Kan lo punya pasukan?”
“Ah bawel lo kayak cewek,” kata Awan gerah dengan kata-kata Ikhsan yang tiada hentinya.
“Jadi lo manggil gue karna lo mau nyiapin pasukan untuk membalas ini? Katanya selama ujian ngga mau tempur dulu?”
“Emang ngga, ini bukan karena tawuran tau,” jawab Awan.
“Terus?” tanya Ikhsan penuh harap.
“Gue berantem sama Coki tadi di taman sebelum pulang sekolah,” jawab Awan dengan nada lurus.
“Hah? Berantem? Serius lo? Bukannya tadi lo mau ke Nino?”
“Ngga kok, itu alasan gue aja. Coki ngga seindah yg dibayangkan Cinta.”
“Maksudnya? Ini bukan karena lo mau nembak dia kan?”
“Ngga kok, tadi gue denger pembicaraan dia sama Floren,” jawab Awan singkat.
“Floren? Teman kita waktu kelas 8?”
“Iya, dia naksir berat sama lo.”
“Hah? Yang benar?”
“Iya, dan karena dulu lo deket banget sama Cinta dan nyia-nyiain cintanya Floren, jadi sekarang dia balas dendam ke Cinta.”
“Lah, kok?” tanya Ikhsan yang masih heran dengan cerita Awan yang berbelit, “Yang jelas ngapa kalo cerita.”
“Oke, jadi tadi gue liat Coki sama Floren ngobrol berdua di taman. Mereka mempunyai rencana buat jahatin Cinta.”
“Karena apa mereka berbuat kayak gitu?” tanya Ikhsan.
“Pertama Floren pengen jatuhin nama baik lo, Clara, dan tentunya Cinta sendiri. Dua dia balas dendam karena dulu lo nyia-nyiain cintanya Floren dan dia iri melihat kedekatan lo sama Cinta.”
“Oh, aneh. Lanjut,” pinta Ikhsan yang masih mencoba mengerti arah pembicaraan mereka.
“Cara mereka jahatin Cinta lewat Coki.”
“Hah? Jadi selama ini Coki itu?”
“Ya, Coki hanya memancing Cinta untuk mengharap lebih ke Coki. Puncaknya nanti setelah ujian, Coki ngajak Cinta nonton untuk dipermalukan.”
“Dipermalukan gimana?”
“Sebelum mereka nonton, Coki akan memberikan minuman di parkiran.”
“Minuman apa?”
“Gue juga ngga tau apa, yang jelas minuman itu udah bercampur dengan obat tidur. Dan pikiran jelek gue, Coki mau memerkosa Cinta,” kata Awan dengan nada masih datar.
“Hah? Ngga bisa di diemin aja kalo udah gini.”
“Ya terus gue harus gimana?”
“Ya lo ikut mereka nonton.”
“Pasti Cinta ngga mau kalo gue ikut.”
“Percaya sama gue pasti Cinta mau ngajak lo.”
***
Sementara di rumah Nino, Cinta terlihat menahan emosinya untuk mendapatkan jawaban pasti.
“No, jujur, No. Lo tadi sama Awan ngapain pulang sekolah?” tanya Cinta dengan sabar.
“Sumpah, Ta. Gue tadi ngga ketemu sama Awan,” jawab Nino.
“Tapi tadi kata Awan dia ada urusan sama lo pulang sekolah,” sambung Clara.
“Tapi tadi gue langsung pulang, Ra,” jawab Nino lagi.
“No, Awan udah nyakitin Coki. Lo masih ngga mau kasih tau gue juga? Apasih yang lo sama Awan mau? Hah?” bentak Cinta
“Tapi sumpah, Ta. Gue ngga tau. Kalo gue tau gue juga udah kashi tau lo, Ta. Toh gue kan ngga pernah bohong sama lo,” kata Nino berusaha meyakinkan dan menatap Cinta dengan dalam.
Cinta hanya terduduk di bangkunya, diam, pandangan lurus, entah apa yang harus ia lakukan lagi. Cinta percaya sama Nino yang ngga pernah bohong kepadanya.
“Kalo lo ngga keberatan gue mau bantuin lo buat nanya ke Awan,” kata Nino di sebelah Cinta.
Cinta pun tersenyum lemas, “Ngga, ngga usah. Sorry ya udah maksa dan ganggu lo. Gue pamit ya.”
Clara hanya mengikuti Cinta yang sudah di ambang pintu terlebih dulu.
“Ta, ngga mau gue bantu?” tawar Nino sekali lagi.
“Iya, ngga usah makasih, gue bisa kok sendiri,” tolak Cinta dengan halus dan berlalu di balik pintu.
“Ta, kita mau kemana lagi?” tanya Clara sebelum akhirnya naik ke atas motor.
“Udah naik aja dulu,” jawab Cinta tanpa menoleh.
Clara hanya menurutinya dan naik ke atas motor Cinta.
***
Beep beep beep
Terdengar bunyi handphone Awan.
To: Awan
From: Nino
Tadi Cinta ke rumah gue, kayaknya dia mau ke rumah lo deh. Tadi sih di rumah gue nanyain tentang Coki gitu
“Hah?” teriak Awan dengan kaget.
“Kenapa?” tanya Ikhsan bingung.
“Nino sms gue katanya Cinta tadi abis dari rumah Nino dan katanya Cinta bakalan ke sini,” jawab Awan dengan panik.
“Ngapain dia ke rumah Nino?”
“Katanya Nino nanyain tentang Coki, dia tau darimana?” tanya Awan bingung.
“Yah siapa lagi kalo bukan si pengganggu,” jawab Ikhsan dengan ketus.
“Tapi gue mohon sama lo, jangan ngomong apa-apa dulu tentang rencana jahat Floren sama Coki,” pinta Awan.
“Kenapa?”
“Please! Gue mohon, biar gue yang tau gimana caranya Cinta selamat tanpa tau semua ini.”
“Yaudahlah, up to you.”
***
Tak lama kemudian, Cinta dan Clara telah sampai di depan rumah Awan.
“Ta, ngapain kita ke rumah Awan? Lo ngga mau nyari ribut kan?” tanya Clara was-was.
“Gue ngga akan pake emosi kok,” jawab Cinta yang langsung pergi memasuki rumah Awan.
Belum sempat Cinta mengetuk pintu rumah Awan, lagi-lagi Clara menghadangnya,
“Ta, jangan pake emosi loh.”
“Iya, cantik,” jawab Cinta yang langsung mengetuk pintu rumah Awan.
Tok tok tok
“Assalamu`alaikum,” kata Cinta.
“Wa`alikumsallam,” jawab Ikhsan yang langsung membukakan pintu.
“Loh? Ikhsan?” kata Cinta dan Clara hampir berbarengan, “Ngapain lo di sini?”
“Gue lagi main aja,” jawab Ikhsan dengan gugup.
“Main? Bohong banget lu, lagi ujian gini mana mau lu main?” tanya Cinta penuh selidik.
“Tau, hari biasa aja jarang banget lu mau ikut main,” sambung Clara.
“Ya sekalian belajar,” elak Ikhsan.
“Belajar apa curhat?” tanya Cinta meyakinkan.
“Ah elu, Cin, banyak nanya banget. Ngapain lo berdua ke sini?”
“Awannya mana?” tanya Cinta jutek.
“Lagi di kamarnya,” jawab Ikhsan.
“Ngga mau nyuruh kita masuk nih?” tanya Clara.
“Yaudah, suruh aja mereka masuk, San,” kata Awan dari dalam rumah.
Mendengar suara Awan, tanpa basa-basi Cinta langsung masuk ke dalam rumah Awan dan melontarkan semua isi hatinya.
“Lo ngapain sih,” belum selesai Cinta menyelesaikan kata-katanya, Cinta sangat terhentak melihat muka Awan yang memar, “Muka lu kenapa?”
“Biasalah cowok, ngapain lu ke rumah gue?” jawab Awan dingin.
Duh gue ngga tega marahin dia, tapi Coki, batin Cinta.
“Ta, lo jadi?” bisik Clara.
“Ngga tau,” balas Cinta.
“Ada apa lo ke sini?” tanya Awan lagi yang kali ini berdiri di depan Cinta.
“Emm, muka lo berantem sama siapa?” tanya Cinta dengan lembut.
“Sama Coki,” jawab Awan dengan tegas, “Dan pastinya Coki udah cerita banyak ya sama lo. Mau marahin gue? Silahkan.”
Duh, nih cowok bikin gue mati kutu, batin Cinta lagi.
“Ya ngga gitu juga, Wan. Ya kenapa sih lu beranem sama Coki? Apa salah Coki?” tanya Cinta yang sudah tidak bisa menahan nada tingginya.
“Salahnya dia deketin lo,” jawab Awan cepat tanpa menatap Cinta.
“Hah?” teriak Cinta, Ikhsan, dan Clara bersamaan.
“Frontal banget,” ceplos Clara dengan tatapan masih tidak percaya yang ditujukan kepada Awan.
“Gue suka cara lo,” sambung Ikhsan.
Cinta hanya bisa berdiri kaku mendengar itu semua.
“Gue ngga mau lo sama Coki,” kata Awan lagi yang akhirnya menatap Cinta tajam.
“Kenapa?” tanya Cinta. Sudah terasa air di bagian pelupuk mata Cinta.
“Coki itu busuk, Ta, busuk.”
“Tapi waktu lo sama Bunga, apa iya gue kayak gini? Gue ngga ngekang lo kan? Kita masih bersahabat kan? Tapi kenapa lo kayak gini sama gue? Hah? Kenapa?”
“Gue sayang sama lo dan gue pengen kita balik,” kata Awan penuh keyakinan.
“Tapi gue ngga, udah cukup yang kemarin. Itu udah cukup buat gue,” balas Cinta yang kali ini sudah meneteskan titik demi titik air matanya.
Selangkah Awan maju dan menghapus air mata Cinta, “Udah, Wan. Kita ngga bisa lagi.”
“Tapi gue yakin lo masih sayang sama gue, ya kan, Ta?” tanya Awan.
“Ngga, gue ngga pernah sayang sama lo, gue ngga pernah cinta sama lo,” jawab Cinta dengan segenap emosinya.
“Gue ngga percaya sama kata-kata lo yang itu.”
“Terserah deh apa kata lu,” sambung Cinta yang hanya bisa menunduk.
Gue ngga boleh nangis, batin Cinta.
Clara pun mendekatinya dan memberikan tisu kepada Cinta. Cinta yang menerima tanpa menoleh sedikit pun.
“Ta, kalo lo ngga kuat kita pulang yuk,” ajak Clara.
“Ngga, Cinta ngga boleh pulang dulu,” tahan Awan.
Apalgi sih, Wan, batin Cinta.
“Awan, cukup,” bentak Clara.
“Nanti dulu, Ra. Lo ngga ngerti,” jawab Awan dengan nada tinggi.
Ikhsan pun menahan Clara dan membawanya terpisah dari Cinta.
“Ta, liat gue,” pinta Awan.
Cinta masih diam terpaku.
“Ta,” panggil Awan sekali lagi.
Dan Cinta masih tidak memberikan respon apapun. Awan memutuskan untuk mengangkat wajah Cinta dengan lembut, “Gue ngga pernah niat buat nyakitin lo. Tapi please! Jangan Coki cowok itu, jangan.”
Dengan kasar Cinta melepaskan tangan Awan dari mukanya, “Mau lo tuh apasih? Gue capek ya, inget, Wan, inget. Lo sama gue udah putus, udah ngga ada lagi hak lo buat ngekang gue. Gue capek.”
Rasa sakit di hati Awan mendengar kata-kata Cinta, iya gue udah bukan siapa-siapa lo.
“Kalo lo bisa pacaran sama Bunga, kenapa gue ngga sama Coki?” sambung Cinta.
“Tapi Coki itu,” Awan berusaha menjelaskan tetapi Cinta memotongnya dengan kata-kata yang menusuk, “UDAH!! CUKUP, GUE NGGA MAU DENGER LAGI APAPUN TENTANG COKI DARI LO!! MUNA LO JADI COWOK”
Cinta pun bergegas pergi dari rumah Awan dengan air mata berderas kencang, kenapa, Wan, kenapa kayak gini?
***
Selasa, 26 April 2011
Hari kedua ujian nasional yang dilewati Cinta dan Awan dengan panas. Awan yang duduk di depan Cinta hanya bisa diam tidak berbuat apa-apa melihat Coki yang sedaritadi bersama Cinta.
“Cin, jadi maksud kamu soal ini make rumus deret aritmatika?”
“Iya,” jawab Cinta singkat dengan nada lurus.
“Oh, trus kalo nomer selanjutnya?” tanya Coki lagi.
“Oh, yang ini?” tanya Cinta memastikan.
“Iya, pake rumus apa?” tanya Coki dengan lembut.
“Ini rumus deret geometri,” jawab Cinta dengan senyum seadanya.
“Oke, makasih ya,” sambung Coki dengan senyum manisnya.
“Ya, sama-sama,” jawab Cinta yang kembali melamun.
“Kamu kenapa sih? Kok daritadi singkat banget jawab pertanyaan aku, kamu marah ya sama aku,” tanya Coki.
“Ngga kok,” jawab Cinta singkat.
“Kamu sakit?
“Ngga.”
Tak lama kemudian, datang dua orang pengawas. Seorang wanita dan seorang lagi pria. Pengawas pun menyuruh seluruh siswa untuk menaruh tasnya di depan kelas. Cinta mengikutinya dengan tidak penuh antusias. Dan sempat sekilas Awan menatapnya. Lama dan sangat dalam.
***
Rabu, 27 April 2011
Hari ketiga ujian nasional diselenggarakan. Dan lagi-lagi Cinta tidak antusias dalam melaksanakan. Selain karena hari itu pelajaran bahasa Inggris, karena Awan ingin bertemunya seusai ujian nasional dan tak dapat dibantahnya lagi. Ujian pun telah usai di hari itu, dan terlihat Awan menunggu Cinta di taman sekolah.
Apa dia ngga datang ya? Tanya Awan dalam hati.
Tak lama kemudian, datang lah Cinta dengan muka kusutnya. Cinta yang sudah berdiri di depan Awan hanya bisa diam, begitu pula sebaliknya Awan. Awan tak tahu harus memuali darimana semua ini. Yang ia mau, ia harus ikut saat Cinta dan Coki menonton esok hari.
“Ta,” buka Awan dengan gugup.
“Ya,” jawab Cinta singkat tanpa menoleh ke arah Awan.
“Lo masih marah sama gue?”
“Ya,” jawab Cinta dengan tenang.
“Gue minta maaf ya,” pinta Awan dengan tulus.
“Ya.”
“Bisa ngga, selain kata ya yang keluar dari mulut lo.”
“Ngga.”
“Oke aku maklumi,” sambung Awan yang berhasil mengangkat kepala Cinta hingga menatapnya, “Aku cuma mau ikut kamu nonton sama Coki, aku janji aku ngga akan buat apa-apa.”
“Awan, aku udah bilang berkali-kali. Kita udah selesai. Kamu ngerti ngga sih,” balas Cinta dengan emosi kembali membara.
“Oke, tapi kali ini aja,” pinta Awan tak menyerah, “Aku cuma ngga mau kamu menyesal,” sambung Awan dengan lembut yang berhasil membuat Cinta susah menolaknya.
“Awan, kamu mau kan kita masih terus bersahabat? Kamu mau aku musuhin?”
“Tapi please, sekali aja,” pinta Awan pantang menyerah.
“Ada apa nih?” tanya Coki yang tiba-tiba datang tanpa diduga.
“Eh, kamu,” kata Cinta kaget.
“Ngapain lo di sini” tanya Awan dengan sinis.
“Tenang dong, Bro. Gue kan cuma nanya, ada apa nih?”
“Lo tuh ya, ngga jera sama pukulan gue kemarin?” tanya Awan yang kali ini sudah menarik kerah baju Coki.
“Awan, udah. Ngga lagi,” pinta Cinta yang memegang tangan Awan, “ Please, aku mohon.”
Coki langsung menarik Cinta ke dalam dekapannya, “Kita jadi nonton kan?”
“Iya,” jawab Cinta yang merasa risih dengan perlakuan Coki.
Awan yang sudah bisa membaca raut muka Cinta langsung meminta kepada Coki dengan kasar, “Bisa ngga lo lepasin dia sekarang atau lo mau,” belum selesai Awan berbicara Ikhsan dan Clara tiba-tiba datang.
“Wan, lo ngga mau kan nyesel lagi,” ucap Ikhsan.
“Yaudah yuk Cinta kita pergi,” ajak Coki yang menggandeng Cinta
“Ta,” panggil Clara.
Cinta hanya bisa memberikan tatapan lurus kepada Ikhsan dan Clara karena Cinta tahu, ia sudah tidak pantas menatap Awan. Coki pun membawa Cinta pergi
***
Di parkiran sekolah, Cinta langsung mengeluarkan semua benci hatinya.
“Lo ngapain sih, Cok,” bentak Cinta.
“Lo lupa perjanjian kita?” tanya Coki.
“Tapi ngga kayak gini caranya,” balas Cinta.
“Lo ikutin kata-kata gue dan gue akan buat lo semua selamat dari Floren,” bentak Coki memegang tangan Cinta dengan kasar.
“Iya-iya, awas ya lo sampai sahabat-sahabat gue terutama Awan yang jadi tumbalnya, ngga akan gue maafin lo.”
Coki pun menarik Cinta untuk pulang bersamanya.
***
Kamis, 28 April 2011
Hari terakhir ujian nasional pun tiba. Saat terakhir mereka mengikuti ujian nasional dilalui anak-anak kebanyakan dengan sangat antusias. Banyak terdengar rencana-rencana mereka sesudah pulang dari sekolah. Ada sebagian dari mereka yang jalan, makan, main ke rumah teman, dan ada yang hanya di rumah menghabiskannya dengan tidur sepanjang masa. Tetapi tidak untuk Cinta, sepulang sekolah nanti ia harus menjawab pertanyaan Awan apakah Awan boleh ikut nonton. Coki, Cinta, dan Awan janjian untuk bertemu di taman seusai ujian nasional.
Terlihat Cinta sudah selesai mengerjakan ujian terakhrir dan duduk termenung di depan kelas.
“kamu kenapa?” tanya Coki yang setengah duduk di depan Cinta.
“Jangan sok baik deh. Nyesel gue pernah kenal sama lo,” jawab Cinta dengan kasar.
“Kamu lupa sama janji kamu? Perlu aku ingetin?” tanya Coki yang mengeluarkan handphone-nya dan menyetel suatu rekaman percakapan antara Cinta dan Coki.
Coki: ya, memang saya yang menghajar Awan dan Awan hanya membalas seperlunya.
Cinta: kenapa, Cok? Kenapa kamu lakuin itu?
Coki: simple aja, aku mau lindungi kamu dari Floren. Dia mau nyelakakan kamu di saat kita nonton nanti.
Cinta: Floren? Ngga mungkin, kebohongan apa lagi yang udah kamu buat.
Coki: aku ngga bisa kasih tahu kamu kenapa Floen bisa kayak gini, yang harus kamu tahu aku akan melindungi kamu dan kamu harus balas budi sama aku.
Cinta: jangan harap aku mau balas budi sama kamu MANUSIA LICIK!!
Coki: (menarik tangan Cinta dengan paksa) kamu mau Clara, Ikhsan terutama Awan jadi tumbalnya Floren? Kamu mau mereka semua malu karena perbuatan kamu?
Cinta: maksud kamu?
Coki: percaya sama aku atau kegadisan kamu hilang.
Cinta: COKI!!!!!
Coki pun mematikan rekaman tersebut, “Jadi gimana, sayang?”
Cinta menatap Coki penuh kebencian, “Lihat aja, Cok. Gue akan balas semua perbuatan lo.”
“Yaudah yuk, Cinta, kita ke taman. Ngga mau kan bikin pangeran kamu menunggu,” ajak Coki dengan paksa menarik tangan Cinta.
Tak jauh dari sana ternyata Ikhsan telah memerhatikan mereka dengan seksama.
Gila ya itu bocah, udah ngancurin dua sahabat gue, batin Ikhsan.
***
Di taman, terlihat Awan menunggu kehadiran Cinta dan Coki dengan was-was. Cinta yang sudah datang bersama Coki sempat menatap Awan dengan penuh harap.
Gue mohon lo ngerti, batin Cinta.
Gue mohon gue bisa ikut lo, batin Awan.
“Nah Cinta, jadi apa kamu mau ajak Awan?” tanya Coki yang masih merangkul Cinta dengan kasar.
Cinta hanya menatap Awan.
“Ta?” panggil Awan penuh harap.
“Maaf,” jawab Cinta singkat.
“Hahaha, dia itu udah jadian sama gue,” sambung Coki lagi yang membuat Cinta bingung.
“Hah? Ta? Gue yakin itu ngga bener?” tanya Awan.
Gue harus jawab apa?, batin Cinta.
“Ta, jawab,” pinta Awan dengan halus.
“Ya,” jawab Cinta tanpa menoleh ke arah Awan.
“Ya, itu semua ngga benar kan, Ta? Kamu ngga jadian kan sama dia?” Awan masih terus memaksa Cinta untuk jujur.
Bisa ngga kamu ngga usah tekan aku, batin Cinta.
Untuk kesekian detik air mata Cinta kembali jatuh.
“Cinta sayang, jawab dong pertanyaan mantan kamu,” kata Coki menggoda.
“DIAM LO!!” teriak Awan yang mendorong Coki hingga terjatuh, “Apa yang udah lo lakuin sama dia? Hah?”
“Hey, sabar dong. Ngga usah pake emosi gitu kali,” pancing Coki yang sudah tegap berdiri di depan Awan.
Dengan cepat, Awan menghajar Coki.
“AWAN!!” teriak Cinta.
Awan dan Coki segera menoleh ke arah Cinta yang sedang menangis. Awan menghampiri Cinta dan memeluknya dengan hangat. Melihat itu, Coki menarik Awan dan mendorongnya lalu memukulnya dengan pukulan kasar.
“Coki,” panggil Cinta dengan lembut.
Coki pun menghampiri Cinta, “Ada apa sayang.”
“JANGAN SENTUH DIA!” teriak Awan yang langsung menghajar Coki tiada henti.
“Awan cukup,” pinta Cinta yang memeluk Awan dari belakang, “Cukup aku mohon.”
Awan hanya bisa terdiam.
Sengatan yang kamu beri begitu dalam, batin Awan.
Coki langsung menarik Cinta pergi dan berkata, “Kita harus pergi nonton.”
Gawat, batin Awan.
“Ta,” panggil Awan yang langsung di tahan oleh Ikhsan, “Biarin aja mereka pergi, kalo Cinta sayang sama lo pasti dia minta lo ikut.”
Atau ngga pasti dia natap lo sebelum pergi, batin Ikhsan.
Cinta mendengar itu langsung menoleh ke belakang tak mengerti kata-kata Ikhsan.
Apa maksud kamu, San, batin Cinta.
Melihat Coki dan Cinta sudah tak tampak, Awan langsung menonjok Ikhsan, “Apa maksud lo?”
“Tenang, boy. Cinta hanya sayang sama lo,” jawab Ikhsan dengan tenang.
“Tau darimana lo?” tanya Awan yang masih menghajar Ikhsan.
“Udah diem aja, sekarang ikut gue ke parkiran. Clara bawa mobil dan kita ikuti mereka,” ajak Ikhsan.
***
Ikhsan, Clara, dan Awan telah sampai terlebih dahulu sebelum Cinta dan Coki di parkiran bioskop.
“Jelasin ke gue dulu deh, ngga ngerti gue,” pinta Awan di dalam mobil.
“Apa yang lo bilang benar. Floren sama Coki kerja sama,” jawab Ikhsan.
“Terus?”
“Dan tadi Ikhsan ngikutin Coki sebelum dia nemuin lo sama Cinta,” sambung Clara.
“Hasilnya?”
“Jadi Coki kayak gitu supaya hutang bokapnya lunas. Demi keluarganya, sebenarnya Coki juga sayang sama Cinta sama halnya kayak lo,” jelas Ikhsan, “Dan tadi gue sempet denger cara mereka nyakitin Cinta.”
“Gimana? Biar gue tau harus berbuat apa,” pinta Awan.
“Jadi, lo liat ngga cowok yang di sana?” tanya Ikhsan menunjuk ke arah beberapa cowok.
“Mereka yang akan memperkosa Cinta sesuai denga apa yang lo duga.”
“Terus gue harus gimana?” tanya Awan bingung.
“Gue juga ngga tau, bingung,” jawab Ikhsan polos.
“Yah lu mah ah,” kata Awan putus asa, “Malah orangnya gede-gede lagi.”
“Kalo kata gue ikuti kata hati lo,” sambung Clara dengan lembut, “Cewek biasanya selalu iktutin kata hatinya dan berhasil, apa salahnya lo ikutin kata hati?”
“Gue coba,” jawab Awan yakin.
“Itu mereka,” kata Ikhsan.
“Oke gue keluar ya,” kata Awan.
“Lo harus ngumpet,” usul Clara.
“Sip.”
“Jangan sampe ketawan,” kata Clara khawatir.
“Kita harus hubungi polisi, kasian Awan kalo sendirian. Lo juga ngga bisa apa-apa.”
“Iya deh iya,” jawab Ikhsan polos.
***
Mobil Coki pun berhenti.
“Kok kita di sini? Ngga di sana aja?” tanya Cinta yang menunjuk ke arah Timur mereka.
“Aku maunya di tempat yang sepi,” pancing Coki.
“Jangan kurang ngajar lo. Gue bisa teriak,” kata Cinta dengan marah dan berusaha membuka mobil secara diam-diam.
“Tenang aja lah Cinta, nih minum dulu,” kata Coki mendorong segelas jus di depan muka Cinta.
Yeah udah kebuka, batin Cinta.
“Ngga, ngga usah makasih,” kata Cinta yang langsung pergi setelah pintu sudah terbuka.
“Cinta mau kemana? Shiittt!!! Dia kabur,” kata Coki.
Gue harus kemana?, batin Cinta dalam bingung.
Tiba-tiba tubuh Cinta tertarik oleh seseorang, “Shuutt, diam.”
“Awan?” panggil Cinta kaget tapi setengah bahagia.
“Kamu ngga apa-apa?” tanya Awan penuh lembut.
“Kamu?” Cinta tak bisa meneruskan kata-katanya.
“Ya, aku bilang aku sayang. Ini yang akan aku lakuin,” kata Awan menatap Cinta tajam.
“Maaf,” ucap Cinta lirih.
“Sekarang kamu keluar ya,” pinta Awan lembut.
“Tapi.”
“Shhutt!!! Aku ada di sini, kamu percaya kan?”
Cinta pun mengangguk dan keluar dari tempat persembunyiannya.
“Cinta sayang, dimana kamu?” panggil Coki.
“Aku di sini,” jawab Cinta dengan lemas.
“Kamu ngga bisa kemana-mana. Liat orang di sana,” sambung Coki yang menarik Cinta dengan kasar hingga dalam dekapannya.
“Mereka?”
“Ya, mereka teman-teman aku, jadi kalo kamu macam-macam, kamu tahu kan akibatnya?”
Awan pulang sekarang, batin Cinta.
“Kamu bilang mau lindungi aku,” pinta Cinta.
“Hahahahaha, percaya sama aku ngga ada gunanya. Sekarang minum,” paksa Coki.
“NGGA!!!”
“MINUM!!!”
Plok plok plok!!!
Awan langsung menghajar Coki dan membawa Cinta pergi.
“Awan kamu pulang sekarang,” pinta Cinta dengan takut.
“Kenapa?” tanya Awan bingung.
“Please, aku mohon. Sebelum semuanya.”
“Terlambat,” sambung Coki dengan beberapa temannya, “Yah TERLAMBAT!!!”
Cinta hanya menangis dalam dekapan Awan.
“Gue ngga pernah takut sama lo!!” bentak Awan.
“Oke, tapi sama teman-teman gue?” pancing.
“Awan pulang,” rengek Cinta dalam tangis.
“Aku ngga akan pulang,” jawab Awan dengan yakin.
“Biarin aja Cinta, dia belum rasain rumah sakit.”
“Oke kalo itu mau lo.”
“Lo lawan teman gue,” tawar Coki.
“Oke,” jawab Awan yang melepas rangkulannya terhadap Cinta.
“Awan, jangan,” cegah Cinta.
“Kamu tenang aja, aku ngga apa-apa kok,” kata Awan meyakinkan dan mengecup lembut kening Cinta.
“Jangan buat aku takut!!”
“Cepet lama banget deh,” pancing Coki.
“Oke gue terima,” kata Awan yang menghampiri Coki dan teman-temannya.
Kata hati, Wan kata hati, batin Awan.
Clara dan Ikhsah menghampiri Cinta yang duduk menangis.
“Ta,” panggil Clara yang langsung memeluk Cinta.
“Lo ngga apa-apa?” tanya Ikhsan.
“AWAN BODOH!!!” teriak Cinta.
Sekilas Awan menoleh ke arah Cinta. Kamu yang udah nguatin aku, batin Awan.
Prok prok prok
Terdengar pukulan keras dan terlihat Awan jatuh tersungkur.
“AWAN!!!” teriak Cinta.
Berkali-kali Coki dan teman-temannnya memukuli Awan yang tidak membalas.
“Kenapa?” tanya Cinta.
Ini demi lo, jawab Awan dalam hati.
“Kenapa gue ngga bisa benci sama lo?” teriak Cinta.
Cinta sekilas melihat salah satu teman Coki yang mengeluarkan pisau.
Hah? Ngga mungkin. Gue harus gimana?, batin Cinta.
“Bos, uda siap nih,” kata salah satu teman Coki.
“Oke, laksanakan,” perintah Coki.
Gue ngga bisa diem aja, batin Cinta yang lari mengejar Awan.
“TA, TA, CINTA!!” panggil Clara dan Ikhsan.
“Lo akan mati dan menutupi semuanya,” teriak Coki yang langsung menyodorkan pisau ke arah Awan.
“AWAN!!!!!” teriak Cinta dan langsung memeluk Awan kuat.
“CINTA!!!!” teriak Clara dan Ikhsan.
Diam sesaat, hening yang dirasa.
“Kamu? Kamu masih hidup?” tanya Awan bingung melihat Cinta yang masih sehat dalam dekapannya.
“Aku? Aku ngga tahu,” jawab Cinta takut.
“Ta, Coki,” teriak Clara.
Cinta langsung menoleh ke arah Coki yang terbaring kaku dengan pisau di atas badannya.
“COKI!!” teriak Cinta yang langsung menghampir Coki dan tibalah polisi yang menangkap beberapa preman.
“Coki,” panggil Cinta.
Sesaat Coki tersadar, “Gue lakuin apa yang gue bilang kan? Gue ngelindungi lo, sahabat lo, dan juga Awan.”
“Kenapa harus kayak gini?”
“Haha, emang harus kayak gini. Biar Floren bahagia,” jawab Coki dengan terbata-terbata.
“Gue sayang sama lo,” kata Cinta yang sudah dirangkul lemas oleh Awan.
“Gue juga sayang sama lo, tapi Awan,” kata Coki yang mengambil tangan Awan dan tangan Cinta untuk dipersatukan.
Cinta dan Awan hanya bisa diam dan saling pandang.
“Gue emang sayang sama lo, tapi ada Awan yang melebihi rasa sayang gue bahkan cinta gue,” kata Coki dengan terbata-bata, “Ohok ohok.”
“Kamu kenapa?” tanya Cinta panik.
“Ngga kenapa-kenapa kok, cuma batuk,” jawab Coki dengan senyum.
“Mba, maaf temannya harus di bawa ke rumah sakit sekarang karena sudah terlalu banyak mengeluarkan darah,” kata bapak dari kepolisian.
Cinta hanya bisa menyingkir dalam dekapan Awan.
“Nanti dulu, pak,” pinta Coki, “Wan, janji ya jagain Cinta.”
“Coki,” panggil Cinta.
“Tanpa lo suruh, akan gue lakuin itu,” jawab Awan yakin.
“Ta, Awan tulus sama lo. Lo harus selalu sama Awan,” pinta Coki.
“Cok,” panggil Cinta lirih.
“Pak, bisa bawa saya sekarang,” pinta Coki dan pihak kepolisian mulai membawa Coki.
Cinta, Awan, Clara, dan Ikhsan hanya bisa diam terpaku melihat kepergian Coki.
“Tenang aja, kamu masih ada aku kok. Aku ngga mau ngelepasin kamu lagi,” kata Awan yang langsung memeluk Cinta.
***
Keesokan harinya, hari dimana Coki akan di kebumikan. Terlihat banyak teman Coki yang hadir dalam pemakaman tersebut. Dan pemakaman Coki berlangsung dengan menyedihkan dan tiba-tiba.
Cinta, Awan, Clara, dan Ikhsan tampak pada barisan pertama dalam pemakaman.
“Yang sabar ya, Ta,” kata Clara berusaha menenagkan Cinta.
“Ra, biar gue aja,” pinta Awan.
“Ya,” jawab Clara yang langsung pergi menuju Ikhsan.
“Ta,” panggil Awan.
“Kenapa, Wan? Kenapa?” tanya Cinta.
“Iya aku ngerti, yang sabar ya. Aku akan terus di sampin kamu menggantikan Coki,” kata Coki yang langsung memeluk Cinta dengan erat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar