“Awas itu ice creamnya, Nand”
Ucap Ferdi kepada Ferdinand. Terlihat empat sahabat itu tengah menghabiskan sisa langit sore yang indah di taman dengan ice cream.
“Ferdinand, ice cream gue.”
Pinta Sandra yang sudah lelah sedaritadi mengejar ice cream yang di bawa lar Ferdinand. Sandra dan Nina.
“Kasian lu, Fer. Mau ngulang masa lalu lagi?”
Ucap Nina yang sedang menikmati ice creamnya bersama Ferdi dan menyaksikan Ferdinand menjahili Sandra tanpa ampun.
“Biarin aja, ahahhaha.”
“FERDINAND !!! ngga lucu tahu, kita sama-sama udah SMA. Kenapa lo masih anggep gue kayak anak SMP?”
Mendengar itu, Ferdinand selangkah maju menghampiri Sandra. Sandra pun merasa risih dan mulai mundur langkah demi langkah.
“Fer, Fer, Fer. Ah ngga gini juga ah.”
“Jangan mundur kenapa, gue mau bisikin lo sesuatu”
Sandra hanya menurut perintah Ferdinand. Ia pun berhenti melangkah mundur. Dan Ferdinand pun berhenti melangkah maju. Tetapi sekarang, jarak antara Sandra dan Ferdinand terlihat semakin minim ditambah tubuh Ferdinand yang menjulang lebih tinggi dibanding Sandra terlihat mengurai senyum tanpa sepengetahuan Sandra yang menunduk. Ferdinand pun menunduk untuk membisikkan sesuatu hal kepada Sandra.
“Gue gini karena ini mau lo kan? Terus becanda sama gue.”
***
Di sebuah taman di daerah perumahan yang amat terkenal. Terlihat seorang perempuan lugu yang tengah menunggu seseorang. Satu menit, dua menit, hingga waktu tak mau ia hitung demi membunuh waktu.
“Mana sih, Nina. Katanya mau ketemuan, ngaretnya mulai deh.”
Tak lama kemudian terdengar ring tone handphone Sandra.
Tak mudah untuk kita hadapi perbedaan yang berarti
Tak mudah untuk kita jalani rintangan silih berganti
“Loh? Ferdi? Ngapain?”
Sandra pun mengangkat handphone-nya.
“Haloo”
“San, lo masih di taman?”
“Hah? Iya, kok lo tau?”
“Okey, gue ke sana sekarang.”
“Hah? Maksud?”
Tut tut tut... telpon dimatikan.
“Haloo... ferdi.. ferdiii... ihhh dimatiin. Ada apasih?”
Sandra mencoba menghubungi Nina, tetapi nihil. Handphone-nya tidak diangkat. Telpon ke rumah, kata mba penjaga rumah Nina sudah keluar dari setengah jam yang lalu.
“Harusnya kan Nina udah nyampe. Tamannya kan deket banget sama rumah dia, sepuluh menit juga nyampe. Kok dia ngaretnya naujubilla. Malah tadi katanya udah pergi setengah jam yang lalu.”
Sungut Sandra. Sandra terus menghubungi Nina, tetapi hasilnya tetap sama. Hingga akhirnya Ferdi datang.
“Hay, San. Sorry lama.”
“Hah? Ngapain lo di sini?”
“Lo janjian sama Nina kan?”
“Iya sih, cuma gue janjiannya sama Nina bukan lo.”
“Nina ngga bilang?”
Sandra hanya menggeleng bingung.
“Yaudah tunggu bentar”
“Mau nunggu siapa?”
Ferdi tak menjawab, ia malah asik memainkan handphone-nya tanpa peduli kepada Sandra yang duduk bingung. Lama mereka terdiam hingga akhirnya terlihat dari kejauhan Nina. Sandra pun bangkit untuk menghampiri Sandra, tetapi tertahan ketika melihat Ferdinand bersamanya.
“Ngapain Nina sama Ferdinand?”
Ferdi tak menjawab dan memang tak diperlukan jawaban karna kata-kata itu berupa pernyataan bukan pertanyaan. Nina sudah berdiri antara Sandra dan Ferdinand. Sandra hanya menatap kepada Nina dengan tatapan pertanyaan dan menatap Ferdinand dengan dingin.
“Lo pasti bertanya-tanya.”
Sandra tak menjawab.
“Gue bawa Ferdinand ke sini tanpa sepengetahuan lo”
“Hah? Nina, katanya dia yang minta ketemuan sama gue”
Tanya Ferdinand yang sekarang ikutan bingung.
“Fer, sorry ya. Ini rencana gue sama Nina”
“Maksudnya apa?”
Tanya Sandra bersamaan dengan Ferdinand, kikuk yang mereka rasa sesaat hilang ketika Ferdi mengabil alih pembicaraan.
“Lo berdua udah baikan kan?”
“Ya, kenapa?”
“Kenapa lo berdua msih kayak musuh sih? Diem-dieman terus”
“Lo tanya Sandra dong”
“Hah? Gue?”
“Iya, lo yang salah kan?”
Mendengar itu, Sandra terpukul. Ya memang dirinya yang salah, memasuki kehidupan pribadinya Ferdinand, terlebih memberi masukan yang menurutnya tidak akan di ikuti Ferdinand.
“Sopan dong lo sama cewe”
Bela Nina yang kaishan melihat Sandra terdiam.
“Emang bener kan? Sandra yang salah? Masa gue?”
“Ya tapi setidaknya bahasa lo biasa kan bisa kali”
“Udah, Nin. Emang gue yang salah”
“Tuh kan, dia aja ngaku. Kenapa lo berdua yang ribet?”
“Ya tapi dia kan udah minta maaf, Fer. Lo jadi cowok gentle dong”
Bela Ferdi yang merasa tidak enak kepada Sandra.
“Dan gue juga udah maafin, apa yang ngga gentle coba?”
“Kenapa lo dingin sama dia?”
Ucap Nina dengan nada dramatisir.
“Gue dingin? Dingin gimana sih?”
“Lo ngga pernah ngomong sama dia. Tiap ketemu lo selalu jauhin dia”
“Lah? Emang apa yang mau di omongin?”
“Lo ya, Fer ngga peka banget”
“Lo tuh kenapa sih, Nin?”
Sandra memutuskan untuk angkat berbicara karena terlihat keadaan semakin runyam.
“Udah, Nin. Ini emang salah gue, gue ngga bisa negrtiin Ferdinand yang benar-benar cinta sama Kirana”
Mendengar itu, Nina cepat menatap ke arah Sandra dingin.
“Lo tuh apa-apaan sih? Gue sama Ferdi buat rencana ini kan juga buat lo, buat kebaikan lo, Ferdinand, dan hubungan persahaatn kita”
“Ya tapi jangan kayak gini. Emang ini salah gue”
Ferdinand memtuskan untuk mempercepat keadaan ini dengan menghampiri Sandra drai belakang. Membalikan tubuh Sandra hingga menghadap dirinya.
“Mau lo apa?”
“Ferdinand !”
“Diem, Nin”
“Sorry kalo emanng gue salah”
Sandra sedikit menundukkan kepala menahan malu dan juga air mata.
“Lo udah minta maaf sama gue dan lo tahu gue udah maafin”
Sandra tak menjawab kata-kata Ferdinand. Sandra bingung apa yang harus ia katakan kepada Ferdinand.
“Jawab, San”
“Apa yang musti gue jawab?”
“Lo mau apa dari gue? Gue udah capek”
“Ferdinand, bahasanya bisa di jaga kali”
Ucap Nina yang geregetan dengan sikap Ferdinand.
“Jadi? Mau lo?”
Sambung Ferdinand tanpa memerdulikan ucapan Nina.
“Gue Cuma mau kita kayak dulu. Becanda kaya dulu lagi, gue ngga suka lihat lo sama Vero ketawa bareng”
“Kenapa? Lo cemburu?”
“Ya, tapi gue cemburu bukan karena suka sama lo, melainkan karna gue....”
Sandra terdiam, sesaat.
“Karna?”
“Karna setiap gue lihat lo sama Vero, gue iri. Gue selalu kebayang waktu kita yang kayak gitu. Dua tahun bersama, tanpa sadar ada kenangan tersindiri sama lo. Gue Cuma mau kita kayak dulu. Enjoy jalanin hari, ngga ada kikuk kayak sekarang”
“Kenapa ngga lo coba?”
“Gue bingung harus mulai darimana, jujur gue ngga berani”
“Demi sahabat lo? Demi hubungan lo sama sahabat lo baik, lo ngga berani?”
“Lo terlalu dingin sama gue. Tatapan lo yang bikin gue ngga kuat”
Tanpa sandra Ferdinand memeluk hangat tubuh kecil Sandra.
“Gue juga ngga kuat, tiap lo cuma ngeliatin gue sama Vero. Gue pengan lo ikutan. Dan jujur gue capek”
“Kenapa?”
“Capek selalu caper sama lo dengan becanda sama Vero, tapi lonya ngga berubah, ngga mau mulai duluan”
“Gue cewek, gue ngga mau memulai”
Ferdinand melepaskan pelukannya kepada Sandra dan menatapnya lekat.
“Jadi lo ingin kita kayak dulu? Becanda kayak dulu?”
“Iya. Kalo ngga bisa juga ngga apa-apa. Gue ngerti”
“Ngga, gue juga mau kayak dulu”
Ferdi dan Nina saling tatap bahagia dan menghampiri Ferdinand dan Sandra.
“Jadi kita kayak dulu nih?”
Tanya Nina yang merangkul Sandra dan ferdi merangkul Ferdinand.
“Apasih lo, Nin.”
Ferdinand merangkul Sandra.
“Iya kita kayak dulu. Gue, Sandra, Nina, dan Ferdi”
***
“Lo inget kan?”
“Iya gue inget. Tapi ice cream gue meleleh noh.”
Ucap Sandra yang sedih melihat ice creamnya hanya tersisa batangnya.
“Hahahahahaha, sorry sorry.”
Ferdinand pun mengulangi merangkul Sandra dengan dekapan hangat.
"Semua itu ngga akan terulang"
Ferdi dan Nina pun datang untuk melengkapi suasana persahabatan yang hangat.
"Dan akan selalu bersama"
Ucap Nina yang langsung merangkul Sandra. Di sebelahnya, Ferdinand merangkul pinggang Sandra dan Ferdi merangkul Ferdinand di sisi kanan dan merangkul pinggang Nina di sisi kiri. Layaknya sahabat yang baru dipertemukan kembali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar